Selasa, 16 Juni 2015

Trauma Tembus pada Bola Mata di dalam Asuhan Keperawatan/ penetrating trauma to the eyeball, in nursing care plan


Source/ Sumber:



1) Anas, Tamsuri. 2010. Klien Gangguan Mata: Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
2) Ilyas, Sidarta. 2000. “Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata”. Jakarta: Fakultas Ilmu Kedokteran UI.

3) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com)
4) Ilyas, Sidarata. 1997. “Ilmu Penyakit Mata.” Jakarta : Fakultas Ilmu Kedokteran UI.

A.    Latar Belakang
Mata merupakan salah satu indra dari panca indra yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Terlebih-lebih dengan majunya teknologi, indra penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Mata merupakan bagian yang sangat peka. Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. Kemajuan mekanisasi dan teknik terlebih-lebih dengan bertambah banyaknya kawasan industri, kecelakaan akibat pekerjaan bertambah banyak pula, juga dengan bertambah ramainya lalu lintas, kecelakaan di jalan raya bertambah pula, belum terhitung kecelakaan akibat perkelahian, yang juga dapat mengenai mata. Pada anak-anak kecelakaan mata biasanya terjadi akibat kecelakaan terhadap alat dari permainan yang biasa dimainkan seperti panahan, ketapel, senapan angin, tusukan dari gagang mainan dan sebagainya.
Trauma okular adalah penyebab kebutaan yang cukup signifikan, terutama pada golongan sosioekonomi rendah dan di negara-negara berkembang. Kejadian trauma okular dialami oleh pria 3 sampai 5 kali lebih banyak daripada wanita. Trauma pada mata dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah atau menjadi gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan mata: palpebrae, konjungtiva, cornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik, dan orbita. Trauma mata merupakan keadaan gawat darurat pada mataTrauma mata sering menjadi penyebab kebutaan unilateral pada anak dan dewasa  muda, kelompok usia ini mengalami sebagian besar cidera mata yang parah. Dewasa muda  terutama para pria merupakan kelompok yang memiliki kemungkinan besar mengalami cidera tembus pada bola mata. Kecelakaan dirumah, kekerasan, ledakan aki, cidera akibat olahraga dan kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma.
Trauma yang terjadi pada mata dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan orbita. Kerusakan mata akan memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. Trauma pada mata memerlukan perawtan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan.
Trauma dapat mengenai satu atau lebih jaringan mata, seperti kelopak, konjungtiva, kornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optic dan orbita. Trauma pada mata dapat berupa trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma kimia maupun trauma radiasi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan trama tembus bola mata ?
2.      Bagaimana epidemiologi terjadinya trauma tembus bola mata ?
3.      Apa etiologi dari trauma tembus bola mata ?
4.      Bagaimana patofisiologi trauma tembus bola mata ?
5.      Bagaimana tanda dan gejala dari trauma tembus bola mata ?
6.      Apa saja pemeriksaan penunjang untuk trauma tembus bola mata ?
7.      Apa saja komplikasi dari trauma tembus bola mata ?
8.      Bagaimana penatalaksanaan untuk trauma tembus bola mata ?
9.      Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan Pasien dengan Trauma Tembus Bola Mata ?

C.    Tujuan
  1. Tujuan umum
Diharapkan mahasiswa mahasiswi mampu memahami bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan pada pasien trauma tembus bola mata.
  1. Tujuan khusus
a.       Mahasiswa mampu memahami konsep trauma tembus bola mata
b.      Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien trauma tembus bola mata
c.       Mahasiswa mampu merumuskan diagnose untuk pasien trauma tembus bola mata
d.      Mahasiswa mampu melakukan perencanaan keperawatan pada pasien trauma tembus bola mata
e.       Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadapa pasien trauma tembus bola mata


BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Definisi
Salah satu bentuk dari trauma mata adalah trauma tembus. Menurut Birwingham Eye trauma terminology system, definisi dari trauma tembus merupakan trauma mata yang menyebabkan kerusakan pada keseluruhan ketebalan dinding bola mata (full-thickness wound of the eyewall). Trauma tembus merupakan trauma mata terbuka (open globe injury) yang merupakan bola mata, sedangkan trauma mata tertutup merupakan luka penetrasi yang mengenai  kornea, trauma mata terbuka dapat berupa ruptur (diakibatkan benda tumpul ) atau laserasi (luka penetrasi atau tembus, perforasi, benda asing intra okular). Luka laserasi merupakan luka yang memiliki jalur masuk sedangkan luka perforasi merupakan luka dengan jalur masuk dan jalur keluar. Trauma tembus merupakan trauma laserasi tunggal akibat benda tajam.
Perforasi bola mata merupakan keadaan yang gawat untuk bola mata karena pada keadaan ini kuman akan mudah ke dalam bola mata, selain dapat mengakibatkan kerusakan susunan anatomik dan fungsional jaringan intrakular.
Trauma tembus pada bola mata dapat dengan atau tanpa benda asing intraocular. Bila bersamaan dengan trauma tembus terdapat  benda asing intaokular maka benda asing tersebut akan memberikan akibat buruk di dalam bola mata seperti siderosis, kalkosis, dan oftalmia simpatik. Trauma tembus dapat terbentuk perforasi sclera dengan prolaps badan kaca di sertai dengan perdarahan badan kaca. Dapat juga perforasi seklera ini di sertai dengan prolapa badan siliar. Sebaiknya di ketahui apakah trauma tembus di sebabkan oleh benda yang kotor sehingga dapat di ramalkan dan di cegah kemungkinan akan terjadi endoftalmitis. Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja. Bila robekan konjungtiva ini kecil atau tidak melebihi  1 cm, maka tidak perlu dilakukan penjahitan. Bila robekan konjungtiva lebih 1 cm diperlukan tindakan penjahitan untuk mencegah terjadinya granuloma. Pada setiap robekan konjungtiva perlu diperhatikan terjadinya robekan sklera bersama-sama dengan robekankonjungtiva tersebut.

B.     Epidemiologi
Trauma okular merupakan penyebab tersering kebutaan monokular pada anak-anak dan dewasa ,muda (<40 tahun). Prevalensi tertinggi didapatkan pada remaja laki-laki. DI AS, > 2juta trauma mata terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 40000 kasus mengakibatkan berbagai derajat gangguan penglihatan permanen. Di Amerika serikat trauma matamenjadi penyebab terjadi kebutaan monokular memegang peranan dalam 7% kebutaan bilateral padakelompok usia 20-64 tahun. Pada tahun 2001, di amerika serikat diperkirakan 1.990.872 (6.98per1000 populasi) mengalami trauma mata dan memerlukan terapi  diruang gawat darurat, poli klinikatau prakter dokter umum.
Trauma tembus mata lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan lebih sering mengenai golongan usia yang lebih muda. Penyebabnya antara lain adalah serangan, kecelakaan domestik dan olahraga.

