Friday, June 19, 2020

Asuhan Keperawatan dengan Bronkitis

Asuhan Keperawatan dengan Bronkitis

Sumber:
Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda Nic Noc edisi revisi Jilid 1 tahun 2013.
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC
Somantri,Irman. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika

Wilkinson, Judith M. dan Nancy R. Ahern. Buku saku diagnosis keperawatan. edisi 9 Jakarta: EGC 



BAB II
KONSEP TEORI

A.  DEFINISI
Bronkiti adalah suatu infeksi salura pernafasan yang menyebabkan inflamasi yang mengenai trakea, bronkus utama dan menengah yang manifistasi sebagai batuk, dan biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu. Bronkitis umumnya di sebabkan oleh firus seperti Rhinovirus, RSV, Virus influenza, Virus parainfluinza, Adenovirus, Virus rubeola, dan paramyxovirus dan bronchitis karena bakteri biasanya di kaitkan dengan mycoplasma pneumonia, Bordetella pertussis,atau corynebakterium diphtheria.
B. ETIOLOGI
Bronkitis oleh virus seperti rhinovirus, RSV, Virus influenza, Virus parafluinza, Adanovirus, Virus rubeola, dan paramyxovirus. Menurut laporan penyebab lainnya dapat terjadi melalui zat iritan asam lambung seprti asam lambung, atau folusi lingkungan dan dapat ditemukan setelah pejanan yang  barat, seprti saat aspirasi setelah muntah, atau pejanan dalam jumlah besar yang di sebabkan zat kimia dan menjadikan bronkitis kronis.
Bronkitis karena bakteri biasanya di kaitkan dengan  Mycloplasma pneumumonia yang dapat menyebabkan bronchitis akut dan biasanya terjadi pada anak usia di atas 5 tahun atau remaja, Bordetella pertussis dan Corynebacterium diiphthriae biasa terjadi pada anak yang tidak di imunisasi dan di hubungkan dengan kejadian trakeo bronchitis, yang selama stadium kataral portusis, gejala-gejala infeksi respiratori lebih dominan. Gejala khas berupa batuk kuat berturut turut dalam satu ekspirasi yang di ikuti usaha keras dan mendadak untuk inspirasi, Sehingga menimbulkan whoop. Batuk biasanya menghasilkan mucus yang  kental dan lengket.
C.  KLASIFIKASI
Bronkitis di bedakan menjadi dua:
1.  Bronkitis Akut
Merupakan infeksi saluran  pernafasan akut bawah. Di tandai dengan awitan gejala yang mendadak yang berlangsung lebih singgkat.Pada bronchitis jenis ini, inflasi peradangan bronkus biasanya di sebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, dan kondisiny di perparah oleh pemaparan terhadap iritan, seprti asap rokok, udara kotor, debu asap kimiawi, dan lain-lain.
2.  Bronkitis Kronis
Ditandai dengan gejala yang berlangsung lama (3 bulan dalam setahun selama 2tahun berturut turut). Pada bronchitis kronis peradangan bronkus tetap berlanjut selama beberpa waktu dan terjadi obstruksi atau hambatan pada aliran udara yang normal di dalam bronkus .
D.  MANIFESTASI KLINIS
Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan.
Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala dgn keluhan –keluhan :
1.   Batuk
Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian.
a.   Lapisan teratas agak keruh
b.   Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva (ludah)
c.   Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak (celluler debris).
2.   Haemaptoe
Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis, kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah (pecah) dan timbul perdarahan. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan (streaks of blood) sampai perdarahan yang cukup banyak (massif) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis (daerah berasal dari peredaran darah sistemik).
Pada dry bronchitis (bronchitis kering), haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk., pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Pada tuberculosis paru, bronchitis (sekunder) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe.
3.   Sesak nafas (dispnue)
Pada sebagian besar pasien (50 % kasus) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang (ISPA), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang ditemukan juga suara mengi (wheezing), akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya.

