Sunday, April 19, 2026

Apa itu Low Back Pain (LBP) ?

 Low Back Pain

 

1.      Pengertian

Sekitar 80% dari populasi, seseorang dalam kehidupannya akan mengalami nyeri punggung bawah. Menurut Jones B yang dikutip oleh Yuliano A, sebanyak 80% populasi orang dewasa dalam rentang hidupnya akan mengalami cedera punggung bawah. Keterbatasan yang diakibatkan oleh nyeri punggung bawah pada seseorang sangat berat. Kehilangan produktivitas akibat nyeri punggung bawah dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Nyeri punggung bawah merupakan penyebab kedua kunjungan ke dokter setelah penyakit saluran napas atas. Sekitar 12% orang yang mengalami nyeri punggung bawah menderita Herniasi Nukleus Pulposus atau HNP. Menurut Idyan, Low Back Pain atau LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik. Masalah nyeri puinggang yang timbul akibat duduk lama menjadi fenomena yang sering terjadi pada mahasiswa.

                         Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai sampai kaki. (Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien.

Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).

Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).

Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.

             Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai sampai kaki. (Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien.

Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).

Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).

Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.

 

2.      Patofisiologi

Kontruksi punggung yang unik memungkinkan terjadinya fleksibilitas dan member perlindungan terhadap sumsum tulang belakang. Otot-otot abdominal berperan pada aktivitas mengangkat beban dan sarana pendukung tulang belakang. Obesitas, masalah struktur, dan peregangan perlebihanpada sarana pendukung ini menyebabkan nyeri punggung perubahan degenerasi diskus intervetebra akibat usia menjadi fibrokorbiasa, L4-L5 DAN L5-S1 mengalami stress mekanis dan menekan sepanjang radiks saraf tersebut.

Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang elastik yang tersusun atas banyak unit yang kaku atau vertebrae dan unit fleksibel atau diskus intervertebralis yang diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen, dan otot paravertebralis. Konstruksi tersebut memungkin fleksibilitas, sementara sisi lain tetap melindungi sumsum tulang belakang.

      Keluhan nyeri punggung bawah dan keterbatasan aktivitas menimbulkan keluhan atau masalah pada klien yang mengalami nyeri punggung bawah.

 

3.      Etiologi

Umumnya nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah satu dari berbagai masalah muskoloskeletal. Nyeri terjadi akibat gangguan muskuloskeletal dapat dipengaruhi oleh aktivitas.

a.       Regangan lumbosakral akut

b.      Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot.

c.       Osteoartritis tulang belakang.

d.      Stenosis tulang belakang

e.       Masalah diskus intervertebralis

f.        Perbedaan panjang tungkai

g.      Pada lansia, akibat fraktur tulang belakang, osteoporosis atau metastasis tulang

h.      Penyebab lain, seperti gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal, aneurisma abdominal dan masalah psikosomatik.

Faktor resiko secara fisiologi.

1.      Umur ( 20 – 50 tahun ).

2.      Kurangnya latihan fisik.

3.      Postur yang kurang anatomis.

4.      Kegemukan.

5.      Scoliosis parah.

6.      HNP.

7.      Spondilitis.

8.      Spinal stenosis ( penyempitan tulang belakang ).

9.      Osteoporosis.

10.   Merokok.

Faktor resiko dari lingkungan.

1.      Duduk terlalu lama.

2.      Terlalu lama pada getaran.

3.      Keseleo atau terpelintir.

4.      Olah raga ( golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).

5.      Vibrasi yang lama.

Faktor resiko dari psikososial.

1.      Ketidak nyamanan kerja.

2.      Depresi.

3.      Stress.

 

4.      Manifestasi Klinik

a.       Keluhan nyeri punggung akut maupun kronis atau berlangsung lebih dari dua bulan tanpa perbaikan dan kelemahan.

b.      Nyeri bila tungkai ditinggikan dalam keadaan lurus, indikasi iritasi serabut saraf.

c.       Adanya spasme otot paravertebralis (peningkatan tonus otot tulang postural belakang yang berlebihan)

d.      Hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal

e.       Dapat ditemukan deformitas tulang belakang

 