C.    Etiologi
Penyebab terserang ruptur mata pada dewasa dapat terjadi setelah trauma tumpul akibat kecelakaan kendaraan bermotor, akitivitas olah raga, penganiayaan atau trauma lain. Trauma tembus atau perforasi dapat terjadi akibat tembakan senapan luka tusuk, kecelakaan di tempat kerja atau kecelakaan lain yang melibatkan benda tajam atau proyektil yang menembus jaringan mata. Trauma tembus pada kecelakaan sering terjadi akibat partikel kecil yang masuk kedalam mata dengan kecepatan tinggi. Beratnya trauma yang terjadi ditentukan oleh ukuran benda, komposisi dan kecepatan pada saat bertumbukan.
Ruptur bola mata  dapat terjadi saat benda tumpul mengenai orbital, menyebabkan kompresi anterior-posterior dan meningkatkan tekanan intraokular sampai menimbulkan robekan sklera. Ruptur akibat trauma tumpul biasanya terjadi pada tempat dimana sklera paling tipis, pada insersi otot ekstraokular, pada limbus, dan sekitar nervus optikus. Benda tajam atau melaju dengan kecepatan tinggi dapat secara langsung menimbulkan perforasi pada bola mata, benda asing kecil dapat menembus mata dan tertinggal pada bola mata. Kemungkin ruptur bola mata harus dipikirkan dan disingkirkan saat mengevaluasi semua kasus trauma tumpul dan trauma tembus mata begitu pula pada kasus yang melibatkan penyakit berkecepatan tinggi dengan potensi okular.
Benda tajam seperti pisau akan menimbulkan luka laserasi yang jelas pada bola mata. Berada dengan kerusakan akibat benda asing yang terbang atau meloncat, beratnya kerusakan ditentukan oleh energi kinetik yang dimiliki. Contohnya pada peluru pistol angin yang besar dan memiliki kecepatan yang tidak terlalu besar memiliki energi kinetik yang tinggi dan menyebabkan kerusakan mata yang cukup parah. Kontras dengan pecahan benda tajam yang memeiliki masa yang kecil dengan kecepatan tinggi akan menimbulkan laserasi dengan batas yang jelas dan beratnya kerusakan lebih ringan dibandingkan kerusakan akibat peluru pistol angin.

D.    Patofisiologi
Trauma mata bisa disebabkan oleh karena mekanik dan non mekanik, semua ini menciderai organ-organ mata yang menyebabkan terjadinya trauma mata. Trauma mata yang diakibatkan oleh cedera mekanik pada jaringan bola mata akan menimbulkan suatu atau berbagai akibat klasik seperti: rasa sakit akibat trauma, gangguan penglihatan berupa penglihatan kabur, perabengkalan, perdarahan atau luka terbuka dan bentuk mata berubah.
Trauma yang diakibatkan oleh cidera non mekanik pada bola mata akan menimbulkan berbagai akibat seperti : erosi epitel kornea, kekeruhan kornea. Bila pada cidera radiasi juga terjadi efek kumulasi. Bila radiasi berkurang maka lesi terimis yang ditimbulkan sinar red (irivisible rays) dapat berupa kekeruhan kornea, atratosi iris, katarak.
Suatu trauma yang mengenai mata akan menimbulkan kekuatan hidraulis yang dapat menyebabkan hifema dan iridodialisis, serta merobek lapisan otot spingter sehingga pupil menjadi ovoid dan non reaktif. Tenaga yang timbul dari suatu trauma diperkirakan akan terus ke dalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior sehingga menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan bola mata ke lateral sesuai dengan garis ekuator. Hifema yang terjadi dalam beberapa hari akan berhenti, oleh karena adanya proses homeostatis. Darah dalam bilik mata depan akan diserap sehingga akan menjadi jernih kembali.
Trauma tembus pada mata karena benda tajam maka dapat mengenai organ mata dari yang terdepan sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai :
a.       Palpebra
Mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen
b.      Saluran lakrimalis
Dapat merusak system pengaliran air mata dan pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan air mata
c.       Kongjungtiva
Dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan perdarahan sub konjungtiva

d.      Sclera
Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekanan bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sclera yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi injury.
e.       Kornea
Bila ada tembus kornea dapat menggangu fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus clliaris prolaps, hal ini dapat dapat menurunkan visus
f.       Uvea
Bila luka dapat menyebabkan pengaturan cahaya yang masuk sehingga muncul fotofobia atau penglihatan kabur
g.      Lensa
Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan seris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tidak adekuat
h.      Retina
Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca. Hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca bisa juga terioblaina retina.


E.     Manifestasi Klinis
Bila trauma disebabkan benda tajam atau benda asing masuk kedalam bola mata makan akan terlihat tanda-tanda bola mata tembus, seperti:
a.       Tajam penglihatan yang menurun
b.      Tekanan bola mata rendah
c.       Bilik mata dangkal
d.      Bentuk dan letak pupil berubah
e.       Terlihatnya ada ruptur pada kornea atau sklera
f.       Terdapat jaringan yang proplaps seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca, atau retina.
g.      Konjungtiva kemotis.

Perdarahan Subkonjungtiva
Perdarahan sub konjungtiva adalah terdapatnya darah antara konjungtiva bulbi dengan sklera dan merupakan salah satu diagnosis banding mata merah. Perdarahan sub konjungtiva dari perdarahan pembuluh darah konjungtiva atau epis sklera ke ruang subkonjungtiva. Perdarahan dapat akibat dari trauma spontan  atau terkait dengan penyakit sistemik. Adanya manuver fasava hipertensi/arteriossklerosis, kelainan darah, diabetes, SLE, parasit, dan defisiensi vit c, penggunaan antibiotik, steroid, kontrasepsi, vit A dan D juga dapat meyebabkan perdarahan sub konjungtiva. Gejala klinis nya berupa mata merah, iritasi ringgan, biasanya asimto,matik. Dari pemeriksaan fisik terlihat seperti bercak berwarna merah terang dengan sekelilingnya normal.
Prolaps Iris
Hanya bagian akar iris yang terikat pada korpuas siliaris, sedangkan sisinya tidak terikat. Adanya luka pada kornea akan menyebabkan  iris keluar dari luka kornea. Disebut iris inkarsereta jika jaringan iris mencapai  luka tetapi tidak kleuar dari bola mata. Prolaps iris dapat juga pada intraoperatif floppy iris syndrom (IFIS) selama operasi katarak atau trabekulotomi. Hal ini terkait dengan penggunaan antagonis atrenagik  alfa = 1 sistemik. IFIS ditandaidengan dilatasi pupil yang lambat dan kontriksi pupil yang progresif.
Prolaps iris dapat terjadi ketika kornea mengalami perforasi. Pada tahun 1995, alam dengan menggunakan prinsip bernaulli menjelaskan bahwa adanya perforasi kornea, aquous humor akan keluar dengan cepat, akan tercipta suatu kondisi vakum yang relatif didepan iris yang akan memicu prolaps iris.
Prolaps iris merupakan kondisi serius dan jika tidak ditanggulangi dapat menghasilkan infeksi  dan kehilangan penglihatan. Prolaps iris yang terekspos memerlukan tindakan bedah secepatnya sedangkan prolaps iris yang masih ditutupi oleh konjungtiva, tindakan pembedahan secepatnya belum diperlukan.
Pada pemeriksaan fisik , pada jaringan iris yang prolaps di bagian perifer, iris tampak seperti tonjokan jaringan berwarna yang menghasilkan sinekia perifer. Ketika prolaps terjadi disentral kornea, seluruh batas pupil prolaps sehingga menghasilkan sinekia total anterior. Tergantung dari durasi terjadinya prolaps. Bentuk iris dapat berpariasi. Pada prolaps yang baru iris masih baikdan viable. Seiring dengan berjalannya waktu iris akan kering dan non viable.
Tekanan intraokular dapat lebih rendah dari normal , tetapi hipotensi jarang terjadi setelah prolaps iris.  Prolaps iris yang berlangsung lama dapat terjadi iridisiklitis kronik, edema makula sistoid atau glaukoma.

