Minggu, 08 Juni 2014

Nuwa Menciptakan Manusia, di dalam Mitologi China/ Nuwa Creating Humans, on the Chinese Mythology


Nuwa Menciptakan Manusia, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Berbeda dengan Panku, sang Pencipta alam semesta yang laki-laki, pencipta manusia adalah dewi Nuwa. Nuwa disebutkan dengan jelas di beberapa naskah China kuno seperti A Classic of History (Abad ke-8 SM), A Classic of Mountains and Seas (Abad ke 3 SM), dan Questions of Heaven (Abad ke 4 SM).
            Sebagai tambahan, banyak gambar Nuwa ditemukan di patung perunggu dan lukisan China kuno. Seperti dewa-dewa masa kuno yang lain, Nuwa berwujud setengah binatang dan setengah dewa. Seringnya, Nuwa memiliki wajah dan lengan seperti manusia namun bertubuh seperti ular atau naga. Ia bisa mengubah wujudnya menjadi apa saja yang ia inginkan. Dalam literature China modern, Nurwa lebih sering dilukiskan sebagai wanita yang cantik.
            Hal ini menunjukkan bahwa wanita di China tidak memiliki peranan social. Namun demikian, dalam perannya sebagai ibu dan istri, wanita sangatlah kuat. Karena wanita pada umumnya hidup lebih lama disbanding suaminya, mereka sering memaksakan diri dan menjalankan rumah tangga setelah kematian pasangannya. Begitu juga dalam hal politik, beberapa wanita (kaisar wanita) menjadi sangat kuat setelah kematian suami mereka.
            Meski sebagian besar dewa adalah laki-laki, Nuwa adalah dewi yang sangat kuat dalam mitologi kuno. Ia menciptakan umat manusia dan bertanggung jawab memperbaiki bumi.
            Dunia adalah permata yang berkilauan. Pohon pinus yang kuat member titik pada pegunungan, dan pohon Willow melapisi aliran sungai. Apel, buah quince, dan bunga plum yang penuh dan menjadi bunga hingga kemudian menjadi buah yang matang dan masak.  Burung berseliweran di langit biru, meninggalkan jejak hitam, merah tua, dan bulu-bulu hijau yang berwarna-warni yang melayang bersama angin. Gegat dan ikan berenang gembira di perairan. Hewan buas seperti macan dan hewan yang lembut seperti kijang menjelajah dengan penuh kebebasan melintasi bukit berbatu.
            Nurwa, seorang dewi, tidak sengaja tersandung pada dunianya yang bergetar ketika dalam perjalanannya. Bumi sedang bersenandung dengan penuh semangat. Nuwa heran dengan makhluk menakjubkan yang sangat banyak ini, kemanapun pun menatap, ia melihat makhluk yang lebih mengherankan dari sebelumnya. Ia melihat tiap macam rambut dan sirip, bulu dan sisik, tanduk, kuku dan sengat. Makhluk yang tertatih, merayap, dan melata di atas bumi. Ada yang melompat, berlari dengan cepat, dan berputar dalam laut. Bunga yang harum seperti melati, bunga bakung, dan narcissus, membungkus seluruh dunia dalam kehangatannya dan wangi yang kuat.
            Namun ketika ia menjelajahi ceruk dan pecahan, Nuwa merasa aneh dan tidak puas dengan bumi yang mulai ia kenal ini. Sang dewi melihat bumi sebagai sesuatu yang memikat. Namun kosong. Nuwa merasa kesepian; ia duduk di pinggir sungai merenung. Ia menatap bayangannya di air, dan tiba-tiba ia tahu apa yang kurang: ia ingin bumi diisi dengan makhluk yang dapat berpikir dan tertawa sepertinya.
            Sungai di depannya tertulur dan ombaknya menampar pinggiran sungai. Air hijau yang keruh meninggalkan lingkaran tanah kuning yang kental di sekitar pinggiran sungai. Nuwa merasakan tekstur yang licin itu dengan ujung jemarinya dan mencetak sebuah bola dari tanah liat. Tanah dingin dan licin yang disimpan oleh sungai sangatlah cocok untuk pekerjaannya, dan ia menggulung tanah liat yang basah itu menjadi sebuah bonkea, memberinya kepala, bahu, dada, dan tangan seperti dirinya. Untuk tubuh bagian bawah boneka, ia ragu. Nuwa memutuskan memberinya sisik dan kuku seperti cicak, atau sirip dan ekor seperti ikan. Kedua bentuk itu sangat berguna, sejak sang dewi mengubah bentuk bagian bawah tubuhnya sendiri secara bertahap agar bisa mengelilingi lautan dan surge dengan cepat. Akhirnya, ia memutuskan untuk memberikan kaki untuk makhluk barunya sehingga ia bisa berjalan di tanah dan mendayung di laut.
