Klasifikasi Nyeri di
dalam Ilmu Kesehatan
Sumber: Andarmoyo, Sulistiyo.2013.Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri.Jogjakarta: AR Ruzz Media.
Nyeri adalah bentuk suatu rasa sensorik ketidaknyamanan yang
bersifat subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan
dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam
kejadian dimana terjadi kerusakan (International
Association For The Study of Pain, IASP, 1979). Dalam mempelajari aspek
nyeri, penting untuk mengetahui
bagaimana klasifikasi dan pengalaman nyeri itu sendiri. Pengetahuan mendasar
ini diperlukan bagi perawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam pengkajian sehingga diharapkan mendapat
data yang konkret dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
Klasifikasi Nyeri
Wolf (1989) secara kualitatif
membagi nyeri menjadi dua jenis, yakni nyeri fisiologis dan nyeri patologis. Perbedaan
utama antara kedua jenis nyeri ini adalah nyeri fisiologis sensor normal
berfungsi sebagai alat proteksi tubuh. Sementara nyeri patologis merupakan
sensor abnormal yang dirasakan oleh seseorang yang dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor di antaranya adanya trauma dan infeksi bakteri ataupun virus. Nyeri
patologis merupakan sensasi yang timbul sebagai konsekuensi dari adanya
kerusakan jaringan atau akibat adanya kerusakan saraf. Jika proses inflamasi
mengalami proses penyembuhan normal sehingga menghilang sesuai dengan proses
penyembuhan disebut sebagai adaptif pain
yang lazim dikenal sebagai nyeri akut. Di lain pihak, kerusakan saraf justru
berkembang menjadi intractable pain
setelah penyembuhan selesai, disebut sebagai maladaftive pain atau neuropathy
pain lanjutnya kronik.
1.
Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Durasi
Nyeri dapat diklasifikasi berdasarkan
durasinya dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik
a.
Nyeri akut
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit atau
intervensi bedah dan memiliki awitan yang cepat, dengan intervensi yang
bervariasi (ringan sampai berat) dan berlangsu ng untuk waktu singkat (Meinhart
dan McCaffery, 1983: NIH, 1986 dalam Smeltzer, 2002). Untuk tujuan definisi,
nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri yang berlangsung dari beberapa detik
hingga enam bulan. Fungsi nyeri akut ialah memberi peringatan akan suatu cedera
atau penyakit yang akan datang.
Nyeri akut akan berhenti dengan sendirinya (self limiting) dan akhirnya menghilang dengan atau tanpa pengobatan
setelah keadaan pulih pada area yang terjadi kerusakan. Nyeri akut berdurasi
singkat (kurang dari 6 bulan), memiliki omset yang tiba-tiba, dan
terlokalisasi. Nyeri ini biasanya disebabkan trauma bedah atau inflamasi. Kebanyak
orang pernah mengalami nyeri jenis ini, seperti pada saat sakit kepala, sakit
gigi, terbakar, tertusuk duri, pasca persalinan, pascapembedahan,dan lain
sebagaimana.
Nyeri akut terkadang disertai oleh aktivitas sistem saraf simpatis yang
akan memperlihatkan gejala seperti penginkatan respirasi, peningkatan tekanan
darah, peningkatan denyut jantung, diaphoresis, dan dilatasi pupil. Secara verbal
klien yang mengalami nyeri akan melaporkan adanya ketidaknyamanan berkaitan
dengan nyeri yang dirasakannya. Klien yang mengalami nyeri akut biasanya juga
akan memperlihatkan respons emosi dan perlikau seperti menangis, mengerang
kesakitan, mengerutkan wajah, atau menyeringai.
b.
Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konsisten atau intermiten yang mentap sepanjang
suatu periode waktu. Nyeri kronik berlangsung lama, intensitas yang bervariasi,
dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan (Mc Caffery, 1986 dalam Potter and
Perry 2005). Nyeri kronik dapat tidak mempunyai awaitan yang ditetapkan dengan
tepat dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan
respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.
Nyeri kronis dibagi menjadi dua, yaitu nyeri kronik non malignan dan
malignan (Potter and Perry 2005). Nyeri kronis nonmalignan merupakan nyeri yang
timbul akibat cedera jaringan yang tidak progresif yang menyembuh (Shcman, 2009
dalam Potter and Perry 2005), bisa timbul tanpa penyebab yang jelas misalnya
nyeri pinggang bawah dan nyeri yang didasari atas kondisi kronis, misalnya
osteoarthritis (Tanra, 2005, dalam Potter and Perry, 2005). Sementara nyeri
kronik malignan yang disebut juga nyeri kanker memiliki penyebab nyeri yang
dapat diidentifikasi, yaitu terjadi akibat perubahan pada saraf. Perubahan ini
terjadi bisa karena penekanan pada saraf akibat metastasis sel sel kanker
maupun pengaruh zat zat kimia yang dihasilkan oleh kanker itu sendiri
(Portenoy, 2007 dalam Potter and Perry,
2005).
Kebanyakan penderita nyeri kanker tidak berasal dari pengalaman nyeri. Beberapa
penderita mengalami nyeri psikologi yang berasal dari proses keganasan. Bagaimanapun
juga, banyak pengalaman nyeri pada stadium akhir dari penyakitnya, dan umumnya
berhubungan dengan metasis. Sekitar 60 sampai 80 persen pasien kanker yang
dirawat di rumah sakit menderita nyeri
yang sangat hebat (Lewis,1983).