5.      Pemeriksaan Penunjang

a.       Sinar X vertebra; mungkin memperlihatkan adanya fraktur, dislokasi infeksi, osteoartritis atau skoliosis

b.      Computed tomography atau CT Scan; berguna untuk mengetahui penyakit yang mendasari, seperti adanya lesi jaringan lunak tersembunyi di sekitar kolumna vertebralis dan masalah diskus intervertebralis.

c.       Ultrasonografi atau USG, dapat membantu mendiagnosis penyempitan kanalis spinalis.

d.      Magneting resonance imaging atau MRI, memungkinkan visualisasi sifat dan lokasi patologi tulang belakang

e.       Mielogram dan diskogram, di mana sejumlah kecil bahan kontras disuntukkan ke diskus intervertebralis untuk dapat melihat visualisasi sinar. Dapat dilakukan untuk diskus yang mengalami degenaris atau protrusi diskus

f.        Venogram epidural, digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis dengan memperlihatkan adanya pergeseran vena epidural

g.      Elektromiogram atau EMG dan pemeriksaan hantaran saraf digunakan untuk mengevaluasi penyakit serabut saraf tulang belakang atau radikulopati

 

6.      Penatalaksanaan

Sebagian besar nyeri punggung dapat hilang sendiri dan akan sembuh dalam enam minggu dengan tirah baring, pengurangan stres, dan relaksasi. Klien harus tetap ditempat tidur dengan matras yang padat/ kayu penyangga dan tidak membal selama dua sampai tiga hari. Pergi ke kamar mandi boleh dilakukan, namun kegiatan lain seperti menerima telepon, mengasuh anak, aktivitas umum yang mengakibatkan stres sebaiknya dihindari. Klien diposisikan sedemikian rupa sehingga fleksi lumbal lebih, yang dapat mengurangi tekanan pada serabut saraf lumbal. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat dan klien sedikit menekuk lututnya, atau berbaring miring dengan lutut dan panggul ditekuk atau posisi melingkar dengan meletakkan bantal di antara lutut dan tungkai sertai menggunakan sebuah bantalan di bawah kepala. Hindarkan posisi tengkurap karena akan memperberat lordosis.

Kadang klien perlu diberikan penanganan konservatif aktif dan fisioterapi. Traksi pelvis intermiten dengan beban traksi seberat 7-13 kg memungkinkan penambahan fleksi lumbal dan relaksasi otot. Fisioterapi ditujukan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot. Hindari terapi kolam bergolak bagi klien dengan masalah kardiovaskular, karena klien tidak mampu menoleransi vasodilatasi perifer masif yang timbul. Gelombang ultra akan menimbulkan panas, yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan  akibat pembengkakan pada stadium akut. Pemberian terapi ini juga perlu dihindari pada klien dengan kanker dan gangguan perdarahan.

Perlu diberikan obat-obatan untuk menangani nyeri. Analgetik narkotik untuk memutus lingkaran nyeri, relaksan otot, dan obat penenang membuat klien rileks, serta mengurangi otot yang mengalami spasme, sehingga nyeri dapat berkurang. Obat antiinflamasi diberikan untuk mengurangi nyeri. Penggunaan kortikosteroid jangka pendek dapat mengurangi respons inflamasi dan mencegah timbulnya neurofibrosis, yang terjadi akibat iskemia. Penyokong punggung bawah dan brace dapat dipakai untuk membatasi gerakan tulang belakang, mengoreksi postur, dan mengurangi stres pada tulang lumbal bawah.

Transcutanneous electrical nerve stimulation atau TENS adalah modalitas mengurangi nyeri noninvasif yang dapat dibawa kemana-mana yang memungkinkan klien berpartisipasi dalam aktivitas dengan nyaman tanpa obat. Stimulasi saraf elektris transkutan diperkirakan mengurangi nyeri dengan melampaui input nyeri dan perangsangan endorfin.

Peningkatan mobilitas, kekuatan otot, dan kelenturan dapat dicapai melalui latihan bila klien telah memungkinkan. Latihan dimulai secara bertahap dan ditingkatkan begitu klien sembuh. Latihan hiperekstensi akan memperkuat otot paravertebralis, latihan fleksi meningkatkan kekuatan dan gerakan punggung, sedangkan latihan fleksi isometrik memperkuat otot batang tubuh. Latihan dilakuakn di bawah pengawasan ahli fisioterapi dan disesuaikan dengan kemampuan klien, setiap periode latihan selalu dimulai dengan relaksasi.