            Dari berbagai corak tanah kuning, Nuwa membuat boneka tinggi dan boneka pendek. Ia membuat boneka kurus dan gemuk. Ia membuat boneka dengan rambut keriting dan rambut lurus. Ia membuat boneka dengan mata yang sebulat dan selebar ceri, beberapa yang lain dengan mata sepanjang dan sesipit sayap nyamuk. Ia membuat beberapa boneka dengan mata gelap segelap langit tengah malam, sedangkan yang lain begitu terang seperti madu cair. Masing makhluk berbeda, sehingga sang dewa bisa mengenali ciptaannya. Kemudian, ketika ia meniupkan nafas pada setiap bonekanya, bonekanya membuka matanya untuk hidup, tertawa kecil, dan juga meloncat.
            Nuwa sangat gembira dengan hasil pekerjaan tangannya hingga ia ingin membuat lebih banyak lagi. Tapi ia butuh cara yang lebih cepat. Di sepanjang pinggiran sungai, alang-alang ramping melengkungkan batangnya yang anggun di atas air. Nuwa menggulung lengan bajunya, memotong alang-alang itu, lalu mencelupkannya ke dalam lumpur sungai seperti sebuah sendok. Dengan lincah, ia mengibaskan pergelangan tangannya dan menjatuhkan gumpalan lumpur di tanah. Ketika lumpur itu kering, ia meniupkan udara yang sangat bayak pada tiap gumpalan, dan seketika gumpalan itu menjadi makhluk yang bulat dan bisa tersenyum. Tawa ceria dari makhluk ciptaannya mengisi benak sang dewi dengan kebahagiaan dan rasa bangga.
            Namun Nuwa lelah. Meskipun ia sagat mencintai ciptaannya, ia sadar jika ia tidak bisa mengawasi manusia setiap saat. Apa yang akan terjadi pada makhluk  ini jika mereka tumbuh menjadi tua dan mati? Nuwa tidak ingin memperbaiki lagi, namun ia juga tidak ingin mengulangi membuat manusia yang baru. Ia berpikir dan berpikir. Bagaimana makhluk ini bisa berkembangbiak tanpanya?
            Dengan sebuah simpul dan colekan, Nuwa menjadikan beberapa tanah liat itu laki-laki dan perempuan, kemudian mengangkat makhluk yang tergelincir dan jatuh ke lumpur. Di tengah keributan, ia mulai memberikan perintah yang paling pentin. Ketika Nuwa bicara, keributan berhenti dan berubah menjadi keheningan. Manusia mendengarkan dengan khidmat pada kata Nuwa. Nuwa berbcara tentang pentingnya pernikahan dan kewajiban pasangan pada masing-masing pasangannya, nuwa mengajari mereka cara membuat anak dan menjaganya. Ia berharap mereka bisa hidup lama dan bahagia di bumi. Ketika sang dewi pergi, ia menunjukkan harapannya yang sangat agar mereka bisa membuat manusia baru dan hidup bahagia tanpanya. Kemudian Nuwa naik ke langit, duduk di kereta yang berderap yang ditarik enam naga bersayap.
            Hingga hari ini, manusia melanjutkan untuk menikah dan memiliki anak-anak yang mencerahkan dunia dengan tawa dan bahagia mereka, seperti boneka lumpur yang menarik di hari Nuwa.

Legenda Tentang Panku Menciptakan Dunia, di dalam Mitologi China/ About Panku Creating a World of Legend, in Chinese mythology


Legenda Tentang Panku Menciptakan Dunia, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Dalam naskah China awal terdapat banyak mitos tentang para penguasa yang menakjubkan di masa kuno. Namun, tidak ditemukan kisah tentang penciptaan di sana. Kisah tentang Panku kemungkinan adalah mitos yang paling mendekati tentang kisah penciptaan dalam versi China. Kisah itu muncul pertama kali pada masa kekuasaan dinasti Han (206 SM-220 M), ratusan tahun setelah ksiah pertama tentang jaman kuno yang diceritakan.
