KONSEP DASAR MASALAH
I.
DEFINISI
Idiopathic
(Autoimmune) Thrombocytopenic Purpura (ITP/ ATP) merupakan kelainan autoimun di
mana autoantibody IgG dibentuk untuk mengikat trombosit. Tidak jelas apabila
antigen pada permukaan trombosit dibentuk. Meskiun antibody antitrombosit dapat
mengikat komplemen, trombosit tidak rusak oleh lisis langsung. Insidens
tersering pada usia 20-25 tahun dan lebih sering pada wanita dibandingkan
laki-laki (2:1) (Mansjoer, Arif.2005).
Idiopathic Trombocytopenia Purpura (
ITP ) ialah suatu keadaan perdarahan berupa petekie atau ekemosis di kulit /
selaput lendir dan berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena
sebab yang tidak diketahui ( ITP pada anak sering terjadi pada umur 2 – 8 tahun
), lebih sering terjadi pada wanita. (Kapita Selekta Kedokteran jilid 2, 2000)
ITP adalah suatu penyakit perdarahan
yang didapat sebagai akibat dari penghancuran trombosit yang berlebihan
(Suraatmaja, 2000).
II.
ETIOLOGI
Penyebab dari ITP tidak diketahui secara
pasti, mekanisme yang terjadi melalui pembentukan antibodi yang menyerang sel
trombosit, sehingga sel trombosit mati.(Imran, 2008). Penyakit ini diduga
melibatkan reaksi autoimun, dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang
trombositnya sendiri. Dalam kondisi normal, antibodi adalah respons tubuh yang
sehat terhadap bakteri atau virus yang masuk kedalam tubuh. Tetapi untuk
penderita ITP, antibodinya bahkan menyerang sel-sel keping darah tubuhnya
sendiri. (Family Doctor, 2006).
Meskipun
pembentukan trombosit sumsum tulang meningkat, persediaan trombosit yang ada
tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Pada sebagian besar kasus, diduga
bahwa ITP disebabkan oleh sistem imun tubuh. Secara normal sistem imun membuat
antibodi untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Pada ITP, sistem
imun melawan platelet dalam tubuh sendiri. Alasan sistem imun menyerang
platelet dalam tubuh masih belum diketahui. (ana information center,2008).
Berdasarkan etiologi, ITP
dibagi menjadi 2 yaitu:
a.
ITP
primer (idiopatik)
b.
ITP
sekunder
Berdasarkan
penyakit dibedakan menjadi :
a.
Tipe
akut bila kejadiannya kurang atau sama dengan 6 bulan (umumnya terjadi pada
anak-anak)
b.
Kronik
bila lebih dari 6 bulan (umunnya terjadi pada orang dewasa). (ana information
center, 2008)
Selain itu, ITP juga terjadi pada
pengidap HIV. Sedangkan obat-obatan seperti heparin, minuman keras, quinidine,
sulfonamides juga boleh menyebabkan Rombositopenia. Biasanya tanda- tanda
penyakit dan faktor-faktor yang berkatan dengan penyakit ini adalah seperti
yang berikut : purpura, pendarahan haid darah yang banyak dan tempo lama,
pendarahan dalam lubang hidung, pendarahan rahang gigi, immunisasi virus yang
terkini, penyakit virus yang terkini dan calar atau lebam.
Penyebab yang pasti belum
diketahui, tetapi dikemukakan berbagai kemungkinan diantaranya ialah :
1. Hipersplenisme
2. Infeksi virus ( demam berdarah,
morbili, varisela, rubella, dsb ).
3. Intoksikasi makanan atau obat (
asetosal, PAS, fenilbutazon, diamox, kina, sedormid )
4. Bahan kimia.
5. Pengaruh fisis ( radiasi, panas ).
6. Kekurangan faktor pematangan (
misalnya malnutrisi ).
7. DIC ( misalnya pada DSS, leukimia,
respiratory distress syndrome pada neonatus ).
8. Mekanisme imun yang menghancurkan
trombosit.
9. Kelemahan pada endotel pembuluh
darah
III.
PATOFISIOLOGI
ITP ditandai
oleh penurunan jumlah trombosit secara nyata sebagai akibat dari kelainan
imunitas. ITP dapat bersifat akut atau kronis. ITP akut ditemukan sebagai
trombositopenia berat yang terjadi tiba-tiba dan umumnya terdapat pada
anak-anak sesudah menderita infeksi virus. ITP pada individu dewasa juga
berkaitan dengan pasca infeksi virus (mononucleosis), penggunaan obat legal (kokain,
heroin), obat yang diresepkan dokter (kuinin, obat berbahan dasar sulfa dan
salisat), atau penyebab yang tidak diketahui (idiopatik). ITP kronis merupakan
akibat dari proses autoimun pada fagositosis yang diperantarai oleh IgG
sehingga terjadi destruksi trombosit yang belum matang, khususnya dalam limpa;
ITP kronis lebih sering ditemukan pada wanita muda. ITP dapat juga
diklasifikasi menjadi bentuk “sekunder” dan berkaitan dengan beberapa kelainan,
seperti lupus eritematosus sistemik, HIV, sarkoidosis, dan limfoma Hodgkin. ITP
dapat pulih jika penyakit yang melatari berhasil ditangani.
Purpura
trombositopenik idiopatik (Idiopathic
Thrombositpoeic Purpura) merupakan gangguan yang lazim terjadi pada masa
kanak, dengan antibody terhadap glikoprotein trombosit yang lazim, terikat pada
membran trombosit, sehingga menyebabkan sel dibuang
melalui reseptor Fc pada makrofag jaringan di limpa. Kadang-kadang hati juga
merupakan tempat pembuangan trombosit, terutama pada kasus berat dan setelah
splenektomi. ITP biasanya terjadi setelah penyakit virus yang umum pada masa
kanak-kanak, termasuk varisela, rubella, rebola, dan infeksi saluran napas,
konsentrasi IgM atau IgG yang meningkat dapat dideteksi pada membrane trombosit dengan menggunakan
teknik imunofluoresen. Kadar imnuglobulin terkait trombosit yang meningkat
ringan sampai sedang tidak spesifik untuk suatu etiologi autoimun dan juga
ditemukan pada setiap keadaan yang berkaitan dengan meningkatnya destruksi
trombosit. Terdapat peningkatan konsentrasi IgM atau IgG pengikat trombosit di
dalam serum lebih spesifik untuk ITP. ITP pada masa kanak-kanak biasanya
merupakan gangguan akut dan swasirna, dengan 50% kasus pulih dalam 4 minggu dan
90% kasus pulih dengan 6 bulan. Meskipun demikian, trombositopenia bisa menetal
selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, sehingga membatasi aktivitas dan
memperlama risiko perdarahan. Sampai saat ini, golongan Ig (M atau G) atau glikoprotein
trombosit target (GPIIb, GPIIIa, atau GPIb) memprediksi kekronisan gangguan
ini. Kelainan imonologik ringan (terutama hipo- dan disgamaglobulinemia)
ditemukan pada anggota keluarga pada 10% anak dengan ITP, sedangkan pada
mayoritas anak tidak ditemukan bukti adanya disfungsi Imun.
IV.
MANIFESTASI
KLINIS
Awitan PTI
biasanya akut dengan gambaran ekimosis multiple, petekie, epistaksis, atau
gejala perdarahan lain. Biasanya secara klinis tidak dijumpai kelainan lain (Mansjoer, Arif.2005).
ITP akut
dapat mengakibatkan perdarahan spontan jika jumlah trombosit turun hingga
dibawah rentang normal. Perdarahan hebat lebih cenderung terjadi ketika jumlah
trombosit kurang dari 20x109/L. Pasien dengan jumlah trombosit yang
rendah memiliki kecenderungan untuk mengalami perdarahan ringan dari hidung dan
mulut. ITP kronis sering kali muncul dalam bentuk awitan gejala perdarahan yang
terjadi secara perlahan. ITP kronis dapat ditemukan pada individu yang
memeriksa darah secara rutin karena alasan lain (Chang, Esther. John Daly, Doug
Elliott.2010).
ITP kronik
secara khas terjadi pada orang dewasa, khususnya wanita dalam usia reproduktif.
Biasanya sudah terdapat riwayat lama gejala mudah memar atau epitaksis tetapi
kadang terjadi dengan onset yang mendadak dan disertai gejala petekie atau
perdarahan internal (melena, hematuria). Perdarahan subaraknoid atau
intraserebral merupakan kejadian langka tetapi serius. Bentuk idiopatik harus
dibedakan dengan bentuk yang terjadi dalam konteks lupus eritematous sistemis,
AIDS, pajanan obat dan neoplasma limfoid (Robbins dan Contran.2009).