F.     Pemeriksaan Penunjang
1.         Pemeriksaan laboratorium
a.         Pemeriksaan koagulasi dan darah perifer lengkap di lakukan pada pasien yang memiliki kelainan perdarahan
b.         Pemeriksaan laboratorium di indikasikan untuk kasus dengan trauma yang koeksis dan gangguan medikal lain
2.         CT-Scan
a.         CT-Scan adalah pemeriksaan penunjang yang paling sensitif untuk mendeteksi ruptur bola mata, kerusakan sarap optik , mendeteksi benda asing dan memberi gambaran bola mata dan orbit.
b.         Kurang dapat mendeteksi adanya benda asing non logam.
3.     Foto rontgen
a.         Foto polos tiga posisi water, caldwell dan lateral lebih bermanfaat untuk mengetahui kondisi tulang dan sinus dari pada keadaan bola mata
4.         MRI
a.         MRI berguna untuk mendeteksi kerusakan jaringan lunak
b.         MRI juga berguna untuk mendeteksi benda asing non logam
c.         MRI dikontraindikasikan bagi kecurigaan benda asing logam.
5.         Ultrasonograsi
a.         Ultrasonograsi memiliki resiko untuk memberikan tekanan pada bola mata apabila terjadi trauma tembus bola mata
b.         Dapat berguna untuk menentukan lokasi rupture dan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya benda asing.
6.         Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
7.         Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
8.         Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.
9.         Benda asing magnetik intraocular
Pada keadaan diduga adanya benda asing magnetik intraokular perlu di ambil riwayat terjadinya trauma dengan baik . benda asing intraokular yang mahnetik ataupun tidak akan memberikan gangguan pada tajam penglihatan. Akan terlihat kerusakan kornea,lensa iris ataupun sklera yang merupakan tempat jalan mesuknya benda asing kedalam bola mata.
Bila pada pemeriksaan pertama lensa masih jernih maka untuk menglihat kedudukan benda asing di dalam bola mata di lakukan melebarkan pupil dengan midriatika. Pemeriksaan fundukopi sebaiknya segera dilakukan karna bila lensa terkena maka akan lensa menjadi keruh secara perlahan-lahan sehingga akan memberikan kerusakan untuk melihat jaringan belakang lensa.
Pemeriksaan radiologik akan memperlihatkan bentuk dan dasar benda asing yang terletak intraokular. Bila pada pemeriksaanradiologi dipakai cincin fileringa atau lensa kotak comberg akan terlihat benda bergerak bersama dengan pergerakan bola mata.
Untuk menentukan letak benda asing ini dapat dilakukan pemeriksaan tambahan lain yaitu dengan metal locator. Pemeriksaan ultra sonografi digunakan untuk pemeriksaan yang lebih menentukan letak dan gangguan terhadap jaringan sekitar lainya.
Pengobatan pada benda asing intraokular ialah dengan mengeluarkannya dan dilakukan dengan perencanaan pembedahan agar tidak memberikan kerusakan yang lebih berat terhadap bola mata.
Mengeluarkan benda asing melalui jalan melewati sklera merupakan cara untuk tidak merusak jaringan lain..

G.    Komplikasi
a.       Endoftalmitis dapat terjadi baik eksogen maupun pasca operasi.
b.      Endoftalmitis yang terjadi dapat bakteri atau jamur.
c.       Oftalmia simpatetik, adalah peradangan pada mata yang tidak mengalami luka beberapa minggu atau bulan setelah cedera. Diperkirakan suatu proses autoimun pada jaringan uvea. Gejalanya adalah nyeri, penurunan tajam penglihatan dan fotofobia.

H.    Penatalaksanann
Bila terlihat salah satu tanda atau dicurigai adanya perforasi bola mata maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotik topikal dan mata tutup dan segera dikirim pada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang masuk kedalam mata dengan membusat foto. Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotik sistemik atau intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan. Pasien juga diberi anti tetanus profilaktik, analgetik, dan kalau perlu penenang. Sebelum rujuk mata tidak diberi salep,karena salep dapat masuk kedalam bola mata melalui luka dan akan menjadi benda asing di dalam mata. Pasien tidak boleh diberi streroid lokal, dan bebat yang diberikan pada mata tidak menekan bola mata.
Trauma tembus dapat terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata. Benda asing di dalam bola mata pada dasarnya perlu dikeluarkan. Benda asing yang bersifat magnetik dapat dapat dikeluarkan dengan alat magnit raksasa. Benda yang tidak magnetik dikeluarkan dengan vitrektomi. Penyulit yang dapat timbul pada terdapatnya benda asing intraokular adalah endoftalmitis, penoftalmitis, ablasis retina, pendarahan intraokular dan ftisis bulbi.
Tatalaksana Trauma Tembus:
1.      Penilaian Awal
Langkah awal yang harus segera dilakukan adalah menerapkan prinsip umum bantuan hidup lanjut pada kasus trauma, evaluasi untuk hasil visual dilakukan sembari pertolongan bantuan hidup lanjut  dilaksanakan. Pada trauma mata yang lebih berat dapat diperiksa fungsi aferen dan eferennya, ketajaman penglihatan, pergerakan bola mata, deformitas, perforasi, kemosis, dystopia, enoftalmus, eksoftalmus dan telekantus. Apabila terdapat rupture pada bola mata, sebaiknya dihindari untuk memanipulasi yang lebih lanjut hingga pembedahan dalam keadaan steril bisa dilakukan, yang biasanya dilakukan dengan anestesi umum. Tidak perlu diberikan  siklopegik maupun antibiotik sebelum operasi dilakukan, Karena adanya toksisitas potensil terhadap jaringan yang terpapar.
Mata diberi perlindungan, dengan gelas berbahan kertas yang dipotong pada segitiga bawah yang ditutupkan ke mata, dan bias diberikan antibiotic oral, seperti ciprofloxacin 2x500 mg. Analgesik dan antiematik dapat diberikan selama diperlukan. Anti-tetanus juga dapat diberikan karena semua trauma tembus bola mata tergolong pada luka dengan resiko tinggi tetanus dan merupakan luka yang sangat mungkin terjangkit tetanus karena luka yang tampak nyata mendevitalisasi jaringan dan terdapat kotak nyata jaringan dengan bahan yang menembus mata yang kemungkinan sudah tercemar tanah atau kotoran lainnya yang mungkin mengandung kuman tetanus. Anastetik topical, pewarna, dan pengobatan topical lain yang digunakan pada mata yang terkena trauma harus steril. Agen neuromuscular blocking dapat meningkatkan tekanan intraokuler dan dapat menyebabkan herniasi. Pada trauma yang berat, perlu diperhatikan untuk dokter selain dokter mata, untuk tidak melakukan pemeriksaan mata yang dapat menambah derajat penyakit.
Pada setiap trauma mata, perlu dilakukan system scoring. Hal ini diperlukan untuk dapat mendiskripkan beratnya trauma/luka, memberikan pelayanan triage yang efektif, membantu dalam hal kesiapan operasi, serta untuk memproduksikan prognosis penglihatan.
2.      Pengobatan
A.    Tanpa operasi
Pada luka tembus yang minimal, tanpa kerusakan intraokuler, tidak ada prolap, diberikan antibiotic sistemik dengan atau tanpa topical, dengan observasi yang ketat.
B.     Operasi
a.       Repair Korneosklera
Tujuan primer repair korneosklera adalah untuk memperbaiki integritas bola mata. Tujuan sekunder adalah untuk memperbaiki visus. Bila prognosis visus kurang baik dan mempunyai resiko oftalmia simpatis maka sebaiknya dilakukan enukleasi. Enukleasi primer lebih baik, bila perlu ditunda tidak lebih dari 14 hari untuk mencegah oftalmia simpatis. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan fungsi visus, vitroretina atau konsultasi ke sub bagian plastic rekonstruksi.
b.      Anestesi
Anestesi umum dipergunakan untuk repair bola mata, sebab anestesi retrobulber atau peribulber akan meningkatkan tekanan bola mata. Diberikan pelumpuh otot yang cukup untuk menghindari prolapsnya isi bola mata.
c.       Langkah – langkah repair korneosklera
1.      Anestesi umum
2.      Eksisi prolaps vitreous, fragmen lensa, benda asing transkornea,
3.      Reposisi prolapse iris
Jika prolaps berlangsung dalam 24-36 jam dan iris masih viable, iris dapat direposisi. Jika iris tidak lagi viable, maka iris dieksisi.
4.      Tutup laserasi kornea dengan limbus sebagai patokan
5.      Selesaikan repair kornea secara watertight dengan nilon 10-0
6.      Peritomi konjungtiva untuk memaparkan sclera
7.      Eksisi prolap vitreous bagian posterior secara perlahan
8.      Reposisi prolap uvea dan retina posterior secara perlahan
9.      Selesaikan penutupan sclera dengan nilon 9-0 atau silk 8 – 0
10.  Selesaiakn penutupan konjungtiva
11.  Tutup konjungtiva
12.  Antibiotic dan steroid subkonjungtiva

