Sabtu, 25 April 2015

Asuhan Keperawatan tentang Disentri, di dalam Keperawatan/ Nursing Care Plan about Disentry, in Nurse



 Sumber/ Source:


1) Betz,Cecily l,Linda A.S.2009.Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5.Jakarta : EGC
2) Muscari, Mary E. 2005.  KeperawatanPediatrikEdisi 3. Jakarta : EGC
 3) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)
4)Ngastiyah,1997.Perawatan Anak Sakit.Jakarta.EGC
5) Nursalam,dkk. 2005. AsuhanKeperawatanBayidanAnak. Jakarta:SalembaMedika
6) Ralph,Sheila S,Taylor M.C.2010.Diagnosa Keperawatan Edisi 10 .Jakarta:EGC



A.    PENGERTIAN
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah. (Hembing Wed,2006)
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus(diare) yang bercmpur lender dan darah (J.Kopecko,2005)
Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat dari disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadi komplikasi pada mukosa(Soeparman Sarwono Waspadji,1990).
B.     EPIDEMINOLOGI
Bangsa Indonesia seperti bangsa yang sedang berkembang lainnya mempunyai lingkungan serta perilaku masyarakatnya yang kurang menguntungkan, sehingga dapat menyebabkan tingginya kejadian penyakit menular yang masih merupakan salah satu masalah di bidang kesehatan. Penyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan anak-anak di negara berkembang. Diperkirakan sekitar 1000 juta kejadian diare tiap tahun anak balita dengan perkiraan 5 juta kematian tiap tahun. Sekitar 80% kematian ini terjadi pada dua tahun pertama kehidupan anak (Buku Ajar Diare, Dep.Kes.RI,1990). Menurut Adhyatma (1982) di Indonesia penyakit diare yang mempunyai angka kesakitan 40% per tahun (1980-1984), menyerang terutama anak balita (60-80%). Sedangkan angka kematian disebabkan oleh diare merupakan 20-40% dari seluruh kematian, sehingga diare perlu mendapat perhatian dalam program upaya pemberantasan penyakit maupun penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan pada umumnya.
Sementara angka kesakitan diare di daerah tranmigrasi dari 18 propinsi yang melaporkan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare per 1000 penduduk tertinggi ada di propinsi Sulawesi selatan (86.11), propinsi DI Aceh 63,45) menyusul propinsi Irian Jaya (36,84) dan terkecil adalah propinsi Jambi 8,75 per 1000 penduduk, sedangkan pada tahun 1999 tertinggi terjadi di propinsi Sulawesi Utara (102,53), menyusul Irian Jaya (84,29), Sulawesi Tenggara (54,78) dipropinsi Maluku (1,02).
C.    KLASIFIKASI
Ada 2 macam disentri, yaitu
  1. Disentri Amoebica/Disentri Amoeba
Disentri amoebica disebabkan entamoeba hystolitica,lebih sering pada anak usia >5tahun,Disentri ini disebabkan  entamoeba hystolitica
  1. Disentri Bacilaris/Disentri Basiler
Disentri basiler yaitu gangguan pada radang usus yang menimbulkangejala meluas, tinja, lendir bercampur darah. (R. Linggappa, 1997)
Disentri basiler adalah infeksi usus yang menyebabkan diare hebat.Infeksi melalui tinja orang terinfeksi juga bisa ditularkan melalui kontak mulut ke dubur atau dari makanan,benda-benda atau alat lain(R.Butterten,2005)

Perbedaan disentri Amoebica dan Basilaris

Disentri Amoebica
Disentri Bacilaris
 Penyebab
 Dimulai
 Panas
 Berak
Berjangkitnya

 Diagnosa

 Prognosis
 Entamoeba Histolitika
 Tidak dengan tiba-tiba dan hebat
 Tidak ada
 Tidak sering kali, tidak banyak darah dan lender dan baunya amat busuk
 Tidak berat dan tidak secara wabah
 Dapat dengan mikroskop
 Pada penyakit endokrin tergantung pada penyakit dasarnya. Pada penyebab obat-obatan tergantung kemampuan menghindari pemakaian obat.
 Shigela Disentri
 Dengan hebat dan tiba-tiba
 Ada
 Terlalu sering, lebih banyak darah, lender dan nanah, tidak bau busuk.
 Hebat dan sering secara wabah
 Menghendaki pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.
Pada bentuk berat angka kematian tinggi, kecuali mendapat pengobatan dini. Pada bentuk sedang angka kema

