Kamis, 13 Agustus 2015

Examples Guidance (Guidance Unit event / SAP) on mobilization of postpartum mothers, in Nursing/ Contoh Penyuluhan (Satuan Acara Penyuluhan/ SAP) tentang Mobilisasi pada Ibu Nifas, di dalam Keperawatan

msatuan acara penyuluhan
(sap)

Source/ sumber:

1)Carpenito.2003.Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

2)(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta. and the friends.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com orwww.ithinkeducation.wordpress.com) 


3)NANDA.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan NANDA NIC

NOC.Yogyakarta: Mediaction.


MOBILISASI DINI PADA IBU NIFAS



oleh:
GANGGHIS KHAN
DIMAS ERDA WIDYAMARTA
SAMUEL EDWARD
TAKAMORI NAGOTO



KELOMPOK B5
D III KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
CAMBRIDGE OF UNIVERSITY
2015



satuan acara PENYULUHAN
(SAP)
MOBILISASI DINI PADA IBU NIFAS

 


Topik                           : MOBILISASI DINI PADA IBU NIFAS
Hari/Tanggal               :
Waktu / Jam                :
Tempat                        : Poli Asih
RSU WAMENA  PAPUA
Moderator                   :
 


I.     TUJUAN UMUM

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga pasien dapat mengetahui tentang Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas

II.  TUJUAN KHUSUS

Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit Keluarga Pasien Ruang Unit Mobilisasi Dini pada ibu nifas RSU WAMENA  PAPUA, mampu :
ü  Menjelaskan pengertian Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
ü  Menjelaskan tentang manfaat Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
ü  Menjelaskan tentang pelaksanaan Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas

III.    MATERI

ü  Pengertian Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
ü  Manfaat Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
ü  Pelaksanaan Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas

IV.    METODE

Ceramah Dan Tanya Jawab

V.  MEDIA

v  Leaflet

VI.    kEGIATAN PENYULUHAN

No
Tahapan  waktu
Kegiatan pembelajaran
Kegiatan peserta
1
Pembukaan
(5 menit)
1.  Mengucapkan salam
2.  Memperkenalkan diri

3.  Kontrak waktu
4.  Menjelaskan                                tujuan pembelajaran
5.  Apersepsi konsep Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
1.     Menjawab
2.     Mendengarkan dan memperhatikan
3.     Menyetujui
4.     Mendengarkan dan memperhatikan
5.     Mendengarkan dan memperhatikan
2
Kegiatan Inti
( 20 menit )
1.      Menjelaskan  tentang pengertian Mobilisasi Dini pada ibu nifas
2.      Menjelaskan  orang yang berisiko tinggi terkena Mobilisasi Dini pada ibu nifas
3.      Menjelaskan manfaat Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
4.      Menjelaskan metode Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
5.      Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanya
6.      Menjelaskan manfaat Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
7.      Menjelaskan metode Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
8.      Menjelaskan penatalaksanaan Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas
9.      Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya
1.      Mendengarkan  dan memperhatikan

2.      Mendengarkan dan memperhatikan
3.      Mendengarkan dan memperhatikan
4.      Mendengarkan dan memperhatikan
5.      Peserta didik bertanya


6.      Mendengarkan dan memperhatikan
7.      Mendengarkan dan memperhatikan
8.      Mendengarkan


9.      Bertanya



3
Penutup
5  menit
1.      Mengajukan 3 pertanyaan tentang materi pembelajaran.
2.      Kesimpulan dari pembelajaran 

3.      Salam penutup
1.      Menjawab



2.      Mendengarkan dan memperhatikan
3.      Mendengarkan.

VII. EVALUASI :

Pertanyaan secara lisan
ü  Apa pengertian Pengertian Mobilisasi Dini?
ü  Apa yang dimaksud dengan Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas?
ü  Apa manfaat Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas?
ü  Bagaimana cara melakukan Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas


Evaluasi observer
1.      Evaluasi struktur
·      Komitmen terhadap kontrak waktu, tempat
·      Kontrak waktu dan tempat 1 hari sebelumnya
·      Ketersediaan dan kesesuaian fungsi alat, bahan, dan media promosi kesehatan sesuai dengan yang dibutuhkan
2.      Evaluasi proses
·   Tim promosi kesehatan mampu memberikan informasi dengan jelas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
·   Keluarga pasien bisa mendengarkan dan berpartisipasi aktif sampai akhir kegiatan
3.      Evaluasi hasil
·   Mahasiswa menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang  Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas dengan benar.

















