Sunday, July 19, 2026

STUDI KASUS pasien anemia aplastik

 

STUDI KASUS pasien anemia aplastik

KASUS

Tuan A masuk rumah sakit pada tanggal 12 Oktober 2014, jam 10.00 WIB. Mengeluhkan sakit kepala pada bagian tengkuknya, nafas menjadi tak beraturan saat dibuat aktivitas, badan sering terasa lemas dua hari yang lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, tubuh tidak tegak, dan adanya penurunan Berat Badan (dari 70 kg menjadi 65 kg). Rambut kering dan mudah putus dan dua hari yang lalu mengalami mimisan, dan merasa tidak enak di bagian abdomen, dibagian kulit juga ditemukan adanya petekie dan ekimosis. Pada hasil pemeriksaan Laboratoriun didapatkan Hb : 3,6 g/Dl, Terjadi trombositopenia. Setelah dilakukan lumbal pungsi terdapat sumsum tulang tergantikan oleh lemak. Dari hasil TTV didapatkan TD : 100/60 mmHg, RR : 25X/Menit, Nadi : 80x/ menit, Suhu : 390C.

 

A.    PENGKAJIAN

                 I.  IDENTITAS KLIEN

Nama                         : Tn. A

Umur                          : 39 tahun

No. Reg                      : 081222

Agama                                   : Islam

Pekerjaan                   : Pegawai Pabrik

Alamat                        : Tanggulangin, Sidoarjo

Suku Bangsa              : Jawa / Indonesia

Pendidikan                 : SMA

MRS                           : 12 Oktober 2014, Jam 10.00 WIB

Tanggal Pengkajian   : 12 Oktober 2014 ,Jam 10.15 WIB

Diagnosa Medis         : Anemia Aplastik

                II.  KELUHAN UTAMA

Pasien mengeluhkan merasakan sakit kepala di bagian tengkuknya, badan terasa lemas, nafas menjadi tidak beraturan saat dibuat aktivitas.

               III.  RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak jam 24.00 tanggal 13 Oktober 2014, klien merasakan sakit kepala di bagian tengkuknya badan terasa lemas,nafas menjadi tidak teratur saat digunakan untuk aktivitas. Tanggal 14 Oktober 2014 pagi ketika klien akan pergi ke pabrik ketempat klien bekerja, klien tiba- tiba jatuh di teras depan rumah, oleh keluarganya klien dibawa ke RSU dr. Soetomo Surabaya. Jam 10.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, tubuh tidak tegak, dan adanya penurunan Berat Badan (dari 70 kg menjadi 65 kg). Rambut kering dan mudah putus dan dua hari yang lalu mengalami mimisan, dan merasa tidak enak di bagian abdomen, dibagian kulit juga ditemukan adanya petekie dan ekimosis. Pada hasil pemeriksaan Laboratoriun didapatkan Hb : 3,6 g/Dl, Terjadi trombositopenia. Setelah dilakukan lumbal pungsi terdapat sumsum tulang tergantikan oleh lemak. Dari hasil TTV didapatkan TD : 100/60 mmHg, RR : 25X/Menit, Nadi : 80x/ menit, Suhu : 400C.

 

            IV.  RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Pada saat pengkajian dua hari yang lalu pasien mengalami mimisan, dan badannya terasa lemas, nafas tidak beraturan saat digunakan untuk beraktivitas. Dan tidak pernah menggunakan obat-obatan kimia

            V.    RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Pada pengkajian kesehatan keluarga, tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit seperti yang dialami pasien saat ini. Tidak pernah mengalami perdarahan kronois, ataupun riwayat penyakit kekurangan darah.

          VI.     RIWAYAT PSIKOSOSIAL

a. Persepsi dan harapan klien terhadap masalahnya

Pasien tidak mengetahui penyebab penyakit yang dideritanya saat ini, mungkin karena factor kelelahan saat bekerja. Tetapi meskipun pasien tidak tahu tentang penyebab penyakitnya apa, pasien ingin segera sembuh dan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya

b. Persepsi dan harapan keluarga terhadap masalah klien

Keluarga pasien menganggap penyakit yang diderita pasien adalah penyakit yang berbahaya dan segera memerlukan perawatan yang khusus. Harapan keluarga terhadap masalah klien agar klien cepat sembuh dari penyakitnya dan bisa beraktivitas seperti biasa.

c. Pola interaksi dan komunikasi

Keluarga pasien menjawab pertanyaan perawat dengan menggunakan bahasa indonesia yang bisa di mengerti. Tetapi pasien ketika ditanya agak mengalami disorientasi dan menjawab pertanyaan perawat dengan lambat. Kadang juga menunjukkan sikap yang apatis terhadap perawat.

d. Pola pertahanan

Aktivitas klien sehari-hari dibantu oleh keluarga, mulai dari makan dan segala keperluan klien di cukupi oleh keluarganya.