D.    ANATOMI FISIOLOGI
1.         Usus Besar (Intestinum Mayor)
Panjangnya ± 1 ½ m, lebar 5-6 cm, lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke luar adalah :
a.       Selaput lender
b.      Lapisan otot melingkar
c.       Lapisan otot memanjang
d.      Jaringan ikat.
Fungsi Usus Besar
a.       Menyerap air dari makanan
b.      Tempat inggal bakteri koli
c.       Tempat feses
E.     ETIOLOGI
1.    Bakteri (Disentri basiler) Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella
a.       Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
b.       Salmonella
c.        Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Infeksi Shigella pada manusia dapat menyebabkan beberapa keadaan seperti diare ringan tanpa demam, disentri disertai demam. Sepsis, kejang terutama pada anak, tenesmus dan tinja berlendir dan air darah. Golongan Shigella yang sering menyerang manusia ialah S. disentri, S. Flexinceri, S. boydii dan S. sonnei. Di daerah tropis yang tersering ditemukan ialah S. dysentri dan S. Flexneri, sedangkan S sonnei sering dijumpai di daerah sub tropis atau daerah industry.
Gambar E-Coli Bacterium
.
Gambar Shigella
2.      Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun.
Di dunia terdapat tidak kurang dari 1500 serotipe Salmonella, beberapa di antaranya dapat menyerang manusia dan binatang. Gejala klinis yang ditimbulkan dapat berbeda-beda. S. Typhimurin, S. enteritis, S. Heidelberg, S. Oranienberg, S. kreped, S. Havana dapat menyebabkan penyakit gastroenteritis pada manusia. S. typi, S. paratyphi A dan B dapat menyebabkan demam enteric sedangkan S. choleramis dapat menyebabkan infeksi purulenta seperti abses S. osteomielitis.

Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain makanan, minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung dengan tinja penderita.Berikut Faktor resiko pendukung etiologi :
1.     Perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya diare
Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan, Menggunakan botol susu yang tercemar, Menyimpan makanan masak pada suhu kamar dalam waktu cukup lama, Menggunakan air minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, Tidak mencuci tangan setelah buang air besar, sesudah membuang tinja atau sebelum memasak makanan, Tidak membuang tinja secara benar.

2.     Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare
Tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, Kurang gizi, Campak, Imunodefisiensi / imunosupressif.
3.     Umur
Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden paling banyak 6 – 10 bulan (pada masa pemberian makanan pendamping).
4.     Variasi musiman
Variasi pola musim diare dapat terjadi melalui letak geografi. Pada daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas sedangkan diare karena virus (rotavirus) puncaknya pada musim dingin. Pada daerah tropik diare rotavirus terjadi sepanjang tahun, frekuensi meningkat pada musim kemarau sedangkan puncak diare karena bakteri adalah pada musim hujan.
5. Infeksi asimtomatik
kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik / tanpa gejala dan proporsi ini meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukkan imunitas aktif

F.     PATOFISIOLOGI

Basil membentuk indotoksin dan eksotoksin, menyebabkan infeksi lokal pada dinding usus terutama daerah kolon sebagai ileum. Setelah mengadakan kerusakan pada mukosa usus tersebut, terbentuklah tukak dengan tanda peradangan disekitarnya. Berbeda dengan tukak akibat amubiasis yang tidak disertai dengan tanda – tanda peradangan yang khas. Biasanya disertai pembengkakan kelenjar getah bening sekitarnya. Tukak tersebut kadang – kadang dapat mencapai daerah sub mukosa tetapi jarang terjadi perforasi.


