STUDI KASUS pasien anemia aplastik
KASUS
Tuan A masuk rumah sakit pada tanggal 12 Oktober
2014, jam 10.00 WIB. Mengeluhkan sakit kepala pada bagian tengkuknya, nafas
menjadi tak beraturan saat dibuat aktivitas, badan sering terasa lemas dua hari
yang lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, tubuh
tidak tegak, dan adanya penurunan Berat Badan (dari 70 kg menjadi 65 kg).
Rambut kering dan mudah putus dan dua hari yang lalu mengalami mimisan, dan
merasa tidak enak di bagian abdomen, dibagian kulit juga ditemukan adanya
petekie dan ekimosis. Pada hasil pemeriksaan Laboratoriun didapatkan Hb : 3,6
g/Dl, Terjadi trombositopenia. Setelah dilakukan lumbal pungsi terdapat sumsum
tulang tergantikan oleh lemak. Dari hasil TTV didapatkan TD : 100/60 mmHg, RR :
25X/Menit, Nadi : 80x/ menit, Suhu : 390C.
A. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. A
Umur : 39
tahun
No. Reg : 081222
Agama :
Islam
Pekerjaan : Pegawai
Pabrik
Alamat :
Tanggulangin, Sidoarjo
Suku Bangsa : Jawa /
Indonesia
Pendidikan : SMA
MRS : 12
Oktober 2014, Jam 10.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 12 Oktober 2014
,Jam 10.15 WIB
Diagnosa Medis : Anemia
Aplastik
II. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluhkan merasakan sakit kepala di
bagian tengkuknya, badan terasa lemas, nafas menjadi tidak beraturan saat
dibuat aktivitas.
III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Sejak jam 24.00 tanggal 13 Oktober 2014, klien merasakan sakit kepala di bagian
tengkuknya badan terasa lemas,nafas menjadi tidak teratur saat digunakan untuk
aktivitas. Tanggal 14 Oktober 2014 pagi ketika klien akan pergi ke pabrik
ketempat klien bekerja, klien tiba- tiba jatuh di teras depan rumah, oleh keluarganya
klien dibawa ke RSU dr. Soetomo Surabaya. Jam 10.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, tubuh tidak
tegak, dan adanya penurunan Berat Badan (dari 70 kg menjadi 65 kg). Rambut
kering dan mudah putus dan dua hari yang lalu mengalami mimisan, dan merasa
tidak enak di bagian abdomen, dibagian kulit juga ditemukan adanya petekie dan
ekimosis. Pada hasil pemeriksaan Laboratoriun didapatkan Hb : 3,6 g/Dl, Terjadi
trombositopenia. Setelah dilakukan lumbal pungsi terdapat sumsum tulang
tergantikan oleh lemak. Dari hasil TTV didapatkan TD : 100/60 mmHg, RR : 25X/Menit,
Nadi : 80x/ menit, Suhu : 400C.
IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pada saat pengkajian dua hari
yang lalu pasien mengalami mimisan, dan badannya terasa lemas, nafas tidak
beraturan saat digunakan untuk beraktivitas. Dan tidak pernah menggunakan
obat-obatan kimia
V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Pada pengkajian kesehatan keluarga, tidak ada
anggota keluarga yang mengalami penyakit seperti yang dialami pasien saat ini.
Tidak pernah mengalami perdarahan kronois, ataupun riwayat penyakit kekurangan
darah.
VI. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
a. Persepsi dan harapan klien terhadap masalahnya
Pasien tidak mengetahui
penyebab penyakit yang dideritanya saat ini, mungkin karena factor kelelahan
saat bekerja. Tetapi meskipun pasien tidak tahu tentang penyebab penyakitnya
apa, pasien ingin segera sembuh dan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
b. Persepsi dan harapan keluarga terhadap masalah
klien
Keluarga pasien menganggap
penyakit yang diderita pasien adalah penyakit yang berbahaya dan segera
memerlukan perawatan yang khusus. Harapan keluarga terhadap masalah klien agar
klien cepat sembuh dari penyakitnya dan bisa beraktivitas seperti biasa.
c. Pola interaksi dan komunikasi
Keluarga pasien menjawab
pertanyaan perawat dengan menggunakan bahasa indonesia yang bisa di mengerti.