Teknik terbaik dalam mengangkat adalah pengangkatan secara diagonal. Kaki memisah atau terbuka, dengan satu kaki yang dominan sedikit ke depan dari kaki yang lain. Ini memberikan basis penyangga yang lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat. Tekuk lutut dan berjongkok; jaga punggung tetap lurus dan kepala juga lurus selama mengangkat. Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot tungkai yang lebih luas dan menjaga keseimbangan punggung.

 

Tabel 2 Cara Berdiri, Duduk, Berbaring, Mengangkat Barang, dan Latihan dengan Benar

NO

Posisi

Cara

1

Berdiri

1.      Hindari berdiri dan berjalan lama

2.      Bila harus berdiri lama, istirahatkan salah satu kaki pada pijakan kecil atau kontak untuk mengurangi terjadi lordosis

3.      Hindari posisi kerja membungkuk ke arah depan

2

Duduk

1.      Stres pada punggung akan lebih besar pada posisi duduk dan pada posisi berdiri

2.      Hindari duduk dalam waktu yang lama

3.      Duduk pada kursi dengan posisi punggung tegak dengan dukungan punggung yang memadai

4.      Pergunakan pijakan kaki untuk memposisikan lutut lebih tinggi dari pinggul bila perlu

5.      Hilangkan rongga pada punggung dengan cara duduk dengan posisi “bokong ke depan”

6.      Hindari ekstensi lutut dan pinggul. Ketika mengendarai mobil, dorong kursi ke depan agar terasa nyaman

7.      Pertahankan penyangga punggung

8.      Lindungi terhadap regangan ekstensi; meraih, mendorong, duduk dengan tungkai lurus

9.      Duduk dan berjalan secara bergantian

3

Berbaring

1.      Istirahat tubuh pada waktu tertentu, karena kelelahan dapat menyebabkan spasme otot punggung

2.      Letakkan papan yang keras di bawah kasur agar dapat mempertahankan kesejajaran tubuh

3.      Hindari tidur tengkurap

4.      Ketika berbaring pada salah satu sisi, letakkan sebuah bantal di bawah kepala dan sebuah lagi antara kedua tungkai, yang harus difleksikan pada pinggul dan lutut.

5.      Ketika terlentang, gunakan sebuah bantal di bawah lutut untuk mengurang lordosis

4

Mengangkat

1.      Saat mengangkat barang, jaga agar punggung tetap lurus dan angkat beban sedekat mungkin dengan tubuh. Angkat dengan otot tungkai besar, bukan dengan otot punggung.

2.      Lindungi punggung dengan korset penyangga punggung ketika mengangkat barang

3.      Jongkok dan pertahankan punggung tetap lurus bila akna mengambil sesuatu di lantai

4.      Hindari memuntir batang tubuh, mengangkat di atas pinggang dan menjangkau sesuatu untuk waktu lama

5

Latihan

1.      Latihan harian sangat penting dalam pencegahan masalah punggung

2.      Berjalan di luar rumah dan secara bertahap meningkatkan jarak dan kecepatan berjalan sangat dianjurkan

3.      Lakukan latihan punggung yang dianjurkan dua kali sehari, tingkatkan latihan secara bertahap

4.      Hindari gerakan melompat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.      Pohon Masalah

Regangan lumbosakral akut,ketidakstabilan ligament lumbosakral dan kelemahan otot,osteoarthritis tulang belakang,stenosis tulang belakang,masalah diskus  intervertebra,ketidaksamaan panjang tungkai ,lansia(perubahan struktur tulang belakang)gangguan ginjal,masalah pelvis,tumor retroperineal,aneurisma abdominal,dan masalah psikosomatik,obesitas,stress,dan depresi.

Spasme otot paravertebral,iritasi serabut saraf punggung

Nyeri punggung bawah

Respon psikologis terhadap nyeri,pengetahuan tentang teknik mekanika tubuh melindungi punggung belum optimal

Perasaan nyeri,Ketidaknyamanan

Nyeri berhubungan dengan masalah muskuloskeletal

Tindakan dekompresi dan stabilisasi

Asuhan keperawatan  perioperatif

Port de entree luka pasca bedah

Penurunan kemampuan untuk berdiri tegak  dan berjalan

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan berkurangnya kelenturan

peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik

Kurang pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh melindungi punggung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

 

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengna pport de entree