Friday, June 19, 2020

Asuhan Keperawatan dengan Ketuban Pecah Dini


BAB I
KONSEP DASAR MASALAH

A.  PENGERTIAN
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada ahir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjaang adalah KPD yang terjadilebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
       KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka  kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan. Pengelolahan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat kompleks, bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS.

B.  ETIOLOGI
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahiu. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. Servik yang inkopetensia,kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage). Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi, atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya berhubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
Keadaan sosial ekonomi faktor lain:
a.         Faktor golongan darah akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulakan bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit ketuban.
b.        Faktor disproporsi antara kepala janin dan panggul ibu
c.         Faktor multi grafiditas, merokok dan pendarahan antepartum
d.        Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat ( vit C )

Pada sebagian besar kasus penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang di sebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor resiko dari KPD:
a.    Inkompetensi serviks ( leher rahim )
b.    Polihidramnion ( cairan ketuban berlebih )
c.    Riwayat KPD sebelumnya
d.   Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
e.    Kehamilan kembar
f.     Trauma
g.    Serviks ( leher rahim ) yang pendek ( < 25 mm) pada usia kehamilan 23 minggu. Infeksi pada kehamilan seperti vaginosis

C.  PATOFISIOLOGI
infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan mengontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak mikro organisme servikovaginal, menghasilkan fosfolipit C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan kontraksi myometrium. Pada infeksi juga dihasilkan produksi sekresi akibat aktivitas monosit/makrofag, yaitu sitokrin, interleukin1, factor nekrosis tumor dan interleukinam. Latelet activating factor yang diproduksi oleh parau-paru janin dan ginjal janin yang ditemukan dalam cairan amnion. Secara sinergis juga mengaktivasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk ke dalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadunya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim bacterial atau produk house yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban. Banyak flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi protease dan kolagenasi yang menurunkan kekuatann tenaga kulit ketuban. Elastase leokosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen tipe III pada manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang  terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen tipe II dan menyebabkan ketuban pecah dini.
Enzim hidrolitik lain, termasuk katepsin B, katepsin N, kolagenase yang dihasilkan nitrofil dan makrofage, nampaknya melemahkan kulit ketuban. Sel inflamasi manusia juga menguraikan activator plasminogen yang menguban plasminogen menjadi plasmin, potensial, potensial menjadi penyebab ketuban pecah dini.

D.  TANDA DAN GEJALA
Tanda yang terjadi keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis, tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes masih menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus di produksi sampai kelahiran. Tetapi jika anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “menganjal” atau “menyumbat” kebocoran,untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak nyeri perut, denyut jantung semakin bertambah cepat merupakan tanda – tanda infeksi yang terjadi.
E.  KOMPLIKASI
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom disstres pernafasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korior dan amnion). Selain itu kejadian prolaks atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Resiko kecacatan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD pretern ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
a.       Infeksi intrauterin
b.      Tali pusar menumbung
c.       Prematuritas
d.      Distosia