            Banyak ahli percaya bahwa kisah tentang Panku dibentuk dan dipengaruhi oleh serombongan saudagar yang melintasi gurun dan pegunungan di Timur Tengah, India, Afrika dan China, yang membawa sutra, rempah, dan barang dagangan berharga lainnya.
            Kisah ini memperkenalkan pentingnya konsep Yin dan Yang. Energy yang bertentangan ini, yang ada dalam setiap sesuatu di alam, tidak tampak seperti baik dan buruk, namun seperti gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, bumi dan surga. Sesuatu hal tidak bisa ada tanpa yang lainnya.
            Dalam kisah ini, Panku dikisahkan sebagai seorang raksasa. Dalam versih lain, ia muncul sebagai manusia yang lemah, berpakaian kulit beruang dan dedaunan.
            Pada sesuatu ketika, dunia adalah pusaran kegelapan yang sangat besar. Tidak ada kayangan. Tidak ada bumi. Semua kekuatan di alam semesta terjerat dalam sebuah telur kecil, berguling dan berputar dalam kekacauan.
            Di dalam telur itu ada makhul kecil bernama Panku. Ia tidur lelap, tidak terganggu oleh kekacauan di sekitarnya. Selama tidur, Panku tumbuh, dan telur itu juga tumbuh bersamanya. Panku tidur selama delapan belas ribu tahun dengan tenang, hingga ia tumbuh menjadi bentuknya yang sempurna, raksasa berkumis dan tinggi tubuhnya mencapai 90000 li (sekitar 30000 mil). Dengan tubuh Panku sempurna, telur itu pun melar dan tagang, membawa raksasa yang berkembang dan gas bumi yang bergolak dalam keterbatasannya.
            Suatu hari, ketika alam semesta sudah benar-benar tidak stabil, Panku terbangun. Ia tidak melihat apapun di sekitarnya selain kegelapan dan kekacauan. Awalnya ia tertarik dengan ritme dunia yang tak teratur. Ia melihat, terkagum dengan putaran partikel yang meledak dan berserakan di sekitarnya. Ia belajar dengan cepat untuk mengelak dari ledakkan gas dengan melompat gesit dari satu sisi ke sisi lainnya.
            Setelah beberapa saat, bagaimanapun juga, ia mulai kelelahan dengan semua keributan dan kekacauan. Keributan yang terus menerus itu membuat sarafnya tegang. Hiruk pikuk itu membuat telinganya berdenging, dan itu membuatnya sangat cepat marah. Semakin lama ia melihat kekacauan itu, semakin ia merindukan kedamaian tidurnya yang nyenyak. Kekacauan itu mengganggunya, namun yang lebih penting, Panku tahu bahwa tempurung alam semesta yang rapuh ini bisa pecah kapan saja.
            Panku tahu ia harus bertindak; ia menunggu hingga dunia tenang dan merebut sebuah meteor yang panjang. Ia melempar meteor itu seperti melempar sebuah kapak dan mengayunkannya turun dengan segenap kekuatannya. Kapak itu tepat mengenal pusat telur dan meledak sangat dahsyat. Suara dentuman bergema ke seluruh penjuru dunia dan merobek semua partikel dan gas yang ada di alam semesta menjadi dua bagian. Cahaya, kekuatan murni dunia, mengapung dan membentuk awan biru. Kejahatan, kekuatan gelap dari alam semesta, tenggelam dan membentuk tanah yang subur.
            Panku sangat gembira dengan dunia barunya. Dunia itu menjadi indah, tentram, dan damai. Untuk memelihara keadaan itu, ia menopang langit dengan lengannya yang kuat, menjepit tubuhnya antara kayangan dan bumi. Setiap hari langit tumbah setinggi sepuluh li, dan Panku menopangnya dengan semakin tinggi.
            Selama ribuan tahun, ia menyangga kayangan tanpa mengeluh, memutuskan bahwa dunia tidak boleh kembali pada kekacauan. Seiring waktu berlalu, ia pun letih, sedangkan kumisnya menjejali dunia. Selama berabad-abad, Panku mendorong dengan setiap sendi, kumis, dan tulang yang kesakitan. Ia berteriak minta tolong, tapi suaranya hanya bergema dalam kesunyian. Tak ada makhluk lain yang tinggal di sekitarnya. Setiap hari ia menunggu pertolongan, namun setiap hari juga tidak ia tidak mendapatkan apapun. Ia berjuang selama puluhan ribu tahun hingga kayangan dan dunia tak saling mengingat lagi, dan keduanya terpisah menjadi kekuatan yin (kegelapan) dan yang (cahaya).
