Tuesday, June 23, 2020

Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata (Kedokteran)


Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata (Kedokteran)
Sumber:
Prof. dr. Sidarta Ilyas, SpM. 2009.Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata.Jakarta: Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam ilmu Penyakit Mata, maka mata yang dapat dikatakan dalam keadaan darurat ialah bila terdapat keadaan dimana mata terancam akan kehilangan fungsi penglihatan atau akan terjadi kebutaan bila tidak dilakukan tindakan ataupun pengobatan secepatnya. Terancamnya mata untuk menjadi buta dapat diakibatkan oleh penyakit atau kelainan mata dan trauma mata. Biasanya penderita meminta pertolongan seorang dokter dengan keluhan-keluhan yang dapat memberikan pengarahan pada kemungkinan berat atau ringannya penderitaan si sakit. Keluhan yang biasa diberikan penderita dengan kelainan mata ialah mata merah, mata sakit, mata lelah, lihat ganda, tajam penglihatan menurun, pandangan tertutup, adanya kilatan lampu pada lapang pandang dan sakit kepala. Tidak semua mata yang merah akan terancam menjadi buta, demikian pula tidak semua penglihatan yang kurang berarti dalam keadaan darurat atau memerlukan tindakan cepat.
Bila kita berahadapan dengan seorang penderita untuk mengetahui keadaan matanya gawat atau tidak, maka diperlukan pemeriksaan yang mengarah pada setiap kemungkinan penyakit, seperti: Riwayat penyakit penderita yang sedang dan sudah diderita,  Pemeriksaaan fisik umum Pemeriksaan khusus mata

1.       Riwayat penyakit penderita yang sedang dan sudah diderita
Pada setiap penderta itu perlu diketahui: Usia penderita, riwayat pekerjaan penderita, penyakit lain yang sedang diderita, riwayat trauma sebelum atau sesudah ada keluhan, penyakit mata sebelumnya.
a.       Usia Penderita
Usia penderita patut diketahui dengan pasti apalagi bila kita ingin membuat laporan untuk riwayat penyakit seorang oenderita. Dikenal beberapa jenis penyakit yang terjadi pada usia tertentu seperti
i.                     Bayi baru lahir
Bayi baru lahir akan mempunyai kemungkinan untuk menderita satu jenis penyakit tertentu. Pada bayi yang baru lahir dapat terjadi kemungkinan infeksi pada saat berada pada jalan lahir. Infeksi inidapat mengenai mata yang mudah meradang seperti konjungtiva. Bila ibu yang melahirkan menderita gonoroe maka bayi ini akan mendapatkan blenore segera sesudah lahir. Infeksi ini dapat juga dalam bentuk lain bergantung pada penyakit jalan kelahiran ibu. Pada bayi kadang-kadang bercak putih pada mata atau yang disebut leukoria. Leukoria dapat disebabkan oleh beberapa penyakit yang perlu mendapatkan perawatan segera ataupun dapat menunggu sampai anak menjadi besar.
ii.                   Balita
Balita akan dapat menderita beberapa penyakit tertentu bergantung pada lingkunan atau kebiasannya, seperti kecelakaan akibat bermain dengan alat berbahaya, infeksi akibat lingkungan karena hygiene kurang dan kurangnya gizi terutama kekurangan vitamin A.
iii.                  Dewasa
Dewasa akan mempunyai risiko terhadap infeksi yang bertambah, demikian pula dengan infeksi mata. Infeksi di bagian tubuh lain dapat pula merupakan sumber infeksi terhadap mata. Pekerjaan penderita dewasa muda kan menambah risiko untuk terjadinya kelainan mata, terutama bilamana pekerjaan itu dapat mengakibatkan bahaya terhadap mata yang tidak dilindungi.
iv.                 Usia lanjut
Usia lanjut akibat mengalami beberapa penyakit yang lazim menyerang orang tua seperti glaucoma, serta proses degenerasi dengan penyulit-penyulitnya. Kita mengenal retinopatia diabetic, hipersensitif, dan sklerose pembuluh darah. Katarak terutama dikenal sebagai penyakit akibat ketuaan.
Melihat usia dan kemungkinan-kemungkinan penyakit yang terjadi kadang kita sudah mendapat dugaan kasus apa yang sedang kita hadapi.