d.      Yang diperlukan
Tidak dipasang fiksasi rektus karena repair palpebra menekan permukaan mata, maka selesaikan dulu repair kornea. Bila vitreous atau massa lensa prolap melalui bibir luka, maka potong diatas kornea, tidak dengan menariknya keluar. Bila uvea atau retina menonjol keluar lakukan reposisi dengan bantuan vikoelastik secara hati-hati. Reposisi iris segera dilakukan setiap selesai jahitan untuk mencegah iris terjepit di bibir luka. Jahitan yang dikerjakan sebaiknay mendekati full thickness.
Pada akhir operasi diberikan antibiotic subkonjungtiva (tobramisin 20 mg atau vankomisin 25 mg) dan kortikosteroid (deksametason 2 mg). Antibiotic intraviteal (vankomisin 1 mg atau amilacin 200 mg) diberikan pada luka yang terkontaminasi menutupi vitreous. Diberikan antibiotic salep mata  (kombinasi bacitasin-polimyxin) dan kemudian mata ditutup.
e.       Repair sekunder
a)      Pengangkatan benda asing intraokuler, rekonstruksi iris, ekstraksi katarak, vitrektomi, insersi lensa intraokuler dan krioterapi pada robekan retina.
b)      Bila kekeruhan lensa bertambah inflamasi intraokuler akan hilang.
c)      Bila benda asing terlibat di segmen anterior sebaiknya diangkat melalui lubang atau insisi limbal.
d)     Bila pengangkatan lensa diperlukan perlu diketahui apakah kapsula posterior masih utuh atau tidak.
e)      Perbaikan ruptur iris tidak hanya memperbaiki fungsi iris dan visus tapi juga mengembalikan iris pada tempatnya untuk menghindarkan sinekia. Bila terjadi iridodialis akan menyebabkan diplopia dan eksentrik pupil sehingga perlu reposisi.
f.       Pengobatan Pasca Operasi
f)       Terapi untuk cegah infeksi, supresi inflamasi, control TIO dan hilangkan rasa sakit.
g)      Antibiotic intravena sampai 3-5 hari. Antibiotic topical sampai 7 hari sedangkan kortikosteroid dan siklopegia dikurangi berdasarkan tingkat inflamasinya.
h)      Jahitan kornea bila tak longgar dapat diletakkan sampai 3 bulan lalu diangkat bertahap.
i)        Karena resiko ablation retina maka pemeriksaan segmen posterior harus sering dilakukan, bila tak terlihat dapat dengan menggunakan USG.
j)        Koreksi penglihatan sesegera mungkin karena pada anak-anak resiko ambliopia meningkat apabila rehabilitasi visus ditunda.
.
I.       Prognosis
Prognosis luka tembus bergantung pada banyak factor seperti ;
1.      Besarnya luka tembus, makin kecil luka tembus makin banyak prognosisnya
2.      Tempat luka pada bola mata , bila terdapat di segmen anterior prognosis berbeda dengan luka  di segmen posterior.
3.      Bentuk trauma apakah dengan benda  atau tidak dengan benda asing
4.   Benda asing magnetic atau tidak magnetic
5.   Dalamnya luka tembus apakah tumpul atau luka ganda
6.   Sudah terdapatnya penyulitan akibat luka tembus.


J.     
Kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan kerja, tembakan luka tusuk, penganiayaan atau trauma lain
Pohon Masalah
Partikel kecil yang masuk ke dalam bola mata dengan kecepatan tinggi
Laserasi bola mata
Trauma tembus bola mata
Kompresi anterior posterior serta menegangkan bola mata
Perubahan fungsi penglihatan
Kerusakan organ mata (kornea,uvea,lensa)
Peningkatan TIO
Distensi area sekitar rongga orbita
Pelepasan mediator kimia
Merangsang saraf sensorik
Trigeminal (proses transmisi,transduksi,persepsi)
Tindakan invasive (pembedahan)
Penurunan visus
Iris prolaps,korpus vitreous & korpus ciliar prolaps, gangguan pengaturan cahaya yang masuk
Akomodasi tidak adekuat
Penglihatan kabur
Penurunan tajam penglihatan
Nyeri
Gangguan persepsi sensori
Resiko tinggi cidera
Resiko tinggi infeksi
Kurang informasi tentang kondisi matanya
Ansietas
Stress Psikologis

 

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
A.    Anamnesis
a.    Mekanisme trauma :
1.      Tentukan jenis trauma : tumpul, penetrasi/perforasi.
2.      Tanyakan benda penyebab : bentuk dan ukuran benda
3.      Tanyakan kemungkinan adanya benda asing pada bola mata karena dapat menimbulkan komplikasi nantinya seperti infeksi oleh benda organik.
b.    Keadaan saat kejadian trauma :
1.      Waktu dan lokasi terjadinya trauma.
2.      Penggunaan kaca mata koreksi atau pelindung mata lainnya karena benda-benda tersebut dapat melindungi atau malah berkontribusi pada trauma akut.
3.      Tanyakan apakah pasien mempunyai miopia berat karna mata miomi lebih rentang terhadap trauma kompres anterior posterior
c.    Riwayat medis
1.      Tanyakan riwayat trauma mata atau operasi mata sebelumnya karna dapat membuat jaringan lebih rentan rupture
2.      Tanyakan visus dan fungsi penglihatan sebelum trauma pada kedua mata
3.      Tanyakan penyakit mata yang ada pada pasien saat ini
4.      Tanyakan penggunaan obat saat intermasuk  obat tetes mata dan alergi
d.   Gejala
1.      Nyeri dapat tersama oleh trauma lain dan dapat tidak berat pada awalnya pada trauma tajam baik dengan tanpa dengan benda asing
2.      Tajam penglihatan biasaanya berkurang jauh
3.      Diplopia akibat terjepitnya otot ektraokulasi, akibat trauma sarap kranial , monokular diplopsia akibat dari dislokasi atau sublukasi lensa.
B.     Pemeriksaan fisik
1.    Trauma tembus mungkin dapat tampak dengan mudah atau tertutup oleh luka yang paling suferfisial sehingga sebaiknya di cari dengan teliti.
2.    Hindari pemberian tekanan pada bola mata yang mengalami trauma tembus untuk mencegah mengalir keluarnya cairan bola mata.
3.    Pemeriksaan segmen posterior mungkin sulit di lakukan karna trauma yang terjadi dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior
4.    Pemeriksaan harus di lakukan dengan sistemik dengan tujuan mengidentikasi dan melindungi mata
5.    Hindari manipulasi mata yang berlebihan untuk pemeriksaan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut dan menipulasi kemungkinan ektrusi intaokular.

