Thursday, September 17, 2020

Klasifikasi Nyeri di dalam Ilmu Kesehatan

 

Klasifikasi  Nyeri di dalam Ilmu Kesehatan

 

Sumber: Andarmoyo, Sulistiyo.2013.Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri.Jogjakarta: AR Ruzz Media.

 

Nyeri adalah bentuk suatu rasa sensorik ketidaknyamanan yang bersifat subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian dimana terjadi kerusakan (International Association For The Study of Pain, IASP, 1979). Dalam mempelajari aspek nyeri, penting untuk mengetahui  bagaimana klasifikasi dan pengalaman nyeri itu sendiri. Pengetahuan mendasar ini diperlukan bagi perawat atau tenaga kesehatan lainnya  dalam pengkajian sehingga diharapkan mendapat data yang konkret dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

 

Klasifikasi Nyeri

Wolf (1989) secara kualitatif membagi nyeri menjadi dua jenis, yakni nyeri fisiologis dan nyeri patologis. Perbedaan utama antara kedua jenis nyeri ini adalah nyeri fisiologis sensor normal berfungsi sebagai alat proteksi tubuh. Sementara nyeri patologis merupakan sensor abnormal yang dirasakan oleh seseorang yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adanya trauma dan infeksi bakteri ataupun virus. Nyeri patologis merupakan sensasi yang timbul sebagai konsekuensi dari adanya kerusakan jaringan atau akibat adanya kerusakan saraf. Jika proses inflamasi mengalami proses penyembuhan normal sehingga menghilang sesuai dengan proses penyembuhan disebut sebagai adaptif pain yang lazim dikenal sebagai nyeri akut. Di lain pihak, kerusakan saraf justru berkembang menjadi intractable pain setelah penyembuhan selesai, disebut sebagai maladaftive pain atau neuropathy pain lanjutnya kronik.

1.       Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Durasi

Nyeri dapat diklasifikasi berdasarkan durasinya dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik

a.       Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit atau intervensi bedah dan memiliki awitan yang cepat, dengan intervensi yang bervariasi (ringan sampai berat) dan berlangsu ng untuk waktu singkat (Meinhart dan McCaffery, 1983: NIH, 1986 dalam Smeltzer, 2002). Untuk tujuan definisi, nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri yang berlangsung dari beberapa detik hingga enam bulan. Fungsi nyeri akut ialah memberi peringatan akan suatu cedera atau penyakit yang akan datang.

Nyeri akut akan berhenti dengan sendirinya (self limiting) dan akhirnya menghilang dengan atau tanpa pengobatan setelah keadaan pulih pada area yang terjadi kerusakan. Nyeri akut berdurasi singkat (kurang dari 6 bulan), memiliki omset yang tiba-tiba, dan terlokalisasi. Nyeri ini biasanya disebabkan trauma bedah atau inflamasi. Kebanyak orang pernah mengalami nyeri jenis ini, seperti pada saat sakit kepala, sakit gigi, terbakar, tertusuk duri, pasca persalinan, pascapembedahan,dan lain sebagaimana.

Nyeri akut terkadang disertai oleh aktivitas sistem saraf simpatis yang akan memperlihatkan gejala seperti penginkatan respirasi, peningkatan tekanan darah, peningkatan denyut jantung, diaphoresis, dan dilatasi pupil. Secara verbal klien yang mengalami nyeri akan melaporkan adanya ketidaknyamanan berkaitan dengan nyeri yang dirasakannya. Klien yang mengalami nyeri akut biasanya juga akan memperlihatkan respons emosi dan perlikau seperti menangis, mengerang kesakitan, mengerutkan wajah, atau menyeringai.

 

b.      Nyeri Kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konsisten atau intermiten yang mentap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri kronik berlangsung lama, intensitas yang bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan (Mc Caffery, 1986 dalam Potter and Perry 2005). Nyeri kronik dapat tidak mempunyai awaitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.

Nyeri kronis dibagi menjadi dua, yaitu nyeri kronik non malignan dan malignan (Potter and Perry 2005). Nyeri kronis nonmalignan merupakan nyeri yang timbul akibat cedera jaringan yang tidak progresif yang menyembuh (Shcman, 2009 dalam Potter and Perry 2005), bisa timbul tanpa penyebab yang jelas misalnya nyeri pinggang bawah dan nyeri yang didasari atas kondisi kronis, misalnya osteoarthritis (Tanra, 2005, dalam Potter and Perry, 2005). Sementara nyeri kronik malignan yang disebut juga nyeri kanker memiliki penyebab nyeri yang dapat diidentifikasi, yaitu terjadi akibat perubahan pada saraf. Perubahan ini terjadi bisa karena penekanan pada saraf akibat metastasis sel sel kanker maupun pengaruh zat zat kimia yang dihasilkan oleh kanker itu sendiri (Portenoy, 2007 dalam Potter  and Perry, 2005).

Kebanyakan penderita nyeri kanker tidak berasal dari pengalaman nyeri. Beberapa penderita mengalami nyeri psikologi yang berasal dari proses keganasan. Bagaimanapun juga, banyak pengalaman nyeri pada stadium akhir dari penyakitnya, dan umumnya berhubungan dengan metasis. Sekitar 60 sampai 80 persen pasien kanker yang dirawat di  rumah sakit menderita nyeri yang sangat  hebat (Lewis,1983).