 

 

 

 

e. Pola nilai dan kepercayaan

Karena pasien adalah seorang muslim, ketika sakit klien hanya berdo’a memohon kesembuhan dan seringkali berdzikir untuk menghilangkan rasa nyeri yang ada di kepalanya.

 

             VII. POLA KESEHATAN SEHARI-HARI

POLA

DI RUMAH

DI RUMAH SAKIT

Saat sakit

Sebelum sakit

1.    Nutrisi dan Metabolisme

Makan : 2x/ hari, habis 5 sendok, merasa tidak enak di perut sehingga menurunkan nafsu makan

Minum : air putih dan teh masing-masing 3 gelas/ hari. Merasa haus

Makan : 3x/hari, habis 1 porsi, makan tidak ada gangguan, makan lahap

Minum : 8 gelas/ hari air putih dan the, karena pasien menyukai the

Makan : pasien makan dari Rumah sakit dengan Diet dari ahli Gizi

Minum : pasien minum air putih, karena tidak diperbolehkan minum air teh (teh dapat menghambat penyerapan zat besi)

2.    Pola Eliminasi

a. BAB

b. BAK

BAB : tidak ada kesulitan dalam BAB, diksi 2x/hari tidak ada darah atau lender pada feses, konsistensi feses lunak, kuning, bau khas

BAK : tidak ada kesulitan dalam miksi, tidak ada darah dalam urine, urine pekat, kuning, bau khas urine

BAB : tidak ada gangguan dan kesulitan dalam BAB, diksi 2x/hari . semua normal

BAK : tidak ada kesulitan dan gangguan dalam melakukan miksi, semuanya dalam keadaan normal

BAB : ada kesulitan dan gangguan dalam BAB yaitu konstipasi, diksi 2x/hari tidak ada darah dan lender pada feses, konsistensi feses kuning, lunak, bau khas.

BAK : tidak ada gangguan dalam miksi, terdapat penurunan jumlah urine. Dan terpasang dower kateter dengan ukuran 16, urine pekat, kuning, tidak ada darah, bau khas amoniak.

3.    Aktivitas

Pasien tidur dengan kondisi lemas, keperluan pasien dicukupi oleh keluarganya. Semua aktivitas dibantu oleh keluarganya

Pasien adalah seorang pekerja pabrik, sebelum sakit pasien bisa melakukan segala aktivitas dengan sendirinya. Apabila merasa lelah pasien segera beristirahat dan meminta pertolongan kepada keluarga jika memerlukan sesuatu.

pasien hanya tidur telentang di bed, kadang miring kanan dan miring kiri, kadang juga duduk di bed. Segal keperluan pasien dicukupi oleh keluarganya.

4.    Istirahat

Tidur maksimal 3 jam, karena merasa tidak nyaman dengan sakitnya. Sering terbangun jika mendengar sesuatu, sering menguap

Tidur maksimal 9 jam/ hari. Nyenyak dan merasa nyaman

Pasien tidur sekitar 4 jam, sering terbangun karena tidak nyaman dengan proses hospitalisasi.

5.    Personal Hyegine

Pasien mandi 2x/ hari, ketika ke kamar mandi dibantu oleh keluarganya, gosok gigi 2x/hari, dan berganti pakaian 2x/hari

Pasien mandi 3x/hari, gosok gigi 2x/hari, berganti pakaian 2x/hari

Pasien mandi 2x/hari, gosok gigi 1x/ hari, ganti pakaian 1x/hari.

 

 

 

 

    VIII.        PEMERIKSAAN FISIK

B1 (Breath) : dispnea atau kesulitan bernafas, napas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani, merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman oksigen.