            Ketika langit sudah sangat sedikit dengan kayangan, dan dunia jatuh denga keras, Panku akhirnya kehilangan keteguhannya. Perlahan ia menjadi lemah dan tua. Tubuhnya berangsur keriput dan menyusut. Kumisnya mulai rontok dan nafasnya tersengal-sengal. Setelah berabad-abad memulur dan menegang, raksasa yang handal ini jatuh ke tanah, lelah dan kehausan.
Tubuhnya yang besar dan layu itu menutupi bumi dengan rapat seperti karpet. Dagingnya  remuk dan menyebarkan kesuburan dan bau manis tanah di tanah yang gersang. Titik keringatan menjadi titik hujan dan embun di tanah yang lembut dan subur. Rambut dan jenggotnya yang kusut menjadi ranting pohon dan semak-semak yang keras. Rambut di lengannya menjadi dedaunan, tumbuhan merambat dan bunga yang lembut. Gigi dan tulang belulangnya patah menjadi logam yang bersinar- emas, perak, dan tembaga, yang masuk ke dalam tanah. Tulang sumsumnya mengeras dan berwarna krem, permata transparan yang yang berwarna ungu, hijauh dan putih. Darahnya menetap mengaliri tanah menjadi genangan yang luas dan sungai yang deras. Suaranya, mesk lemah, menciptakan guntur yang bergemuruh dan halilintar yang meretih. Nafas kematiannya membentuk angin yang bertiup dan awan yang menggembung. Akhirnya, terbebaskan dari penderitaannya, air mata Panku dari tangis syukurnya jatuh berkilauan, menjadi air yang banyak menjadi lautan.
            Akhirnya tugas Panku selesai dan Panku, sang pencipta, telah mati. Di tempatnya, ia meninggalkan dunia yang berkilauan dan bersinar dengan percikan warna biru cerah, hijau ceria, coklat kehitaman dan jernih, air dingin yang gemercik.
:p> / Ї ���
            Zing! Yi menembak matahari kedua dan mengacaukan awan yang mulai muncul kembali di langit.
            Zoom! Yi menembak matahari ketiga dan berputar di gunung tinggi yang berkabut.
            Twang! Yi menembak matahari keempat dan embun mulai terbentuk seperti mutiara di atas dedaunan.
            Thump! Yi menembak matahari kelima dan musim semi mulai keluar dari balik bukit berbatu.
            Zap! Yi menembak matahari keenam dan sungai beriak dengan ikan yang berlompatan.
            Pow! Yi menembak matahari ketujuh dan cabang pohon mulai menumbuhkan daun hijaunya.
            Thud! Yi menembak matahari kedelapan dan kuncp berkembang di atas pohon.
            Twack! Yi menembak matahari kesembilan dan tumbuhan padi tumbuh dan bertunas lagi.
            Lalu sang pemanah Yi bersumpah akan menemukan matahari terakhir dan membawanya untuk diadili.
            Sekarang, tanah telah sangat sejuk dan nyaman bagi para petani mereka meminta Yi berhenti, namun tak ada seseorang pun yang berani mendekatinya. Tapi sebelum sang pemanah menghabiskan anak panah terakhirnya, seorang anak pemberani bersembunyi di belakangnya dan diam-diam mencuri anak panah kesepuluh. Setelah melihat keberanian anak itu, para petani memberanikan diri memohon pada Yi untuk membiarkan matahari terakhir itu agar menyinari kayangan. Yi merasa kasihan kepada para petani, dan ia setuju untuk menyisakan matahari terakhir itu di langit.
            Matahari terakhir ini sangat sedih karena kehilangan saudaranya dan dihukum untuk memikul perjalanan hariannya sendirian. Lebih jauh lagi, ibunya menolak permohonannya untuk meminjam keretanya, dan naganya pun tidak mauh menarik kereta itu. Dari satu ujung kayangan ke ujung lainnya, matahari terakhir ini tertatih-taih melintasi langit dalam kesunyian, membawa cahaya dan kehangatan pada dunia untuk selamanya.
            Kehidupan manusia kembali sejahtera. Tanaman kembali tumbuh, sungai-sungai memuaskan kehausan mereka, dan hewan mandi di air yang sejuk dan di bawah sinar matahari yang cerah. Terakhir, manusia berterima kasih kepada satu tanaman, bayam air, yang tumbuh liar di air yang berlumpur, karena membuat manusia bisa bertahan hidup pada masa-masa sangat kering yang disebabkan oleh kecerobohan sepuluh matahari.

