Low Back Pain
1. Pengertian
Sekitar 80% dari
populasi, seseorang dalam kehidupannya akan mengalami nyeri punggung bawah.
Menurut Jones B yang dikutip oleh Yuliano A, sebanyak 80% populasi orang dewasa
dalam rentang hidupnya akan mengalami cedera punggung bawah. Keterbatasan yang
diakibatkan oleh nyeri punggung bawah pada seseorang sangat berat. Kehilangan
produktivitas akibat nyeri punggung bawah dapat menyebabkan kerugian ekonomi
yang besar. Nyeri punggung bawah merupakan penyebab kedua kunjungan ke dokter
setelah penyakit saluran napas atas. Sekitar 12% orang yang mengalami nyeri
punggung bawah menderita Herniasi Nukleus Pulposus atau HNP. Menurut Idyan, Low
Back Pain atau LBP atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan
muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik. Masalah
nyeri puinggang yang timbul akibat duduk lama menjadi fenomena yang sering
terjadi pada mahasiswa.
Nyeri punggung bawah adalah perasaan
nyeri di daerah lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering
disertai penjalaran ketungkai sampai kaki. (Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial.
Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah
nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan nyeri
adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien.
Low Back Pain
adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika
ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan
seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain
adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para
vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low back pain
dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada muskuloskeletal
seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada
sendi inter vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Nyeri punggung bawah adalah perasaan
nyeri di daerah lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering
disertai penjalaran ketungkai sampai kaki. (Harsono, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial.
Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri
adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan
nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien.
Low Back Pain
adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika
ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan
seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).
Low Back Pain
adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para
vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis
dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).
Low back pain
dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada muskuloskeletal
seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen
lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi
inter vertebra dan kaki yang tidak sama panjang.
Dari beberapa
pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah nyeri kronik
atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya otot
para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus
pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.
Dari beberapa
pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah nyeri kronik
atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya otot
para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus
pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.
2. Patofisiologi
Kontruksi punggung yang
unik memungkinkan terjadinya fleksibilitas dan member perlindungan terhadap
sumsum tulang belakang. Otot-otot abdominal berperan pada aktivitas mengangkat
beban dan sarana pendukung tulang belakang. Obesitas, masalah struktur, dan
peregangan perlebihanpada sarana pendukung ini menyebabkan nyeri punggung perubahan
degenerasi diskus intervetebra akibat usia menjadi fibrokorbiasa, L4-L5 DAN
L5-S1 mengalami stress mekanis dan menekan sepanjang radiks saraf tersebut.
Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah
batang elastik yang tersusun atas banyak unit yang kaku atau vertebrae dan unit
fleksibel atau diskus intervertebralis yang diikat satu sama lain oleh kompleks
sendi faset, berbagai ligamen, dan otot paravertebralis. Konstruksi tersebut
memungkin fleksibilitas, sementara sisi lain tetap melindungi sumsum tulang
belakang.
Keluhan
nyeri punggung bawah dan keterbatasan aktivitas menimbulkan keluhan atau
masalah pada klien yang mengalami nyeri punggung bawah.
3. Etiologi
Umumnya nyeri punggung bawah disebabkan oleh salah
satu dari berbagai masalah muskoloskeletal. Nyeri terjadi akibat gangguan
muskuloskeletal dapat dipengaruhi oleh aktivitas.
a. Regangan
lumbosakral akut
b. Ketidakstabilan
ligamen lumbosakral dan kelemahan otot.
c. Osteoartritis
tulang belakang.
d. Stenosis
tulang belakang
e. Masalah
diskus intervertebralis
f.
Perbedaan panjang tungkai
g. Pada
lansia, akibat fraktur tulang belakang, osteoporosis atau metastasis tulang
h. Penyebab
lain, seperti gangguan ginjal, masalah pelvis, tumor retroperitoneal, aneurisma
abdominal dan masalah psikosomatik.
Faktor resiko secara fisiologi.
1. Umur ( 20 – 50
tahun ).
2. Kurangnya
latihan fisik.
3. Postur yang
kurang anatomis.
4. Kegemukan.
5. Scoliosis
parah.
6. HNP.
7. Spondilitis.
8. Spinal stenosis
( penyempitan tulang belakang ).
9. Osteoporosis.
10. Merokok.
Faktor resiko dari lingkungan.
1. Duduk terlalu lama.
2. Terlalu lama
pada getaran.
3. Keseleo atau
terpelintir.
4. Olah raga (
golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).
5. Vibrasi yang lama.
Faktor resiko dari psikososial.
1.
Ketidak
nyamanan kerja.
2.
Depresi.
3.
Stress.