ITP banyak
terjadi pada masa anak, tersering dipresipitasi oleh infeksi virus dan biasanya
dapat sembuh sendiri. Sebaliknya, pada orang dewasa, biasanya menjadi kronik
dan jarang mengikuti suatu infeksi virus. Pasien secara umum tampak baik dan
tidak demam. Keluhan yang dapat ditemukan adalah perdarahan mukosa dan kulit.
Perdarahan yang paling umum adalah epitaksis, perdarahan mulut, menoragia,
purpura, dan petekie (Mansjoer, Arif.2005). Pada pemeriksana fisik terlihat
pasien dalam keadaan baik dan tidak terdapat penemuan abnormal lain. Selain
yang berhubungan dengan perdarahan.
ITP mengenai anak laki-laki dan perempuan dengan rata.
Meskipun gangguan ini dpaat timbul pada 2 bulan setelah lahir dan sampai
dewasa, rata-rata usia timbulnya awitan adalah 6 bulan. Tampilan gangguan ini
biasanya akut, dengan perdarahan ke dalam kulit, baik spontan atau setelah
traumaringan lesi erkisar dari peteki pin-point sampai ekimosis yang besar.
Distribusi lesi dapat acak, tetapi sering meningkat pada titik-titik tekanan,
seperti sekitar leher dan tenggorok ketika batuk, pada wajah ketika menangis,
atau di bawah ikat pinggang leastik. Perdarahan hidung dan perdarahan dari
selaput lender tidak jarang terjadi dan sering mengakibatkan kehilangna darah
yang berat. Perdarahan system saraf pusat terjad pada 0,5% kasus dan
menyebabkan sebagian besar kematian pada penyakit ini. Perdarahan intracranial
dapat terjadi kapan pun selama perjalanan penyakit dan dikaitkan dengan hitung
thrombosis kurang dari 10.000/mm3. Pada anamnesis riwayat penyakit
sering mendukung adanya infeksi virus selama 4 minggu sebelum tampilan klinis
dan dapat menampakkan meningkatnya memar dan perdarahan. Anamesis yang teliti
harus dilakukan untuk mendapatkan bukti adanya gangguan autoimun lain pada anak
atau pada anggota keluarga yang lain termasuk anemia hemolitik autoimun atau
neutropenia, antikoagulan lupus dengan atau tanpa thrombosis, lupus
eritematosus sistemik, atau arthritis rheumatoid.
Pemeriksaan fisik normal selain tanda perdarahan.
Secara spesifik, anak dengan ITP tidak menunjukkan bukti adanya splenomegali,
hepatomegali, limfadenopati, massa, ruam (selain ekimosis), atau pembengkakan
sendi.
V.
KLASIFIKASI
1.
Akut :
a.
Awalnya dijumpai trombositopenia
pada anak
b.
Jumlah trombosit kembali
normal dalam 6 bulan setelah diagnosis (remisi spontan)
c.
Tidak dijumpai kekambuhan
berikutnya.
2.
Kronik
:
a.
Trombositopenia
berlangsung lebih dari 6 bulan setelah diagnosis.
b.
Awitan tersembunyi dan berbahaya.
c.
Jumlah trombosit tetap di
bawah normal selama penyakit.
d.
Bentuk ini terutama pada
orang dewasa.
3.
Kambuhan :
a.
Mula-mula terjadi
trombositopenia.
b.
Relaps berulang.
c.
Jumlah trombosit kembali
normal diantara waktu kambuh
Tabel
Perbedaan ITRP Akut dengan ITP Kronik
|
|
ITP
Akut |
ITP Kronik |
|
Awal penyakit |
2-6 Tahun |
20-40- Tahun |
|
Rasio L:P |
1:1 |
1:2-3 |
|
Trombosit |
≤
20.000/mL |
30.000-100.000/mL |
|
Lama Penyakit |
2-6 Minggu |
Bebnerapa Tahun |
|
Perdarahan |
Berulang |
Beberapa Hari/Minggu |
VI.
PROGNOSIS
ITP merupakan gangguan
akut yang swasirna pada 90% anak dengan gangguan ini. Kekambuhan dapat terjadi
selama beberapa bulan pertama sampai beberapa tahun pertama setelah diagnosis,
dan sering dikaitkan dengan infeksi akut. Pada 10% anak, ITP merupakan gangguan
kronis yang menetap hingga di atas 6 bulan. Bahkan pada ITP kronis, remisi
spontan dapat terjadi setelah berminggu-minggu atau bertahun-tahun, sehingga
membenarkan penatalaksanaan konservatif yang beralasan.
VII. KOMPLIKASI
1.
Perdarahan
cranial (pada kepala). Ini penyebab utama kematian penderita ITP.
2.
Kehilangan
darah yang luar biasa
3.
Efek
samping dari kortikosteroid
4.
Infeksi
pneumococcal. Infeksi ini biasanya di dapat setelah pasien mendapat terapi
splenektomi. Penderita juga umumnya akan mengalami demam sekitar 38,8 derajat
Celsius.
5.
Splenomegali
Splenomegali
akibat berbagai keadaan yang dihubungkan dengan trombositopenia dapat karena
sekuestrasi atau destruksi trombosit oleh limpa yang membesar. Megakariosit
banyak pada sumsum tulang pada kebanyakan kelainan ini, yang meliputi
splenomegali kongestif dengan hipertensi portal (sindrom Banti), talasemia
mayor, penyakit Gaucher, retikuloendoteliosis, penyakit Hodgkin, dll.
Splenekomi, splenektomi parsial, atau embolisasi limpa dapat memperlemah
trombositopenia pada banyak keadaan, walaupun penyakit yang mendasari tidak
terpengaruh.
6.
Infeksi
akut dan gangguan lain
Trombositopenia
ringan sampai berat dapat muncul dengan sepsis bakteri akibat penyebab apapun,
trombositopenia telah dihubungkan dengan tuberkuosis, demam tifoid, campak,
rubella, varisela, demam scarlet, endokarditis, mononukleosus infeksiosa, dan
penyakit infeksi lain. Trombositpenia juga merupakan manfiestasi lazim
eritematosus. Kadang-kadang, penurunan trombosit ditemukan pada
hipertiroidisme. Bila trombositopenia menyertai anemia hemolitik didapat,
disebut
sebagai sindrom Evan.
7.
Sindrom
Uremik-Hemolitik dan Purpura Trombositopenik Trombotik
Gangguan yang
sangat terkait dan tumpang tindih ini merupakan dua ekspresi utama penyakit
mikroangiopati. Gangguan ini ditandai dengan anemia hemolitik dan
trombositopenia, agaknya karena pengaruh koagulasi intravaskuler yang berlokasi
pada kapiler dan arterola yang berdekatan. Sindrom uremik-hemolitik (HUS,
hemolytic-uremic syndrome) terutama mengenai bayi dan anak kecil purpura
trombositopenik trombotik (TTP, thrombotic thrombocytopenic purpura) terutama
merupakan gangguan pada orang dewasa. HUS biasanya merupakan penyakit akut dan
swasirna, sedangkan TTP cenderung bersifat kronis dan sering kambuh. Pada
sebagian pasien TTP, di antara episodenya terdeteksi multimer vWF yang besar
secara abnormal dan ditemukan pola vWF tipe II didapat selama eksaserbasi. Pola
multimer vWF tipe II yang serupa telah terdeteksi pada sejumlah anak dengan
HUS. Pada kedua gangguan tersebut, ketahanan hidup trombosit sangat berkurang,
sedangkan kecepatan degradasi fibrinogen biasanya normal. Morfologi eritrosit
memiliki cirri mikrosefarosit dan bentuk aneh yang terfragmentasi (disebut sel
helm) yang menjadi dasar penegakkan diagnosis.
Istilah sindrom
uremik hemolitik biasanya dipakai pada keadaan bayi dan anak kecil yang secara
khas mengikuti episode diare berdarah dan dengan manifestasi ginjal, hematuria,
oliguria, atau gagal ginjal akut dan uremia yang menonjol. Trombositpoenia dan
anemia hemolitik sering timbul setelah beberapa hari diare dan setelah awitan
gagal fungsi ginjal. Manifestasi neurologic mencakup iritabilitas dan
menurunnya kesiagaan lazim terjadi tetapi biasanya bukan akibat thrombosis.