Dikenal penyakit sebagai hal-hal yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit yang:
i.                     Dapat dicegah dan dapat diobati, seperti infeksi
ii.                   Dapat dicegah akan tetapi tidak dapat diobati, seperti kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan terutama akibat pekerjaan.
iii.                  Tidak bias dicegah akan tetapi dapat diobati, seperti katarak, glaucoma, retinopatia dan lain-lain
iv.                 Tidak dapat dicegah dan tidak dapat diobati seperti kelainan kongenital. Kelainan kongenital mata yang terburuk adalah tidak terdapatnya bola mata.
b.      Riwayat pekerjaan penderita
Pekerjaan perlu diketahui
i.                     Menghubungkan penyakit dengan sebab kecelakaan. Penyakit yang dihubungkan dengan pekerjaan dapat berupa trauma yang terjadi pada saat melakukan pekerjaan. Misalnya pekerja las atau pemanggangan akan mudah menderita kerusakan pada matanya akibat sinar ultra violet. Pada pekerja di gunung akan mudah mendapat cedera sinar matahari yang mengandung sinar inframerah. Pekerja tungku atau gas yang mudah terbakar akan mengalami luka bakar karena pekerjaan. Benda yang diketok akan dapat memancarkan pecahannya dan masuk atau mengenai mata.
ii.                   Memberikan perawatan pada matanya yang tidak akan mendapatkan hal-hal yang terburuk, karena lingkungan pekerjaan. Penderita yang menderita erosi kornea tertentu sangat berbahaya bila berada di lingkungan yang kotor tanpa menutup bola mata
c.       Penyakit lain yang sedang diderita
Bila sedang menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk maka infeksi yang terjadi di mata akan sukar sembuh. Penderita diabetes mellitus akan dapat juga menderita diabetic retinopati. Uveitis dapat disebabkan karena terdapatnya infeksi fokal di luar bola mata. Seorang sedang dalam keadaan sepsi akan mudah mengalami dolfalmitis akibat septicemia. Seorang dengan kelainan darah atau perdarahan akan memberikan gambaran atau keluhan tertentu pada penglihatan akibat gangguan fundus okuli.
d.      Riwayat trauma sebelum atau sesudah keluhan
Trauma tumpul dapat memberikan kerusakan pada seluruh lapis kelopak ataupun bola mata. Trauma tajam akan meberikan kerusakan tergantung pada ketajamannya selain kotornya benda yang menembus. Trauma sebelumnya dapat juga memberikan kelainan pada mata tersebut sebelum meminta pertolongan.
e.      Penyakit mata sebelumnya
Kadang-kadang dengan mengetahui riwayat penyakit mata sebelumnya akan menerangkan tambahan gejala penyakit yang diekluhkan penderita. Seorang yang pernah menderita hifemauveitis atau ulkus dengan perforasi akan mudah mendapat glaucoma. Glaukoma sekunder yang terjadi dapat dengan sudut yang tertutup ataupun dengan sudut yang terbuka.
2.       Pemeriksaan fisik umum:
Pemeriksaan fisik umum diperlukan untuk:
a.       Mengetahui kemungkinan keadaan umum yang dapat merupakan penyebab penyakit mata yang sedang diderita.
b.      Kemungkinan pemakaian obat yang akan memberikan akibat tertentu pada penderita. Garamisin dapat mengakibatkan sitotoksik pada ginjal. Demikian pula asetazolamid dapat memberikan gangguan pada keseimbangan elektrolit tubuh selain dapat membentuk batu ginjal.
3.       Pemeriksaan khusus mata
Pemeriksaan khusus mata meliputi semua hal pemeriksaan untuk memperkuat atau menegakkan diagnosis penyakit mata. Pemeriksaan mata meliputi hal berikut: pemeriksaan tajam penglihatan, pemeriksaan gerakan bola mata, pemeriksaan susunan mata luar dan system lakrimal, pemeriksaan pupul, pemeriksaan funduskopi, pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan lapang pandang.
a.       Pemeriksaan penglihatan tajam
Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan yang terpenting pada mata. Pemeriksaan ini berguna untuk:
i.                     Mengetahui apakah ada akibat kelainan mata terhadap tajam penglihatan. Bila terdapat gangguan tajam penglihatan berarti telah terjadi gangguan pada media penglihatan oleh penyakit atau kelainan tersebut. Untuk akibat ini sebaiknya diselidiki apakah terdapat kelainan pada kornea, cairan mata, lensa dan badan kaca ataupun  macula lutea.
ii.                   Mengontrol pemeriksaan mata dengan pemeriksaan berulang dapat diketahui kemajuan atau kemunduran perawatan yang diberikan. Pencatatan terhadap tajam penglihatan perlu untuk dapat mempertanggungjawabkan tindakan yang diberikan. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan rutin pada setiap penderita yang dapat dilaksanakan secara subjektif maupun objektif. Pemeriksaan kemampuan melihat dekat tidak penting dilakukan pada penderita yang meminta pertolongan darurat; pada pemeriksaan ini yang diperiksa terutama kemampuan melihat dekat atau akomodasi. Gangguan penglihatan mendadak yang berat terjadi pada keadaan: ateritiris temporal, oklusi arteri retina sentral, neuritis optic, perdarahan badan kaca dan retina, glaucoma akut kongestif, trauma saraf optic, keracunan obat atau alcohol, ablasi retina, trauma kepala.