Mitologi Peradaban China, di dalam Mitologi China/ Mythology Civilization of China, in the Chinese mythology


Mitologi Peradaban China, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Selain beragamnya pendapat mengenai periodisasi waktu dalam sejarah China, ada banyak system ejaan untuk mengeja nama-nama dinasti China dan kata-kata lainnya. Agar buku ini dapat dibaca semua kalangan, khususnya pelajar, kami berusa memakai pengucapan (pronounciation) yang paling mudah dalam mengucapkan berbagai dinasti, nama dan tempat.
Dalam beberapa kasus kami tetap mempertahankan transliterasi tradisional suatu kata dari bahasa China yang muncul dalam berbagai buku yang usianya lebih tua. Dalam kasus lainnya, kami memakai system pinyin, yang dipakai pemerintah China sejak tahun 1970-an. Pada waktu itu, pemerintah ingin menstandarisasi semua terjemahaan bahwa asing dan menggunakan dialek Mandarin dari bahasa China. Berdasarkan system pinyin, hiruf ‘q’ diucapkan ‘ch’, huruf ‘x’ diucapkan ‘sh’,  dan huruf ‘zh’ diucapkan ‘j’. bagi yang ingin memahami lebih jauh lagi, baik melalui buku atau secara online, maka ia harus mengetahui berbagai transliterasi bahasa China. Misalnya, adakah yang menganggap bahwa Hsi Wang Mu dan Xiwangmu adalah satu dan sama? Atau Kong Fuzi sama dengan Konfusius? Karena system transliterasi tertentu bisa saja tak lagi dipaka, berhati-hatilah terhadap banyaknya kemungkinan system ejaan bagi suatu kata dalam bahasa China.
            Kesulitan lainnya adalah berusaha memisahkan hayalan (mitos) da fakta (sejarah). Sebelum penemuan tulisan, cerita tersebut diwariskan secara lisan selama ribuan tahun. Sebagian besar dari cerita itu bersumber dari berbagai peristiwa sejarah dan kehidupan rakyat; namun bagamanapun juga, unsure mitis mulai bercampur ke dalam cerita itu. Sebagaimana juga bangsa yang lainnya, bangsa China juga menggunakan mitos untuk menerangkan sejarah mereka.
            Kesulitan memisahkan antara hayalan dan fakta lebih dpersulit lagi ketika banyak buku sejarah yang dibakar pada tahun 213 SM. Oleh Qinshihuangdi (Chin shi wong dee), kaisar dari dinasti Qing (Chin). Agar ia diakui sebagai kaisar China yang pertama, ia menyuruh pasukannya membakar buku sejarah, music dan sastra. Seratus tahun kemudian, para pengaut konfusianisme berusaha menyusun ulang sejarah China dari buku yang berhasil diselamatkan. Mereka tidak ragu untuk mengubah mitos yang ada atau membuang informasi agar sesuai dengan filsafat mereka.
            Para sarjana China jarang member perhatian yang lebih terhadap berbagai mitos yang masih hidup; mitos tersebut tetap hidup karena kuatnya tradisi lisan dan artistic. Mitos itu dengan leluasa diadaptasi oleh para rombongan pemain teater dan opera China, saudagar, pelancong, pemahat, pelukis, novelis dan para pencerita.
            Pada tahun 1920-an, pemerintah China akhirnya berupaya mengantologikan mitos yang dikisahkan oleh para petani. Para sarjana terkejut ketika mereka mengetahui banyaknya dan beragamnya mitos tersebut. Selanjutnya, setiap propinsi mengembangkan versinya masing-masing. Tidak seperti mitologi Yunani yang dapat mendefinisikan dengan baik dewa-dewi dan para pahlawannya sendiri, yang tetap bertahan selama berabad-abad, orang China masih dalam tahapan mengembangkan mitologi mereka, sebagaimana juga catatan sejarah mereka, sebagaimana juga catatan sejarah mereka. Hari ini, prosedur televise, pembuat film dan animasi, serta perancang game computer, berusah menyesuaikan dongeng mitologis tersebut agar sesuai dengan dunia modern.