Sebagian ebsar penderita sembuh sempurna dengan penatalaksanaan medis gagal
ginjal akut yang sangat cemas. Hasil biopsy ginjal deposisi fibrin saat fase
akut penyakit menimbulkan uji coba heparin, fibrinolitik, dan inhibitor
trombosit; dari semua terapi ini tidak ada yang tampaknya mengubah hasil HUS.
Penggunaan inhibitor trombosit dikaitkan dengan lebih tingginya hitung
trombosit dan mungkin lebih sedikitnya transfuse trombosit. Anak dengan HUS
sangat mudah mengalami hiperkoagulasi saat fase akut penyakit. Terjadi
thrombosis yang terkait kateter vaskuler; infark jemari, system saraf pusat,
atau hati yang kadang terjadi, juga telah dilaporkan. Sekuele jangan panjang
mencakup 5-10% insiden perburukan sampai stadium akhir gagal ginjal. Yang
jarang adalah timbulnya episode berulang. Ketika seorang anak menunjukkan
episode multiple HUS dengan awitan masa bayi, defek metabolism vascular yang mendasari, seperti
metabolism prostasiklin, harus dicurigai.
TTP biasanya
muncul pada orang dewasa dan otak serta hati sebagai target utama penyakit
mikroangiopati lokalisata. TTP cenderung menjadi kronis dan kambuh dengan angka
morbiditas serta mortalitas yang lebih tinggi. Kejang dan koma lazim terjadi.
Plasmaferesis dan infuse plasma telah dikaitkan dengan perbaikan gejala dan
penurunan mortalirtas terapil lan yang mungkin membantu termasuk
kortikosteroid, splenektomi, aspirin dosis rendah, dan dipiridamol.
8.
Hemangioma
Raksasa dan Tumor Vaskuler Jinak Lain
Sekuestrasi
trombosit, menyebabkan trombositopenia berat dan perdarahan, dapat terjadi
akibat hemangioma raksasa pada bayi. Kelainan ini biasanya dikenal sebagai
sindrom Kasabach-Merritt. Peningkatan konsumsi factor koagulasi terjadi pada
beberapa penderita. Ukuran hemangioma sering meningkat dengan cepat setelah
lahir dan mulai regresi secara spontan sekitar usia 1 tahun. Bayi dapat
memperlihatkan gagal jantung kongestif. Defisiensi berat zat besi dapat timbul
akibat kehilangan darah GI. Penyembuhan
terjadi setelah eksisi secara bedah atau regresi spontan. Beberapa lesi
akan regresi setelah terapi dengan kortikosteroid atau inhibitor fibrinolitik.
Lesi dengan hemangiomata kapiler yang menonjol dapat berespons dengan infuse
interferon alfa-2a.
9.
Penyakit
Jantung Kongenital Sianotik
Trombositopenia
dapat terjadi pada anak dengan polisitemia berat yang disertai dengan penyakit
jantung sianotik. Derajat defisiensi trombosit sebanding dengan keparahan
hipoksia. Penelitian ketahanan hidup trombosit menunjukkan destruksi perifer.
10. Purpura trombositopenik neonates
Dua penyebab
trombositopenia imun pada neonates adalah trombositopenia aloimun neonates
(NAIT, neonatal alloimmune thrombocytopenia) dan trombositopenia autoimun
maternal.
NAIT terjadi pada
1 dalam 2000 sampai 1 dalam 5000 kelahiran dan disebabkan oleh imunisasi aktif
pada system imun ibu oleh antigen trombosit janin yang berasal dari ayah.
Antibody maternal terhadap PL-AI merupakan penyebab yang paling sering. Dua
persen orang adalah negative PL A1 homozigot dan memiliki risiko sensitisasi.
Penyebab NAIT lain yang lebih jarang mencakup antigen trombosit Pen (Yuk) dan
Bak (Lek). NAIT mengenai bayi pertama dalam 50% kasus. Insiden perdarahan
intracranial janin atau neonates kira-kira sekitar 20%. Pada saat ini, uji
prenatal rutin untuk menentukan ibu yang berisiko, belum dilakukan karena
keterbatasan biaya. Diagnosisnya sulit dilakukan sebelum lahir, tetapi harus
dipertimbangkan apda setiap janin dengan perdarahan intracranial atau pada
setiap saudara kandung bayi sebelumnya yang menderita NAIT. Tampilan klinis
yang biasanya adalah petekie difus dan purpura pada saat lahir atau sesaat
setelah lahir. IgG ibu ynag dapat mengikat trombosit serum meningkat tetapi IgG
yang terkait-trombosit langsung, normal. Penentuan tipe trombosit orang tua
memastikan inkompatibilitas. Pada saudara kandung berikutnya dapat dilakukan penapisan
untuk trombositpenia dengan menggunakan sampel darah periumbilikus.
Trombositpenia janin berespons terhadap terapi maternal dengan IVIG atau
kortikosteroid. Hitung trombosit janin berespon terhadap infuse trombosit
maternal yang telah dicuci, IVIG, atau kortikosteroid. Janin-janin yang
diketahui menderita NAIT harus dilahirkan dengan bedah sesar.
ITP maternal dapat
mengakibatkan transfer pasif auto antibody yang menimbulkan trombositopenia
janin atau neonates. Hitung trombosit sering menurun 1 sampai 2 hari setelah
lahir. Walaupun bayi dari ibu dengan ITP cenderung mengalami trombositopenia
yang lebih ringan dari pada bayi dengan NAIT, hitung trombosit janin tidak
dapat diprediksikan dengan hitung trombosit maternal, walaupun secara teknik
menantang, pengambilan sampel kulit kepala janin yang berhasil dapat membantu
memandu jalur optimal persalinan. Tetapi maternal dengan kortikosteroid selama
10 sampai 14 hari sebelum persalinan dapat menghasilkan hitung trombosit
maternal yang lebih tinggi. Bayi dapat diterapi dengan IVIG, kortikosteroid,
atau transfuse tukar yang diikuti dengan trombosit dengan donor-acak.
Trombositopenia
pada periode neonates dapat juga akibat penyakit sistemik, termasuk
eritroblastosis fetalis berat, sepsis, penyakit inklusi sitomegalik,
toksoplasmosis, rubella dan leukemia.
Tipe
trombositpenia congenital yang jarang disertai dengan tidak adanya radius
bilateral (sindrom TAR). Megakariosit menurun pada sumsum tulang dan gambaran
darah leukemoid sementara dapat menunjukkan leukemia congenital. Walaupun ada
trombositopenia menetap bayi-bayi ini cenderung menjadi baik jika mereka
mengatasi perdarahan mematikan selama masa neonatus.
11. Trombositpenia Akibat Penurunan Produksi
a.
Penyakit
sumsum tulang
Penggantian sumsum oleh leukemia, neuroblastoma
metastatic, limfosarkoma, atau keganasan lain dapat mengakibatkan
trombositopenia berat karena penurunan megakariosit. Anemia aplastik dan
hipoplastik-baik congenital, idiopatik, akibat obat, toksin kimia, atau
radiasi-biasanya juga disertai trombositopenia amegakariosit. Agen yang
diketahui menyebabkan trombositopenia dengan merusak sumsum tulang adalah
benzol, kloramfenikol, DDT, garam emas, neomisin, nitrogen mustard, arsenic
organic, cat rambut organic, fenobarbital, streptomisin, tridion, dan
lain-lain. Pengobatan dibahas di atas bayi dengan sindrom Down terutama rentan
terhadap kelainan jumlah trombosit.
b.
Trombositopenia
herediter
Trombositopenia herediter dipertimbangkan pada
diagnose banding trombositopenia diklasifikasi atas dasar pewarisan dan sering
tumpah tindih dengan defek fungsi trombosit congenital. Sindrom dominan autosom
termasuk anomaly May-Heglin (trombosit besar dan benda Dohle pada granulosit),
nefritis herediter dengan ketulian saraf dan trombosit raksasa (sindrom Alport),
dan trombositopenia herediter (trombosit normal sampai besar seperti pada ITP).
Sindrom resesif autosom dengan dan tanpa defek fungsi trombosit telah
diuraikan; trombosit raksasa kadang juga terkait (sindrom Bernard-Soulier).
Banyak sindrom tersebut merupakan terkait seks dan mewakili sindrom
Wiskott-Aldrich yang khas atau variannya. Manifestasi perdarahan biasanya
ringan sampai sedang pada trombositopenia herediter dan pengobatan adalah
simtomatik.