G.    .PATOGENESIS
Pathogenesis terjadinya diare Shigella spp. Ialah dsisebabkan kemampuan menggadakan invasi ke epitel sel mukosa usus, berkembang biak di daerah invasi tersebut serta mengeluarkan eksotoksin yang selalu merangsang terjadinya perubahan system enzim di dalam sel muksa usus halus (adeil siklase) juga mempunyai sifat sitotoksik. Daerah yang sering diserang ialah ileum terminalis dan usus besar. Akibatnya invasi bakteri terjadi infiltrasi sel polimorfonuklier dan menyebabkan matinya sel epitel tersebut, sehingga terjadilah tukak kecil didaerah iritasi yang menyebabkan sel darah merah dan plasma proteik ke luar dan sel dan masuk ke lumen usus serta akhirnya ke luar bersama tinja.
Patogenesis  Salmonella spp, seperti halnya dengan Shigella dapat melakukan invasi ke dalam mukosa usus halus perbedaannya adalah terus masuk ke lamina propria yang kemudian menyebabkan inflamasi sel radang. S. typhimarium dapat membentuk enterotoksia yang dapat mengakibatkan diare, S. typhi dan S. paratyphi mengakibatkan infeksi sistemik, termasuk menyerang system retikulo-endotelial (RES) dan septisemia (bakterisema) sehingga terjadi demam.
Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan lisozim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus. Bentuk ulkus amoeba sangat khas yaitu di lapisan mukosa berbentuk kecil, tetapi di lapisan sub mukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi ulkus dipermukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang minimal. Mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal. Ulkus dapat terjadi di semua bahan usus besar, tetapi berdasarkan frekuensi dan urut-urutan tempatnya adalah sekum, kolon asenden, rektu, sigmoid, apendiks dan ileum terminalis.
S. dysentriae, S. Flexeneri, dan S. sonei menghasilkan eksotoksin antara lain ShEt 1, ShET 2, dan toksin, dan neurotoksik. Enterotoksik tersebut merupakan salah satu factor virulen sehingga kuman lebih mampu menginvasi sel epitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada selaput lender yang mempunyai warna hijau yang khas. Pada infeksi yang menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1,5 cm sehingga dinding usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen usus mengecil. Dapat terjadi perlekatan dengna peritoneum.



H.    MANIFESTASI KLINIS

1.      Disentri basiler
a.       Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
b.       Panas tinggi (39,50 – 400 C), appear toxic.
c.        Muntah-muntah.
d.       Anoreksia.
e.        Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
f.        Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).
g.        Disentri Basiller
Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala merata 7 hari sampai 4 minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah, diare disertai demam yang mencapai 40 derajat Celsius. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan lender, tenesmus, dan nafsu makan menurun.
Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat. Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga mengakibatkan perut menjadi cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases) iasanya disebabkan oleh S. dysentrae. Gejalanya timbul mendadak dan berat, dan berat berjangkit cepat, berak-berak seperti air dengan lender dan darah, untah-muntah, suhu badan subnormal, cepat terjadi dehidrasi.
Saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga baik factor kerentanan tubuh pasien, sifat keganasan (virulensi) amoeba, maupun lingkungannya mempunyai peran.
2.      Disentri amoeba
a.       Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.
b.       Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (≤10x/hari)
c.        Sakit perut hebat (kolik)
d.       Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus).
Tanda gejala disentri amoeba menurut macamnya:
a.Carrier (Cyst Paser)
Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena amoeba yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke dinding usus.
b. Disentry amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanya mengeluh perut kembung, kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Dapat timbul diare ringan, 4-5 kali sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lender. Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmpid, jaraing nyeri di daerah epigastrium. Kadang tersebut tergantung pada lokasi ulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau sedikit demam ringan (sub febris). Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikitt nyeri tekan.
c.       Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berat dibanding disentri ringan, tetapi pasien amsih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanya disertai lendir dan darah. Pasien mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali yang nyeri ringan.
d.   Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berat lagi. Penderita mengalami diare disertai darah yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (40 derajat Celsius-40,5 derajat Celsius) disertai mual dan anemia.
e.    Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan diare diselingi dengan periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pasien biasanya menunjukkan gejala neurasthenia. Serangan diare yang terjadi biasanya dikarenakan kelelahan, demam atau makanan yang sulit dicerna.
I.     TEST DIAGNOSTIK
1.        Pemeriksaan tinja
2.        Makroskopis : suatu disentri amoeba dapat ditegakkan bila ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja
3.        Benzidin test
4.        Mikroskopis : leukosit fecal (petanda adanya kolitis), darah fecal .
5.        Biakan tinja
6.        Media : agar MacConkey, xylose-lysine deoxycholate (XLD), agar SS.
7.        Pemeriksaan darah rutin : leukositosis (5.000 – 15.000 sel/mm3), kadang-kadang dapat ditemukan leucopenia.
8.        Endoscopy : memberikan visualisasi area yang terlibat.