4. Manifestasi
Klinik
a. Keluhan
nyeri punggung akut maupun kronis atau berlangsung lebih dari dua bulan tanpa
perbaikan dan kelemahan.
b. Nyeri
bila tungkai ditinggikan dalam keadaan lurus, indikasi iritasi serabut saraf.
c. Adanya
spasme otot paravertebralis (peningkatan tonus otot tulang postural belakang
yang berlebihan)
d. Hilangnya
lengkungan lordotik lumbal yang normal
e. Dapat
ditemukan deformitas tulang belakang
5. Pemeriksaan
Penunjang
a. Sinar
X vertebra; mungkin memperlihatkan adanya fraktur, dislokasi infeksi,
osteoartritis atau skoliosis
b. Computed
tomography atau CT Scan; berguna untuk mengetahui penyakit yang mendasari,
seperti adanya lesi jaringan lunak tersembunyi di sekitar kolumna vertebralis
dan masalah diskus intervertebralis.
c. Ultrasonografi
atau USG, dapat membantu mendiagnosis penyempitan kanalis spinalis.
d. Magneting
resonance imaging atau MRI, memungkinkan visualisasi sifat dan lokasi patologi
tulang belakang
e. Mielogram
dan diskogram, di mana sejumlah kecil bahan kontras disuntukkan ke diskus
intervertebralis untuk dapat melihat visualisasi sinar. Dapat dilakukan untuk
diskus yang mengalami degenaris atau protrusi diskus
f.
Venogram epidural,
digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis dengan memperlihatkan adanya
pergeseran vena epidural
g. Elektromiogram
atau EMG dan pemeriksaan hantaran saraf digunakan untuk mengevaluasi penyakit
serabut saraf tulang belakang atau radikulopati
6. Penatalaksanaan
Sebagian besar nyeri punggung dapat hilang sendiri dan
akan sembuh dalam enam minggu dengan tirah baring, pengurangan stres, dan
relaksasi. Klien harus tetap ditempat tidur dengan matras yang padat/ kayu
penyangga dan tidak membal selama dua sampai tiga hari. Pergi ke kamar mandi
boleh dilakukan, namun kegiatan lain seperti menerima telepon, mengasuh anak,
aktivitas umum yang mengakibatkan stres sebaiknya dihindari. Klien diposisikan
sedemikian rupa sehingga fleksi lumbal lebih, yang dapat mengurangi tekanan
pada serabut saraf lumbal. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat
dan klien sedikit menekuk lututnya, atau berbaring miring dengan lutut dan
panggul ditekuk atau posisi melingkar dengan meletakkan bantal di antara lutut
dan tungkai sertai menggunakan sebuah bantalan di bawah kepala. Hindarkan
posisi tengkurap karena akan memperberat lordosis.
Kadang klien perlu diberikan penanganan konservatif
aktif dan fisioterapi. Traksi pelvis intermiten dengan beban traksi seberat
7-13 kg memungkinkan penambahan fleksi lumbal dan relaksasi otot. Fisioterapi
ditujukan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot. Hindari terapi kolam bergolak
bagi klien dengan masalah kardiovaskular, karena klien tidak mampu menoleransi
vasodilatasi perifer masif yang timbul. Gelombang ultra akan menimbulkan panas,
yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan
akibat pembengkakan pada stadium akut. Pemberian terapi ini juga perlu
dihindari pada klien dengan kanker dan gangguan perdarahan.
Perlu diberikan obat-obatan untuk menangani nyeri.
Analgetik narkotik untuk memutus lingkaran nyeri, relaksan otot, dan obat
penenang membuat klien rileks, serta mengurangi otot yang mengalami spasme,
sehingga nyeri dapat berkurang. Obat antiinflamasi diberikan untuk mengurangi
nyeri. Penggunaan kortikosteroid jangka pendek dapat mengurangi respons
inflamasi dan mencegah timbulnya neurofibrosis, yang terjadi akibat iskemia.
Penyokong punggung bawah dan brace dapat dipakai untuk membatasi gerakan tulang
belakang, mengoreksi postur, dan mengurangi stres pada tulang lumbal bawah.
Transcutanneous
electrical nerve stimulation atau TENS adalah modalitas mengurangi nyeri
noninvasif yang dapat dibawa kemana-mana yang memungkinkan klien berpartisipasi
dalam aktivitas dengan nyaman tanpa obat. Stimulasi saraf elektris transkutan
diperkirakan mengurangi nyeri dengan melampaui input nyeri dan perangsangan
endorfin.
Peningkatan mobilitas, kekuatan otot, dan kelenturan
dapat dicapai melalui latihan bila klien telah memungkinkan. Latihan dimulai
secara bertahap dan ditingkatkan begitu klien sembuh. Latihan hiperekstensi
akan memperkuat otot paravertebralis, latihan fleksi meningkatkan kekuatan dan
gerakan punggung, sedangkan latihan fleksi isometrik memperkuat otot batang
tubuh. Latihan dilakuakn di bawah pengawasan ahli fisioterapi dan disesuaikan
dengan kemampuan klien, setiap periode latihan selalu dimulai dengan relaksasi.