VIII.
PENATALAKSANAAN
Terapi ITP lebih ditujukan untuk menjaga jumlah
trombosit dalam kisaran aman sehingga mencegah terjadinya pendarahan mayor.
Selain itu, terapi ITP didasarkan pada berapa banyak dan seberapa sering pasien
mengalami pendarahan dan jumlah platelet. Terapi untuk anak-anak dan dewasa hampir
sama. Kortikosteroid (misalnya prednisone) sering digunakan untuk terapi ITP.
Kortikosteroid meningkatkan jumlah platelet dalam darah dengan cara menurunkan
aktivitas system. Imunoglobuin dan anti-Rh immunoglobulin D. pasien yang
mengalami pendarahan parah membutuhkan tranfusi platelet dan dirawat di rumah
sakit.
Penatalaksanaan
ITP meliputi tindakan suportif dan
terapi farmakologis. Tindakan suportif merupakan hal yang sangat
penting dalam penatalaksanaan ITP, diantaranya membatasi aktifitas fisik, mencegah
perdarahan akibat trauma, menghindari obat yang dapat menekan produksi
trombosit atau merubah fungsinya, dan yang tidak kalah penting adalah memberi
pengertian pada penderita dan keluarga tentang penyakitnya.
Terapi awal ITP (Standar):
1.
Prednisone
Terapi awal prenisoon atau prednisone dosis 0,5-1,2
mg/kgBB/hari selama 2 minggu, respon terapi prednisone terjadi dalam 2 minggu
dan pada umumnya terjadi dalam minggu pertama, bila respon baik dilanjutkan
sampai 1 bulan kemudian tapering.
2.
Imunoglubulin
intravena (IgIV).
Imunoglobulin intravena dosis 1g/kg/hari selama 2-3
hari berturut-turut digunakan bila tejradi pendarahan internal, saat AT
(antibody trombosit) <5000/ ml meskipun telah mendapat terapi kortikosteroid
dalam beberapa hati atau adanya purpura yang progresif. Pendekatan terapi
konvensional lini kedua, untuk pasien yang dengan terapi standar kortikosteroid
tidak membaik, ada beberapa pilihan terapi yang dapat digunakan. Luasnya
variasi terapi lini kedua menggambarkan relative kurangnya efikasi dan terapi
bersifat individual.
3.
Steroid
dosis tinggi.
Terapi pasien ITP refrakter selain prednisolon dapat
digunakan deksametason oral dosis tinggi. Deksametason 40mg/hr selama seminggu,
diulang setiap 28 hari untuk 6 siklus.
4.
Metilprednisolon
Metilprednisolon dosis tinggi dapat diberikan pada ITP
anak dan dewasa yang resisten terhadap terapi prednisone dosis konvensional.
Dari hasil peneltian menggunakan dosis tinggi metilprednisolon 30 mg/ kg/ iv
kemudian dosis diturunkan tiap 3 hari sampai 1 mg/kg sekali sehari.
5.
IgIV
dosis tinggi
Immunoglobulin IV dosis tinggi 1 mg/kg/ hari selama 2
hari berturut-turut, sering dikombinasi dengan kortikosteroid, akan
meningkatkan AT dengan cepat. Efek samping, terutama sakit kepala, namun jika
berhasil maka dapat diberikan secara intermiten atau disubtitusi dengan anti D
iv.
6.
Anti
D iv
Dosis anti D 50-75 mg/ka/hr IV. Mekanisme kerja anti D
yakni destruksi sel darah mera resus D-positif yang secara khusus diberikan
oleh RES terutama di lien, jadi bersaing dengan autoantibody yang menyelimuti
trombosit melalui Fc reseptor blockade.
7.
Alkaloid
vinka
Misalnya vinkristin 1 mg atau 2 mg iv, vinblastin 5-10
mg, setiap minggu selama 4-6 minggu.
8.
Danazol
Dosis 200 mg p.o. 4x sehari selama sedikitnya 6 bulan
karena respon sering lambat. Bila respon terjadi, dosis diteruskan sampai dosis
maksimal sekurang-kurangnya hari 1 tahun dan kemudian diturunkan 200mg/hari
setiap 4 bulan.
9.
Immunosupresif
dan kemoterapi kombinasi
Imunosupresif diperlukan pada pasien yang gagal
berespon dengan terapi lainnya. Terapi dengan azatioprin (2mg kg/ max 150
mg/hari) atau siklofosfamiddenga sebagai obat tunggal dapat dipertimbangkan dan
respon bertanding tertahan sampai 5%
Splenekotomi
dianjurkan bila tidak diperoleh hasil dengan penambahan obat iminosupresif
selama 2-3 bulan. Kasus ini seperti dianggap telah resisten terhadap prednison
dan obat imunosupresif, sebagai akibat produks antibodi terhadap trombosit yang
berlebihan oleh limpa. Splenektomi seharusnya dikerjakna dalam waktu 1 tahun
sejak permulaan timbulnya penyakit, karena akan memberikan
angka remisi sebesar 60-80%. Spelenektomi yang dilakukan terlambat
hanya memberikan angka remisi sebesar 50%.
Indikasi
splenektomi :
a.
Resisten setelah pemberian kombinasi kortikosteroid dan obat imunosupresif
selama 2-3 bulan.
b.
Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian kortikosteroid
saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.
c.
Penderita yang menunjukkan respons
terhadap kortikosteroid namun memerlukan dosis yang tinggi untuk mempertahankan
keadaan klinis yang baik tanpa adanya perdarahan.
Kontraindinkasi splenektomi :
Sebaiknya
splenektomi dilakukan setelah anak berumur lebih dari 2 tahun, karena sebelum 2
tahun fungsi limfa terdapat infeksi belum dapat diambil alih oleh alat tubuh
yang lain (hati, kelenjar getah bening,tinus).
IX.
POHON
MASALAH
Idiopatic, infeksi virus, hipersplenisme (Trauma)
Antigen (Makrofag) menyerang trombosit
Destruksi trombosit dalam sel penyaji antigen (dipicu oleh
antibody)

Pembentukan neoantigen
Trombositopenia
![]()
![]()
Perdarahan Pteke,Ekimosis
Gangguan
Integritas Kulit
Splenomegali


Anemia
![]()
12.
![]()
![]()
Nafsu makan
menurun mudah lelah kadar
hb menurun

![]()

13.
14.
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
I.
PENGKAJIAN
A.
Pengumpulan
Data
1. Identitas
Biasanya ITP terjadi pada masa kanak-kanak pada usia 6
tahun, ITP mengenai anak laki-laki dan perempuan secara nyata, lingkungan
yang berhubungan dengan ITP
yakni kondisi lingkungan kurang baik atau kumuh karena penyakit ini
bias disebabkan oleh virus atau bakteri seperti rubella, rubiola dan paksinasi
dengan virus aktif.
2. Keluhan Utama
Klien akan
terlihat memar, bintik-bintik pada kulit, keluarnya darah pada hidung dan
perdarahan pada gusi gigi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat
penyakit sekarangang ditandai dengan klien mengalami ITP yg ditandai dengan
Memar, bintik-bintik pada kulit, keluarnya darah pada hidung dan perdarahan
pada gusi gigi
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat
penyakit dahulu yang diderita klien antara lain HIV AIDS yang mungkin
diturunkan dari orang tua klien.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat
penyakit keluarga yang berhubungan dengan ITP yakni keluarga mengalami HIV
AIDS, kelainan hematologi
B.
POLA-POLA
KESEHATAN
1.
Pada
Pola Aktivitas
a.
Gejala:
keletihan, kelemahan, malaise umum, toleransi terhadap latihan rendah
b.
Tanda: takikardia / takipnea,
dispnea pada beraktivitas / istirahat, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
2.
Pada
Sirkulasi
a.
Gejala: riwayat
kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat, palpitasi (takikardia
kompensasi)
b.
Tanda: peningkatan sistolik dengan
diastolic stabil.
3.
Pada
Integritas Ego
a.
Gejala:
keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, penolakan
transfuse darah dan tandanya yakni depresi.
b.
Tanda: tampak menarik diri dan pasif.
4.
Pada
Eliminasi
a.
Gejala:
Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare, konstipasi
b.
Tanda:
distensi abdomen
5.
Asupan
Makanan dan Cairan
a.
Gejala:
penurunan masukan diet, mual dan muntah
b.
Tanda: turgor kulit buruk, tampak
kusut, hilang elastisitas.