Tetapi pasien ketika ditanya agak mengalami disorientasi dan menjawab
pertanyaan perawat dengan lambat. Kadang juga menunjukkan sikap yang apatis
terhadap perawat.
d. Pola pertahanan
Aktivitas klien sehari-hari
dibantu oleh keluarga, mulai dari makan dan segala keperluan klien di cukupi
oleh keluarganya.
e. Pola nilai dan kepercayaan
Karena pasien adalah seorang
muslim, ketika sakit klien hanya berdo’a memohon kesembuhan dan seringkali
berdzikir untuk menghilangkan rasa nyeri yang ada di kepalanya.
VII. POLA KESEHATAN SEHARI-HARI
|
POLA |
DI RUMAH |
DI RUMAH
SAKIT |
|
|
Saat sakit |
Sebelum sakit |
||
|
1. Nutrisi dan Metabolisme |
Makan
: 2x/ hari, habis 5 sendok, merasa tidak enak di perut sehingga menurunkan
nafsu makan Minum
: air putih dan teh masing-masing 3 gelas/ hari. Merasa haus |
Makan
: 3x/hari, habis 1 porsi, makan tidak ada gangguan, makan lahap Minum
: 8 gelas/ hari air putih dan the, karena pasien menyukai the |
Makan
: pasien makan dari Rumah sakit dengan Diet dari ahli Gizi Minum
: pasien minum air putih, karena tidak diperbolehkan minum air teh (teh dapat
menghambat penyerapan zat besi) |
|
2.
Pola Eliminasi a. BAB b. BAK |
BAB
: tidak ada kesulitan dalam BAB, diksi 2x/hari tidak ada darah atau lender
pada feses, konsistensi feses lunak, kuning, bau khas BAK
: tidak ada kesulitan dalam miksi, tidak ada darah dalam urine, urine pekat, kuning,
bau khas urine |
BAB
: tidak ada gangguan dan kesulitan dalam BAB, diksi 2x/hari . semua normal BAK
: tidak ada kesulitan dan gangguan dalam melakukan miksi, semuanya dalam
keadaan normal |
BAB
: ada kesulitan dan gangguan dalam BAB yaitu konstipasi, diksi 2x/hari tidak
ada darah dan lender pada feses, konsistensi feses kuning, lunak, bau khas. BAK
: tidak ada gangguan dalam miksi, terdapat penurunan jumlah urine. Dan
terpasang dower kateter dengan ukuran 16, urine pekat, kuning, tidak ada
darah, bau khas amoniak. |
|
3. Aktivitas |
Pasien
tidur dengan kondisi lemas, keperluan pasien dicukupi oleh keluarganya. Semua
aktivitas dibantu oleh keluarganya |
Pasien
adalah seorang pekerja pabrik, sebelum sakit pasien bisa melakukan segala aktivitas
dengan sendirinya. Apabila merasa lelah pasien segera beristirahat dan
meminta pertolongan kepada keluarga jika memerlukan sesuatu. |
pasien
hanya tidur telentang di bed, kadang miring kanan dan miring kiri, kadang
juga duduk di bed. Segal keperluan pasien dicukupi oleh keluarganya. |
|
4. Istirahat |
Tidur
maksimal 3 jam, karena merasa tidak nyaman dengan sakitnya. Sering terbangun
jika mendengar sesuatu, sering menguap |
Tidur
maksimal 9 jam/ hari. Nyenyak dan merasa nyaman |
Pasien
tidur sekitar 4 jam, sering terbangun karena tidak nyaman dengan proses
hospitalisasi. |
|
5. Personal Hyegine |
Pasien
mandi 2x/ hari, ketika ke kamar mandi dibantu oleh keluarganya, gosok gigi
2x/hari, dan berganti pakaian 2x/hari |
Pasien
mandi 3x/hari, gosok gigi 2x/hari, berganti pakaian 2x/hari |
Pasien
mandi 2x/hari, gosok gigi 1x/ hari, ganti pakaian 1x/hari. |
VIII.
PEMERIKSAAN
FISIK
B1 (Breath) : dispnea atau kesulitan
bernafas, napas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani,
merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman oksigen.
B2 (Brain) : disfungsi neurologis, terdapat
nyeri kepala dibagian tengkuk, disorientasi, dan bersikap apatis, peka terhadap
rangsang (misal ; suara, cahaya), tinitus
B3
(Blood) : Dispnea, TD : 100/60 mmHg, Nadi
: 80x/menit, ekstremitas pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva),
terdapat petekie dan ekimosis. Pengisian kapiler melambat, takikardia.