C.     Tajam penglihatan dan gerak bola mata
1.    Periksa tajam penglihatan kedua mata
Tajam penglihatan dapat turun banyak
2.    Periksa gerak bola mata kedua mata, jika terganggu harus dievaluasi kemungkinan ada fraktur orbital
a.       Bola mata
1)   Harus di evaluasi apakah ada deformitas tulang , benda asing dan gangguan kedudukan bola mata
2)   Benda asing yang menembus bola mata harus di biarkan sampai tindakan beda.
3)   Apabila terdapat trauma tembus bola mata dapat timbul oftalmus
b.      Kelopak mata
1)   Trauma kecil pada kelopak mata tidak menyingkirkan kemungkinan adanya trauma tembus bola mata
2)   Perbaikan kelopak harus ditunda sampai kemungkinan adanya trauma tembus bola mata dapat disingkirkan
c.       Konjungtiva
1)   Perdarahan konjungtiva yang berat dapat mengidentifikasikan adanya ruptur bola mata
2)   Laserasi konjungtiva bisa terjadi bersamaan dengan trauma sklera yang serius
d.      Kornea dan sclera
1)   Luka tembus kornea atau sklera merupakan suatu trauma tembus bola mata dapat di periksa dengan scider’s test
2)   Pada luka tembus kornea dapat terjadi prolaps iris. Laserasi pada kornea dan sklera bisa menunjukan adanya perforasi bola mata dan harus di siapkan untuk ditatalaksana di ruang oprasi
3)   Prolap iris dengan laserasi kornea bisa terlihat diskolarasi gelap mata daerah trauma.
4)   Penonjolan sklera menunjukan indikasi ruptur dengan ektrusi isi ocular.
5)   Tekanan intraokular biasanya rendah akan tetapi pemeriksaan tekanan bola mata dikontraindikasikan untuk mencegah bola mata
e.       Pupil
1)   Periksa bentuk , ukuran ,reflek ,cahaya,RAPD
2)   Adanya deformitas bentuk pupil dapat menjadi tanda adanya trauma tembus bola mata
3)   Pupil biasanya medriasis
f.       Lensa
1)   Dapat timbul diskolensi lensa
g.      Bilik mata depan.
1)   Pemeriksaan slip lamp pada pasien yang kooprasi bisa menunjukkan kelainan yang berhubungan dengan seperti defek transiluminasi iris(red reflex gelap karna perdarahan vitreous), laserasi kornea, hifema dari disrupsi siliar lensa termaksut dislokasi atau sublukasi.
2)   Bilik mata yang dangkal bisa jadi merupakan satu satunya tanda adanya ruptur bola mata dan merupakan tanda prognesis buruk. Ruptur posterior bisa terjadi dan dan di tunjukkan dengan bilik mata depan yang dalam karna adanya ektrusi vireous ke segmen posterior.
h.      Temuan lain
1)   Adanya reflek fundus negatif akibat perdarahan viterus dapat menjadi tanda adanya trauma tembus bola mata
2)   Ditemukan prolaps uvea pada permukaan pola mata merupakan tanda trauma tembus bola mata
3)   Pada trauma tembus bola mata di temukan hifema
4)   Perdarahan fitreoussetelah trauma menunjukkan adanya robekan retina atau khoroid alvulsi nervus optikus atau benda asing
5)   Robekan retina, edema, pelepasan retina dan perdarahan bisa mengikuti ruptur bola mata
D.    Pola Kebutuhan Dasar
1.      Aktivitas / Istrahat
Gejala        : Aktivitasnya berkurang akibat gangguan penglihatan
Tanda        : Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/hobi dikarenakan adanya penurunan daya/kemampuan penglihatan
2.      Makanan / Cairan
Tanda        : Mungkin terjadi mual dan muntah akibat dari peningkatan tekanan intraokuler
3.      Neurosensori
Gejala        : Silau bila terkena cahaya, pandangan kabur, air mata keluar
Tanda        : Adanya distorsi penglihatan, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap atau memfokuskan penglihatan), penggunaan kacamata, penurunan visus, terjadi kemerahan pada mata, konjungtiva kemotis
4.      Nyeri / Kenyamanan
Gejala        : Rasa tidak nyaman pada mata, mengeluh nyeri, lelah pada mata, klien mengeluh sakit kepala.
Tanda        : Nampak menutup area mata
5.      Integritas ego
Gejala        : Mengeluh akan kondisi matanya, kekhawatiran akan fungsi penglihatan
Tanda        : Nampak cemas akan kondisinya, ketakutan akan tindakan pembedahan
2.      Diagnosa Keperawatan
a.    Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler
b.    Gangguan persepsi sensori : penglihatan berhubungan dengan penurunan katajaman penglihatan
c.    Ansietas berhubungan dengan kurang terpajan tentang kondisi matanya.
d.   Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pembedahan).
e.    Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.

3.      Intervensi Keperawatan

Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kualitas nyeri yang dirasakan pasien menurun atau hilang.
Kriteria Hasil:
a.      Pasien mengungkapkan penurunan rasa nyeri.
b.      Kualitas nyeri yang dirasakan pada skala0-1
c.      Tidak ada tanda tanda non verbal menahan nyeri(meringis,gelisah)
d.     Pasien terlihat tenang dan dapat beristirahat

Intervensi
Rasional
Kaji nyeri secara komperhensif (P,Q,R,S,T)
Nyeri akibat peningkatan tekanan intra okuler dapat terasa pada salah satu ataupun kedua mata,Skala nyeri menentukan tindakan yang sesuai dlam penanganan
Kaji riwayat nyeri, misal lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas tindakan koping nyeri
Pengalaman nyeri yang dirasakan menggambarkan lamanya adanya keluhan,menunjukan riwayat pengobatan dan memberikan gambaran status kesehatan
Ciptakan lingkung nyaman
Kondisi tenang dan penerangan sesuai kemampuan pasien meberikan kenyamanan meningkatkan fase istirahat pasien
Berikan Tindakan nyaman :
Misal: aktifitas hiburan(music)

Music tertentu memberikan efek nyaman mengurangib dan mengalihkan rasa nyeri yang dirasakan
Ajarkan tindakan pereda nyeri :
Tekhnik relaksasi nafas dalam

Nafas dalam mempermudah relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping
Informasikan pada keluarga untuk menerapkan tekhnik pereda nyeri dan memberikan lingkungan nyaman
Pengetahuan keluarga yang baik dan tepat dapat berpengaruh terhadap kondisi pasien,menciptakan lingkungan nyaman
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti nyeri dan TIO sesuai indikasi
Pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa nyaman

Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam gangguan persepsi sensori pasien dapat teratasi
Kriteria Hasil :                
a.       Lapang dan ketajaman penglihatan dapat dipertahankan tanpa ada kehilangan lebih lanjut
b.      Keparahan penurunan tajam penglihatan dapat diketahui
Intervensi
Rasional
Kaji dan dokumentasikan ketajaman penglihatan (visus) dasar
Menentukan nilai visus klien
Dapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien
Gambaran data dasar tentang pandangan akurat klien mempengaruhi rencana perawatan

Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.
Memberikan gambaran keadaan lingkungan.memudahkan pasien
Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan.
Letak barang disesuaikan dengan kemampuan pengelihatan dan memberikan lingkingan nyaman pada pasien
Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan penglihatan.
Mengkaji tanda gejala yang dialami pasien
Lakukan tindakan untuk membantu pasien untuk menangani keterbatasan penglihatan, contoh, atur perabot/mainan, perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam
  •  Ketajaman penglihatan dapat digunakan untuk mengetahui gangguan penglihatan yang terjadi
  • Orientasi akan mempercepat penyesuaian diri pasien di lingkungan baru
  • Mempermudah pengambilan barang jika dibutuhkan

Penataan dan pengkondisian lingkungan hal utama bagi pasien yang mengalami penurunan tajam penglihatan
Laporkan status penglihatan, keluhan  pasien pada dokter
Tanda dan gejala serta keluhan pasien menunujukan perkembangan penyakit
Berikan pencahayaan yang paling sesuai dengan klien
Meningkatkan penglihatan kondisi patologis mata lokasi akan memengaruhi apakah cahaya gelap atau terang yang lebih baik
Cegah glare (sinar yang menyilaukan)

Mencegah distres.tertutupnya bagian mata akan memecah sinar lampu yang akan menyebabkan distres





Ansietas berhubungan dengan kurang terpajang tentang kondisi matanya.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, ansietas klien dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
a.       Klien bisa rileks dengan kondisi matanya
b.      Klien nampak tenang
c.       Klien mengetahui tindakan yang akan dilakukan.
Intervensi
Rasional
Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaan dan Jelaskan tujuan dari semua tindakan – tindakan yang dilakukan. Ingatkan tetang parahnya kerusakan penglihatan.
Mengekspresikan perasaan dapat mengurangi ansietas. Memberikan pengetahuan pasien  dapat menghilangkan rasa takut
Ikut sertakan klien dalam proses pengobatan.    
Agar klien mengetahui proses pengobatan yang diberikan
Anjurkan keluarga klien untuk membantu aktivitas klien
Bantuan keluarga merupakan support bagi klien

Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pembedahan).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, resiko infeksi tidak terjadi 
Kriteria Hasil :
a.       Tidak terjadi infeksi
b.      Luka sembuh dengan cepat
Intervensi
Rasional
Diskusikan dan ajarkan pada pasien pentingnya cuci tangan yang bersih sebelum menyentuh mata. 
Membantu mencegah terjadi kontaminasi dengan mikroorganisme

Gunakan dan demostrasikan tehnik yang benar tentang cara perawatan dengan kapas yang steril serta dari arah yang dalam memutar kemudian keluar
Membantu menjaga kebersihan mata

Jelaskan pentingnya untuk tidak menyentuh mata / menggosok mata
Membantu mengurangi sakit pada mata
Diskusikan dan observasi tanda-tanda dari infeksi
Membantu untuk mengetahui apakah terjadi infeksi
Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik sesuai indikasi
Membantu dalam membunuh mikroorganisme penyebab infeksi


Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan kepearwatan selama 2x24 jam pasien tidak ada penurunan pengihatan lanjut dan tidak terjatuh
Kriteria hasil :
Pasien dapat mendemontrasikan tidak ada cedera lanjut.
Intervensi
Rasional
Pertahankan pemberian bel pemanggil  di samping tempat tidur dan pagar tempat tidur .
Pemberian pagar tempat tidur dan bel pemangggil dapat memberikan rasa aman pasien .menurunkan resiko cidera
Ajarkan dan Intruksikan pasien untuk memberi tanda untuk bantuan .
Pemahaman pasien dan perawat mempermudah komunikasi untuk membantu keterbatasan pasien
Pertahankan mata tertutup sesuai indikasi dan advice dokter sampai pembedahan dilakukann
Kondsi mata tertutup menurunkan resiko cidera dan trauma.
Berikan anjuran pada pihak keluarga untuk berada disisi pasien dalam kegiatan apapun
Keterbatasan penglihatan mebutuhkan pendamping untuk meberikan bantuan dan menjaga keamanan pasien
Beri pegangan atau alat baantu pada lingkungan sesuai keterbatasan
Alat bantu,/pegangan memudahkan pasien ,mengurangi resiko cidera



BAB IV
STUDI KASUS


Ny A berumur 34 tahun datang ke Rumah sakit pada tanggal 19 Maret 2015 pukul 09.00 WIB dengan mengeluh mata kanannya nyeri, silau, pandangan kabur dan mengeluarkan darah pada kelopak matanya sejak 2  hari yang lalu. Dari anamnesa didapatkan pasien terkena pentalan kawat tembaga dengan diameter ± 2 mm pada waktu menggulung kumparan pompa air 2 hari yang lalu. Dari pemeriksaan fisik di IRD RSU dr.sutomo didapatkan mata kemerahan, konjungtiva kemotis, tajam penglihatan mata kanan 2 meter, hitung jari dengan pinhole 6/20, sedangkan mata kiri 6/30 dengan pinhole 6/6. Penderita mempunyai riwayat memakai kacamata. Sedangkan tekanan intraokuli kanan sedikit lebih rendah yaitu 12,2 mmHg dan mata kiri 17,3 mmHg. Dari pemeriksaan segmen anterior mata kanan didapatkan laserasi pada palpebra atas berupa titik dengan diameter ± 0,5 mm yang merupakan port d’entry dari korpus alienum, konjungtiva yang hiperemia, perdarahan subkonjungtiva, serta didapatkan korpus alienum berupa serpihan kawat tembaga diantara lensa dan iris. Dari pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan TD: 140/90 mmHg, Nadi 98x/menit, RR: 18 x/menit, suhu: 36,8 0C. 
A.    Pengkajian
              I.          Identitas
Nama                        :Ny.A
Umur                         :34 tahun
TTL                           : 12 April 1981
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat                      : Jl.Diponegoro, Surabaya
Agama                      : Islam
Suku                          : Jawa
Pendidikan                : SMA
Pekerjaan                  : Ibu Rumah tangga.
MRS                         : 19 Maret 2015.
           II.          Keluhan utama
Pasien mengeluh mata kanannya nyeri, silau, pandangan kabur dan mengeluarkan darah pada kelopak matanya.