MATERI PENYULUHAN


A.    Konsep Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur dengan melatih baian tubuh ntuk peregangan atau belajar berjalan (Soelaiman, 2000).
Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin berjalan. Menurut Carpenito (2000), mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.

B.     Kontra Indikasi:
Tidak dianjurkan pada pasien dengan penyakit-penykit berikut:
  1. Anemia
  2. Jantung
  3. Paru-paru
  4. Demam
  5. Keadaan lain yang membutuhkan istirahat
    (Jannah, 2011)

C.     Rentang Gerak dalam Mobilisasi
Menurut Carpenito (2000) mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu:
1)      Rentang Gerak Pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.


2)      Rentang Gerak Aktif
Hal ini melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.

3)      Rentang Gerak Fungsional
Berguna untuk memperkuat otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.


D.    Manfaat Mobilisasi
1)          Menurut FK UNPAD (1983 : 321), manfaat dan keuntungan mobilisasi dini adalah :
a)          Ibu merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan early ambulation.
b)           Faal usus dan kandung kencing lebih baik.
c)      Early ambulation memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya : memandikan, mengganti pakaian, memberi makanan, dan lain-lain selama ibu masih di RS.
d)     Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis).
2)      Menurut Manuaba (1998 : 193), perawatan puerperium lebih aktif dengan dianjurkan untuk melakukan “mobilisasi dini” (early mobilization) :
a)      Melancarkan pengeluaran lokea, mengurangi infeksi puerperium.
b)      Mempercepat involusi alat kandungan.
c)      Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
d)     Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
Meskipun mobilisasi dini banyak membawa keuntungan, tetapi tidak dinasihatkan bagi penderita yang telah mengalami partus lama, penderita dengan suhu badan tinggi, toxemea, atau bagi penderita yang tidak menginginkannya (Ibrahim, 1996 : 81).

E.     Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi
1)      Peningkatan suhu tubuh
                  Karena adanya involusi uterus ang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tuhu.
2)      Perdarahan tidak normal
Dengan mobilisasi dini kontraksi akan baik sehingga fundus uteri keras, maka risiko perdarahan yang tidak normal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka
3)      Menghambat pengeluaran darah dan sisa ari-ari atau plasenta (involusi uterus)
Tidak melakukan mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran darah dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus.
4)      Risiko terjadi penggumpalan darah
Seorang ibu juga berisiko terjadi pembentukan thrombus, thrombus adalah akumulasi trombosit, fibrin, factor pembekuan darah dan elemen sel darah yang menempel pada bagian anterior vena atau arteri, kadang menutup lumen pembuluh darah.

F.      Mobilisasi Dini pada ibu nifas
Persalinan merupakan proses yang sangat melelahkan oleh karena itu ibu tidak dianjurkan langsung turun dari ranjang karena dapat menyebabkan pingsan akibat sirkulasi yang belum berjalan baik. Karena sehabis melahirkan ibu merasa lelah dan harus istirahat. Pergerakan dilakukan dengan miring kanan atau kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis dan tromboemboli.
Biasanya pada 2 jam post partum ibu sudah bisa turun dari tempat tidur dan melakukan aktifitas seperti biasa. Mobilisasi dilakukan secara bertahap mulai dari gerakan mirin ke kanan dan ke kiri, lalu menggerakkan kaki. Dan cobalah untuk duduk di tepi tempat tidur, setelah itu ibu bisa turun dari ranjang dan berdiri atau bisa pergi ke kamar mandi, sehingga sirkulasi dalam tubuh akan berjalan baik.
 Tahap-tahap Mobilisasi Dini
Menurut Carpenito (2000), tahap-tahap dalam mobilisasi dini terdapat tiga rentang gerak yaitu :
1)            Rentang gerak pasif
Rentan gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif, misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien
2)            Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya, berbaring pasien menggerakkan kakinya.

