Friday, June 19, 2020

Asuhan Keperawatan pada Anak Dengan Leukemia


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA


Definisi

v  Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001).
v  Leukemia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi & Rita Yuliani, 2001).
v  Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248 )
v  Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495)

Etiologi

Penyebab pasti dari leukemia belum diketahui, akan tetapi factor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, adalah :
·         Factor genetic
Virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (T cell Laukemis-Lhympoma Virus/HLTV)
·         Radiasi : lingkungan kerja, prenatal, pengobatan kanker sebelumnya
·         Obat-obatan imunosupresif, obat-obatan kardiogenik seperti diethylstilbestrol
·         Factor herediter, misalkan kembar monozigot
·         Kelainan kromosom misalkan pada Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom downs), Trisomi G (Sindrom Klenilfelter’s), Sindrom Fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia
·         Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalkan benzene) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia
·         Orang yang memiliki kelaiann genetic tertentu (misalkan sindrom down’s) juga lebih peka terhadap leukemia.

Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumualsi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga proliferasi di hati, limpa dan nodus limfe, dan invasi organ non hematologist, seperti meningens, traktus gastrointestinal, ginjal dan kulit.
Jenis Leukemia
  1. Leukemia Mielogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid : monosit, eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena. Insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
  1. Leukemia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam system keganasan sel stem myeloid. Namun lebih bayak sel normal disbanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu dibawah usia 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanda dan gejala bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai julah yang luar biasa, limpa membesar
  1. Laukemia Limfositik Akut (ALL)
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak disbanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 5 tahun ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immature berproliferasi dala sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal
  1. Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain

Insiden

ALL adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekwensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup rata-rata yang lebih rendah.
ANLL mencakup 15 % sampai 25 % kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti sindrom down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70 %). Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. 50 % anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan (Betz, Cecily L, 2002).

Manifestasi Klinis

Ø  Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot
Ø  Sirkulasi : palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membrane mukosa pucat, ptekie, memar tanpa sebab
Ø  Eliminasi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin
Ø  Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas
Ø  Nutrisi/cairan : anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB, disfagia
Ø  Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing, kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang
Ø  Nyeri : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri tulang, perilaku hati-hati, gelisah
Ø  Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas
Ø  Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe
Ø  Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia
Ø  Lymphadenopati
Ø  Hepatosplenomegali

Patofisiologi

  1. Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositopenia
  2. System retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan system pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi
  3. Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, system saraf pusat, gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang berdampak pada penurunan leukosit, aritrosit, factor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan
  4. Adanya infiltrasi pada ekstra meduler akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian
(Suriadi & Yuliani R, 2001)

Pemeriksaan laboratorium & Diagnostik

v  Hitung darah lengkap (CBC)
Anak dengan CBC < 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki prognosis paling baik. Jumlah leukosit > 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur
v  Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan system saraf pusat
v  Foto thorax untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum
v  Aspirasi sumsum tulang
Ditemukan 25 % sel blas memperkuat diagnosis
v  Pemindaian tulang atau survey kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang
v  Pemindaian hati, ginjal, limpa untuk mengkaji infiltrasi leukemik
v  Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan
(Betz, Cecily L, 2002)

Pemeriksaan penunjang :
·         Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik
·         Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100 ml
·         Retikulosit : jumlah biasanya rendah
·         Trombosit : sangat rendah (< 50.000/mm)
·         SDP : mungkin > 50.000/cm dengan peningkatan SDP immature
·         PTT : memanjang
·         LDH : mungkin meningkat
·         Asam urat serum : mungkin meningkat
·         Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
·         Copper serum : meningkat
·         Zink serum : menurun
·         Foto dada dan biopsy nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

Penatalaksanaan Medis

Protocol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak.
1.     Irradiasi cranial
2.     Pelaksanaan kemoterapi
Terdapat 3 fase pelaksanaan kemoterapi :
a.     Fase induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan.
Pada fase ini diberikan terapi kortikosteroid (prednisone), vincristin dan L-asparaginase. Fase ini dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5 %
b.     Fase profilaksis system saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocortisone melalui intrathecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi cranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan system saraf pusat
c.     Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sum-sum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.

Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah :
ü  Prednisone : antiinflamasi
ü  Vinkristin : antineoplastik
ü  Asparginase : menurunkan kadar asparagin (asam amino untuk pertumbuhan tumor)
ü  Metrotreksat : antimetabolit
ü  Merkaptopurin
ü  Sitarabin : menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik kronik akut
ü  Alopurinol
ü  Siklofosfamid : anti tumor kuat
ü  Daunorubisin : menghambat pembelahan sel selama pengobatan leukemia akut
(Betz, Cecily L, 2002)

ASUHAN KEPERAWATAN
1.   Pengkajian
·         Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya
·         Riwayat keluarga : adanya gagguan hematologist, adanya factor herediter (mis : kembar monozigot)
·         Kaji tanda-tanda anemia : pucat, kelemahan, sesak, nafas cepat
·         Kaji tanda-tanda leucopenia : demam, infeksi
·         Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechie, purpura, perdarahan membrane mukosa
·         Kaji tanda-tanda invasi ekstramedular : limfadenopati, hepatomegali, splenomegali
·         Kaji adanya pembesaran testis
·         Kaji adanya : hematuria, hipertensi, gagl ginjal, inflamasi sekitar rectal
·         Nyeri
(Suriadi, R & Rita Yuliani, 2001)