            Sekalipun memiliki berbagai tema dan varian, sebagai besar cerita-cerita dalam mitologi Cina mengandung satu tema umum dan utama: yaitu perjuangan manusia mengalahkan berbagai rintangan, terkadang dibantu oleh dewa dan terkadang ia dihukum atau dihalangi oleh mereka. Pencarian makanan dan tempat berlindung merupakan satu hal mendasar, ketika kelebihan populasi dan bencana alam sering melanda. Pengorbanan dan prakarsa individu masih menjadi hal penting dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh manusia. Mitos itu menyatakan tentang perjuangan manusia agar bisa bertahan hidup di dunia ini, yang rapuh dan mudah terombang-ambing, namun indah.

Sepuluh Raja Legendaris
            Setelah bangsa China mendiami Lembah Yangtze pada tahun 6500 SM. Setelah bangsa China mendiami Lembah Sungai Kuning pada tahun 5000 SM.
            Dongeng bangsa China yang lebih awal merujuk kepada “waktu mistis” yang dikuasai oleh Sepuluh Raja Legendaris: mereka setengah manusia dan setengah binatang, mempunyai kekuatan magis, mengenalkan pengetahuan kepada manusia, seperti menulis, bercocok tanam, berburu, menghidupkan api, dan mengatur banjir. Meskipun tidak ada bukti arkeologis yang mendukung keberadaan mereka. Sepuluh Raja Legendaris ini mendominasi kisah-kisah dalam mitologi China yang lebih awal.

NAMA
MASA KEKUASAAN
DIKENAL KARENA
Fushi
300 SM
Api, berburu, trigram, dan penjinakan binatang
Shen Nung
2737-2598 SM
Pertanian dan obat-obatan
Yon Di
Singkat
Digulingkan oleh saudara laki-lakinya, Huang Di
Huang Di (Kaisar Kuning)
2697-2598 SM
Bendungan, kompas, kalender dan mata uang logam (koin)
Shao Hao
2598-2591 SM
Sedikit pencapaian
Kao Yang
Tidak diketahui
Ayah dari delapan anak yang termahsyur
K’u
Tidak diketahui
Tidak diketahui
Yao Ti
2357-2255 SM
Astronomi dan pembuatan kanal
Shun
2317-2208 SM
Pembuatan bendungan
Yu Yang Agung
2205-2197 SM
Pembuatan peta, mengontrol banjir, pendiri Dinasti Xia yang legendaries (2005-1520 SM) namun belum diketahui kebenarannya
Shang
1523-1027 SM
Puncak Zaman Perunggu
Zhou (Joh)
1027-221 SM
Feodalisme, Konfusius dan karya klasik
Qin (Chin)
221-206 SM
Pembakaran buku, Tembok Besar Cina, birokratisasi dan pembuatan undang-undang
Han
206 SM-220 M
Perdagangan di sepanjang jalur sutra, seni dan ilmu pengetahuan
Enam Dinasti
220-589
Perpecahan, menetapkan Buddhisme sebagai kepercayaan
Sui
590-617
Kanal Besar
Tang
618-906
Zaman keemasan, kesusteraan dan kesenian
Song
960-1279
Lukisan alam
Yuan
1280-1367
Dinasti Mongol; Jenghis Khan
Ming
1368-1643
Porselin, pekerjaan umum
Qing (Ching)
1644-1911
Dinasti Manchu, kehancuran
Periode Pemerintah Modern
1911
Berdirinya pemerintahan Republik China
1949
Berdirinya Pemerintah Republik Rakyat China (RRC)

Legenda Yi, Sang Pemanah Sepuluh Matahari, di dalam Mitologi China/ Legend of Yi, the archer Ten Sun, in the Chinese mythology


Legenda Yi, Sang Pemanah Sepuluh Matahari, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Dalam banyak mitos China kuno, seperti juga mitos di daerah lain, biasanya para dewa menolong manusia. Namun, sang pemanah Yi malah menolong para dewa; kehebatannya dalam memainkan busur dan panah sangat diakui. Seperti banyak legenda sebelumnya, kisah ini mungkin juga didasarkan pada sosok nyata, dalam kasus ini, seorang pemanah yang hidup sekitar tahun 2436-2255 SM.
            Tumbuh-tumbuhan sering muncul dalam latar belakang kisah China. Karakter dongeng pohon Fusang dianggap lebih dari ribuan kaki tingginya dan menyebarkan daunnya hingga lebih dari ribuan kaki. Karena pohon itu muncul dalam banyak kuburan kuno, lukisan, dan patung, maka ia tertentu adalah symbol yang sangat penting.