4.   Demam berulang
Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam demam berulang.
5.   Kelainan fisis
Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis, jari tubuh, manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat, dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus.
6.  Bronchitis
Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Kelainan ini bukan merupakan tanda klinis bronchitis, kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi, selanjutnya terjadilah bronchitis. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat.
7.  kelainan laboratorium
Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Seing ditemukan anemia, yang menunjukan adanya infeksi kronik, atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic, perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder.
8.   Kelainan radiologis.
Gambaran foto dada (plain film) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level, mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena, ditemukan juga bercak-bercak pneumonia, fibrosis atau kolaps. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram.
9.  Kelainan faal paru.
Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama (FEV1), terdapat tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional (maupun difus) distribusi ventilasi, yang berpengaruh pada perfusi paru.
10. Tingkat beratnya penyakit.
a.  Bronchitis ringan
Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam, ada haemaptoe ringan, pasien tampak sehat dan fungsi paru norma, foto dada normal.
b.  Bronchitis sedang
Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saa, sputum timbul setiap saat, (umumnya warna hijau dan jarang mukoid, dan bau mulut meyengat), adanya haemaptoe, umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena, gmbaran foto dada masih terlihat normal.
c.   Bronchitis berat
Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak, berwarna kotor dan berbau. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adany dispnea, sianosis atau tanda kegagalan paru. Umumny pasien mempunyai keadaan umum kurang baik, sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit, infeksi mata , pasien mudah timbul pneumonia, septikemi, abses metastasis, amiloidosis.
Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking, multiple cysts containing fluid levels. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena.
E.  KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronchitis menurut Irman somantri, (2009) adalah:
1.  Bronchitis akut akan menjadi bronchitis kronis
Karena bronchitis akut merupakan terjadinya suatu penyakit bronchitis yang terjadi karena adanya kelainan dengan saluran bronkus sendiri sehingga dengan waktu yang singkat dapat menjadi bronchitis kronis yang bersifat menahun.
2.  Bronkiektaksis
Bronkiektasis merupakan penyakit yang menyebabkan saluran bronkus yang mengalami penebalan dan peradangan sehingga saluran udara dan mucus menjadi terhambat dan mengakibatkan dilatasi pelebaran yang disebut dengan penyakit bronkiektasis.
3.  Pneumonia
Pneumonia paru-paru basah disebabkan oleh adanya infeksi sehingga menyebabkan terjadi nya radang paru –paru
4.  Gagal jantung kongestif
Hal ini terjadi karena kurangnya darah yang masuk dalam atrium dan ventrikel kiri.gagal jantung yang sering terjadi yaitu gagal jantung kiri.
F.  PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.  Sinar X dada
Hiperinflasi paru-paru, mendatarnya diafragma,  peningkatan area udara retrosternal, penurunan tanda viskularisasi (emfisema), peningkatan bronkovaskuler (bronchitis).
2.  Tes fungsi paru
Untuk menentukan penyebab dispnea, menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau retruksi, dan untuk mengevaluasi efek terapi.
3.  Kapasitas inspirasi : menurun pada emfisema
4.  Volume residues : meningkat pada emfisema, bronchitis kronis, dan asma.
5.  GDA
PaO2 menurun, PaCO2  normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema), dan menurun pada asma, pH normal atau asidosis, alakalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi.
6.  Bronkogram
Menunjukan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kolaps bronchial pada ekspirasi kuat (emfisema), pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronchitis.
7.  Kimia darah: menyakinkan defisiensi dan diagnose emfisema primer
8.  Sputum: menentukan adanya infeksi, pathogen, gangguan alergi.
9.  EKG
Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat), disritmiaatrial (bronchitis), peninggian gelombang P pada lead II,III, AVF (bronchitis, emfisema), aksis vertikel QRS (emfisema)
10. JDL (jumlah darah lengkap) dan diferensialHemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil asma.

G. PENATALAKSANAAN
1.  Penatalaksanaan medis menurut yaitu :
a.   Terapi oksigen : Beriakn nafas buatan atau ventilasi mekanik sesuai kebutuhan
b.   Fisioterapi dada
c.   Pengkajian seri GDA
d.   Obat-obatan
e.   Bronkodilator
f.    Antibiotic
g.   Diuretic
h.   Kortikosteroid
i.     Vaksinasi influenza
j.     Kardiotonik
2.  Penatalaksanaan keperawatan
Tindakan keperawatan menurut dongoes yang penting pada pasien PPOM adalah fisioterapi dada, batuk efektif, latihan nafas dalam, memberikan posisi semifowler, cegah terjadinya polusi lingkungan, kaji tingkat ketergantungan pasien, mendiskusikan efek bahaya merokok dan menganjurkan pasien untuk menghindari rokok, tingkatkan masukan cairan sampai 3000ml/hari.