B4 (Blader) :
Urine
pekat, bau khas amoniak, pengeluaran urine menurun, tidak ada darah dalam
urine, terpasang dower kateter dengan ukuran 16.
B5 (Bowel) : dyspepsia, tidak ada
gangguan dalam BAB (diare dan konstipasi), tidak ada darah dan lender pada feses,
konsistensi lunak, kuning, bau khas feses, anoreksia, konstipasi atau diare.
B6
(Bone) : tubuh tidak tegak, kekuatan
otot menurun, badan terasa lemas, lunglai, letih, lesu, rambut kering dan mudah
putus.
IX.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Jumlah darah lengkap :
hemoglobin dan Hematokrit menurun
Jumlah eritrosit : menurun
Jumlah leukosit : meningkat
Jumlah trombosit : menurun
Bilirubin Serum : Meningkat
LDH Serum : Mungkin
meningkat
X.
ANALISA DATA
|
No |
Tanggal |
Kelompok
Data |
Masalah |
Penyebab |
|
1. |
12-10-‘14 |
DS : Pasien
mengatakan mengeluhkan sakit kepala pada bagian tengkuknya DO : skala
nyeri 5, pasien meringis, takikardia, Nadi : 105x/menit, sering memegangi tengkuknya. |
Nyeri
|
Menurunnya
suplai darah ke otak |
|
2. |
12-10-‘14 |
DS :
Pasien mengatakan nafas tidak beraturan saat digunakan untuk beraktivitas DO :
Dispnea, RR : 25x/menit, cepat, napas pendek. |
Pola
nafas tidak efektif |
Respon
peningkatan frekuensi pernapasan |
|
3. |
12-10-‘14 |
DS : Pasien
mengatakan lemas, lelah, gejala tersebut dirasakan 2 hari yang lalu, saat
beraktivitas nafasnya terengah-engah DO :
Lemah, letih, lesu, lunglai, apatis, disorientasi, tinnitus, dan peka
terhadap rangsang (cahaya, suara), tubuh tidak tegak. |
Intoleransi
aktivitas |
Ketidakseimbangan
antara suplai oksigen ke jaringan. |
|
4. |
12-10-‘14 |
DS : Pasien
mengatakan lemas dan merasa tidak enak badan DO : Konjungtiva
anemis, membrane mukosa pucat, kuku pucat, telapak tangan pucat, TD : 100/60
mmHg |
Gangguan
perfusi jaringan perifer |
Menurunnya
pengangkutan oksigen ke jaringan sekunder dari penurunan sel-sel darah merah
di sirkulasi |
|
5. |
12-10-‘14 |
DS : Pasien
mengatakan merasa tidak nyaman di perut (dyspepsia), anoreksia, terjadi
penurunan BB DO : Terjadi
penurunan BB (70 menjadi 65 kg), dyspepsia, anoreksia, Rambut kering dan mudah
putus |
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh |
Anoreksia
dan penurunan intake |
|
6. |
12-10-‘14 |
DS :
Klien mengatakan badannya tidak enak, demam. DO :
Pasien tampak lemah, Suhu 400C |
Infeksi |
Pertahanan
sekunder tidak adekuat (granulosit menurun, leucopenia, trombositopenia),
proses inflamasi |
|
7. |
12-10-‘14 |
DS :
Klien mengatakan dua hari yang lalu dirinya mengalami mimisan (epistaksis),
terdapat petekie, ekimosis. DO :
terdapat petekie dan ekimosis pada kulit. |
Deficit
volume cairan |
Adanya
proses perdarahan mengakibatkan trombositopenia.. |
|
8. |
12-10-‘14 |
DS :
Klien mengatakan dirinya dan keluarganya tidak mengetahui penyebab
penyakitnya DO :
pasien nampak cemas, terdapat perubahan status kesehatan, tetapi masih
berdo’a dan berdzikir saat sakit. |
Cemas
|
Perubahan
status kesehatan |
XI.
DAFTAR
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Nyeri berhubungan dengan menurunnya suplai darah ke otak
2.
Actual/ risiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan respons
peningkatan frekuensi pernapasan
3.
Actual/ risiko tinggi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai oksigen ke jaringan
4.
Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
pengangkutan O2 ke jaringan sekunder dari penurunan jumlah sel darah merah di
sirkulasi
5.
Actual/ risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake dan anoreksia
6.
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak
adekuat (granulositipenia, leucopenia, trombositipenia) dan proses inflamasi
7.
Deficit volume cairan berhubungan dengan proses perdarahan (ekomosis dan
petekie)
8.
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
XII.
RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Nyeri berhubungan dengan menurunnya suplai darah ke otak
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1x24 jam nyeri pasien dapat teratasi, pasien mampu mentoleransi
nyerinya
KH : pasien mampu menunjukkan
ekspresi wajah yang ceria, dan tidak merasakan kesakitan
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji karakteristik nyeri (awitan, durasi,
lokasi, keparahan) |
Mengetahui tingkat keparahan nyeri yang
dirasakn pasien |
|
Observasi TTV |
Sebagai dasar untuk mengetahui perkembangan
pasien |
|
Observasi factor penyebab nyeri |
Klien mampu mentoleransi nyeri |
|
ajarkan pasien memodifikasi stimulus nyeri,
seperti distraksi, relaksasi, dan imajinasi terbimbing |
Mengurangi intensitas nyeri |
|
Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi
rangsangan stress |
Meningkatka istirahat dan mekanisme kping |
|
Kolaborasi dengan pemberian analgesik |
Mengurangi intensitas nyeri dan menurunkan
rangsang ke SSP |
|
Kaji factor-faktor yang meningkatkan dan
meringankan nyeri |
Mengetahu factor predisposisi penyebab nyeri
dan mengurangi intensitas nyeri secara berkala |
|
Libatkan keluarga dalam perawatan klien |
Keluarga yang mendukung akan mempercepat proses
kesembuhan klien |
2.
Actual/ risiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan respons
peningkatan frekuensi pernapasan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3x24 jam pasien mampu mempertahankan pola nafas yang efektif
KH : klien tidak sesak nafas, RR
dalam batas normal (16-20x/menit)
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan
ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk otot bantu pernafasan/
pelebaran nasal. |
Kecepatn biasanya mencapai kedalaman pernafasan
bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Ekspansi dada terbatas yang
berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada |
|
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi semi
fowler atau fowler |
Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan
memudahkan pernafasan |
|
Kaji/ awasi secara rutin kulit, kuku dan warna
dan perubahan yang terjadi pada membrane mukosa bibir |
Hipoksia akan dimanifestasikan dengan perubahan
membrane mukosa bibir menjadi pucat/ sianosis, kuku pucat dengan CRT >3
detik |
|
Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan
pernapasan bibir |
Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi.
Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan lebih efektif |
|
Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan
periode istirahat |
Memungkinkan pasien melakukan aktivitas tanpa
distress berlebihan |
|
Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot
pernapasan jika diharuskan |
Menguatkan dan mengkondisikan otot-otot
pernafasan |
|
Kolaborasi (berikan oksigen tambahan sesuai
dengan advis dokter) |
Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja
nafas, memberikan kelembaban pada membrane mukosa dan membantu mengencerkan secret |
3.
Actual/ risiko tinggi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan
Tujuan : Dapat mempertahankan
/meningkatkan ambulasi/aktivitas
KH : Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) menunjukkan penurunan tanda intolerasi
fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang
normal (Misal : TD :120/80, RR: 18X/Menit, Nadi : 85X/Menit, Suhu : 36,5
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji kemampuan pasien untuk melakukan
tugas/ AKS normal. Catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan
menyelesaikan tugas |
Mempengaruhi pilihan intervensi atau
bantuan |
|
Kaji kehilangan/ gangguan keseimbangan gaya jalan. Kelemahan
otot |
Menunjukkan perubahan neurologi karena
defisiensi vit. B12. Mempengaruhi keamanan pasien resiko cidera |
|
Awasi TTV
selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas, Misal
: peningkatan denyut jantung/ tekanan darah disritmia.Pusing dispnea,
tachipnea dsb. |
Manifestasi kardiopulmonal dari upaya
jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan |
|
Berikan
lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila di indikasikan. Pantau dan
batasi pengunjung, telepon dang gangguan berulang tindakan yang tak
direncanakan |
Meningkatkan
istirahat untuk menurunkan kebutuhan O2 tubuh dan menurunkan regangan jantung
dan paru |
|
Ubah
posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing |
Hipotensi
postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing berdenyut dan
peningkatan resiko cidera |
|
Prioritaskan
jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode
istirahat dengan periode aktivitas |
Mempertahankan
tingkat energi dan meni ngkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan |
|
|
Membantu
bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri |
|
Rencanakan
kemajuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien anggap
perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi |
Meningkatkan
secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot
atau stamina tanpa kelemahan. Meningkatkan harga diri dan rasa terkonrol |
|
Gunakan
teknik penghematan energi, Misal : mandi dengan duduk. Duduk untuk melakukan
tugas-tugas |
Mendorong
pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah
kelemahan |
|
Anjurkan
pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi nyeri dada, napas pendek,
kelemahan atau pusing terjadi |
Regangan/ stress kardiopulmonal berlebihan/ stress dapat
menimbulakn dekompensasi/ kegagalan |
4.
Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
pengangkutan O2 ke jaringan sekunder dari penurunan jumlah sel darah merah di
sirkulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam Peningkatan perfusi jaringan
KH : Klien menunjukkan perfusi adekuat,
misalnya tanda vital stabil. Membran mukosa merah muda, pengisian kapiler baik,
haluaran urine adekuat ; mental seperti biasa
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Awasi tanda vital kaji pengisian
kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. |
Memberikan informasi tentang
derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan
intervensi. |
|
Tinggikan kepala tempat tidur
sesuai toleransi. |
Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan
: kontraindikasi bila ada hipotensi. |
|
- Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas
perhatikan bunyi adventisius. |
Dispnea, Gemericik menununjukkan
GJK karena regangan jantung lama/ peningkatan kompensasi curah jantung. |
|
- Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. |
Iskemia seluler mempengaruhi
jaringan miokardial/ potensial risiko infark. |
|
Kaji untuk respon verbal
melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung. |
Dapat mengindikasikan gangguan
fungsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12 |
|
Catat keluhan rasa dingin.
Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi |
Vasokontriksi (ke organ vital) menurunkan
sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien/ kebutuhan rasa hangat harus seimbang
dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi
(penurunan perfusi organ) |
|
Hindari penggunaan bantalan
penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan termometer |
termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan pksigen |
|
Awasi pemeriksaan laboratorium.
Misal : Hb/Ht dan jumlah SDM dan GDA |
Mengidentifikasi defisiensi dan
kebutuhan pengobatan/ respon terhadap terapi |
|
Berikan SDM darah lengkap / packed
red cell. Produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi
transfusi |
Meningkatan jumlah sel pembawa
oksigen. Memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan |
|
Berikan oksigen tambahan sesuai
indikasi |
Memaksimalkan transport oksigen ke
jaringan |
|
Siapkan intervensi pembedahan
sesuai indikasi |
Transplantasi sumsum tulang di
lakukan pada kegagalan sumsum tulang/anemia aplastik |
5.
Actual/ risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan intake dan anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 2x24 jam nutrisi pasien terpenuhi
KH : Menunjukkan peningkatan BB yang
stabil dengan nilai laboratorium normal, tidak mengalami tanda malnutrisi,
menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/
mempertahankan berat badan yang sesuai
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Kaji riwayat nutrisi termasuk
makanan yang disukai |
Mengidentifikasikan defisiensi,
menduga kemungkinan intervensi |
|
Observasi dan catat masukan makanan
pasien |
Mengawasi masukan kalori atau
kualitas kekurangan konsumsi makanan |
|
Timbang berat badan setiap hari |
Mengawasi penurunan BB atau efektifitas
intervensi nutrisi |
|
Berikan makan sedikit dan frekuensi
sering dan/ atau makan diantara waktu makan |
Makan sedikit dapat menurunkan
kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster |
|
Observasi dan catat kejadian mual/
muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan |
Gejala GI dapat menunjukkan efek
anemia (hipoksia) pada organ |
|
Berikan dan bantu hiegiene mulut
yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk
penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa
oral luka |
Meningkatkan nafsu makan dan
pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan
infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan
rapuh/luka/perdarahan dan nyeri hebat |
|
Konsultasikan pada ahli gizi |
Membantu dalam membuat rencana diet
untuk memenuhi kebutuhan individual |
|
Pantau pemeriksaan laboratorium,
misal ;Hb/Ht,BUN, albumin, protein, transferin, besi serum, B12, Asam folat,
TIBC, elektrolit serum |
Meningkatkan efektivitas program
pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan |
|
Berikan obat sesuai indikasi. Misal
; Vitamin dan suplemen mineral, Misal; sianokobalamin (Vit. B12), Asam folat
(Flovite), Asam askorbat (Vit.C) |
Kebutuhan penggantian tergantung
pada tipe anemia dan/ atau adanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang
diidentifikasi |
|
Berikan besi dextran (IM/IV) |
Diberikan sampai defisit
diperkirakan teratasi dan disimpan untuk yang tak dapat diabsorpsi atau
terapi besi oral, atau bila kehilangan darah terlalu cepat untuk penggantian
oral menjadi efektif |
|
Tambahan besi oral, misal ; fero
sulfat (feosol), feroglukonat (fergon) |
Mungkin berguna pada beberapa tipe
anemia defisiensi besi |
|
Asam hidroklorida (HCl) |
Mempunyai sifat absorpsi Vit.B12
selama minggu pertama terapi |
|
Antijamur atau pencuci mulut
anestesik jika diindikasi |
Mungkin diperlukan pada adanya
stomatitis, glositis untuk meningkatkan penyembuhan jaringan mulut dan
memudahkan masukan |
|
Berikan diet halus, rendah serat,
menghindari makanan pedas, atau terlalu asam sesuai indikasi |
Bila ada lesi oral, nyeri dapat
membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi pasien |
|
Berikan suplemen nutrisi. Misal ;
Ensure, Isocal |
Meningkatkan masukan protein dan
kalori |
6.
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak
adekuat (granulositipenia, leucopenia, trombositipenia) dan proses inflamasi
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
KH : mengidentifikasi perilaku untuk
mencegah atau menurunkan risiko infeksi, meningkatkan penyembuhan luka,bebas
drainase purulen atau eritema, dan demam.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Tingkatkan cuci tangan yang baik
oleh pemberi perawatan dan pasien |
Mencegah kontaminasi silang/
kolonisasi bakterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat
berisiko akibat flora normal kulit |
|
Pertahankan teknik aseptik ketat
pada prosedur/ perawatan |
Menurunkan risiko kolonisasi/
infeksi bakteri |
|
Berikan perawatan kulit, perianal
dan oral dengan cermat |
Menurunkan risiko kerusakan kulit/
jaringan dan infeksi |
|
Dorong perubahan posisi/ ambulasi
yang sering, latihan batuk, napas dalam |
Meningkatkan ventilasi semua segmen
paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia |
|
Tingkatkan masukan cairan adekuat |
Membantu dalam pengenceran sekret
pernapasan unruk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh
(misal : pernapasan danm ginjal) |
|
Pantau/ batasi pengunjung. Berikan
isolasi bila memungkinkan. |
Membatasi pemajanan inflamasi/
infeksi. Perlindungan isolasi dapat dibutuhkan pada anemia aplastik, bila
respons imun sangat terganggu. |
|
Pantau suhu, catat adanya menggigil
dan takikardia dengan atau tanpa demam |
Adanya proses inflmasi/ infeksi
membutuhkan evaluasi/ pengobatan |
|
Amati eritema/ cairan luka |
Indikator infeksi lokal. Catatan:
pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan |
|
Ambil spesimen untuk kultur/
sensitivitas sesuai indikasi |
Membedakan adanya infeksi,
mengidentifikasi patogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan |
|
Berikan antiseptik topikal
;antibiotik sistemik |
Mungkin digunakan secara
propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi
lokal |
7.
Defisit volume cairan berhubungan dengan proses perdarahan pada kulit
(ekimosis dan petekie)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3x24 jam tidak ada perdarahan, trombosit meningkat.
KH : Tidak terjadi
tanda-tanda perdarahan lebih lanjut (secara klinis), Jumlah trombosit meningkat.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Monitor tanda-tanda
penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis. |
Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu
mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit yang
diketahui pasien serta kebenaran in-formasi yang telah didapatkan sebelumnya. |
|
Mengkaji latar belakang
pendi-dikan pasien/keluarga. |
Agar perawat dapat memberi-kan penjelasan sesuai dengan tingkat
pendidikan mereka sehingga
penjelasan dapat dipa-hami & tujuan yang direncana kan tercapai. |
|
Menjelaskan tentang proses pe-nyakit, diet,
perawatan & obat-obatan pada pasien dengan ba-hasa & kata-kata yang
mudah dimengerti/dipahami. |
Agar informasi dapat diterima dengan mudah & tepat sehing- ga tidak
menimbulkan kesalah pahaman. |
|
Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan & manfaat nya bagi
pasien. |
Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang akan diala-mi, pasien
akan lebih koopera-tif & kecemasannya menurun. |
|
Memberikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk mena-nyakan hal-hal
yang ingin dike-tahui sehubungan dengan penyakit yang dialami pasien. |
Mengurangi kecemasan & memotivasi pasien untuk koo-peratif selama
masa perawat-an atau penyembuhan. |
|
Menggunakan
leaflet atau gam-bar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika
ada/memung-kinkan). |
Gambar-gambar atau media cetak seperti leaflet dapat membantu mengingat
penje-lasan yang telah diberikan ka-rena dapat dilihat atau dibaca berulang
kali. |
8.
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan : Dalam 1x24 jam kecemasan klien berkurang
KH :klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal
perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya,
kooperatif terhadap tindakan dan wajah rileks.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
Bantu
klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut |
Cemas
berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya |
|
Kaji
tanda verbal dan non verbal kecemasan, damping klien, dan lakukan tindakan
bila menunjukkan perilaku merusak |
Reaksi
verbal atau non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah, dan gelisah |
|
Hindari
konfrontasi |
Konfrontasi
dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerjasama dan mungkin memperlambat
penyembuhan |
|
Mulai
melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Berikan lingkungan yang tenang
dan suasana penuh istirahat |
Mengurangi
rangsangan eksternal yang tidak perlu |
|
Tingkatkan
control sensasi klien |
Control
sensasi klien (menurunkan kekuatan) dengan cara memberikan informasi tentang
keadaan klien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik
pengalihan serta memberikan respons balik yang positif |
|
Orientasikan
klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan |
Orientasi
dapat menurunkan kecemasan |
|
Beri
kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya |
Dapat
menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak di ekspresikan |
|
Berikan
privasi untuk klien dan orang terdekat |
Member
waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku
adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien untuk membantu
aktivitas serta pengalihan (misal ; membaca) akan menurunkan perasaan
terisolasi |
|
Kolaborasi
: Berikan
anti cemas, sesuai indikasi, contoh : diazepam |
Meningkat
relaksasi dan menurunkan kecemasan |
XIII.
EVALUASI
KEPERAWATAN
|
NO |
Tanggal |
Perkembangan |
|
1 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan sakit kepala yang berada
di tengkuk sudah tidak terasa lagi O : Klien tampak ceria, tidak memegangi kepala,
RR :18x/ menit, Rileks, dan mampu mengidentifikasi nyerinya. A : Masalah teratasi P : Pertahankan/ hentikan intervensi |
|
2 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan tidak merasa sesak lagi
saat beraktivitas O : tidak ada dispnea, RR : 18x/ menit, nafas
tidak pendek dan tidak cepat A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
3 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan tidak merasa badannya
lemas, tidak lelah, sudah melakukan ativitas O : tidak lemah, letih, lesu, toleran terhadap
aktivitas, tidak bersikap apatis A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
4 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan badannya sudah terasa enak
dan tidak lemas lagi O : konjungtiva tidak anemis, kuku, membrane
mukosa bibir dan telapak tangan tidak
anemis A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
5 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan perutnya sudah nyaman,
tidak mual muntah, nafsu makan bertambah. O : Dispepsia hilang, terjadi peningkatan BB
secara bertahap, nafsu makan bertambah A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
6 |
16-09-‘14 |
S : Klien mengatakan badan sudah terasa enak,
suhu tubuh turun dan tidak mengalami demam O : suhu tubuh dalam batas normal (36,50C),
tidak mengalami demam A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
7 |
16-09-‘14 |
S : klien mengatakan dirinya sudah tidak
mengalami mimisan lagi, badan terasa enak O : tidak ada epistaksis, ekimosis dan petekie
berkurang A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
|
8 |
16-09-‘14 |
S : Klien dan keluarganya mengatakan sudah
mengetahui penyebab penyakit yang dideritanya O : klien menerima keadaan, tidak apatis,
kooperatif terhadap perawat, tidak mengalami disorientasi A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi/ hentikan intervensi |
No comments:
Post a Comment