B2 (Brain) : disfungsi neurologis, terdapat nyeri kepala dibagian tengkuk, disorientasi, dan bersikap apatis, peka terhadap rangsang (misal ; suara, cahaya), tinitus

B3 (Blood)  : Dispnea, TD : 100/60 mmHg, Nadi : 80x/menit, ekstremitas pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva), terdapat petekie dan ekimosis. Pengisian kapiler melambat, takikardia.

B4 (Blader) : Urine pekat, bau khas amoniak, pengeluaran urine menurun, tidak ada darah dalam urine, terpasang dower kateter dengan ukuran 16.

B5 (Bowel) : dyspepsia, tidak ada gangguan dalam BAB (diare dan konstipasi), tidak ada darah dan lender pada feses, konsistensi lunak, kuning, bau khas feses, anoreksia, konstipasi atau diare.

B6 (Bone)   : tubuh tidak tegak, kekuatan otot menurun, badan terasa lemas, lunglai, letih, lesu, rambut kering dan mudah putus.

 

      IX.        PEMERIKSAAN PENUNJANG

Jumlah darah lengkap : hemoglobin dan Hematokrit menurun

Jumlah eritrosit : menurun

Jumlah leukosit : meningkat

Jumlah trombosit : menurun

Bilirubin Serum : Meningkat

LDH Serum : Mungkin meningkat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

        X.        ANALISA DATA

 

No

Tanggal

Kelompok Data

Masalah

Penyebab

1.

12-10-‘14

DS : Pasien mengatakan mengeluhkan sakit kepala pada bagian tengkuknya

DO : skala nyeri 5, pasien meringis, takikardia, Nadi : 105x/menit, sering memegangi  tengkuknya.

 

Nyeri

Menurunnya suplai darah ke otak

2.

12-10-‘14

DS : Pasien mengatakan nafas tidak beraturan saat digunakan untuk beraktivitas

DO : Dispnea, RR : 25x/menit, cepat, napas pendek.

Pola nafas tidak efektif

Respon peningkatan frekuensi pernapasan

3.

12-10-‘14

DS : Pasien mengatakan lemas, lelah, gejala tersebut dirasakan 2 hari yang lalu, saat beraktivitas nafasnya terengah-engah

DO : Lemah, letih, lesu, lunglai, apatis, disorientasi, tinnitus, dan peka terhadap rangsang (cahaya, suara), tubuh tidak tegak.

Intoleransi aktivitas

Ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan.

4.

12-10-‘14

DS : Pasien mengatakan lemas dan merasa tidak enak badan

DO : Konjungtiva anemis, membrane mukosa pucat, kuku pucat, telapak tangan pucat, TD : 100/60 mmHg

Gangguan perfusi jaringan perifer

Menurunnya pengangkutan oksigen ke jaringan sekunder dari penurunan sel-sel darah merah di sirkulasi

5.

12-10-‘14

DS : Pasien mengatakan merasa tidak nyaman di perut (dyspepsia), anoreksia, terjadi penurunan BB

DO : Terjadi penurunan BB (70 menjadi 65 kg), dyspepsia, anoreksia, Rambut kering dan mudah putus

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Anoreksia dan penurunan intake

6.

12-10-‘14

DS : Klien mengatakan badannya tidak enak, demam.

DO : Pasien tampak lemah, Suhu 400C

Infeksi

Pertahanan sekunder tidak adekuat (granulosit menurun, leucopenia, trombositopenia), proses inflamasi

7.

12-10-‘14

DS : Klien mengatakan dua hari yang lalu dirinya mengalami mimisan (epistaksis), terdapat petekie, ekimosis.

DO : terdapat petekie dan ekimosis pada kulit.

Deficit volume cairan

Adanya proses perdarahan mengakibatkan trombositopenia..

8.

12-10-‘14

DS : Klien mengatakan dirinya dan keluarganya tidak mengetahui penyebab penyakitnya

DO : pasien nampak cemas, terdapat perubahan status kesehatan, tetapi masih berdo’a dan berdzikir saat sakit.