J.    KOMPLIKASI
1.      Disentri Basiler
a.       Stenosis
b.      Peritonitis
c.       Hemoroid
d.      Neuritis perifer
e.       Artritis

Disentri basiler
Beberapa komplikasi ekstra intestinal disentri basiler terjadi pada pasien yang berada di negara yang masih berkembang dan seringnya kejadian ini dihubungkan dengan infeksi S.dysentriae tipe 1 dan S.flexneri pada pasien dengan status gizi buruk. Komplikasi lain akibat infeksi S.dysentriae tipe 1 adalah haemolytic uremic syndrome (HUS). SHU diduga akibat adanya penyerapan enterotoksin yang diproduksi olehShigella. Biasanya HUS ini timbul pada akhir minggu pertama disentri basiler, yaitu pada saat disentri basiler mulai membaik. Tanda-tanda HUS dapat berupa oliguria, penurunan hematokrit (sampai 10% dalam 24 jam) dan secara progresif timbul anuria dan gagal ginjal atau anemia berat dengan gagal jantung. Dapat pula terjadi reaksi leukemoid (leukosit lebih dari 50.000/mikro liter), trombositopenia (30.000-100.000/mikro liter), hiponatremia, hipoglikemia berat bahkan gejala susunan saraf pusat seperti ensefalopati, perubahan kesadaran dan sikap yang aneh.
Artritis juga dapat terjadi akibat infeksi S.flexneri yang biasanya muncul pada masa penyembuhan dan mengenai sendi-sendi besar terutama lutut. Hal ini dapat terjadi pada kasus yang ringan dimana cairan sinovial sendi mengandung leukosit polimorfonuklear. Penyembuhan dapat sempurna, akan tetapi keluhan artsitis dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Bersamaan dengan artritis dapat pula terjadi iritis atau iridosiklitis. Sedangkan stenosis terjadi bila ulkus sirkular pada usus menyembuh, bahkan dapat pula terjadi obstruksi usus, walaupun hal ini jarang terjadi. Neuritis perifer dapat terjadi setelah serangan S.dysentriae yang toksik namun hal ini jarang sekali terjadi.
Komplikasi intestinal seperti toksik megakolon, prolaps rectal dan perforasi juga dapat muncul. Akan tetapi peritonitis karena perforasi jarang terjadi. Kalaupun terjadi biasanya pada stadium akhir atau setelah serangan berat. Peritonitis dengan perlekatan yang terbatas mungkin pula terjadi pada beberapa tempat yang mempunyai angka kematian tinggi. Komplikasi lain yang dapat timbul adalah bisul dan hemoroid.
2.      Disentri Amoebica
a.       Perdarahan usus
b.      Perforasi
c.       Ameboma
d.      Striktura
       Disentri amoeba
Beberapa penyulit dapat terjadi pada disentri amoeba, baik berat maupun ringan. Berdasarkan lokasinya, komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi:  
a. Komplikasi intestinal
·    Perdarahan usus
Terjadi apabila amoeba mengadakan invasi ke dinding usus besar dan merusak pembuluh darah.

·    Perforasi usus
Hal ini dapat terjadi bila abses menembus lapisan muskular dinding usus besar. Sering mengakibatkan peritonitis yang mortalitasnya tinggi.
·      Peritonitis juga dapat disebabkan akibat pecahnya abses hati amoeba.
·      Ameboma
Peristiwa ini terjadi akibat infeksi kronis yang mengakibatkan reaksi terbentuknya massa jaringan granulasi. Biasanya terjadi di daerah sekum dan rektosigmoid. Sering mengakibatkan ileus obstruktif atau penyempitan usus.
·      Intususepsi
Sering terjadi di daerah sekum (caeca-colic) yang memerlukan tindakan operasi segera.
·      Penyempitan usus (striktura)
Dapat terjadi pada disentri kronik akibat terbentuknya jaringan ikat atau akibat ameboma.
b)        Komplikasi ekstraintestinal
·      Amebiasis hati
Abses hati merupakan komplikasi ekstraintestinal yang paling sering terjadi. Abses dapat timbul dari beberapa minggu, bulan atau tahun sesudah infeksi amoeba sebelumnya. Infeksi di hati terjadi akibat embolisasi ameba dan dinding usus besar lewat vena porta, jarang lewat pembuluh getah bening. Mula-mula terjadi hepatitis ameba yang merupakan stadium dini abses hati kemudian timbul nekrosis fokal kecil-kecil (mikro abses), yang akan bergabung menjadi satu, membentuk abses tunggal yang besar. Sesuai dengan aliran darah vena porta, maka abses hati ameba terutama banyak terdapat di lobus kanan. Abses berisi nanah kental yang steril, tidak berbau, berwarna kecoklatan(chocolate paste) yang terdiri atas jaringan sel hati yang rusak bercampur darah. Kadang-kadang dapat berwarna kuning kehijauan karena bercampur dengan cairan empedu.