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan kartu pemeriksaan tajam penglihatan jauh (optotip Snellen). Bila tidak dapat dengan cara ini karena tajam penglihatan sangat menurun maka dilakukan pemeriksaan hitungan jari. Pada keadaan tertentu tajam penglihatan demikian buruk sampai hanya dapat mengenai arah datagnya sinar saja atau buta sama sekali.
b.      Pemeriksaan gerakan bola mata
Bola mata digerakkan oleh 6 buah otot penggerak mata. Keenam otot ini juga menentukan kedudukan bola mata. Kedudukan bola mata dapat dilihat bila kedua mata dibuka dan dibandingkan letak antara kedua mata. Kedudukan bola mata dapat eksotropia atau juling ke luar atau esotropia (juling ke dalam). Kadang-kadang dapat dilihat kedudukan satu mata lebih rendah daripada yang lainnya. Kelainan tersebut merupakan gangguan keseimbangan otot penggerak mata.
Pada kelumpuhan saraf penggerak mata, bila dilakukan pemeriksaan terhadap gerakan bola mata akan terlihat otto yang sukar dan tidak dapat digerakkan karena sarafnya lumpuh. Saraf otot mata luar adalah saraf ke III, IV dan VI. Setiap saraf penggerak mata memberikan persarafan pada otot tertentu. Saraf ke III mempersarafi rektus, rektus inferior, rektus superior dan otot oblik inferior. Saraf troklear atau ke IV mempersarafi oblik superior. Saraf abdusen atau saraf ke VI mempersarafi rektus lateral. Bila terjadi gangguan saraf ini maka akan berakibat gangguan pada fungsi otot penggerak bola mata. Kelainan pada saraf ini dapat diakibatkan oleh tumor, trauma ataupun radang. Kadang-kadang terdapat kerusakan pada ketiga saraf tersebut sekaligus. Keadaan ini dapat terjadi bila proses kelainan terdapat pada daerah di mana ketiga saraf ini masih saling berdekatan. Saraf ini saling berdekatan pada tempat masuknya ke dalam rongga orbita, yaitu fisura orbita superior. Oleh karena itu bila kelainan ini ditemukan bersamaan, disebut sebagai sindrom fisura orbita superior.
Bilakeddukan mata normal dan berfiksasi dengan macula lutea dan dilakukan tes sinar akan terlihat letak sinar pada kedua kornea di tengah. Bila satu mata juling ke dalam maka reflek sinar pada mata ini akan terletak di luar bagian tengah pupil. Seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengalami juling sedang ia berfiksasi dengan macula dan pada satu saat kedudukan mata tidak normal maka ia akan melihat gangguan (diplopia) akibat sinar tidak difokuskan di macula lutea pada saat yang bersamaan.
c.       Pemeriksaan susunan mata luar dan system lakrimal
Untuk memperoleh gambaran yang tepat pada kelainan mata maka diperlukan pemeriksaan yang sistematis. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan dengan Loupe dan sentelop. Pemeriksaan dimulai dari kelopak mata, system lakrimal, konjungtiva tarsial, konjungtiva bulbi, kornea, bilik mata depan, iris, lensa dan pupil. Untuk pemeriksaan system eksresi lakrimal yang memberikan keluhan epifora perlu dilakukan tes anel.
Sudut bilik mata perlu pemeriksaan perinci untuk mengetahui apakah glaucoma primer atau sekunder dengan pemeriksaan ginioskopi. Pada glaucoma primer pemeriksaan gonioskopi dilakukan untuk menentukan sudut terbuka atau sempit. Glaucoma dengan sudut sempit memerlukan tindakan pembedahan, sedangkan glaucoma sudut terbuka sedapat mungkin tekanan bola mata dikontrol dengan obat-obatan.
d.      Pemeriksaan pupil
Bila kita melihat pupil dalam ukuran yang normal dan reaksi terhadap sinar baik, maka tidak terdapat keadaan yang patologis pada mata tersebut bila terlihat satu pupil lebih besar daripada yang lain, maka ini mungkin akibat lumpuhnya saraf ke III yang mempertahankan miosis. Hal ini juga dapat disebabkan karena tajam penglihatan pada mata tersebut sudah sangat menurun sehingga terjadi gangguan mata untuk miosis. Pupil yang kecil pada satu mata dapat merupakan petunjuk terdapatnya kelumpuhan saraf simpatik atau bertambahnya rangsangan parasimpatis yang berlebihan.
Untuk mengetahui fungsi saraf parasimpatis pada pupil dan terdapatnya gangguan penglihatan dapat dilakukan pemeriksaan reflex atau reaksi pupil terhadap sinar direk dan indirek. Pada pemeriksaan reflex sinar langsung maka berkas sinar dimasukkan pada satu mata dan dilihat keadaan pupil. Bila pupil mengecil, maka ini berarti fungsi saraf optic dan saraf parasimpatis saraf ke III normal. Pada reflex tidak langsung mata yang tidak disinari keadaan pupilnya. Bila mengecil berarti saraf optic mata yang disinari baik dan saraf parasimpatis pupil mata angtidak disinari juga baik. Bila mata yang tidak disinari tidak mengecil pada saraf mata sebelahnya disinari, berarti saraf optic mata yang disinari mungkin rusak atau ada kelainan pada saraf parasimpatis mata yang tidak disnari. Bermacam kelainan mata local memberikan kelainan pupil. Pupil dapat melebar atau mengecil pada kelainan-kelainan mata local.
e.      Pemeriksaan Funduskopi
Pemeriksaan funduskopi diperlukan terutama bila terdapat gangguan penglihatan trauma kelainan segmen anterior sebagai penyebab. Pemeriksaan fundus pada orang dengan usia lanjut penting, karena sering terlihat kelainan akibat ketuaan yang jelas pada retina. Diabetes mellitus, hipertensi, kelainan ginjal dan lainnya sangat mudah terlihat pada pemeriksaan funduskopi ini bila telah terjadi retinopatia. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan oftalmoskop dapat direk atau indirek. Pemeriksaan dengan goniolens kadang-kadang juga menolong untuk membantu pemeriksaan retina perifer.
f.        Pemeriksaan tekanan bola mata
Untuk mengetahui keadaan bola mata dapat dibantu dengan pemeriksaan tekanan bola mata. Tekanan bola mata yang rendah akan mengakibatkan berlanjutnya degenerasi bola mata atau menunjukkan terjadinya kerusakan badan siliar yang berat. Sedangkan bila terjadi peninggian tekanan bola mata ini berarti adanya glaucoma yang dapat mengakibatkan kerusakan berat pada saraf mata. Kedua keadaan ini akan mengakibatkan kebutaan.
Pemeriksaan tekanan bola mata dapat dilakukan dengan:
i.                     Ujung jari di mana bola mata diperiksa secara subjektif dengan pemeriksaan perabaan. Diperlukan pengalaman pemeriksaan yang baik untuk penilaian ini. Biasanya pemeriksa hanya akan merasakan tekanan yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada normal.
ii.                   Tonometer Schiotz, dengan alat ini pemeriksaan lebih objektif dengan tekanan bola mata diukur dalam mmHg. Tekanan bola mata normal adalah 14-20 mg.
iii.                  Tonometer aplanasi, dengan tonometer ini factor kekakuan bola mata dihindarkan sehingga pengukuran lebih tepat untuk menilai tekanan intraocular.
g.       Pemeriksaan lapang pandang
Pemeriksaan kampimeter adalah pemeriksaan yang diperlu dilakukan pada penderita terutama bila diketahui mata yang diderita dapat mengakibatkan perubahan kampus. Pemeriksaan ini juga melihat progresivitas daripada penyakit tertentu.
Pemeriksaan lapang pandang dapat dilakukan dengan:
                           i.            Pemeriksaan konfrontasi, yaitu pemeriksaan yang membandingkan lapang pandang pemeriksa dengan penderita. Pemeriksaan ini agak terlalu kasar. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada penderita yang tidak dapat dilakukan pemeriksaan dengan duduk.
                         ii.            Pemeriksaan perimeter (Goldman). Pada pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan bermacam besar objek sehingga ketelitian lebih tinggi.
                        iii.            Pemeriksaan tangen screen. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memperhatikan kemampuan melihat sinar retina perifer.
Lapang pandangan normal seseorang adalah:
90 derajat temporal
50 derajat atas
50 derajat nasal
65 derajat bawah.


No comments:

Post a Comment