        III.          Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien terkena pentalan kawat tembaga dengan diameter ± 2 mm pada waktu menggulung kumparan pompa air 2 hari yang lalu. Sejak setelah terkena pentalan kawat tembaga tersebut pasien mengeluh mengeluh mata kanannya nyeri, silau, pandangan kabur dan mengeluarkan darah pada kelopak matanya sejak 2  hari yang lalu. Karena tidak tahan dengan sakit yang dirasakan, pasien memutuskan untuk berobat ke RSU dr.sutomo. Dari pemeriksaan fisik di IRD RSU dr.sutomo didapatkan mata kemerahan, konjungtiva kemotis, tajam penglihatan mata kanan 2 meter, hitung jari dengan pinhole 6/20, sedangkan mata kiri 6/30 dengan pinhole 6/6. Penderita mempunyai riwayat memakai kacamata. Sedangkan tekanan intraokuli kanan sedikit lebih rendah yaitu 12,2 mmHg dan mata kiri 17,3 mmHg. Dari pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan TD: 140/90 mmHg, Nadi 98x/menit, RR: 18 x/menit, suhu: 36,8 0C.  Dari pemeriksaan segmen anterior mata kanan didapatkan laserasi pada palpebra atas berupa titik dengan diameter ± 0,5 mm yang merupakan port d’entry dari korpus alienum, konjungtiva yang hiperemia, perdarahan subkonjungtiva, serta didapatkan korpus alienum berupa serpihan kawat tembaga diantara lensa dan iris.
        IV.          Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah menderita penyakit tersebut.
           V.          Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti yang dialami klien.
        VI.          Pemeriksaan Fisik (Fokus pada Mata)
a.       Bola mata
Terdapat korpus alienum kawat tembaga di antara lensa dan iris
b.      Kelopak mata
Terdapat perdarahan
c.       Konjungtiva
Konjungtiva hyperemia, perdarahan konjungtiva
d.      Palpebral
Terdapat laserasi pada palpebra
e.    Pola kebutuhan Dasar
a.       Aktivitas / Istrahat
Gejala      : Klien mengatakan aktivitasnya berkurang akibat gangguan penglihatan
Tanda      : Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/hobi dikarenakan adanya penurunan daya/kemampuan penglihatan
b.      Makanan / Cairan
Tanda      : Mungkin terjadi mual dan muntah akibat dari peningkatan tekanan intraokuler
c.       Neurosensori
Gejala      : Klien mengeluh silau bila terkena cahaya, pandangan kabur, air mata keluar
Tanda      : Adanya distorsi penglihatan, kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap atau memfokuskan penglihatan), penggunaan kacamata, penurunan visus, terjadi kemerahan pada mata, konjungtiva kemotis
d.      Nyeri / Kenyamanan
Gejala      : Klien mengeluh rasa tidak nyaman pada mata, mengeluh nyeri, lelah pada mata, klien mengeluh sakit kepala.
Tanda      : Nampak menutup area mata
e.       Integritas ego
Gejala      : Klien mengeluh akan kondisi matanya, klien mengatakan kekhawatiran akan fungsi penglihatan
Tanda      : Klien nampak cemas akan kondisinya, ketakutan akan tindakan pembedahan

f.     Pemeriksaan Penunjang
a.       Pengukuran tekanan IOL dengan tonography : mata kanan sedikit lebih rendah yaitu 12,2 mmHg dan mata kiri 17,3 mmHg
b.      CT-Scan : adanya benda asing logam pada mata

B.     Diagnosa Keperawatan
Analisa data
Kelompok data
Etiologi
Problem
Ds :
ü Klien mengeluh rasa tidak nyaman pada pada
ü Mengeluh nyeri pada matanya
ü Klien mengeluh sakit kepala.

Do : 
ü Terjadi kemerahan pada mata
ü Nampak menutup area mata
ü Peningkatan tekanan intraokuler

Penyebab trauma mata
Tenaga yang timbul terus ke dalam isi bola mata melalui sumbu anterior posterior
menyebabkan kompresi ke posterior serta menegangkan bola mata
Peningkatan TIO
Distensi area sekitar
Rongga orbita
Pelepasan mediator kimia
Merangsang saraf sensorik
Trigeminal (proses transmisi, transduksi modulasi dan presepsi)
Nyeri
Nyeri akut
Ds :
ü Klien mengatakan aktivitasnya berkurang akibat gangguan penglihatan
ü Klien mengeluh silau bila terkena cahaya
ü Klien mengeluh pandangan kabur

Do :
ü Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/hobi
ü Kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap atau memfokuskan penglihatan)
ü Penurunan visus
ü Penggunaan kacamata
ü Adanya distrosi penglihatan
Penyebab trauma mata
Kerusakan pada organ mata (kornea, uvea, lensa)
menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus clliaris prolaps, pengaturan cahaya yang masuk terganggu
Akomodasi tidak adekuat
Penurunan visus
Penglihatan kabur
Gangguan persepsi sensori : penglihatan

Gangguan persepsi sensori penglihatan
Ds :
ü Klien mengeluh akan kondisi matanya
ü Klien mengatakan kekhawatiran akan fungsi penglihatan

Do :
ü Klien nampak cemas akan kondisinya
ü Ketakutan akan tindakan pembedahan
Trauma pada mata
Kerusakan pada pada organ-organ mata
Perubahan fungsi penglihatan
Tindakan pembedahan
Kurang terpajang informasi mengenai kondisi mata
Stress psikologis
Ansietas


Cemas
Ds :
ü Klien mengatakan aktivitasnya berkurang akibat gangguan penglihatan
ü Klien mengeluh silau bila terkena cahaya
ü Klien mengeluh pandangan kabur

Do :
ü Perubahan dalam pola aktivitas sehari-hari/hobi
ü Kesulitan dalam melakukan adaptasi (dari terang ke gelap atau memfokuskan penglihatan)
ü Penggunaan kacamata
ü Adanya distrosi penglihatan
Penyebab trauma mata
Kerusakan pada organ mata (kornea, uvea, lensa)
menyebabkan iris prolaps, korpusvitreum dan korpus clliaris prolaps, pengaturan cahaya yang masuk terganggu
Akomodasi tidak adekuat
Penurunan visus
Penglihatan kabur
Resiko tinggi cidera
Resiko tinggi cidera

Diagnosa Keperawatan yang muncul adalah
1.    Nyeri berhubungan dengan peningkatan intra okuler
2.    Gangguan persepsi: penglihatan sensori berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan
3.    Ansietas berhubungan dengan kurang terpajan tentang kondisi matanya
4.    Resiko tinggi cidera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.

C.    Intervensi
Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kualitas nyeri yang dirasakan pasien menurun atau hilang.
Kriteria Hasil:
e.      Pasien mengungkapkan penurunan rasa nyeri.
f.       Kualitas nyeri yang dirasakan pada skala0-1
g.      Tidak ada tanda tanda non verbal menahan nyeri(meringis,gelisah)
h.      Pasien terlihat tenang dan dapat beristirahat

Intervensi
Rasional
Kaji nyeri secara komperhensif (P,Q,R,S,T)
Nyeri akibat peningkatan tekanan intra okuler dapat terasa pada salah satu ataupun kedua mata,Skala nyeri menentukan tindakan yang sesuai dlam penanganan
Kaji riwayat nyeri, misal lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas tindakan koping nyeri
Pengalaman nyeri yang dirasakan menggambarkan lamanya adanya keluhan,menunjukan riwayat pengobatan dan memberikan gambaran status kesehatan
Ciptakan lingkung nyaman
Kondisi tenang dan penerangan sesuai kemampuan pasien meberikan kenyamanan meningkatkan fase istirahat pasien
Berikan Tindakan nyaman :
Misal: aktifitas hiburan(music)

Music tertentu memberikan efek nyaman mengurangib dan mengalihkan rasa nyeri yang dirasakan
Ajarkan tindakan pereda nyeri :
Tekhnik relaksasi nafas dalam

Nafas dalam mempermudah relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping
Informasikan pada keluarga untuk menerapkan tekhnik pereda nyeri dan memberikan lingkungan nyaman
Pengetahuan keluarga yang baik dan tepat dapat berpengaruh terhadap kondisi pasien,menciptakan lingkungan nyaman
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti nyeri dan TIO sesuai indikasi
Pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa nyaman




Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam gangguan persepsi sensori pasien dapat teratasi
Kriteria Hasil :                
c.       Lapang dan ketajaman penglihatan dapat dipertahankan tanpa ada kehilangan lebih lanjut
d.      Keparahan penurunan tajam penglihatan dapat diketahui
Intervensi
Rasional
Kaji dan dokumentasikan ketajaman penglihatan (visus) dasar
Menentukan nilai visus klien
Dapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien
Gambaran data dasar tentang pandangan akurat klien mempengaruhi rencana perawatan

Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.
Memberikan gambaran keadaan lingkungan.memudahkan pasien
Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan.
Letak barang disesuaikan dengan kemampuan pengelihatan dan memberikan lingkingan nyaman pada pasien
Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan penglihatan.
Mengkaji tanda gejala yang dialami pasien
Lakukan tindakan untuk membantu pasien untuk menangani keterbatasan penglihatan, contoh, atur perabot/mainan, perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam
  •  Ketajaman penglihatan dapat digunakan untuk mengetahui gangguan penglihatan yang terjadi
  • Orientasi akan mempercepat penyesuaian diri pasien di lingkungan baru
  • Mempermudah pengambilan barang jika dibutuhkan

Penataan dan pengkondisian lingkungan hal utama bagi pasien yang mengalami penurunan tajam penglihatan
Laporkan status penglihatan, keluhan  pasien pada dokter
Tanda dan gejala serta keluhan pasien menunujukan perkembangan penyakit
Berikan pencahayaan yang paling sesuai dengan klien
Meningkatkan penglihatan kondisi patologis mata lokasi akan memengaruhi apakah cahaya gelap atau terang yang lebih baik
Cegah glare (sinar yang menyilaukan)

Mencegah distres,tertutupnya bagian mata akan memecah sinar lampu yang akan menyebabkan distres


Ansietas berhubungan dengan kurang terpajang tentang kondisi matanya.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, ansietas klien dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
d.      Klien bisa rileks dengan kondisi matanya
e.       Klien nampak tenang
f.       Klien mengetahui tindakan yang akan dilakukan.
Intervensi
Rasional
Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaan dan Jelaskan tujuan dari semua tindakan – tindakan yang dilakukan. Ingatkan tetang parahnya kerusakan penglihatan.
Mengekspresikan perasaan dapat mengurangi ansietas. Memberikan pengetahuan pasien  dapat menghilangkan rasa takut
Ikut sertakan klien dalam proses pengobatan.    
Agar klien mengetahui proses pengobatan yang diberikan
Anjurkan keluarga klien untuk membantu aktivitas klien
Bantuan keluarga merupakan support bagi klien


Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan kepearwatan selama 2x24 jam pasien tidak ada penurunan pengihatan lanjut dan tidak terjatuh
Kriteria hasil :
Pasien dapat mendemontrasikan tidak ada cedera lanjut.
Intervensi
Rasional
Pertahankan pemberian bel pemanggil  di samping tempat tidur dan pagar tempat tidur .
Pemberian pagar tempat tidur dan bel pemangggil dapat memberikan rasa aman pasien .menurunkan resiko cidera
Ajarkan dan Intruksikan pasien untuk memberi tanda untuk bantuan .
Pemahaman pasien dan perawat mempermudah komunikasi untuk membantu keterbatasan pasien
Pertahankan mata tertutup sesuai indikasi dan advice dokter sampai pembedahan dilakukan
Kondsi mata tertutup menurunkan resiko cidera dan trauma.
Berikan anjuran pada pihak keluarga untuk berada disisi pasien dalam kegiatan apapun
Keterbatasan penglihatan mebutuhkan pendamping untuk meberikan bantuan dan menjaga keamanan pasien
Beri pegangan atau alat baantu pada lingkungan sesuai keterbatasan
Alat bantu,/pegangan memudahkan pasien ,mengurangi resiko cidera

D.    Implementasi
No Dx
Implementasi
TTD
1.
19  Mar 2015.
10.00 WIB
1.      Mengkaji nyeri secara komperhensif (P,Q,R,S,T)
R/: nyeri dirasakan di daerah mata. Skala nyeri 7
2.      Memberikan dan mengajarkan teknik distraksi relaksasi
R/: pasien mempraktikan teknik distraksi relaksasi saat nyeri muncul.
3.      Memberi informasikan pada keluarga untuk menerapkan tekhnik pereda nyeri dan memberikan lingkungan nyaman
R/: keluarga menggunakan teknik pereda nyeri dengan memberikan alunan musik keada pasien.
4.      Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti nyeri dan TIO sesuai indikasi.
R/: pasien diberikan obat analgetik melalui IV dengan dosis 3x1 hari. Skala nyeri menjadi 4

2
19 Mar 2015
10.00 WIB
1.      Mengkaji dan mendokumentasikan ketajaman penglihatan (visus) dasar.
R/: pasien mengalami penurunan visus dan penglihatan yang kabur.
2.      Mendapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien
R/: klien tidak bisa melihat tulisan yang terlalu kecil dan jika melihat suatu objek benda akan terasa kabur.
3.      Memberikan orientasi kepada pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.
R/: pasien mengerti dan memahami
4.      meletakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan.
R/: pasien mudah mengambil barang yang dibutuhkan dan tidak terjadi cidera.


3.
19 Mar 2015
11.00 WIB
1.      Memberikan pasien kesempatan untuk mengungkapkan perasaan
R/; pasien cemas terhadap kondisi matanya
2.      Menjelaskan tujuan dari semua tindakan – tindakan yang dilakukan dan mengingatkan tentang parahnya kerusakan penglihatan.
R/: cemas pasien berkurang
3.      Ikut sertakan klien dalam proses pengobatan.
R/: pasien mengetahui perkembangan kondisi mata nya           
4.      Anjurkan keluarga klien untuk membantu aktivitas klien
R/: tingkat ansietas dan kegelisahan pasien berkurang


4.
19 Mar 2015
11.00 WIB
1.      Mempertahankan pemberian bel pemanggil  di samping tempat tidur dan pagar tempat tidur.
R/: pasien terhindar dari resiko cidera
2.      Mengajarkan dan mengintruksikan pasien untuk memberi tanda untuk bantuan.
R/: pasien memencet bel pemanggil saat memerlukan bantuan
3.      Memberikan anjuran pada pihak keluarga untuk berada disisi pasien dalam kegiatan apapun
R/: keamanan pasien terjaga
4.      Memberikan pegangan atau alat bantu pada lingkungan sesuai keterbatasan.
R/: pasien menggunakan alat bantu tongkat untuk mobilisasi


E.     Evaluasi
Tanggal
No.DX
Evaluasi
21 maret 2015
Pukul 09.00
1
S: klien mengatakan masih merasa nyeri
O: skala nyeri 4
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi no 1,2,3,4
21 Maret 2015
Pukul 09.00
2
S: klien mengatakan penglihatannya kabur, pandangan silau
O: klien susah beraktivitas karena penurunan fungsi penglihatan, adanya distrosi penglihatan
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi no 1,2,3,4
21 Maret 2015
Pukul 09.00
3
S: klien mengatakan dirinya memahami tentang kondisi matanya
O: klien tidak Nampak cemas
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
21 maret 2015
Pukul 09.00
4
S: klien mengatakan penglihatannya kabur, pandangan silau
O: klien susah beraktivitas karena penurunan fungsi penglihatan, adanya distrosi penglihatan
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi no 1,2,3,4