3)       Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktivitas yang diperlukan.
Pelaksanaan mobilisasi dini terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut tidur terlentang dulu selama 8 jam, kemudian boleh miring-miring, duduk, berdiri dan bejalan-jalan. Sebelum melakukan mobilisasi terlebih dahulu melakukan nafas dalam dan latihan kaki sederhana. Tahapan mobilisasi dapat membantu tubuh melakukan adaptasi dengan baik sehingga tidak menimbulkan keluhan lain yang tidak di harapkan.Gerakan mobilisasi ini diawali dengan gerakan ringan seperti :
a)      Miring ke kiri-kanan
Memiringkan badan kekiri dan kekanan merupakan mobilisasi paling ringan dan yang paling baik dilakukan pertama kali. Disamping dapat mempercepat proses penyembuhan, gerakan ini juga mempercepat proses kembalinya fungsi usus dan kandung kemih secara normal.
b)      Menggerakkan kaki
Setelah mengembalikan badan ke kanan dan ke kiri, mulai gerakan kedua belah kaki. Mitos yang menyatakan bahwa hal ini tidak boleh dilakukan karena dapat menyebabkan timbulnya varices adalah salah total. Justru bila kaki tidak digerakkan dan terlalu lama diatas tempat tidur dapat menyebabkan terjadinya pembekuan pembuluh darah batik yang dapat menyebabkan varices ataupun infeksi
c)             Duduk
Setelah merasa lebih ringan cobalah untuk duduk di tempat tidur. Bila merasa tidak nyaman jangan dipaksakan lakukan perlahan-lahan sampai terasa nyaman
d)           Berdiri atau turun dari tempat tidur
Jika duduk tidak menyebabkan rasa pusing, teruskanlah dengan mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Bila tersa sakit atau ada keluhan, sebaiknya hentikan dulu dan dicoba lagi setelah kondisi terasa lebih nyaman.
e)             Ke kamar  mandi
Hal ini harus dicoba setelah memastikan bahwa keadaan ibu benar - benar baik dan tidak ada keluhan. Hal ini bermanfaat untuk melatih mental karena adanya rasa takut pasca persalinan.

Menurut Potter dan Perry (2006 : 251), mobilisasi dini berfokus pada rentang gerak-gaya berjalan latihan, dan toleransi aktivitas yaitu :
1)      Rentang gerak
Merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal.
Latihan rentang gerak yang meliputi bagian tubuh dan tipe gerakan:
a)      Leher menggerakkan dagu menempel ke dada, mengembalikan kepala ke posisi tegak, menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin, memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah setiap bahu, memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler.
b)      Bahu menaikkan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi di atas kepala, mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh, menggerakkan lengan ke belakang tubuh dan siku tetap lurus, menaikkan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala, menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh mungkin, dengan siku fleksi lakukan putaran bahu dengan menggerakkan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang dan gerakkan lengan sampai ibu jari ke atas dan ke samping kepala, menggerakkan lengan dengan lingkaran penuh.
c)      Siku menekuk siku sehingga lengan bawah bergerak ke depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu, meluruskan siku dengan menurunkan tangan.
d)     Lengan bawah : memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan menghadap ke atas, memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah.
e)      Pergelangan tangan : menggerakkan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan bawah, menggerakkan jari-jari sehingga jari-jari berada dalam arah yang sama, membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh mungkin, menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari dan ke arah lima jari.

f)       Jari-jari tangan : membuat genggaman, meluruskan jari-jari tangan, menggerakkan jari tangan ke belakang sejauh mungkin, merenggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain, merapatkan kembali jari-jari tangan.

g)      Ibu jari menggerakkan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan, menggerakkan ibu jari lurus menjauh dari tangan, menjauhkan ibu jari ke samping, menggerakkan ibu jari ke depan tangan, menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama.