·      Abses pleuropulmonal
Abses ini dapat terjadi akibat ekspansi langsung abses hati. Kurang lebih 10-20% abses hati ameba dapat mengakibatkan penyulit ini. Abses paru juga dapat terjadi akibat embolisasi ameba langsung dari dinding usus besar. Dapat pula terjadi hiliran (fistel) hepatobronkhial sehingga penderita batuk- batuk dengan sputum berwarna kecoklatan yang rasanya seperti hati. Abses otak, limpa dan organ lain. Keadaan ini dapat terjadi akibat embolisasi amoeba langsung dari dinding usus besar maupun dari abses hati walaupun sangat jarang terjadi.
·      Amebiasis kulit
Terjadi akibat invasi ameba langsung dari dinding usus besar dengan membentuk hiliran (fistel). Sering terjadi di daerah perianal atau dinding perut. Dapat pula terjadi di daerah vulvovaginal akibat invasi ameba yang berasal dari anus.

J.PENULARAN

Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman diare. Air sumur atau air tanah yang telah tercemar kuman diare, atau makanan dan minuman yang telah terkontaminasi kuman diare, atau tidak mencuci tangan sebelum memberikan makan/minum pada bayi/anak, memasak dll yang tanpa disadari sebenarnya tangan telah terkontaminasi kuman diare yang tak tampak oleh mata telanjang.

K.PENCEGAHAN

1.        Buang airlah ditempatnya dan tidak disembarang tempat, latih anak untuk buang air dikakus
2.        Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan.
3.        Cuci tangan sebelum memasak makanan dan pastikan tangan anda selalu bersih ketika memberikan makan pada bayi atau balita. Pastikan peralatan makan dan minum anak bersih dan tidak terkontaminasi kuman apapun juga. Untuk bayi usahakan
4.        Selalu memasak/merebus peralatan makan dan minumnya terlebih dahulu.
5.        Minum dan makanlah makanan yang sudah dimasak. Hindari memberikan makanan setengah masak/setengah matang pada anak.
6.        Pastikan air yang dimasak benar-benar mendidih.
7.        Berikanlah ASI selama mungkin kepada anak, disamping pemberian makanan lainnya.
8.        Bayi yang minum susu botol lebih mudah terserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya.
9.        Tetap menyusui anak walaupun anak terserang diare.
10.    Pastikan tangan sipengasuh tetap bersih ketika mengasuh anak atau memberikan makan dan minum pada anak.
11.    Jaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

L.PENATALAKSANAAN

1.        Perhatikan keadaan umum anak, bila anak appear toxic, status gizi kurang, lakukan pemeriksaan darah (bila memungkinkan disertai dengan biakan darah) untuk mendeteksi adanya bakteremia. Bila dicurigai adanya sepsis, berikan terapi sesuai penatalaksanaan sepsis pada anak. Waspadai adanya syok sepsis.
2.        Komponen terapi disentri
a.          Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.
3.        Diet
Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi. Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat diberikan untuk menurunkan tingkat keparahan disentri, terutama pada anak yang diduga mengalami defisiensi. Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan sinbiotik dan preparat seng oral. Dalam pemberian obat-obatan, harus diperhatikan bahwa obat-obat yang memperlambat motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya risiko untuk memperpanjang masa sakit.
4.        Antibiotika
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan terapi yang sesuai. Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit dan menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) :
·         Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari.
·         Alternatif yang dapat diberikan :
a.       Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis
b.      Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis
c.       Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM
d.      Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2 hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain.
·         Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi :
a.       Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica dalam pemeriksaan mikroskopis tinja.
b.      Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif untuk disentri basiler.
c.       Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal pada anak adalah Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Bila disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan membaik dalam 2-3 hari terapi.
5.        Sanitasi
Beritahukan kepada orang tua anak untuk selalu mencuci tangan dengan bersih sehabis membersihkan tinja anak untuk mencegah autoinfeksi.





BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
1.    Identitas
Nama                           :
No.Register                 :
Umur                           :
Alamat                         :
Jenis kelamin               :
Keadaan lingkungan   :
Agama                         :
Dx.Medis                    :

Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
2.    KeluhanUtama
BAB lebih dari 3 x,konsistensi : encer,berlendir dan terdapat darah
3.    Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4.    Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK.
5.    Riwayat Nutrisi ASI
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan.
6.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
7.    Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
8.    Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
a.       Pertumbuhan
·           Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg), PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
·           Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
·           Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
·           Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
9.    Pola kebutuhan dasar
a.       Pola makan
Karena adanya anoreksia, anak sering mengalami susah makan, sehingga berat badan anak sangat rendah dan tidak sesuai dengan usianya.
b.      Pola aktivitas
Anak terlihat lemah da tidak selincah anak seusianya. Anak lebih banyak tidur/istirahat, karena bila beraktivitas seperti anak normal mudah merasa lelah.
10.  Pengkajian Fisik
a.       Keadaan umum
Anak biasanya terlihat lemah dan kurang bergairah serta tidak selincah anak seusianya yang normal.
b.      Mata konjungtiva anemis,cowong
c.       Mulut dan bibir : kering,pecah - pecah
d.      Kulit
Kelembapan kulit menurun,terasa kering dan berkerut
B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan
3.      Defisit volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan sekunder terhadap diare, perdarahan(Diare disertai darah)
4.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi sekunder terhadap diare
5.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
6.      Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan rasa tidak nyaman (Nyeri akut abdomen)
7.      Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
8.      Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan peristaltic usus
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nyeri yang dirasakan pasien berkurang
Kriteria hasil:
Nyeri yang dirasakan psien skala 0-1
Ekspresi wajah pasien tenang
‘Pasien dapat beristirahat
Pasien dan anggota keluarga menunjukan koping nyeri yang baik
Lakukan Pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas
Nyeri akibat peningkatan peristaltic sering dirasakan kram dan kaku,awitan cepat,dengan intensitas bervariasi
Observasi bahasa nonverbal dan ketidaknyamanan
Ekspresi non verbal dapat menggambarkan kondisi kesehatan dan rasa kurang nyaman yang dilami
Kaji riwayat nyeri masa lampau
Riwayat nyeri masa lalu menggambarkan riwayat penyakit dan nyeri yang sering dialami pasien
Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas yang menyenangkan
Reposisi dapat mengurangi nyeri,Aktivitas menyenangkan mengalihkan dan mengurang persepsi nyeri
Berikan dan ajarkan management nyeri pada keluarga :
Kompres hangat dan masssage

Ajarkan tekhnik relaksasi sesuai kemampuan dan pemahaman anak
Meningkatkan control diri,Menurunkan stress,ansietas dan  nyeri yang dirasakan
Kolaborasi pemberian analgetik
Analgetik mendepresi pusat nyeri,menurunkan nyeri,nyeri yang dirasakan pasien dapat berkurang serta menurunkan spasme otot


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake,out put,anoreksia
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah selama 5-7x 24 jam kebutuhan nutrisi pasien dapa terpenuhi

Kriteria :
Nafsu makan meningkat
Menghabiskan porsi yang disediakan
Makan 2-3x/Hari
BB dapat dipertahankan/Menunjukan peningkatan BB
Timbang dan catat berat badan pasien pada jam yang sama setiap hari
Mendapatkan bacaan akurat dan mengetahui status kesehatan pasien
Tanyakan pada pasien /keluaraga tentang perasaan ataupun maslah yang berhubungan dengan pemenuhan nutrisi
Identifikasi maslah utama,penetuan tindakan efektif
Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.

Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan

Monitor intake dan out put dalam 24 jam
Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
a. terapi gizi :
Diet TKTP rendah serat
Penyajian makanan dengan cara yang  menarik
Sajikan selagi hangat
b. obat-obatan atau vitamin ( A,C,D)
Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
BB ddan TB bertambah sesuai usia anak
Berat badan ideal pada anak disesuaikan dengan tinggi dan usia anak