            Meskipun beberapa versi cerita menggambarkan tentang Fusang sebagai bunga sepatu, bisa saja Fusang adalah semacam pohon Mulberi. Satu varietas dari Mulberi, Morus alba, berasal dari China. Tumbuh hingga lebih dari lima puluh kaki tingginya, daunnya biasanya mejadi makanan ulat sutra. Helai benang dari kepompong ulat sutera ditenun secara bersamaan untuk membuat sutera, serat alami terkuat. Baju yang dihasilkan ringan dan tipis untuk disentuh, namun bisa member kehangatan dan menahan api. Sutera juga indah dan bisa menyerap celupan sehingga menjadikannya produk yang berharga jual tinggal di Mesir, Roma dan Persia.
            Bayam air, ung choy, memiliki batang berlubang tipis, daun kecil dan kuat. Tumbuhan ini akan menumbuhkan daun dan akan tumbuh lagi meski dengan air yang sangat sedikit, dan akan tumbuh setinggi empat inci tiap hari. Tumbuhan yang kuat ini menyelamatkan manusia dari kematian selama perang China. Selain itu juga merupakan bahan berharga untuk besi bagi rakyat India, Vietnam, Brazil, Amerika Tengah, dan Afrika.
            China adalah daratan yang dianggap pertama kali dikelilingi oleh empat lautan. Di bagian Timur ada samudara yang sangat luas. Di belakang samudera, tumbuh-tumbuhan yang sangat indah tumbuh di sebuah pulau surge. Contoh yang paling agung dari semua tanaman itu adalah pohon Fusang, yang memiliki cabang-cabang yang menajubkan terulur sehingga ke surge dan melintasi pulau hingga ratusan mil. Dedaunannya yang berwarna hijau gelap berserakan di antara kebesaran pohon itu. Bunga sepatu yang wangi yang sangat banyak membentk bayangan berwarna magenta, merah tua, dan ungu.
            Di antara dedaunan pohon Fusang yang berkilat, hidup sepuluh matahari yang nakal. Mereka tinggal di pulau itu untuk bermain-main, mengacuhkan orang tua mereka, dewa matahari (Dijun) dan dewi matahari (Shiho). Setiap hari, Shiho meninggalkan kayangan dengan kereta kerang mutiara yang dikendalikan enam naga api muda dan melintasi pohon Fusang. Para matahari bergantian mendaki puncak pohon dan berlompatan menuju kereta dan mengelilingi ibu mereka yang suaranya bergerumuh. Itulah tugas matahari; sebagai dewi, Shiho mengendarai keretanya melintasi langit untuk memancarkan cahaya da kehangatan setiap kali melintasi dunia dan membagunkan ayam jantan. Namun Shiho harus memarahi anak-anaknya untuk mengendalikan panas yang berlebihan di tempat yang disenangi anak-anaknya.
            Ketika satu matahari sedang bertugas, sembilan matahari yang lan bepergian di sekitar dedaunan yang bergerigi di pohon Fusang. Para matahari menghabiskan hari dengan bermalas-malasan dan gembira dengan saling berkejaran di pohon, kemudian menyegarkan diri di lautan. Ketika hari petang, mereka tidak sabar menunggu kereta ibu mereka. Matahari yang kembali selalu member percikan putaran yang indah dan mengundang sorakan gembira saudara-saudaranya.
            Namun setelah beberapa tahun, para matahari menjadi bosan. Mereka ingin menghabiskan hari dengan lebih banyak bermain daripada bekerja. Suatu hari, mereka berlari melintasi matahari secara bersamaan sebelum ibu mereka datang. Mereka ingin membuat cahaya dan kehangatan yang cukup banyak untuk beberapa hari. Lalu tak ada yang perlu bekerja lagi untuk sementara waktu.
            Ketika para matahari berkejaran melintasi langit, kelembapan bumi perlahan menguap. Cahaya dari matahari bersaudara sangat menyilaukan. Panas yang mereka pantulkan menghanguskan tanah, dan sungai-sungai mongering hingga hanya beberapa tetes yang tersisa. Tanaman layu, dan banyak orag mati kehausan di atas tanah. Tidak ada yang bisa dimakan kecuali bayam air, yang untungnya masih bisa tumbuh di atas lumpur di lahan mereka. Para monster muncul di laut dan langit untuk menangkap orag dari rumah mereka. Manusia berdoa kepada dewa siang da malam agar membebaskan mereka dari penderitaan. Ketika doa mereka akhirnya sampai pada dewa matahari (Dijun), ia sangat marah terhadap kemalasan dan keegoisan anak-anaknya.