h)      Pinggul menggerakkan tungkai ke depan dan atas dan kembali ke samping tungkai yang lain, menggerakkan tungkai ke belakang tubuh, menggerakkan tungkai ke samping menjauhi tubuh, menggerakkan tungkai kembali ke posisi medial dan melebihi jika mungkin, memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain dan menjauhi tungkai lain, menggerakkan tungkai melingkar.

i)        Lutut menggerakkan tumit ke arah belakang paha mengembalikan tungkai ke lantai.
j)        Mata kaki : menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke atas dan ke bawah.

k)      Kaki memutar telapak kaki ke samping dalam dan luar.

l)        Jari-jari kaki : melengkungkan jari-jari kaki ke bawah, meluruskan jari-jari kaki, merenggangkan jari-jari kaki satu dengan yang lain.
2)            Gaya berjalan
Digunakan untuk menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan. Siklus gaya berjalan dimulai dengan tumit mengangkat satu tungkai dan berlanjut dengan tumit mengangkat tungkai yang sama.

3)      Latihan dan Toleransi Aktivitas
Latihan adalah aktivitas fisik untuk membuat kondisi tubuh, meningkatkan kesehatan, dan mempertahankan kesehatan jasmani.
Toleransi aktivitas adalah jenis dan jumlah latihan atau kerja yang dapat dilakukan seseorang.
4)      Kesejajaran tubuh
Dapat dilakukan dengan berdiri, duduk, atau berbaring antara lain :
    Berdiri
a.       Kepala tegak.
b.      Ketika dilihat dari arah posterior, bahu dan pinggul lurus dan sejajar.
c.       Ketika dilihat dari arah posterior, tulang belakang lurus.
d.      Ketika dilihat dari arah lateral, kepala tegak dan garis tulang belakang di garis dalam pola S terbalik.
e.       Ketika dilihat dari arah lateral, perut berlipat ke bagian dalam dengan nyaman dart lutut dengan pergelangan kaki agak melengkung.
f.       Lengan nyaman di samping.
g.      Kaki ditempatkan sedikit berjauhan untuk mendapatkan dasar penopang, dan jari-jari kaki menghadap ke depan.
h.      Ketika dilihat dari arah anterior pusat gravitasi berada di tengah tubuh dan garis gravitasi mulai dari tengah kepala bagian depan sampai titik tengah antara kedua kaki. 
Duduk
a.       Kepala tegak, leher dan tulang belakang berada dalam kesejajaran yang lurus.
b.      Berat badan terbagi rata pada bokong dan paha.
c.       Paha sejajar dan berada pada potongan horizontal.
d.      Kedua kaki ditopang di lantai.
e.       Jarak 2-4 cm dipertahankan antara sudut tempat duduk dan ruang popliteal pada permukaan lutut bagian posterior.
f.       Lengan bawah ditopang pada pegangan tangan, di pangkuan, atau di atas meja depan kursi.
Berbaring
Pada orang sadar mempunyai kontrol otot volunter dan persepsi normal terhadap tekanan. Ketika berbaring membutuhkan posisi lateral dengan menggunakan satu bantal, dan semua penopangnya diangkat dari tempat tidur. Tubuh harus ditopang oleh matras yang adekuat. Tulang belakang harus berada dalam kesejajaran lurus tanpa ada lingkungan yang terlihat.




  
DAFTAR PESERTA PENYULUHAN

RUANG                     :……………………..
RUMAH SAKIT        : RSU WAMENA  PAPUA
TANGGAL                :…………………2015

NO
NAMA
TANDA TANGAN
1

1.
2

2.
3

3.
4

4.
5

5.
6

6.
7

7.
8

8.
9

9.
10

10.
11

11.
12

12
13

13
14

14
15

15
16

16
17

17








DAFTAR MAHASISWA PENYULUHAN

RUANG                     :…………………………
RUMAH SAKIT        : RSU WAMENA  PAPUA
TANGGAL                :…………………2015

NO
NAMA
TANDA TANGAN
1
GANGGHIS KHAN
1
2
DIMAS ERDA WIDYAMARTA
2
3
SAMUEL EDWARD
3
4
TAKAMORI NAGOTO
4