Manifestasi klinis yang tampak pada nyeri kronis yang berbeda dengan yang
diperlihatkan oleh nyeri akut. Dalam pemeriksan tanda vital, sering kali
didapatkan masih dalam batas normal dan tidak disertai dilatasi pupil. Manifestasi
yang biasanya muncul berhubungan dengan respon psikososial seperti rasa
keputusan, kelesuan, penurunan libido (gairah seksual), penurunan berat badan,
perilaku menarik diri, iritabelm, mudah tersinggungm, marah dan tidak tertarik
pada aktivitas fisik. Secara verbal klien mungkin akan melaporkan adanya
ketidaknyamanan, kelemahan, dan kelelahan.
Klien mengalami nyeri kronik sering kali mengalami periode remisi (gejala
hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Sifat nyeri
kronik, yang tidak dapat diprediksi ini, membuat klien frustasi dan sering kali
mengarah pada depresi psikologis.
Tindakan perawatan yang direncanakan pada klien yang mengalami nyeri
kronis berbeda dengan tindakan perawatan yang diberikan pada nyeri akut. Tindakan
keperawatan yang diberikan harus sesuai dengan pernyataan klien sebagai expert
terhadap nyeri yang ia rasakan, tidak semata-mata berdasarkan tanda-gejala yang
tampak (Bonoca, 1990 dalam Prasetyo, 2010). Manajemen yang direncanakan
termasuk mengidentifikasi penyebab nyeri, mengenali respon emosional klien
serta faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap nyeri klien dan tindakan rehabilitasi untuk
meningkatkan kemampuan klien dalam beraktivitas.
2.
Klasifikasi nyeri berdasarkan asal
Nyeri diklasifikasikan berdasarkan asal
dibedakan menjadi nyeri noiseptif dan nyeri neuropatik.
a.
Nyeri nosiseptif
Nyeri noisiseptif (nociceptive pain)
merupakan nyeri yang diakibatkan oleh aktivitas atau sensitisaasi nosiseptor
perifer yang merupakan reseptor khusus yang mengaantarkan stimulus noxious. Nyeri
nosiseptif perifer dapat terjadi karena adanya stimulus yang mengenai kulit,
tulang, sendi, otot, jaringan ikat dan lain-lain. Hal ini dapat terjadi pada
nyeri post operatif dan nyeri kanker/
Dilihat dari sifat nyerinya maka nyeri noiseeptif merupakan nyeri akut. Nyeri
akut merupakan nyeri nosiseptif yang mengenai daerah perifer dan letaknya lebih
terlokalisasi.
b.
Nyeri neuorpatik
Nyeri neuropatik merupakan hasil suatu cedera atau abnormalitas yang
didapat pada struktur saraf perifer maupun sentral. Berbeda dengan nyeri
nosiseptif, nyeri neuropatik bertahan lebih lama dan merupakan proses input
saraf sensorik yang abnormal oleh sistem saraf perifer. Nyeri ini lebih sulit
diobati. Pasien akan mengalami nyeri rasa terbakar, tingling, shooting, shock
like, hipergesia, atau allodynia. Nyeri neuropatik dari sifat nyerinya
merupakan nyeri kronis.
3.
Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasi
Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasinya
menurut Potter and Perry (2006) dibedakan sebagai berikut,
a.
Superficial atau kutaneus
Nyeri superficial adalah nyeri yang disebabkan stimulasi kulit. Karakteristik
dari nyeri berlangsung sebentar dan terlokalisasi. Nyeri biasanya terasa
sebagai sensasi yang tajam. Contohnya tertusuk jarum suntik dan luka potong
kecil atau laserasi.
b.
Viseral dalam
Nyeri adalah nyeri yang terjadi akibat stimulasi organ internal. Karakteristik
nyeri bersifat difus dan dapat menyebar ke beberapa arah. Durasinya bervariasi
tetapi biasanya berlangsung lebih lama daripada nyeri superficial. Pada nyeri
ini juga menimbulkan tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan mual dan gejala
otonom. Nyeri dapat terasa tajam, tumpul, atau unik tergantung organ yang
terlibat. Contoh sensasi pukul (crushing) seperti angina pectoris dan sesasi
terbakar seperti pada ulkus lambung.
c.
Nyeri alih (referred pain)
Nyeri alih merupakan fenomena umum dalam nyeri viseral karena banyak
organ tidak memiliki reseptor nyeri. Jalan masuk neuron sensori dari organ yang
terkena. Karakteristik nyeri dapat terasa di bagian tubuh yang terpisah dari
sumber nyeri dan dapat terasa dengan berbagai karakteristik. Contoh nyeri yang
terjadi pada infark miokard, yang menyebabkan nyeri alih ke rahang, lengan
kiri, batu empedu, yang dapat mengalihkan nyeri ke selangkangan.
Dcabang serabut viseral diperlihatkan bersinaps di dalam medula spinalis
dengan beberapa neuron urutan kedua serupa yang mernima serabut nyeri dari
kulit. Bila serabut nyeri viseral tersebut dirangsang kuat, sensasi nyeri dari
viseral menyebarkan ke dalam beberapa neuron yang biasanya menghantarkan
sensasi nyeri hanya dari kulit, dan orang tersebut mempunyai perasaan bahwa
sensasi itu benar-benar berasal dari dalam kulit itu sendiri (Guyton, 1995)
d.
Radiasi
Nyeri
radiasi merupakan sensasi nyeri yang meluas dari tempat awal cedera ke bagian
tubuh yang lain. Karakteristiknya nyeri terasa seakan menyebar ke bagian tubuh
bawah atau sepanjang bagian tubuh. Nyeri dapat menjadi intermiten atau konstan.
Contoh nyeri punggung bagian bawah akibat diskus intravertebral yang ruptur
disertai nyeri yang meradiasi sepanjang tungkai dari iritasi sarsaf skiatik.