            Dijun memanggil seorang ahli panah, Yi. Dewa matahari memberinya sepuluh anak panah ajaib. Kemudian ia menyuruh Yi mendisiplinkan anak-anaknya yang nakal. Ketika sang pemanah Yi melihat makhluk yang mati di atas bumi yang terpanggang, ia sangat sedih, karena ia juga manusia yang bisa mati. Yi memanggil para matahari dan menyuruh mereka menghentikan kedunguan mereka, namun mereka hanya berlompatan di sekeliling Yi, mengejek keseriusannya.
            Ketika Yi mengancam akan menembak mereka dengan anak panah ajaibnya, para matahari tertawa terbahak-bahak. Mereka tahu bahwa mereka adalah anak dewa dan sang pemanah Yi hanyalah pelayan di pengadilan kayangan.
            Dengan geram, sang pemanah Yi mengambil satu anak panah ajaib dari tempatnya dan membidik dengan seksama. Whaam! Anak panah itu terbang lurus ke jantung matahari yang paling sombong. Dengan cepat, matahari itu jatuh dari langit, terbakar dalam sebuah bola api. Ketika ia memukul tanah, matahari itu berubah menjadi burung gagak hitam dengan tiga kaki dan sayap yang panjang; lalu ia mati. Bumi menjadi lebih dingin seketika. Yi kemudian mengejar matahari yang tersisa.
            Karena telah melihat kekuatan Yi, matahari yang lain menjadi takut dan mereka berebut melintasi Negara, berusaha untuk bersembunyi. Namun Yi dapat menjatuhkan mereka satu per satu. Setiap kali ia membunuh satu matahari, bumi menjadi lebih dingin.
            Zing! Yi menembak matahari kedua dan mengacaukan awan yang mulai muncul kembali di langit.
            Zoom! Yi menembak matahari ketiga dan berputar di gunung tinggi yang berkabut.
            Twang! Yi menembak matahari keempat dan embun mulai terbentuk seperti mutiara di atas dedaunan.
            Thump! Yi menembak matahari kelima dan musim semi mulai keluar dari balik bukit berbatu.
            Zap! Yi menembak matahari keenam dan sungai beriak dengan ikan yang berlompatan.
            Pow! Yi menembak matahari ketujuh dan cabang pohon mulai menumbuhkan daun hijaunya.
            Thud! Yi menembak matahari kedelapan dan kuncp berkembang di atas pohon.
            Twack! Yi menembak matahari kesembilan dan tumbuhan padi tumbuh dan bertunas lagi.
            Lalu sang pemanah Yi bersumpah akan menemukan matahari terakhir dan membawanya untuk diadili.
            Sekarang, tanah telah sangat sejuk dan nyaman bagi para petani mereka meminta Yi berhenti, namun tak ada seseorang pun yang berani mendekatinya. Tapi sebelum sang pemanah menghabiskan anak panah terakhirnya, seorang anak pemberani bersembunyi di belakangnya dan diam-diam mencuri anak panah kesepuluh. Setelah melihat keberanian anak itu, para petani memberanikan diri memohon pada Yi untuk membiarkan matahari terakhir itu agar menyinari kayangan. Yi merasa kasihan kepada para petani, dan ia setuju untuk menyisakan matahari terakhir itu di langit.
            Matahari terakhir ini sangat sedih karena kehilangan saudaranya dan dihukum untuk memikul perjalanan hariannya sendirian. Lebih jauh lagi, ibunya menolak permohonannya untuk meminjam keretanya, dan naganya pun tidak mauh menarik kereta itu. Dari satu ujung kayangan ke ujung lainnya, matahari terakhir ini tertatih-taih melintasi langit dalam kesunyian, membawa cahaya dan kehangatan pada dunia untuk selamanya.
            Kehidupan manusia kembali sejahtera. Tanaman kembali tumbuh, sungai-sungai memuaskan kehausan mereka, dan hewan mandi di air yang sejuk dan di bawah sinar matahari yang cerah. Terakhir, manusia berterima kasih kepada satu tanaman, bayam air, yang tumbuh liar di air yang berlumpur, karena membuat manusia bisa bertahan hidup pada masa-masa sangat kering yang disebabkan oleh kecerobohan sepuluh matahari.