Teknik terbaik dalam mengangkat adalah pengangkatan
secara diagonal. Kaki memisah atau terbuka, dengan satu kaki yang dominan
sedikit ke depan dari kaki yang lain. Ini memberikan basis penyangga yang
lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat. Tekuk lutut dan
berjongkok; jaga punggung tetap lurus dan kepala juga lurus selama mengangkat.
Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot tungkai yang lebih luas
dan menjaga keseimbangan punggung.
Tabel 2 Cara Berdiri, Duduk, Berbaring,
Mengangkat Barang, dan Latihan dengan Benar
|
NO |
Posisi |
Cara |
|
1 |
Berdiri |
1. Hindari
berdiri dan berjalan lama 2. Bila
harus berdiri lama, istirahatkan salah satu kaki pada pijakan kecil atau
kontak untuk mengurangi terjadi lordosis 3. Hindari
posisi kerja membungkuk ke arah depan |
|
2 |
Duduk |
1. Stres
pada punggung akan lebih besar pada posisi duduk dan pada posisi berdiri 2. Hindari
duduk dalam waktu yang lama 3. Duduk
pada kursi dengan posisi punggung tegak dengan dukungan punggung yang memadai 4. Pergunakan
pijakan kaki untuk memposisikan lutut lebih tinggi dari pinggul bila perlu 5. Hilangkan
rongga pada punggung dengan cara duduk dengan posisi “bokong ke depan” 6. Hindari
ekstensi lutut dan pinggul. Ketika mengendarai mobil, dorong kursi ke depan
agar terasa nyaman 7. Pertahankan
penyangga punggung 8. Lindungi
terhadap regangan ekstensi; meraih, mendorong, duduk dengan tungkai lurus 9. Duduk
dan berjalan secara bergantian |
|
3 |
Berbaring |
1. Istirahat
tubuh pada waktu tertentu, karena kelelahan dapat menyebabkan spasme otot
punggung 2. Letakkan
papan yang keras di bawah kasur agar dapat mempertahankan kesejajaran tubuh 3. Hindari
tidur tengkurap 4. Ketika
berbaring pada salah satu sisi, letakkan sebuah bantal di bawah kepala dan
sebuah lagi antara kedua tungkai, yang harus difleksikan pada pinggul dan
lutut. 5. Ketika
terlentang, gunakan sebuah bantal di bawah lutut untuk mengurang lordosis |
|
4 |
Mengangkat |
1. Saat
mengangkat barang, jaga agar punggung tetap lurus dan angkat beban sedekat
mungkin dengan tubuh. Angkat dengan otot tungkai besar, bukan dengan otot
punggung. 2. Lindungi
punggung dengan korset penyangga punggung ketika mengangkat barang 3. Jongkok
dan pertahankan punggung tetap lurus bila akna mengambil sesuatu di lantai 4. Hindari
memuntir batang tubuh, mengangkat di atas pinggang dan menjangkau sesuatu
untuk waktu lama |
|
5 |
Latihan |
1. Latihan
harian sangat penting dalam pencegahan masalah punggung 2. Berjalan
di luar rumah dan secara bertahap meningkatkan jarak dan kecepatan berjalan
sangat dianjurkan 3. Lakukan
latihan punggung yang dianjurkan dua kali sehari, tingkatkan latihan secara
bertahap 4. Hindari
gerakan melompat |
7. Pohon
Masalah
Regangan
lumbosakral akut,ketidakstabilan ligament lumbosakral dan kelemahan
otot,osteoarthritis tulang belakang,stenosis tulang belakang,masalah
diskus intervertebra,ketidaksamaan
panjang tungkai ,lansia(perubahan struktur tulang belakang)gangguan
ginjal,masalah pelvis,tumor retroperineal,aneurisma abdominal,dan masalah
psikosomatik,obesitas,stress,dan depresi. Spasme
otot paravertebral,iritasi serabut saraf punggung Nyeri
punggung bawah Respon psikologis terhadap
nyeri,pengetahuan tentang teknik mekanika tubuh melindungi punggung belum
optimal Perasaan
nyeri,Ketidaknyamanan Nyeri berhubungan dengan masalah muskuloskeletal Tindakan dekompresi dan stabilisasi Asuhan
keperawatan perioperatif Port
de entree luka pasca bedah Penurunan kemampuan untuk berdiri
tegak dan berjalan Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot, dan
berkurangnya kelenturan peran berhubungan dengan gangguan mobilitas dan nyeri kronik Kurang pengetahuan berhubungan dengan teknik mekanika tubuh
melindungi punggung
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengna pport de entree
No comments:
Post a Comment