Manifestasi klinis yang tampak pada nyeri kronis yang berbeda dengan yang diperlihatkan oleh nyeri akut. Dalam pemeriksan tanda vital, sering kali didapatkan masih dalam batas normal dan tidak disertai dilatasi pupil. Manifestasi yang biasanya muncul berhubungan dengan respon psikososial seperti rasa keputusan, kelesuan, penurunan libido (gairah seksual), penurunan berat badan, perilaku menarik diri, iritabelm, mudah tersinggungm, marah dan tidak tertarik pada aktivitas fisik. Secara verbal klien mungkin akan melaporkan adanya ketidaknyamanan, kelemahan, dan kelelahan.

Klien mengalami nyeri kronik sering kali mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Sifat nyeri kronik, yang tidak dapat diprediksi ini, membuat klien frustasi dan sering kali mengarah pada depresi psikologis.

Tindakan perawatan yang direncanakan pada klien yang mengalami nyeri kronis berbeda dengan tindakan perawatan yang diberikan pada nyeri akut. Tindakan keperawatan yang diberikan harus sesuai dengan pernyataan klien sebagai expert terhadap nyeri yang ia rasakan, tidak semata-mata berdasarkan tanda-gejala yang tampak (Bonoca, 1990 dalam Prasetyo, 2010). Manajemen yang direncanakan termasuk mengidentifikasi penyebab nyeri, mengenali respon emosional klien serta faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap  nyeri klien dan tindakan rehabilitasi untuk meningkatkan kemampuan klien dalam beraktivitas.

 

2.       Klasifikasi nyeri berdasarkan asal

Nyeri diklasifikasikan berdasarkan asal dibedakan menjadi nyeri noiseptif dan nyeri neuropatik.

a.       Nyeri nosiseptif

Nyeri noisiseptif (nociceptive pain) merupakan nyeri yang diakibatkan oleh aktivitas atau sensitisaasi nosiseptor perifer yang merupakan reseptor khusus yang mengaantarkan stimulus noxious. Nyeri nosiseptif perifer dapat terjadi karena adanya stimulus yang mengenai kulit, tulang, sendi, otot, jaringan ikat dan lain-lain. Hal ini dapat terjadi pada nyeri post operatif dan nyeri kanker/

Dilihat dari sifat nyerinya maka nyeri noiseeptif merupakan nyeri akut. Nyeri akut merupakan nyeri nosiseptif yang mengenai daerah perifer dan letaknya lebih terlokalisasi.

b.      Nyeri neuorpatik

Nyeri neuropatik merupakan hasil suatu cedera atau abnormalitas yang didapat pada struktur saraf perifer maupun sentral. Berbeda dengan nyeri nosiseptif, nyeri neuropatik bertahan lebih lama dan merupakan proses input saraf sensorik yang abnormal oleh sistem saraf perifer. Nyeri ini lebih sulit diobati. Pasien akan mengalami nyeri rasa terbakar, tingling, shooting, shock like, hipergesia, atau allodynia. Nyeri neuropatik dari sifat nyerinya merupakan nyeri kronis.

 

3.       Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasi

Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasinya menurut Potter and Perry (2006) dibedakan sebagai berikut,

a.       Superficial atau kutaneus

Nyeri superficial adalah nyeri yang disebabkan stimulasi kulit. Karakteristik dari nyeri berlangsung sebentar dan terlokalisasi. Nyeri biasanya terasa sebagai sensasi yang tajam. Contohnya tertusuk jarum suntik dan luka potong kecil atau laserasi.

b.      Viseral dalam

Nyeri adalah nyeri yang terjadi akibat stimulasi organ internal. Karakteristik nyeri bersifat difus dan dapat menyebar ke beberapa arah. Durasinya bervariasi tetapi biasanya berlangsung lebih lama daripada nyeri superficial. Pada nyeri ini juga menimbulkan tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan mual dan gejala otonom. Nyeri dapat terasa tajam, tumpul, atau unik tergantung organ yang terlibat. Contoh sensasi pukul (crushing) seperti angina pectoris dan sesasi terbakar seperti  pada ulkus lambung.

c.       Nyeri alih (referred pain)

Nyeri alih merupakan fenomena umum dalam nyeri viseral karena banyak organ tidak memiliki reseptor nyeri. Jalan masuk neuron sensori dari organ yang terkena. Karakteristik nyeri dapat terasa di bagian tubuh yang terpisah dari sumber nyeri dan dapat terasa dengan berbagai karakteristik. Contoh nyeri yang terjadi pada infark miokard, yang menyebabkan nyeri alih ke rahang, lengan kiri, batu empedu, yang dapat mengalihkan nyeri ke selangkangan.

Dcabang serabut viseral diperlihatkan bersinaps di dalam medula spinalis dengan beberapa neuron urutan kedua serupa yang mernima serabut nyeri dari kulit. Bila serabut nyeri viseral tersebut dirangsang kuat, sensasi nyeri dari viseral menyebarkan ke dalam beberapa neuron yang biasanya menghantarkan sensasi nyeri hanya dari kulit, dan orang tersebut mempunyai perasaan bahwa sensasi itu benar-benar berasal dari dalam kulit itu sendiri (Guyton, 1995)

d.      Radiasi

Nyeri radiasi merupakan sensasi nyeri yang meluas dari tempat awal cedera ke bagian tubuh yang lain. Karakteristiknya nyeri terasa seakan menyebar ke bagian tubuh bawah atau sepanjang bagian tubuh. Nyeri dapat menjadi intermiten atau konstan. Contoh nyeri punggung bagian bawah akibat diskus intravertebral yang ruptur disertai nyeri yang meradiasi sepanjang tungkai dari iritasi sarsaf skiatik.

No comments:

Post a Comment