2.   Diagnosa Keperawatan
Menurut Wong, D.L (2004) diagnosa pada anak dengan leukemia adalah :
  1. Resiko infeksi b.d penurunan system pertahanan
  2. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan akibat anemia
  3. Resiko terhadap cedera : perdarahan b.d penurunan jumlah trombosit
  4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d mual & muntah
  5. Perubahan membrane mukosa mulut : stomatitis b.d efek samping kemoterapi
  6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, malaise, mual & muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
  7. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d efek fisiologis dari leukemia
  8. Kerusakan integritas kulit b.d pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas
  9. Gangguan citra tubuh b.d alopesia atau perubahan penampilan
  10. Perubahan proses keluarga b.d anak menderita leukemia
  11. Antisipasi berduka b.d perasaan potensial kehilangan anak

3.   Intervensi Keperawatan
Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi :
v  Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
v  Tempatkan anak dalam ruangan khusus
v  Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
v  Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
v  Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
v  Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
v  Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
v  Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi
v  Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
v  Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme
v  Berikan periode istirahat tanpa gangguan
v  Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
v  Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
v  Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh
v  Berikan antibiotik sesuai ketentuan
v  Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi :
v  Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dala aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
v  Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan
v  Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi
v  Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri

Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Intervensi :
v  Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada daerah ekimosis
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya anemia
v  Cegah ulserasi oral dan rektal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
v  Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
v  Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
v  Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
v  Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
v  Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan : - Tidak terjadi kekurangan volume cairan
 - Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Intervensi :
v  Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
v  Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
v  Kaji respon anak terhadap anti emetic
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil
v  Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
v  Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
v  Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional : untuk mempertahankan hidrasi

Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
Tujuan : pasien tidak mengalami mukositis oral
Intervensi
v  Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral
Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera
v  Hindari mengukur suhu oral
Rasional : untuk mencegah trauma
v  Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari yang dibalut kasa
Rasional : untuk menghindari trauma
v  Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan bikarbonat
Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan
v  Gunakan pelembab bibir
Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah pecah-pecah (fisura)
v  Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan kejang
v  Berikan diet cair, lembut dan lunak
Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak
v  Inspeksi mulut setiap hari
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
v  Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Rasional : untuk membantu melewati area nyeri
v  Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia
Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa
v  Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis
v  Berikan analgetik
Rasional : untuk mengendalikan nyeri

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
Tujuan : pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi :
v  Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
v  Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan unmtuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
v  Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas
Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
v  Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan
v  Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik
v  Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
v  Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal

Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
Tujuan : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak
Intervensi :
v  Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi
v  Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non invasif, alat akses vena
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
v  Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu pemberian atau obat
v  Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
v  Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas
Tujuan : pasien mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
v  Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal
Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi
v  Ubah posisi dengan sering
Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit
v  Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit
v  Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi
v  Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering
Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit
v  Dorong masukan kalori protein yang adekuat
Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negatif
v  Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi
Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan
Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif
Intervensi :
v  Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok
Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut
v  Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin atau dingin
Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut
v  Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih, pendek dan halus
Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial
v  Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda
Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru
v  Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin , misalnya wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang menarik
Rasional : untuk meningkatkan penampilan

Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia
Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan pengetahuan tentang prosedur diagnostik atau terapi
Intervensi :
v  Jelaskan alasan setiap prosedur yang akan dilakukan pda anak
Rasional : untuk meminimalkan kekhawatiran yang tidak perlu
v  Jadwalkan waktu agar keluarga dapat berkumpul tanpa gangguan dari staff
Rasional : untuk mendorong komunikasi dan ekspresi perasaan
v  Bantu keluarga merencanakan masa depan, khususnya dalam membantu anak menjalani kehidupan yang normal
Rasional : untuk meningkatkan perkembangan anak yang optimal
v  Dorong keluarga untuk mengespresikan perasaannya mengenai kehidupan anak sebelum diagnosa dan prospek anak untuk bertahan hidup
Rasional : memberikan kesempatan pada keluarga untuk menghadapi rasa takut secara realistis
v  Diskusikan bersama keluarga bagaimana mereka memberitahu anak tentang hasil tindakan dan kebutuhan terhadap pengobatan dan kemungkinan terapi tambahan
Rasional : untuk mempertahankan komunikasi yang terbuka dan jujur
v  Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada
Rasional : untuk mencegah bertambahnya rasa khawatiran keluarga

Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan anak
Tujuan : pasien atau keluarga menerima dan mengatasi kemungkinan kematian anak
Intervensi :
v  Kaji tahapan berduka terhadap anak dan keluarga
Rasional : pengetahuan tentang proses berduka memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami dan dapat membantu pasien dan keluarga lebih efektif menghadapi kondisinya
v  Berikan kontak yang konsisten pada keluarga
Rasional : untuk menetapkan hubungan saling percaya yang mendorong komunikasi
v  Bantu keluarga merencanakan perawatan anak, terutama pada tahap terminal
Rasional : untuk meyakinkan bahwa harapan mereka diimplementasikan
v  Fasilitasi anak untuk mengespresikan perasaannya melalui bermain
Rasional : memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami
5.Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil yang efektif. Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai (Wong. D.L.2004:hal.331).

6.Evaluasi
Menurut Wong. D.L, (2004 hal 596-610) hasil yang diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :
1.     Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
2.     Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
3.     Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
4.     Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan muntah
5.     Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa tidak nyaman
6.     Masukan nutrisi adekuat
7.     Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
8.     Kulit tetap bersih dan utuh
9.     Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan rambut, anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek kerontokan rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi, dan berpakaian menarik.
10.   Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya. Keluarga mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan meluangkan waktu bersama anak.
11.   Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak keperawatan, keluarga dan anak mendiskusikan rasa takut, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan mereka pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat dukungan yang adekuat.


No comments:

Post a Comment