F.   PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Pemeriksaan laboratorium
       Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau, dan pH nya. Cairan yang dikeluarkan dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH: 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.
a.         Tes Lakmus ( Tes Nitrazina), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban ( alkalis). pH air ketuban 7-7.5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
b.         Mikroskopik ( Tes Pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
2.      Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
       Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion. Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
G. PENATALAKSANAAN
A.    Pencegahan
1.      Obati infeksi gonokokus, klamidia, dan viginosis bakterial
2.      Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung usaha untuk mengurangi atau berhenti
3.      Motivasi unyuk menambah berat badan yang cukup selama hamil
4.      Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trimester akhir bila ada faktor predis posisi
B.     Panduan mengantisispasi : jelaskan kepada pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat prenatal bahwa mereka harus segera melapor bisa ketuban pecah.
1.      Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali pusat
a.       Letak kepala selain vertek
b.      Polihidramnion
2.      Herpes aktif
3.      Riwayat infeksi streptokus beta hemolitikus sebelumnya
C.     Bila ketuban telah pecah
1.      Anjurkan pasien untuk pergi kerumahsakit atau klinik
2.      Catat terjadinya ketuban pecah
a.       Lakukan pengkajian secara seksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya pecah ketuban
b.      Bila robekan ketuban tampak kasar :
1)        Saat pasien berbaring terlentang, tekan fundus untuk melihat adanya semburan cairan dari vagina.
2)        Basahi kapas apusan dengan cairan dan lakukan ulasan pada slide untuk mengkaji verning dibawah mikroskop
3)        Sebagian cairan diusap kekertas nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji diagnostik bila pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual, tidak ada perdarahan, dan tidak dilakukan pemeriksaan pervagina menggunakan jeli K-Y
c.       Bila pecah ketuban atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan pemeriksaan spekulum steril :
1)   Kaji nilai bishop serviks
2)   Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi
3)   Dapatkan spesimen cair dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada slide untuk mengkaji verning dibawah mikroskop
d.      Bila usia gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes tipe 2, rujuk kedokter
D.    Penatalaksanaan konservatif
1.      Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24-72 jam setelah ketuban pecah
2.      Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukkan ke vagina, kecuali spekulum steril, jangan melakukan pemeriksaan vagina
3.      Saat menunggu, tetap pantau pasien dengan ketat
a)    Ukur suhu tubuh 4x sehari, bila suhu meningkat secara siknifikan atau mencapai 38 °C, berikan dua macam antibiotik dan pelahiran harus diselesaikan.
b)   Observasi rabas vagina : bau menyengat, purulen atau tampak kekuningan menunjukkan adanya infeksi
c)    Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apapun
E.     Penatalaksaan agresif
1.      Jel prostaglandin atau Misoprotol (meskipun tidak disetujui penggunaannya ) dapat diberikan setelah konsultasi dengan dokter.
2.      Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi piticin bila serviks tidak berespon
3.      Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada tanda, mulai pemberian pitocin.
4.      Berikan cairan per IV pantau janin.
5.      Peningkatan resiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif.
6.      Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk diinduksi, kaji nilai bhisop setelah pemeriksaan spekulum. Bila diputuskan untuk menunggu persalinan, tidak ada pemeriksaan lagi yang dilakukan, baik manipulasi dengan tangan maupun spekulum sampai persalinan dimulai atrau induksi dimulai.
7.      Periksa hitung darah lengkap bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari berikutnya sampai pelahiran atau lebih sring bila ada tanda infeksi.
8.      Lakukan NST setelah ketuban pecah, waspada adanya takikardia janin yang merupakan salah satu tanda infeksi.
9.      Mulai induksi setelah konsultasi dengan dokter bila
a.       Suhu tubuh ibu meningkat signifikan
b.      Terjadi takikardia janin
c.       Lokia tampak keruh
d.      Iritabilitas atau nyeri tekan uterus yang signifikan
e.       Kultur vagina menunjukkan streptocus beta hemolitikus
f.       Hitung drah lengkap menunjukkan kenaikan sel darah putih


F.      Penatalaksanaan persalinan lebih dari 24 jam setelah ketuban pecah
1.      Persalinan spontan
a.       Ukur suhu tubuh pasien setiap 2 jam, berikan antibiotik bila ada demam.
b.      Anjurkan pemantauan janin internal
c.       Beritahu dokter spesialis obstetri dan spesialis anak atau praktisi perawat neonatus
d.      Lakukan kultur sesuai panduan.

2.      Induksi persalinan
a.       Lakukan secra rutin setelah konsultasi dengan dokter
b.      Ukur suhu tubuh setiap 2 jam
c.       Antibiotik : pemberian antibiotik memiliki beragam panduan, banyak yang memberikan 1-2 g ampicilin per IV atau 1-2 g mefoxim per IV setiap 6 jam sebagai provilaksis.

BAB II
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN

A.  PENGKAJIAN
1.      BIODATA:
meliputi nama, nama ibu, umur, agama, pendidikian, pekerjaan, suku atau bangsa, alamat rumah, nama suami, agama, pekerjaan, suku atau bangsa, alamat rumah.