H.  POHON MASALAH
 





















BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
BRONKITIS

A.  Pengkajian
1.    Identitas
2.    Keluhan utama
3.    Riwayat penyakit sekarang
4.    Riwayat penyakit dahulu
5.    Riwayat penyakit keluarga
6.    Riwayat psikologis
7.    Genogram
8.    Pemeriksaan fisik
9.    Pemeriksaan fisik
a.  Keadaan umum
Pemeriksaan kesadaran compomentis, batuk-batuk, tampak agak sesak, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 92 x/mnt, suhu 37OC, pernafasan 26 x/mnt teratur.
b.  Kepala dan leher
Kepala berbentuk simetris, rambut bersih, hitam dan penyebarannya merata, terpotong pendek.
c.  Mata tidak ada anemi, ikterus tidak ada.
d.  Telinga tidak ada serumen.
e.  Hidung tidak terdapat pernafasan cuping hidung.
f.       Mulut bersih, tidak terdapat karies gigi.
g.  Leher tidak terdapat pembesaran kelenjar, klien mampu menelan tanpa terasa sakit/ nyeri, tidak ada kaku kuduk.
h.  Dada dan thoraks
Pergerakan dada simetris, Wheezing +/+, Ronchi +/+, retraksi otot bantu pernafasan ringan. Pemeriksaan jantung, ictus cordis terletak di midclavicula sinistra ICS 4-5, S1S2 tunggal tidak ada bising/ murmur.
i.    Abdomen
Bentuk supel, tidak ada meteorismus, bising usus + normal 5 x/ mnt, tidak ada nyeri tekan, hepar dan limpa tidak teraba.
j.    Ekstrimitas
Tidak ada kelainan dalam segi bentuk, uji kekuatan otot adalah 5 untuk masing-masing ekstrimitas. Klien mampu menggerakkan ekstrimitas sesuai dengan arah gerak sendi.

B.  Daftar Diagnosa Keperawatan
1.    Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan Edema/mebengkakan pada mukosa atau secret berlebih
2.    Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan Kompensasi frekuensi nafas meningkat
3.    Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia, mual/muntah
4.    Hipertermi berhubungan dengan Proses inflamasi
C.  Rencana Asuhan Keperawatan
1.    Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan Edema/mebengkakan pada mukosa atau secret berlebih
Tujuan: setelah dilakukan 1x24jam Klien tidak merasa sesak nafas dan sputum tidak ada
KH: - Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih atau jelas
-       Menunjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas minsalnya :batuk efektif
Intervensi:
1.  Kaji fungsi pernafasan, bunyi nafas, kecepatan irama.
R/ Membantu adanya perubahan pola nafas
2.  kaji posisi nyaman untuk klien
R/ Dapat memperlancar sirkulasi pernafasan dalam tubuh
3.  Ajar dan anjurkan klien untuk batuk efektif
R/ Mengajarkan batuk efektif agar pasien mandiri
4.  Lakukan suction pada klien
R/ membersihkan jalan nafas
5.  Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi. Misalnya : aminofilin
R/ Menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos

2.  Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan Kompensasi frekuensi nafas meningkat
Tujuan: 1x24jam pernafasan klien teratur setelah dilakukan tindakan keperawatan
KH: RR= dewasa 16x-24x/mnt, Nafas teratur
INTERVENSI
1.  Pertahankan posisi semi fowler
R/ Memperlancar sirkulasi pernafasan dalam tubuh
2.  kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
R/ Kecepatan biasanya meningkat. Dispenia dan terjadi peningkatan kerja napas.
3.  Observasi pola batuk dan karakteristik secret
R/ Untuk mengetahui keluarnya scret pada saluran nafas
4.  berikan oksigen tambahan
R/ memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas

3.    Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia, mual/muntah
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam terjadi peningkatan berat badan
K.H :  1. Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
          2.Menunjukkan perilaku atau perubahan pola hidup untuk  meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi :
1.    Kaji keluhan klien terhadap mual, muntah dan anoreksia
Rasional: menentukan penyebab masalah
2.    Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta ciptakan
lingkungan yang bersih dan nyaman
Rasional: menghilangkan tanda bahaya, rasa bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual
3.    Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering
Rasional: dapat meningkatkan nutrisi dalam tubuh meskipun napsu makan berkurang
4.    Timbang berat badan klien setiap minggu
Rasional: Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi
5.    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan komposisi diet
Rasional: berguna untuk kestabilan dan gizi yang masuk untuk pasien
4.    Hipertermi berhubungan dengan Proses inflamasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam Klien dapat mencapai suhu normal
K.H : Suhu tubuh normal (36,50C-37,50C)
Intervensi
1.    Berikan kompres hangat atau kompres dingin sesuai dengan persetujuan klien.
R/ Kompres hangat membantu melebarkan pori-pori permukaan kulit sehingga mempercepat pengeluaran panas.
2.    Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
R/ Pakaian yang tipis tidak menghambat pengeluaran panas tubuh.
3.    Ganti pakaian atau alat tenun yang lembab atau basah karena keringat yang banyak
R/ Pakaian/alat tenun yang lembab/basah akan menimbulkan ketidaknyamanan pada klien.
4.    Berikan selimut yang tipis
R/ Selimut yang tebal akan menghambat pengeluaran panas tubuh.
Kolaborasi:
5.    Berikan antidiueretik
R/ Dapat membantu menurunkan panas tubuh



No comments:

Post a Comment