Cemas

Perubahan status kesehatan

 

      XI.        DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.    Nyeri berhubungan dengan menurunnya suplai darah ke otak

2.    Actual/ risiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan respons peningkatan frekuensi pernapasan

3.    Actual/ risiko tinggi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan

4.    Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan pengangkutan O2 ke jaringan sekunder dari penurunan jumlah sel darah merah di sirkulasi

5.    Actual/ risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake dan anoreksia

6.    Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat (granulositipenia, leucopenia, trombositipenia) dan proses inflamasi

7.    Deficit volume cairan berhubungan dengan proses perdarahan (ekomosis dan petekie)

8.    Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

 

     XII.        RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1.    Nyeri berhubungan dengan menurunnya suplai darah ke otak

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri pasien dapat teratasi, pasien mampu mentoleransi nyerinya

KH : pasien mampu menunjukkan ekspresi wajah yang ceria, dan tidak merasakan kesakitan

INTERVENSI

RASIONAL

Kaji karakteristik nyeri (awitan, durasi, lokasi, keparahan)

Mengetahui tingkat keparahan nyeri yang dirasakn pasien

Observasi TTV

Sebagai dasar untuk mengetahui perkembangan pasien

Observasi factor penyebab nyeri

Klien mampu mentoleransi nyeri

ajarkan pasien memodifikasi stimulus nyeri, seperti distraksi, relaksasi, dan imajinasi terbimbing

Mengurangi intensitas nyeri

Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress

Meningkatka istirahat dan mekanisme  kping

Kolaborasi dengan pemberian analgesik

Mengurangi intensitas nyeri dan menurunkan rangsang ke SSP

Kaji factor-faktor yang meningkatkan dan meringankan nyeri

Mengetahu factor predisposisi penyebab nyeri dan mengurangi intensitas nyeri secara berkala

Libatkan keluarga dalam perawatan klien

Keluarga yang mendukung akan mempercepat proses kesembuhan klien

 

2.    Actual/ risiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan respons peningkatan frekuensi pernapasan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam pasien mampu mempertahankan pola nafas yang efektif

KH : klien tidak sesak nafas, RR dalam batas normal (16-20x/menit)

INTERVENSI

RASIONAL

Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk otot bantu pernafasan/ pelebaran nasal.

Kecepatn biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada

Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi semi fowler atau fowler

Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan

Kaji/ awasi secara rutin kulit, kuku dan warna dan perubahan yang terjadi pada membrane mukosa bibir

Hipoksia akan dimanifestasikan dengan perubahan membrane mukosa bibir menjadi pucat/ sianosis, kuku pucat dengan CRT >3 detik

Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernapasan bibir

Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan lebih efektif

Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat

Memungkinkan pasien melakukan aktivitas tanpa distress berlebihan

Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernapasan jika diharuskan

Menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan

Kolaborasi (berikan oksigen tambahan sesuai dengan advis dokter)

Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membrane mukosa dan membantu mengencerkan secret

 

3.    Actual/ risiko tinggi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan

Tujuan : Dapat mempertahankan /meningkatkan ambulasi/aktivitas

KH : Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal (Misal : TD :120/80, RR: 18X/Menit, Nadi : 85X/Menit, Suhu : 36,5 )

INTERVENSI

RASIONAL

    Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/ AKS normal. Catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas

   Mempengaruhi pilihan intervensi atau bantuan

    Kaji kehilangan/ gangguan keseimbangan gaya jalan. Kelemahan otot

  Menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi vit. B12. Mempengaruhi keamanan pasien resiko cidera

Awasi TTV selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas, Misal : peningkatan denyut jantung/ tekanan darah disritmia.Pusing dispnea, tachipnea dsb.

   Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan

Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila di indikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon dang gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan

Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan O2 tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru

Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing

Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing berdenyut dan peningkatan resiko cidera

Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas

Mempertahankan tingkat energi dan meni ngkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan



Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri

Rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien anggap perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi

Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot atau stamina tanpa kelemahan. Meningkatkan harga diri dan rasa terkonrol

Gunakan teknik penghematan energi, Misal : mandi dengan duduk. Duduk untuk melakukan tugas-tugas

Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan

Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi nyeri dada, napas pendek, kelemahan atau pusing terjadi

Regangan/ stress kardiopulmonal berlebihan/ stress dapat menimbulakn dekompensasi/ kegagalan

 

4.    Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan pengangkutan O2 ke jaringan sekunder dari penurunan jumlah sel darah merah di sirkulasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam Peningkatan perfusi jaringan

KH : Klien menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil. Membran mukosa merah muda, pengisian kapiler baik, haluaran urine adekuat ; mental seperti biasa

INTERVENSI

RASIONAL

   Awasi  tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku.

   Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi.

   Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

 

 

   Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.

-  Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius.

   Dispnea, Gemericik menununjukkan GJK karena regangan jantung lama/ peningkatan kompensasi curah jantung.