6.
Pada
Neurosensori
a.
Gejala:
sakit kepala, pusing, kelemahan, penurunan penglihatan
b.
Tanda: epistaksis, pada mental tak
mampu berespons (lambat dan dangkal)
7.
Pada
Nyeri dan Kenyamanan
a.
Gejala:
nyeri abdomen, sakit kepala
b.
Tanda: takipnea, dispnea.
8.
Pada
Pernapasan
a.
Gejala:
nafas pendek pada istirahat dan aktivitas
b.
Tanda: takipnea, dispnea
9.
Pada
Keamanan
a.
Gejala:
luka buruk sering infeksi, transfuse darah sebelumnya
b.
Tanda: petekie, ekimosis.
II.
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
Pada pemeriksaan
laboratorium ditemukan trombosit <10.000/ml. hitung jenis lain normal,
kecuali kadang dapat terjadi anemia ringan yang disebabkan oleh perdarahan atau
berhubungan dengan hemolisis. Pemeriksaan morfologis sel darah normal, kecuali
trombosit yang agak membesar (megakariosit). Megakariosit ini merupakan
trombosit yang dihasilkan sebagai respon terhadap destruksi trombosit.
Pada pemeriksaan,
sumsum tulang terlihat normal, dengan jumlah mengakariosit normal atau
meningkat. Tes koagulasi terlihat mendekati normal. Meskipun tes tersebut
sangat sensitive (95%), namun sangat tidak spesifik dan 50% dari semua pasien
dengan trombositopenia dari berbagai sebab dapat mempunyai peningkatan IgG
trombosit.
Pada pemeriksaan
darah tepi ditemukan trombositopenia, anemia normositik. Bila lama dapat
berjenis mikrositik hipokrom. Leukosit biasanya normal, dapat terjadi
leukositosis ringan dengan pergeseran ke kiri bila terdapat perdarahan hebat.
Pada keadaan yang lama dapat ditemukan limfositosis relative dan leucopenia
ringan. Gambaran sumsum tulang biasanya normal, tetapi jumlah megakariosit muda
dapat bertambah dengan marturation arrest pada stadium megakarosit. Masa
perdarahan memanjang, masa pembekuan normal, retraksi bekuan abnormal,
prothrombin consumption time memendek. Tes Rumple Leed positif.
Pemeriksaan Penunjang, yakni:
1.
Hitung darah lengkap dan jumlah
trombosit menunjukkan penurunan hemoglobin, hematokrit, trombosit (trombosit
< 20.000 / mm3).
2.
Anemia normositik: bila lama
berjenis mikrositik hipokrom.
3.
Leukosit biasanya normal: bila
terjadi perdarahan hebat dapat terjadi leukositosis.Ringan pada keadaan lama:
limfositosis relative dan leucopenia ringan.
4.
Sum-sum tulang biasanya normal,
tetapu megakariosit muda dapat bertambah dengan maturation arrest pada stadium
megakariosit.
5.
Masa perdarahan memanjang, masa
pembekuan normal, retraksi pembekuan abnormal, prothrombin consumption
memendek, test RL (+).
Trombositopenia
dengan hitung trombosit biasanya di bawah 50.000/ mm3, merupakan
temuan yang paling bermakna. Tanda perdarahan yang bermakna biasanya berkaitan
dengan hitung thrombosis kurang dari 20.000/ mm3. Hitung darah
lengkap normal kecuali anemia dan leukositosis timbul setelah perdarahan yang
bermakna. Apusan darah tepi memastikan adanya penurunan jumlah trombosit,
morfologi, jumlah eritrosit serta sel darah putih normal, dan dapat menunjukkan
populasi trombosit besar. Uji penapisan koagulasi termasuk APTT, PT,, TT,
fibrinogen dan FSB (Bag 17.5.2) normal dan menyingkirkan keadaan komsumtif yang
difus. Pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan jumlah dan morfologi
megakriosit yang normal saat itu, dengan kompensasi yang timbul kemudian berupa
meningkatnya jumlah megakariosit dna megakariosit yang lebih imatur, ditemukan
populasi progenitor sel darah putih dan eritrosit normal. Imun globulin yang
terkait-trombosit biasanya meningkat. Hanya anamnesis, pemeriksaan fisik,
hitung darah lengkap, uji penapisan koagulasi yang penting untuk mendiagnosis
penyebab lazim ITP.
III.
RENCANA
KEPERAWATAN
1.
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual/ muntah.
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nutrisi pasien dapat
terpenuhi,status gizi pasien membaik
Kriteria Hasil :
1. Intake cairan dan nutrisi
terpenuhi sesuai kebutuhan pasien.
2.Tidak terjadi penurunan berat
badan secara drastis
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji
kemampuan untuk mengunyah, merasakan dan menelan. |
Lesi
mulut, tenggorok dan esophagus dapat menyebabkan disfagia, penurunan kemampuan
pasien mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan. |
|
Berikan
perawatan mulut yang terus menerus, awasi tindakan pencegahan sekresi.
Hindari obat kumur yang mengandung alcohol. |
Mengurangi
ketidaknyamanan yang berhubungan dengan mual/muntah, lesi oral, pengeringan
mukosa dan halitosis. Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan |
|
Jadwalkan
obat-obatan di antara makan (jika memungkinkan) dan batasi pemasukan cairan
dengan makanan, kecuali jika cairan memiliki nilai gizi. |
Lambung yang
penuh akan akan mengurangi napsu makan dan pemasukan makanan. |
|
Berikan
fase istirahat sebelum makan. Hindari prosedur yang melelahkan saat mendekati
waktu makan. |
Mengurangi
rasa lelah; meningkatkan ketersediaan energi untuk aktivitas makan. |
|
Dorong pasien untuk duduk pada waktu makan |
Mempermudah
proses menelan dan mengurangi resiko aspirasi. |
|
Catat
pemasukan kalori |
Mengidentifikasi
kebutuhan terhadap suplemen atau alternative metode pemberian makanan. |
|
Kolaborasi
Konsultasikan dengan tim pendukung ahli diet/gizi. |
Menyediakan
diet berdasarkan kebutuhan individu dengan rute yang tepat. |
2.
Ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer b/d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman
oksigen/nutrient ke sel.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam keseimbangan cairan dan pertfusi
jaringan membaik
Kriteria hasil : Tekanan darah membaik
(100-130mmHg/70-90mmHG) nadi perifer membaik(60-100x/menit) dan turgor kulit
membaik (crt ≤3detik,kulit lembab)
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Awasi
tanda vital, kaji pengisian kapiler, membran mukosa, dasar kuku. |
Memberikan
informasi tentang derajat / kedekuatan perfusi jaringan dan membantu
menentukan kebutuhan intervensi. |
|
Berikan
cairan yang adekuat. |
Meningkatkan
keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat kadar cairan abnormal atau
tidak diinginkan. |
|
Anjurkan
pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek,
kelemahanataupusingterjadi. |
Regangan/stress
kardiopulmonal berlebihan/ stress dapat menimbulkan dekompensasi/ kegagalan. |
|
Kaji kehilangan/gangguan
keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot. |
Menunjukkan
perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi
keamanan pasien/resiko cedera |
3.
Intoleransi Aktifitas b/d Kelemahan umum
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakn keperawatan selama 2x24 jam pasien menunjukkan toleransi
aktivitas dengan
Kriteria
hasil : Pasien
dapat menyeimbangkan aktivitas dan
istirahat,Dapat beraktivitas sesuai kebutuhan dan kemampuan.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Tingkatkan
tirah baring/duduk pada pasien. Berikan lingkungan tenang; batasi pengunjung
sesuai keperluan. |
Meningkatkan
istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk
penyembuhan. Aktivitas dan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran
darah ke kaki. |
|
Ajarkan
pasien melakukan aktivitas dengan tepat dan sesuai toleransi. |
Meningkatkan
atau memulihkan gerakan tubuh yang terkontrol. |
|
Awasi
turgor kulit, TD, nadi, pernapasan
selama dan sesudah aktivitas. Catat respons terhadap tingkat aktivitas
(misalnya, peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispnea,
takipnea,dan sebagainya). |
Manifestasi
kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen
adekuat ke jaringan. |
|
Berikan
aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, radio, membaca |
Meningkatkan
relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian dan dapat
meningkatkan koping. |
|
Berikan
lingkungan yang tengan, batasi pengunjung sesuai keperluan. |
Meningkatkan
periode tambahan istirahat tanpa gangguan. |
|
Bantu
melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif. |
Mempertahankan
atau memperbaiki fleksibilitas sendi. |
4.