2.      RIWAYAT
a.       Jumlah cairan yang hilang: pecah ketuban awalnya menyebabkan semburan cairan yang besar yang diikuti keluarnya cairan yang terus menerus. Namun, pada beberapa kondisi pecah ketuban, satu-satunya gejala yang diperhatikan wanita adalah keluarnya sedikit cairan yang terus menerus (jernih, keruh, kuning, atau hijau) dan perasaan basah pada celana dalamnya.
b.      Ketidakmampuan mengendalikan kebocoran dengan latihan kegel: membedakan PROM dari inkontinensia urime
c.       Waktu terjadi pecah ketuban
d.      Warna cairan: cairan amnion dapat jernih atau keruh, jika bercampur meconium, cairan akan berwarna kuning atu hijau.
e.       Bau cairan: cairan amnion memiliki bau apek yang khas, yang membedakannya dari urine.
f.       Hubungan seksual terakhir: semen yang keluar dari vagina dapat disalahartikan sebagai cairan amnion.

3.      POLA KEBUTUHAN DASAR
a.       Sirkulasi :hipertensi, edema, edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan (HKK) penyakit jantung sebelumnya )
b.      Integritas ego: adanya ansietas sedang
c.       Makanan atau cairan ketidak adekuatan atau pembuahan berat badan berlebihan
d.      Nyeri atau tidak kenyamanan: kontraksi intermitten sampai regular yang jarak jauhnya kurangdari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit
e.       Keamanan : infeksi mungkin ada (misal: infeksi salur kemih (ISK) dan atu infeksi vagina)
f.       Interaksi social: mungkin tergolong kelas social ekonomi rendah

4.      PEMERIKSAAN FISIK
Lakukan palpasi abdomen untuk menentukan volume cairan amnion. Apabila pecah ketuban pasti terdapat kemungkinan mendeteksi berkurangnya cairan karena terdapat peningkatan molase uterus dan dinding abdomen di deskitar janin dan penurunan kemampuan balotemen dibandingkan temuan pada pemeriksaan sebelum pecah ketuban. Ketuban yang pecah tidak menyebabkan perubahan yang seperti ini dalam temuan abdomen.

5.      PEMERIKSAAN SPEKULUM STERIL
a.       Inspeksi keberadaan tanda-tanda cairan di genetalia eksternal.
b.      Lihat serviks untuk mengetahui aliran cairan dari orifisium.
c.       Lihat adanya genangan cairan amnion di forniks vagina
d.      Jika anda tidak melihat cairan, minta wanita mengejan (perasat valsava). Secra bergantian, beri tekanan pada fundus perlahan-lahan atay naikkan dengan perlahan bagian presentasi pada abdomen untuk memungkinkan cairan melewati bagian presentasi presentasi pada kasus kebocoran berat sehingga anda dapat mengamati kebocoran cairan.
e.       Observasi cairan yang keluar untuk melihat lanugo atu verniks kaseosa jika usia kehamilan lebih dari 32 minggu.
f.       Visualisasi serviks untuk menentukan dilatasi jika pemeriksaan dalam tidak akan dilakukan.
g.      Visualisasi serviks untuk mendeteksi prolapse tali pusat atau ekstremitas janin.