-  Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi.

 

   Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark.

   Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung.

   Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12

Catat keluhan rasa dingin. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi

    Vasokontriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien/ kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ)

Hindari penggunaan bantalan penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan termometer

termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan pksigen

Awasi pemeriksaan laboratorium. Misal : Hb/Ht dan jumlah SDM dan GDA

Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/ respon terhadap terapi

Berikan SDM darah lengkap / packed red cell. Produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi transfusi

Meningkatan jumlah sel pembawa oksigen. Memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan

Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi

Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan

Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi

Transplantasi sumsum tulang di lakukan pada kegagalan sumsum tulang/anemia aplastik

 

5.    Actual/ risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake dan anoreksia

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam nutrisi pasien terpenuhi

KH : Menunjukkan peningkatan BB yang stabil dengan nilai laboratorium normal, tidak mengalami tanda malnutrisi, menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/ mempertahankan berat badan yang sesuai

INTERVENSI

RASIONAL

Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai

Mengidentifikasikan defisiensi, menduga kemungkinan intervensi

Observasi dan catat masukan makanan pasien

Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan

Timbang berat badan setiap hari

Mengawasi penurunan BB atau efektifitas intervensi nutrisi

Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/ atau makan diantara waktu makan

Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster

Observasi dan catat kejadian mual/ muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan

Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ

Berikan dan bantu hiegiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka

Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri hebat

Konsultasikan pada ahli gizi

Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual

Pantau pemeriksaan laboratorium, misal ;Hb/Ht,BUN, albumin, protein, transferin, besi serum, B12, Asam folat, TIBC, elektrolit serum

Meningkatkan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan

Berikan obat sesuai indikasi. Misal ; Vitamin dan suplemen mineral, Misal; sianokobalamin (Vit. B12), Asam folat (Flovite), Asam askorbat (Vit.C)

Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan/ atau adanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi

Berikan besi dextran (IM/IV)

Diberikan sampai defisit diperkirakan teratasi dan disimpan untuk yang tak dapat diabsorpsi atau terapi besi oral, atau bila kehilangan darah terlalu cepat untuk penggantian oral menjadi efektif

Tambahan besi oral, misal ; fero sulfat (feosol), feroglukonat (fergon)

Mungkin berguna pada beberapa tipe anemia defisiensi besi

Asam hidroklorida (HCl)

Mempunyai sifat absorpsi Vit.B12 selama minggu pertama terapi

Antijamur atau pencuci mulut anestesik jika diindikasi

Mungkin diperlukan pada adanya stomatitis, glositis untuk meningkatkan penyembuhan jaringan mulut dan memudahkan masukan

Berikan diet halus, rendah serat, menghindari makanan pedas, atau terlalu asam sesuai indikasi

Bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi pasien

Berikan suplemen nutrisi. Misal ; Ensure, Isocal

Meningkatkan masukan protein dan kalori

 

6.    Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat (granulositipenia, leucopenia, trombositipenia) dan proses inflamasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi

KH : mengidentifikasi perilaku untuk mencegah atau menurunkan risiko infeksi, meningkatkan penyembuhan luka,bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.

INTERVENSI

RASIONAL

Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan pasien

Mencegah kontaminasi silang/ kolonisasi bakterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit 

Pertahankan teknik aseptik ketat pada prosedur/ perawatan

Menurunkan risiko kolonisasi/ infeksi bakteri

Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat

Menurunkan risiko kerusakan kulit/ jaringan dan infeksi

Dorong perubahan posisi/ ambulasi yang sering, latihan batuk, napas dalam

Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia

Tingkatkan masukan cairan adekuat

Membantu dalam pengenceran sekret pernapasan unruk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh (misal : pernapasan danm ginjal)

Pantau/ batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan.

Membatasi pemajanan inflamasi/ infeksi. Perlindungan isolasi dapat dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu.

Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam

Adanya proses inflmasi/ infeksi membutuhkan evaluasi/ pengobatan

Amati eritema/ cairan luka

Indikator infeksi lokal. Catatan: pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan

Ambil spesimen untuk kultur/ sensitivitas sesuai indikasi

Membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan

Berikan antiseptik topikal ;antibiotik sistemik

Mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi lokal

 

7.    Defisit volume cairan berhubungan dengan proses perdarahan pada kulit (ekimosis dan petekie)

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam tidak ada perdarahan, trombosit meningkat.