Diagnosa :
Defisit v oloume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
Intake dan output seimbang
Mukosa lembab
Tanda vital stabil : nadi 60- 100 x/menit, RR 20 x/mnt
Nadi teraba : kuat,stabil
 Haluaran urin 0,5-1ml x kgBB/Jam
Kapileri refill < 2 detik
Tanda – tanda vital dalam batas normal
(N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )
Turgor:
elastik , membran mukosa bibir lembab, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
Konsistensi BAB lembek, frekwensi -3x/hari
Intervensi
Rasional
Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekatan warna urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki deficit
Pantau intake dan output
Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
Timbang berat badan setiap hari
Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
Anjurkan keluarga untuk memberi minum 1-2lt/sesuai indikasi pada pasien
Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
Kolaborasi :
Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
 Pemeriksaan HB, PCV, trombosit
HB < 10 gram/dL dikaitkan dengan anemia defisiensi besi,sebab lain pendarahan.PCV <45% menggambarkan penurunan volume darah,Trombosit < 150.000 /mm³ menggambarkan adanya perdarahan dan kehilangan darah
( IV line ) sesuai dengan umur
Cairan parenteral mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat
Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
Observasi konsistensi feses,adanya darah dan frekuensi
Peningkatan frekuensi BAB dengan adanya darah yang keluar bersamaan dengan feses menjadi salah satu penyebab adanya kehilangan volume cairan dan elektrolit






Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi penigkatan suhu tubuh,suhu tunbuh psiwn dapat dikondisikan/dipertahankan pada batas normal (36-37,50C)
Kriteria hasil :
 suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungsio laesa)
Pasien tidak mngalami konvulsi
Monitor suhu tubuh setiap 4 jam
Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)evaluasi kefektifan intervensi
Pantau dan catat denyut dan irama jantung,tekanan darah,dan kecepatan pernapasan minimal setiap 4 jam
Peningkatan denyut nadi,penurunan tekanan vena sentral,dan penurunan tekanan darah dapat mengindikasikan hipovolemia,yag mengarah pada penurunan perfusi jaringan.Kulit yang dingin,pucat dan burik dapat mengindikasikan perfusi jaringan,peningkatan frekuensi pernafasan berkompensasi pada hipoksia jraingan
Berikan kompres hangat
merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
Berikan anti piretik sesuai advis
Merangsang pusat pengatur panas di otak ,menurunkan suhu tubuh.
Management suhu tubuh :
1.Lepaskan Selimt,dan pasangkan kain sebatas pinggang pada pasien (loincloth)
2.Anjurkan pasien mengenakan pakaian renggang ,menyerap keringat dan tipis
3.Berikan kompres air biasa pada aksilla dan lipatan paha,seka tubuh pasien dengan air hangat
Pakaian longgar,kompres dan pakaian tipis efektif i mengevaporasi suhu panas tubuh,menurunkan suhu tubuh,memberikan kenyamananan
Beri dorongan menaati aspek pentalaksanaan keperaawatan,meliputi :Diet,Pakaian
Kepatuhan dan kerjasama dengan pasien dalam memertahankan dan meningkatkan status kesehatan dapat berpengaruh dalam keefektifan tindakan dan peningkatan status kesehatan.


Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan :
Setelah silakukan tindakan selama 3x 24 jam pasien menunjukajn toleransi dalam aktifitas
Kriteria Hasil :
Tidak terjadi peningkatan tanda tanda vital ketika atau setalah melakukan aktifitas
Tidak terjadi penurunan kondisi kesehatan
Observasi Tanda tanda vital Sebelum dan setelah aktivitas
Peningkatan/penuruna  tanda tanda vital mengindikasiakan intoleransi
Observasi perubahan /keluhan pada a pasien setelah melakukn aktifitas
Identifikasi hal yang memperburuk keadaan pasien
Diskusikan dengan klien aktifitas yang dapat dilakukan secara mandiri dan tidak
Meningkatkan kesadaran status kesehatan ,Menghindari cidera
Beritahukan kepada keluarga tentang kondisi kesehatan dan anjurkan ntuk membantu aktifitas
Adanya pihak keluarga dapat membantu memenuhi kebutuhan aktifitas dan membrikan susasana nyaman
Jadwalkan program istirahat
Meminimalkan penggunaan energy berlebih .Menjaga kestabilan kondisi pasien
Memberikan informasi pada keluarga untuk berada di dekat anak dan membantu aktifitasnya
Pengetahuan yang baik dapat menunjang keberhasilan proses perawatan

Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi
Kriteria hasil :
Anak kooperatif dan  menerima tindakan perawatan
klien tampak tenang dan tidak rewel
Pasien menunjukan respon yang baik dalam tindakan keperawatan
Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga

Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS

Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.
Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak,mengisi waktu.

Salah satu pengalihan kondisi kesahtan,menciptakan lingkugan nyaman,menurunkan stress.


Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekwensi BAB (diare)
Tujuan :
Setelah  dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu
Kriteria hasil :
Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar
Pasien dan keluarga dapat mengerti manfaat dan  bagaimana menjaga kondisi bersih yang baik bagi kesehatan
Intrvensi
Rasional
Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur bersih
Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
Inspeksi keadaan kulit perianal
Menunjukan keefektifan program peratwatan,menghindari kerusakan integritas berlanjut
Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .
Berikan kesempatan atau tanyakan bagaimana perasaan pasien tentang maslah kulitnya
Mengurangi ansietas dan meningkatkan keterampilan koping
Kolaborasi pemberian analgetik
Pengurangan nyeri diperlukan untuk meberikan rasa nyaman pada pasien
Berikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kulit kepada pasien/anggota keluarga:
1.petahankan hygiene yang baik
2.Inspeksi kulit secara teratur
3.Gunakan sabun yang tidak menimbulkanniritasi (nonalkali)
4.Kenali tand awal kerusakan kulit(kemerahan)dan laporkan gejalanya
Mendorong keatuhan pasien dank lien mematuhi tindakan penatalaksanaan perawatan

D.    IMPLEMENTASI
1.      Kembalikan status hidrasi yang adekuat
a.       Berikan terapi oral untuk diare sedang, berat dan dehidrasi.
b.      Berikan cairan IV untuk diare berat dan dehidrasi. Biasanya diberikan larutak dekstrosa 5% dan salin normal. Bolus awal yang diberikan adalah 20 sampai 30 mL/kg, dan cairan IV biasanya diberikan pada 24 jam pertama.
c.       Pantau asupan dan haluaran cairan serta berat badan setiap hari
2.      Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat
a.       Observasi dan catat toleransi anak terhadap makanan.
b.      Berikan terapi oral, diikuti dengan perkenalan kembali terhadap makanan sesegera mungkin. Pemberian ASI harus tetap dilanjutkan pada bayi.
c.       Perkenalkan kembali makanan secepatnya. Hindari makanan berupa pisang, sereal nasi, apel dan roti panggang. Makanan tersebut merupakan jenis diet yang rendah energy, kalori, protein, serta tinggi karbohidrat.
3.      Cegah infeksi
a.       Pertahankan tindakan pencegahan infeksi enteric
b.      Lakukan tindakan cuci tangan yang benar
c.       Ajarkan anak dan keluarga untuk mencuci tangan yang benar
d.      Anjurkan orang tua untuk mengimunisasi bayinya dengan vaksin rotavirus.

4.      Berikan perawatan kulit
a.       Biarkan popok terpajan dengan udara
b.      Ganti popok dengan sering
c.       Jaga area tetap kering, hindari produk penyeka komersial yang dapat mengandung zat kmia dan mengiritasi
d.      Oleskan salep sesuai indikasi

5.      Evaluasi hasil akhir
a.       Anak akan mencapai rehidrasi
b.      Status nutrisi anak adekuat
c.       Anak bebas dari infeksi
d.      Kulit anak dalam keadaan utuh

E.     EVALUASI
1.      Masalah dikatakan teratasi apabila Tanda vital dalam batas S; 36-37,50 c, RR : 16-24 x/mnt,Nadi 60-100x/menit )
2.      Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
3.      Konsistensi fese  BAB lembek, frekwensi 1-3x/hari
BAB IV
PENUTUP
A.KESIMPULAN
            Penyakit Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah. (Hembing Wed,2006)
Penyakit disentri di klasifikasikan dalam 2 klasifikasi yaitu disentri amoeba dan basiler.dua klasifikasi ini berdasarkan etiologi dari masing masing klasifikasi ,penyebab secara umum adalah adanya Escheria coli,Shigella Salmonella,Staphylococcus aurous.
Manifestasi yang dirasakan ialah diare yang disertai adanya perdarahan,nyeri akut hingga kolik abdomen,peningkatan suhu tubuh sering dialami akibat adanya infeksi bakteri ke dalam tubuh.
Penatalaksanaan ialah dengan hidrasi cairan,pemberian antiamobik,anti analgetik dan pemberian anti piretik,penanganan status nutrisi dan pemantauan asuapan hingga haluaran.
B. SARAN
Adanya konsep asuhan keperwatan pada anak dengan gangguan sistem pencernaan disentri diharapkan dapat menjadi referensi pembelajaran dan bahan proses diskusi guna meningkatkan kemapuan analisi dan pengetahuan
Kami menyadari adanya kekurangan dalam penyusunan ,sehingga saran dan kritik sangat diperlukan guna meningkatkan pengetahuann dan keterampilan mahasiswa serta perawat.