6.      UJI LABORATORIUM
a.       Uji pakis positif: pemakisan (ferning), juga disebut percabangan halus (argorization), pada kaca objek (slide) mikroskop yang disebabkan keberadaan natrium klorida dan protein dalam cairan amnion (selama pemeriksaan steril, gunakan lidi kapas steril untuk mengumpulkan specimen, baik cairan dari forniks vagina posterior maupun cairan yang keluar dari orifisium serviks, tetapi hati-hati agar tidak menyentuh atau masuk ke orifisium karena lender serviks juga berbentuk pakis, walaupun dengan pola yang sedikit berbeda. Apus specimen pada kaca objek mikroskop dan biarkan seluruhnya kering minimal selama 10 menit. Inspeksi kaca objek dibawah mikroskop untuk memeriksa pola pakis.
b.      Uji kertas nitrazin positif: kertas bewarna mustard-emas yang sensitive terhadap pH ini akan berubah warna menjadi biru gelap jika kontak dengan bersiat basa. Nilai pH normal vagina adalah ≤4,5. Selama kehamilan terjadi peningkatan jumlah sekresi vagina akibat eksfoliasi epitelium dan bakteri, sebagian besar lactobacillus, yang menyebabkan ph vagina lebih asam. Cairan amnion memiliki pH 7,0 – 7,5 (letakkan sehelai kertas nitrazin pada lebih speculum setelah menarik speculum dari vagina ).
Uji pakis lebih dapat terpercaya daripada uji kertas nitrazin. Ini karena sejumlah bahan selain cairan amnion, memiliki pH yang lebih alkali, termasuk lender serviks, rabas vagina akibat vaginosis bacterial atau infeksi trikomonas, darahj, urine, semen, dan bubuk sarung tangan. Oleh sebab itu specimen yhang diambil langsung dari orifisium serviks dan kemudian dihapus pada kertas nitrazin dapat mengakibatkan perubahan warna yang positif-palsu.
c.       Specimen untuk kultur streptokokus grub B (grub B streptococcus, GBS ) : jika wanita ditapis umtuk GBS antara minggu ke 35 dan ke 37 gentasi dan hasil kultur negative dalam 5 minggu sebelumnya didokumentasikan, set specimen lainnya untuk kultur tidak diperlukan dan antibiotic provilaksis tidak dianjurkan. Jika kultur GBS tidak dilakukan atau hasilnya tidak diketahui dan kehamilan wanita telah cukup bulan, pengumpulan specimen untuk kultur GBS tidak di indikasikan, tetapi antibiotic provilaksis diberikan jika pecah ketuban berlangsung 18 jam atau lebih sebelum kelahiran atau wanita memiliki suhu tubuh ≥ 38ºC. jika kehamilan wanita kurang dari minggu ke 37 gertasi dan kultur GBS juga belum pernah dilakukan atau hasilnya belum diketahui, specimen vagina dan rectum harus diambil untuk kultur GBS, dan kecuali jika telah jelas bahwa persalinan dan kelahiran premature dapat dicegah, antibiotik mulai diberikan sampai hasil pemeriksaan diketahui.



B.  DIAGNOSA
Diagnosa KPD di tegagkan dengan cara:
1.      Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina atau mengeluarkan caioran yang banyak secara tiba – tiba dari jalan lahir atau nyepyok. Cairan berbau khas dan perlu juga di perhatikan warna, keluarnya cairan tersebut his  belum teratur atau belum ada pengeluaran lendir darah.
2.      Inspeksi
Pengamatan dengan mata akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
3.      Pemeriksaan dengan spekulum
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri ekternum ( OUE), kalau belum  juga tampak keluar fundus uteri di tekan, penderita di minta batuk, mengejan atau mendadak manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior
4.      Pemeriksaan dalam didapat cairan dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa bengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.

Diagnosa yang mungkin muncul pada ketuban pecah dini:
1.      Nyeri akut atau ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis, edema, atau pembesaran atau distensi, efek-efek hormonal
2.      Resiko tinggi infeksi maternal berhubungan dengan prosedur infasif, pemeriksaan vagina, berulang dan rupture membrane amniontic



C.  INTERVENSI
1.      Ganggu rasa nyaman Nyeri berhubungan dengan trauma mekanis, edema, atau pembesaran atau distensi, efek-efek hormonal
Tujuan             : mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi ketidaknyamanan.
Kriteria hasil    :  nyeri klien berkurang atau hilang.


INTERVENSI
RASIONAL
Tentukan adanya local dan sifat ketidaknyamanan
Mengidentifikasi kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat
Inspeksi perbaikan perineum dan epiostomi
Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan perineal dan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi atau intervensi lanjut
Berika kompres Es pada perineum, khususnya selama 24 jam pertama setelah kelahiran
Memberi anestesi local, meningktkan vasokonstriksi, dan mengurangi edema dan vasodilatasi
Berikan kompres panas lembab (misalnya rendam duduk )
Meningkatkan sirkulasi pada perineum, meningkatkan oksigenasi dan nutrisi pada jaringan atau menurunkan 9edema dan meningkatkan penyembuhan
Anjurkan duduk dengan otot gluteal berkontraksi di atas perbaikan episiotomy

Penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stress dan tekanan langsung pada perineum
Kolaborasi dalam pemberian obat analgesic 30-60 menit sebelum menyusui
Memberikan kenyamana, khususnya selama laktasi, bila after pain paling hebat karena pelepasan oksitosin

2.      Resiko tinggi infeksi maternal berhubungan dengan prosedur infasif, pemeriksaan vagina, berulang dan rupture membrane amniontic.
Tujuan             : setelah diberikan tinakan keperawatan diharapkan infeksi laternal tidak terjadi.
Kriteria Hasil   : tidak



INTERVENSI
RASIONAL
lakukan pemeriksaan vagina awal, ulangi bila pola kontraksi perilaku ibu menandakan kemajuan
Penggulangan pemeriksaan vagina  berperan dalam insiden infeksi saluran asendens
Pantau suhu, nadi, pernapasan dan sel darah putih sesuai indikasi
Dalam 4 jam setelah membrane rupture, insiden korioamnionnitis meningkat secara prekesif sesuai dengan waktu yang ditujukkan melalui ttv
Berikan antibiotic profilaktif bila diindikasikan
Antibiotic dapat melindungi perkembangan korikoamnionitis pada ibu beresiko
 pantau keadaan umum klien
untuk melihat perkembangan kesehatan klien
berikan lingkungan yang nyaman untuk klien
 agar istirahat klien terpenuhi
 berikan obat sesuai order dokter
 proses penyembuhan klien


3.      Kecemasan /Ansietas berhubungan dengan persalinan premature dan neonatus berpotensi lahir premature.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan ansietas pasien teratasi
kriteria hasil :
a.       Pasien tidak cemas lagi
b.      Pasien sudah mengetahui tentang penyakit

INTERVENSI
RASIONAL
Pantau TTV sesuai indikasi

Stres mengaktifkan sistem adrenokortikalhipofisis-hipotalamik, yang meningkatkan retensi dan resorbsi natrium klorida dan air dan meningkatkan eksresi kalium. Reresobsi natrium dan air dapat memperberat perkembangan toksemia intra partal atau hipertensi, kehilangan kalium dapat memperberat penurunan aktivitas miometrik.
Pantau pola kontraksi uterus, laporkan disfungsi persalinan
Pola konstraksi hipertonik atau hipotenik dapatterjadi bila stres menetap dan memperpanjang pelepasan katekolamin.
Berikan suasana yang tenang dan ajarkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional pasien
Untuk memberikan rasa nyaman dan menurunkan kecemasan pasien
tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan
Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan, masalah dan rasa takut
Stress, rasa takut dan ansietas mempunyai efek yang sangat dalam pada proses persalinan, sering memperlama fase pertama karena penggunaa cadangan glukosa menyebabkan keletihan epinefrin yang dilepaskan sdari stimulasi adrenal, yang menghambat aktivitas miometrial dan meningkatkan kadar norenepinefrin yang cenderung meningkatkan aktivitas uterus
Demonstrasikan metode persalinan dan relaksasi
Menurunkan stressor yang dapat memperberat ansietas, memberikan strategi koping
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan persalinan premature
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan pasien memahami pengetahuan tentang penyakitnya . dengan criteria hasil :
Kriteria Hasil :
a.       Pasien terlihat tidak bingung lagi.
b.      Pasien mengerti dan memahami tentang persalinan premature

INTERVENSI
RASIONAL
Berikan informasi tentang perawatan diri termasuk perawatan perineal dan hygine, perubahan fisiologis
Membantu mencegah infeksi, mempercepat pemulihan dan penyembuhan, dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik danemosional
Ajarkan tentang apa yang harus dilakukan jika tanda KPD muncul kembali.
Mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi yang bisa membahayakan ibu-janin.
Libatkan keluarga agar memantau kondisi pasien .
Untuk membantu merencanakan tindakan berikutnya
Kaji apa pasien tahu tentang  tanda-tanda dan gejala normal selama kehamilan.
Untuk mengetahui tentang pemahaman pasien untuk tindakan selanjutnya



No comments:

Post a Comment