Nyeri Akut b/d agens cedera
biologis(splenomegali)
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pasien
menunjukkan nyeri berkurang,terkontrol atau hilang.
Kriteria
Hasil : Skala nyeri yang dirasakan
pasien berkurang (10-0), Pasien dapat mengatasi rasa nyeri yang dirasakan,Wajah
pasien tidak meringis, Pasien dapat beristirahat.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Selidiki
keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor
yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal |
Membantu
dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program. |
|
Berikan
matras / kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai
kebutuhan |
Matras
yang lembut / empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran
tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen
tempat tidur menurunkan tekanan pada daerah yang terinflamasi/nyeri |
|
Dorong
untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong
sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak |
Mencegah
terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi
gerakan/ rasa sakit pada sendi. |
|
Dorong
menggunakan teknik manajemen nyeri (teknik relaksasi/ napas dalam, visualisasi, bimbingan imajinasi). |
Memudahkan
relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping. |
|
Berikan
pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan
musik atau nonton TV |
Meningkatkan
kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri. |
|
Kolaborasi:
Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) |
Sebagai
anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan
meningkatkan mobilitas. |
5. Resiko tinggi kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan factor imunologis ditandai dengan
immobilisasi, kelemahan, hipertermi, perubahan turgor kulit.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan kerusakan bisa berkurang
Kriteria Hasil :
a.
Klien dapat mengidentifikasi
intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik.
b.
Berpartisipasi dalam pencegahan
komplikasi dan percepatan penyembuhan
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji factor risiko injuri pada pasien |
Mencegah terjadinya terjadi kerusakan integritas kulit |
|
Ubahlah posisi pasien secara periodik. |
Meningkatkan
fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan resiko kerusakan jaringan. |
|
Ajarkan
permukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun. |
Area
lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan
organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan dan
dapat meningkatkan iritasi. |
|
Anjurkan
pada pasien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal. |
Menghindari
perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi. |
|
Berikan
advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak
tanpa rekomendasi dokter. |
Mencegah
trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontraindikatif. |
|
Awasi pasien jika beraktivitas |
Mencegah terjadinya injuri dan kerusakan integritas kulit |
6. Kurang
pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan salah interpretasi informasi ditandai dengan keterbatasan belajar, tidak
familiar dengan sumber informasi.
Tujuan:
Setelah
dilakukan tindakan 1x24 jam diharapkan keluarga mengerti akan penyakit klien
dan paham dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan.
Kriteria
hasil:
a.
Menyatakan pemahaman proses
penyakit.
b.
Faham akan prosedur dagnostik dan
rencana pengobatan.
|
Intervensi |
Rasional |
|
Berikan informasi adekuat tentang Trombositopenia Purpura Idiopatik
dan tindakan yang akan dilakukan |
Memberikan pengetahuan dasar sehingga keluarga pasien memahami tentang ITP |
|
Motivasi pasien tentang penyakit yang
dideritanya |
Meningkatkan semangat pasien untuk sembuh |
|
Kaji pemahaman pasien tentang ITP |
Mengetahui pemahaman pasien tentang ITP |
|
Jelaskan mekanisme rencana pengobatan |
Memberikan pemahaman kepada klien tentang
rencana pengobatan |
|
Kaji ansietas pasien |
Mengetahui tingkat ansietas pasien. |
|
Cari sumber yan meningkatkan penerimaan
informasi |
Keluarga terdekat dengan pasien perlu
dilibatkan dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan risiko misinterpretasi
terhadap informasi yang diberikan |
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Idiopathic (Autoimmune)
Thrombocytopenic Purpura (ITP/ ATP) merupakan kelainan autoimun di mana
autoantibody IgG dibentuk untuk mengikat trombosit. Tidak jelas apabila antigen
pada permukaan trombosit dibentuk. Meskiun antibody antitrombosit dapat
mengikat komplemen, trombosit tidak rusak oleh lisis langsung. Insidens
tersering pada usia 20-25 tahun dan lebih sering pada wanita dibandingkan
laki-laki (2:1) (Mansjoer, Arif.2005).
Penyebab
dari ITP tidak diketahui secara pasti, mekanisme yang terjadi melalui
pembentukan antibodi yang menyerang sel trombosit, sehingga sel trombosit
mati.(Imran, 2008). Penyakit ini diduga melibatkan reaksi autoimun, dimana
tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang trombositnya sendiri. Dalam kondisi
normal, antibodi adalah respons tubuh yang sehat terhadap bakteri atau virus
yang masuk kedalam tubuh. Tetapi untuk penderita ITP, antibodinya bahkan
menyerang sel-sel keping darah tubuhnya sendiri. (Family Doctor, 2006)
B.
Saran
Dengan adanya materi yang kami tulis tentanf
idiophatis trombositipnia purpura semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan
data menjadi referens materi pembelajaran.Kamk selaku kelompok menyadari masih
banyak kekurangan dala penulisan materi sehingga saran dan kritik yang
membangun sangat kami perlukan.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
BAB IV
STUDI KASUS
KASUS
An.Y
brumur 13 tahun datang
ke Rumah Sakit pada tanggal 31 oktober 2014 pukul 09.00 WIB dengan keluhan
nyeri di bagian kiri atas pasien Nampak lemas dan pucat. Dari anamnesis dan
pemeriksaan didapatkan bahwa pasien sering mimisan sejak 1 bulan terakhir,
pasien mengatakan tidak nafsu makan, mengalami mual-muntah sering mengalami demam. Saat beraktivitas
pasien sering merasa cepat lelah dan lemas,penderita mengatakan nyeri di perut
bagian atas sebelah kanan atas
dan dapat berkurang jika sedang berbaring. Pada inspeksi terdapat,conjungtiva
anemis, ptekie di daerah kaki, palpasi abdomen didapatkan nyeri tekan, terdapat
pembesaran limfa. TD 110/70 mmHg, Nadi 80x/menit, suhu 380c, RR
28x/menit. Dari hasil pemriksaan lab didapat Hb 10 g/dl; hematokrit 32,9%; Leukosit 5900/µl; Trombosit 70.000/µl. Oleh
dokter An.Y dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.
A. PENGKAJIAN
I.
IDENTITAS KLIEN
Nama : Sdr.P
Umur : 13 tahun
Berat Badan : 46
Tinggi Badan : 159
No. Reg : 02168
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat :
Jenangan
Suku Bangsa : Jawa /
Indonesia
Pendidikan : SMA
MRS : 31
Oktober 2014, Jam 09.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 31 Oktober 2014
,Jam 09.15 WIB
Diagnosa Medis : ITP
II.
KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluhkan perutnya
nyeri pada bagian kiri atas dan merasa lemes apabila beraktivitas.
III.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Sejak tanggal 28
Otober 2014, klien merasakan nyeri hebat
pada perutnya sebelah kiri atas,merasa lemas dan cepat lelah saat beraktivitas.
Tanggal 31 Oktober 2014 pukul 09.00 keluarga
klien membawa ke RSUD pacitan. Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan didapatkan
kurang lebih 1
bulan penderita perut bagian kanan
atas atas. Pada
bagian kaki terdapat bercak meah (petekie), Conjungtiva anmes, Pasien sering mengalami
epistaksis, penderita lebih nyaman bila berbaring. TD 110/70 mmHg,Nadi
90x/menit,suhu 37,50c,RR 28x/menit.Dari hasil pemriksaan lab didapat
Hb 10 g/dl; hematokrit 32,9%; Leukosit
5900/µl; Trombosit 70.000/µl
IV.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien mempunyai riwayat
pernah menjalani perawatan di rumah sakit 6 bulan yang lalu bulan yang lalu di
RS swasta selama 4 hari ketia terdiagnosa tromositopenia.
V.
RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Pada pengkajian kesehatan keluarga, tidak ada
anggota keluarga yang mengalami penyakit seperti yang dialami pasien saat ini.
Tidak ada yang menderita penyakit gangguan hematologi.
VI.