KH : Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut (secara klinis), Jumlah trombosit meningkat.

INTERVENSI

RASIONAL

Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.

 

 

 

 

 

Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit yang diketahui pasien serta kebenaran in-formasi yang telah didapatkan sebelumnya.

 

 Mengkaji latar belakang pendi-dikan pasien/keluarga.

 

Agar perawat dapat memberi-kan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat dipa-hami & tujuan yang direncana

kan tercapai.

Menjelaskan tentang proses pe-nyakit, diet, perawatan & obat-obatan pada pasien dengan ba-hasa & kata-kata yang mudah dimengerti/dipahami.

Agar informasi dapat diterima dengan mudah & tepat sehing- ga tidak menimbulkan kesalah pahaman.

Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan & manfaat nya bagi pasien.

 

Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang akan diala-mi, pasien akan lebih koopera-tif & kecemasannya menurun.

 

Memberikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk mena-nyakan hal-hal yang ingin dike-tahui sehubungan dengan penyakit yang dialami pasien.

 

Mengurangi kecemasan & memotivasi pasien untuk koo-peratif selama masa perawat-an atau penyembuhan.

 

Menggunakan leaflet atau gam-bar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada/memung-kinkan).

 

Gambar-gambar atau media cetak seperti leaflet dapat membantu mengingat penje-lasan yang telah diberikan ka-rena dapat dilihat atau dibaca berulang kali.

 

8.    Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan : Dalam 1x24 jam kecemasan klien berkurang

KH :klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan dan wajah rileks.

INTERVENSI

RASIONAL

Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut

Cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya

Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, damping klien, dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak

Reaksi verbal atau non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah, dan gelisah

Hindari konfrontasi

Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerjasama dan mungkin memperlambat penyembuhan

Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Berikan lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat

Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu

Tingkatkan control sensasi klien

Control sensasi klien (menurunkan kekuatan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri) yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan serta memberikan respons balik yang positif

Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan

Orientasi dapat menurunkan kecemasan

Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya

Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak di ekspresikan

Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat

Member waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien untuk membantu aktivitas serta pengalihan (misal ; membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi

Kolaborasi :

Berikan anti cemas, sesuai indikasi, contoh : diazepam

Meningkat relaksasi dan menurunkan kecemasan

 

 

 

 

 

 

 

    XIII.        EVALUASI KEPERAWATAN

NO

Tanggal

Perkembangan

1

16-09-‘14

S : Klien mengatakan sakit kepala yang berada di tengkuk sudah tidak terasa lagi

O : Klien tampak ceria, tidak memegangi kepala, RR :18x/ menit, Rileks, dan mampu mengidentifikasi nyerinya.

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan/ hentikan intervensi

2

16-09-‘14

S : Klien mengatakan tidak merasa sesak lagi saat beraktivitas

O : tidak ada dispnea, RR : 18x/ menit, nafas tidak pendek dan tidak cepat

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

3

16-09-‘14

S : Klien mengatakan tidak merasa badannya lemas, tidak lelah, sudah melakukan ativitas

O : tidak lemah, letih, lesu, toleran terhadap aktivitas, tidak bersikap apatis

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

4

16-09-‘14

S : Klien mengatakan badannya sudah terasa enak dan tidak lemas lagi

O : konjungtiva tidak anemis, kuku, membrane mukosa  bibir dan telapak tangan tidak anemis

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

5

16-09-‘14

S : Klien mengatakan perutnya sudah nyaman, tidak mual muntah, nafsu makan bertambah.

O : Dispepsia hilang, terjadi peningkatan BB secara bertahap, nafsu makan bertambah

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

6

16-09-‘14

S : Klien mengatakan badan sudah terasa enak, suhu tubuh turun dan tidak mengalami demam

O : suhu tubuh dalam batas normal (36,50C), tidak mengalami demam

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

7

16-09-‘14

S : klien mengatakan dirinya sudah tidak mengalami mimisan lagi, badan terasa enak

O : tidak ada epistaksis, ekimosis dan petekie berkurang

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

8

16-09-‘14

S : Klien dan keluarganya mengatakan sudah mengetahui penyebab penyakit yang dideritanya

O : klien menerima keadaan, tidak apatis, kooperatif terhadap perawat, tidak mengalami disorientasi

A : Masalah teratasi

P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment