Thursday, June 25, 2020

Candi Borobudur Indonesia, Candi Terbesar di Dunia


Candi Borobudur Indonesia, Candi Terbesar di  Dunia
Sumber: Riana, Deny.2008.Jelajah Sains Populer Keliling Dunia.Surabaya: CV Al Maktabah.

Borobudur adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di kawasan Magelang, Jawa Tengah. Lokasi Cnadi kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km sebelah barat laut Jogjakarta.
Candi Budha ini memiliki 1.460 relief dan 504 stupa Budha. Jutaan orang mendambakan untuk mengunjungi bangunan yang ermasuk dalam World Wonder Heritages dan kebanggan Bangsa Indonesia. Tidak mengherankan, sebab secara arsitektur Borobudur memang memikat hati.
Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, sejarahwan J.G. de Casparis dalam desertasinya untuk mendapatkan gelar doctor pada tahun 1950, memperkirakan bahwa pendiri Borobudur adalah raja dari Dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 Masehi. Beberapa pendapat juga menganggap Samaratungga adalah penganut agama Budha Mahayana.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawarhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu hamper seratus tahun.
Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti biara yang terletak di tempat tinggi. Pendapat lain mengatakan bahwa nama ini kemungkinan dari kata Sambharabhudara, yang artinya gunung (bhudara) di mana di lerengnya terletak teras-teras.
Memang banyak pendapat mengenai asal nama Borobudur. Misalnya, kata Borobudur berasal dari ucapan “para Budha” yang karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara. Dan ada pula penjalasan lain, dimana “bara” berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi” atau menginatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Borobudur berbentuk pundek berundak yang terdiri atas 10 tingkat. Tingginya 42 meter, sebelum direnovasi, dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Dari 10 tingkat tersebut, enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkat dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran, serta satu tingkat tertinggi berupa stupa Budha yang menghadap kea rah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai aliran Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bagian dasar Borobudur disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Bagian ini sebagian ebsar tertutup oleh tumpokan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat candi.
Empat lantai dengan dinding berelief diatas nya disebut Rupadhatu. Bagian yang lantainya berbentuk persegi ini melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu, namun masih terikat rupa dan bentuk. Di tingkat tersebut , patung Budha diletakkan terbuka, patung Budha terdapat pada ceruk dinding di atas selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkat ini dinamakan Aruphadhatu, yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud. Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkat ini melambangkan “alam atas”, dimanamanusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung Budha ditempatkan di dalam stupa yang ditutupi berlubang seperti dalam kurungan. Dari luar, patung itu tampak samar-samar.
Akhirnya, bagian paling atas disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam. Tingkat tertinggi yang mengambarkanketiadaan wujud dialmbangkan berupa stupa yang besar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Di beberapa tingkatan di pahat relief indah pada bagian dinding menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut jika kita berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Dalam reliefnya, Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan pertanian saat itu dan relief kapal layar memperlihatkan kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Borobudur tidak memiliki ruang pemujaan seperti candi lain, yang ada ialah lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong in idibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk pundek berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Dengan segala kehebatannya dan misteri yang ada, wajar apabila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, kita juga bisa berkeliling ke desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Kita juga bisa pergi ke puncak Watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas.

No comments:

Post a Comment