RIWAYAT PSIKOSOSIAL
a. Persepsi dan harapan klien
terhadap masalahnya
Pasien tidak mengetahui dengam jelas penyebab
penyakit dan penyakit yang di deritanya saat ini. Pasien hanya mengetahui jika
pasien mempunyai masalah dengan trombositnya.
b. Persepsi dan harapan keluarga
terhadap masalah klien
Keluarga pasien menganggap penyakit yang
diderita pasien adalah penyakit yang berbahaya dan segera memerlukan perawatan
yang khusus. Harapan keluarga terhadap masalah klien agar klien cepat sembuh
dari penyakitnya dan bisa beraktivitas seperti biasa.
c. Pola interaksi dan komunikasi
Pihak pasien dan keluarga pasien menjawab
pertanyaan perawat dengan menggunakan bahasa indonesia yang bisa di
mengerti.Pasien sedikit kurang kooperati karena pasien terus mengeluh lemas dan
enjawab pertanyaan dengan singkat.
d. Pola pertahanan
Ketika sakit keluarga pasien sering memberikan
minuman jus jambu dan obat diapotik, tetapi karena penyakitya ini yang tidak
sembuh-sembuh, keluarga membawa pasien ke Rumah Sakit untuk dilakukan perawatan
yang intensif.
e. Pola nilai dan kepercayaan
Karena pasien adalah seorang muslim, ketika sakit
klien hanya berdo’a
VII. POLA KESEHATAN SEHARI - HARI
|
POLA |
DI RUMAH |
DI RUMAH SAKIT |
|
|
Sebelum sakit |
Saat sakit |
||
|
1.
Nutrisi dan Metabolisme |
Makan : 3x/hari, habis 1
porsi, makan tidak ada gangguan, makan Minum : 8 gelas/ hari air
putih dan the/kopi karena pasien menyukai the/kopi |
Makan : 2x/ hari, habis
3-4 sendok, merasa tidak enak di perut sehingga menurunkan nafsu makan,merasa
mual dan ingin muntah Minum : air putih dan
the/kopi masing-masing 2 gelas/ hari. Merasa haus Berat badan pasien turun
3kg selama 1 bulan terakhir |
Makan : pasien makan dari
Rumah sakit dengan Diet dari ahli Gizi,Diet Makanan Lunak Minum : pasien minum air
putih 6 gelas/hari |
|
2.
Pola Eliminasi a. BAB b. BAK |
BAB : tidak ada gangguan
dan kesulitan dalam BAB, BAK : 4-5x/hari tidak ada
kesulitan dan gangguan dalam melakukan miksi, semuanya dalam keadaan normal |
BAB : tidak ada kesulitan
dalam BAB, konsistensi feses lunak, kuning, bau khas,terkadang terdapat darah BAK : 3-4x/hari tidak ada
kesulitan dalam miksi, tidak ada darah dalam urine, urine pekat, kuning, bau
khas urine |
BAB :1x/2 hari,tidak, ada
gangguan BAK : tidak ada gangguan dalam miksi, terdapat penurunan jumlah
urine. Dan terpasang dower kateter dengan ukuran 16 , urine pekat, kuning,
tidak ada darah, bau khas amoniak .jumlah urine
500-800cc/hari |
|
3.
Aktivitas |
Pasien adalah seorang
pelajar SMP, sebelum sakit pasien bisa melakukan segala aktivitas dengan
sendirinya. Apabila merasa lelah pasien segera beristirahat.. |
Pasien tidur dengan
kondisi lemas, Semua aPemenuhan aktivitas dibantu keluarga |
pasien hanya tidur
telentang di bed, kadang miring kanan dan miring kiri, keperluan pasien
dicukupi oleh keluarganya. |
|
4.
Istirahat |
Tidur maksimal 9 jam/
hari. Nyenyak dan merasa nyaman |
Tidur maksimal 4-5 jam,
karena merasa tidak nyaman dengan sakitnya terutama nyeri di bagian kiri atas. |
Pasien tidur sekitar 5-6
jam,Gelisah dan sering terbangun,takut jika ditinggal pendamping dri pihak
keluarga karena tidak nyaman dengan proses hospitalisasi. |
|
5.
Personal Hyegine |
Pasien mandi 3x/hari,
gosok gigi 2x/hari, berganti pakaian 2x/hari. |
Pasien mandi 2x/ hari,
ketika ke kamar mandi dibantu oleh keluarganya, gosok gigi akan tetapi lebih
menyukai membersihkan mulut dengan berkumur dengan cairan antiseptic karena
sering terjadi perdahan ketika terkena sikat gigi |
Selama di RS pasien hanya
disibin oleh keluarganya 2x/hari,menerima tindakan oral hygine dari perawat
2x/hari |
VIII.
PEMERIKSAAN FISIK
1.
B1
(Breath) : takikardia, napas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas
2.
B2
(Brain) : Compos mentis,37,50c.
3.
B3
(Blood) : Dispnea, TD : 100/70 mmHg,
Nadi : 90x/menit, ekstremitas pucat pada kulit dan membrane mukosa,konjungtiva
anemis
4.
B4
(Blader) : pengeluaran urine menurun, tidak ada darah dalam urine, terpasang
dower kateter dengan ukuran 16.
5.
B5
(Bowel) : anoreksia.
6.
B6
(Bone) : tubuh tidak tegak,
kekuatan otot menurun, badan terasa lemas, lunglai, letih, lesu.
IX.
Pemeriksaan
Penunjang
hasil
laboratorium
|
Hari, Tanggal |
Jenis pemeriksaan |
Hasil |
Satuan |
Nilai normal |
|
Senin 31/10/2014 |
Paket darah lengkap Hemoglobin Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit MCV MCH MCHC DIFFCOUNT Eusinofil Basofil Netrofil Limfosit Monosit LED 1 jam 2 jam ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida Cholesterol Trigliserida Asam urat |
9 5,9 39 3,3 70 87 30 34 0 0 80 13 7 115 30 140,8 4,4 105,7 118,0 80 8 |
g/dl 103 /ul % 106/ul 103/ul fl pg g/dl - - - - - mm/jam mm/jam mm/dl mm/dl mm/dl mm/dl mm/dl mm/dl |
11,7-15,5 3,6-11 35-47 3,8-5,2 150-440 80-100 26-34 32-36 1-3 0-1 50-70 25-40 2-8 <15 <15 135.0-142 3,5-5,0 95,0-110 150-200 70-140 <6,8 |
B.
ANALISA
DATA
|
No |
Data Fokus |
Etiologi |
Problem |
|
1. |
DS : pasien menngatakan
nyeri di bagian kiri atas perutnya DO : P : nyeri karena
penyakit Q : seperti
ditusuk-tusuk R : pada daerah abdomen
S : skala 5 T : nyeri kadang-kadang TD : 100/70 mmHg RR : 28 x / menit N : 72 x / menit S : 37,5oC |
Hepatomegali |
Nyeri akut |
|
2. |
DS : pasien mengeluh
tidak nafsu makan, merasa mual dan ingin muntah DO : pasien hanya
menghabiskan 3-4 sdm dan 3 gelas, BB turun 3kg, conjungtiva anemis, Hb 9
gr/dl |
Asupan nutrisi yang kurang |
Mual,muntah,anorexia |
|
3. |
DS : pasien mengatakan
kulitnya mengalami perubahan DO
: pasien terlihat kulitnya terdapat bercak merah, turgor kulit buruk |
(Internal) perubahan sirkulasi : ekimosis |
Kerusakan integritas kulit |
|
4 |
DS : Pasien mengatakan
lemas ketika letila beraltivitas DO : Pasien terlihat
lesu,semua aktivitas dibantu,Psien lebih nyaman berbaring,dan hanya memiringkan
tubuh |
Intoleransi aktivitas |
Kelemahan umum |
C.
DIAGNOSA
1.
Nyeri Akut berhubungan
dengan Hepatomegali
2.
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia,mual,muntah.
3.
Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan (Internal) perubahan sirkulasi : ekimosis.
4.
Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan kelemahan umum.
D.
RENCANA
KEPERAWATAN
Diagnosa 1
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan skala
nyeri yang dirakasan berkurang-hilang.
Kriteria Hasil :
1.Dengan skala numeric nyeri pasien dapat
berkurang dari 3-5
2.Nyeri yang dirasakan dapat berkurang
3.Wajah pasien tidak meringis
4.Pasien dapat tenang dan
beristirahat 6-8jam/Hari
|
Intervensi |
Rasional |
|
Mandiri
Selidiki
keluhan nyeri. Perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (guanakan 0 – 10). |
Dapat
mengindikasikan terjadinya komplikasi |
|
Awasi
tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal, misalnya pegangan otot dam
gelisah |
Dapat
membantu mengevaluasi pernyataan verbal dak keefektifan intervensi. |
|
Berikan
lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stress |
Meningkatkan
istirahat dan kemampuan koping. |
|
Tempatkan
pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal atau bantalan. |
Dapat
menurunkan ketidaknyamanan tulang sendi atau sendi |
|
Ubah
posisi secara periodic dan berikan atau bantu latihan rentang gerak lembut. |
Memperbaiki
sirkulasi jaringan dan mobilitas sendi. |
|
Evaluasi
dan dukung mekanisme koping pasien |
Penggunaan
persepsi sendiri atau prilaku untk menghilangkan nyeri dapat membantu pasien
mengatasinya lebih efektif. |
|
Dorong
menggunakan teknik manajemen nyeri contoh lakukan relaksasi atau nafas dalam,
bimbingan imajinasi, visualisasi;sentuhan terapeutik. |
Memudahkan
relaksasi, terapi farmakologis tambahan, dan meningkatkan kemampuan koping. |
|
Bantu/berikan
aktivitas terapeutik, teknik relaksasi. |
Membantu
manajemen nyeri dengan perhatian langsung. |
|
Awasi
kadar asam urat. |
Penggantian
cepat dan dekstruksi sel leukemia selama kemoterapi meningkatkan asam urat,
menyebabkan pembengkakan dan nyeri sendi |
|
Kolaborasi Berikan
obat antiansietas contoh : diazepam (valium), lorazepam (ativam)’ Berikan
obat analgesic contoh : asitamenofen (Tylenol) Berikan
obat narkotik misalnya : kodein, morfin, hidromorfon |
mungkin
diberikan untuk meningkatkan kerja analgesic dan narkotik diberikan
nyeri ringan yang tidak hilang dengan tindakan kenyaman digunakan
bila nyeri berat |
Diagnosa
2
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat
terpenuhi sesuai kebutuhan.
Kriteria Hasil :
1.Pasien
makan 3x / sehari
2.Pasien menghabiskan
porsi makan yang disediakan.
3.Menunjukan
adanya tindakan nyata untuk menjaga kecukupan kebutuhan nutrisi
|
Intervensi |
Rasional |
|
Kaji adanya alergi makanan |
Data dan riwayat tentang alergi pada makanan
tertentu penting sebagai data dan referensi diet yang diterima pasien |
|
Berikan tindakan oral hygiene |
Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan dan
menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. |
|
Kaji makanan dan minuman yang disukai pasien |
Melibatkan pasien dalam perencanaan dan mendorong
pasien untuk meningkatkan intake makan. |
|
Sajikan makanan selagi hangat dan denga tampilan
menarik. |
Sajian menarik dan kondisi makanan yang hangat dapat
meningkatkan nafsu makan. |
|
Beri penjelasan pada pasien dan pihak keluarga
pentingnya asupan makanan. |
Pengertian pasien dan keluarga mengenai asupan
makanan berpengaruh terhadap kesembuhan klien. |
|
Anjurkan makan sedikit tapi sering. |
Makan sedikit tapi sering mencukupi kebutuhan
nutrisi klien secara berkala. |
|
Berikan suasana menyenangkan pada saat makan,
hilangkan rangsangan berbau. |
Meningkatkan nafsu makan dan menurunkan mual. |
|
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. |
Memenuhi kebutuhan nutrisi klien dan menentukan diit
yang tepat. |
Diagnosa
3
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, di harapkan integritas kulit
klien utuh.
Kriteria hasil :
1. Tidak
terjadi lesi/luka baru.
2. Ekimosi,
pteki berkurang.
3. Turgor
kulit pasien membaik.
|
Intervensi |
Rasional |
|
Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang
longgar. |
Pakaian yang longgar mencegah adanya luka, serta
mempermudah mobilisasi, memberikan sirkulasisasi yang baik untuk kulit. |
|
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering |
Kondisi kulit yang bersih dan kering memberikan
kenyamanan pada kulit |
|
Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali |
Penekanan pada area tertentu dalam rentan waktu yang
lama dapat menyebabkan sirkulasi darah terhambat dan lika atau lesi. |
|
Memandikan pasien dengan air hangat |
Kebersihan kulit menjadi faktor integritas kulit
yang baik, air hangat memperlancar sirkulasi darah dan memberikan rasa
nyaman. |
|
Anjurkan pada pasien untuk tidak menggaruk bagian
yang gatal. |
Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan
infeksi. |
|
Berikan advise pada klien untuk menghindari
pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter. |
Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang
kontraindikatif. |
|
Awasi pasien jika beraktivitas |
Mencegah terjadinya injuri dan kerusakan integritas
kulit |
Diagnosa
4
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakn keperawatan selama 2x24 jam pasien
menunjukkan toleransi aktivitas
dengan
Kriteria
hasil : Pasien
dapat menyeimbangkan aktivitas dan
istirahat,Dapat beraktivitas sesuai kebutuhan dan kemampuan.
|
Intervensi |
Rasional |
|
Mandiri Evaluasi
laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
aktivitas atau aktivitas sehari-hari. |
Efek
leukemia, anemia, dan kemoterapi mungkin kumulatif (khususnya pada fase akut
dan aktif) |
|
Berikan
lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat
sebelum makan. |
Menghemat
energy untuk aktivitas dan regenerasi seluler / penyembuhan jaringan. |
|
Implementasikan
teknik penghematan energy, contoh lebih baik duduk daripada berdiri,
penggunaan kursi untuk mandi. Bantu ambulasi atau aktivitas lain sesuai
indikasi. |
Memaksimalkan
sediaan energi untuk tugas perawatan diri. |
|
Jadwalkan
makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan
antiematik sesuai indikasi. |
Dapat
meningkatkan pemasukan dengan menurunkan mual. (rujuk ke dokter kanker,
dokter nutrisi, perubahan; kurang dari kebutuhan tubuh). |
|
Kolaborasi berikan
oksigen tambahan |
Memaksimalkan
sediaan oksigen untuk kebutuhan seluler. |
E.
IMPLEMENTASI
|
No Dx |
Tanggal dan Jam |
Tindakan Keperawatan |
TTD |
|
1 |
31 oktober 2014,11.30 WIB |
1. Menyelidiki
keluhan nyeri pasien R/: skala nyeri pasien 5 2. Mengukur
TTV dan memperhatikan petunjuk non-verbal klien. R/: TD: 100/70, nadi 80x/menit,
suhu 37,5 0C, RR 28x/menit. Pasien meringis karena menahan nyeri. 3. Memberikan
lingkungan yang tenang dan menjauhkan hal-hal yang merangsang stress pasien. R/: klien dapat beristirahat dengan
tenang,pasien nyaman jika di temani pihak keluarga 4. Mengubah
posisi secara periodic dan membantu latihan rentang gerak lembut. R/: sirkulasi klien dapat berjalan
dengan lancar. 5. Membantu
dan melatih pasien untuk melakukan teknik relaksasi seperti napas dalam,
imajinasi. R/: nyeri pasien berkurang. 6. Memberikan
obat sesuai advice dokter. Seperti diazepam, asitaminofen, kodein dan
lain-lain. R/:
nyeri pasien berkurang, dengan skala 3. |
|
|
2 |
31 oktober
2014/12.00 |
1. Megkaji
adanya alergi makanan R/ : Pasien alergi terhadap udang dan
kacang kacangan. 2. Mengkaji
makanan dan minuman yang disukai pasien R/ : Pasien menyukai makanan yang berasa
manis dan berkuah 3. Menyajikan
makanan selagi hangat dan denga tampilan menarik R/ : Pasien menghabiskan setengah porsi
makanan 4. Memberi
penjelasan pada pasien dan pihak keluarga pentingnya asupan makanan. R/ :Keluarga pasien mengerti dan member
dukungan serta berperan aktif dalam pemenuhan nutrisi 5. Melakukan
tindakan oral hygiene R/ :Pasien mengatakan lebih merasa
nyaman,nafsu makan meningkat. |
|
F. EVALUASI KEPERAWATAN
|
No dx |
Tanggal |
Perkembangan |
|
1 |
31 oktober 2014 12.30 WIB |
S : Klien masih mengatakan nyeri pada perut sebelah kiri. O : Skala nyeri 3, TD: 100/70, nadi
90x/menit, suhu 37,5 0C, RR 28x/menit A : Masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi |
|
2 |
31 oktober 2014 12.30 WIB |
S : Klien mengatakan nafsu makan meningkat O: Pasien menghabiskan
setengah porsi makan A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi. |
No comments:
Post a Comment