Friday, June 19, 2020

Asuhan Keperawatan Anak pada Child Abuse


Asuhan Keperawatan Anak pada Child Abuse



I.            DEFINISI
Child Abuse adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang memiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat di percaya, misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.
Child abuse adalah suatu kelalaian tindakan atau perbuatan orangtua atau orang yang merawat anak yang mengakibatkan anak menjadi terganggu mental maupun fisik, perkembangan emosional, dan perkembangan anak secara umum.
Sementara menurut U.S Departement of Health, Education and Wolfare memberikan definisi Child abuse sebagai kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak dibawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga keselamatan dan kesejahteraan anak terancam
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Child abuse atau perlakuan yang salah terhadap anak didefinisikan sebagai segala perlakuan buruk terhadap anak ataupun adolesens oleh orang tua, wali, atau orang lain yang seharusnya memelihara, menjaga, dan merawat mereka.
II.         HAK-HAK ANAK
A.   Hak pendidikan
1.     Hak untuk mendapatkan kemudahan akses pendidikan yang berkualitas, bebas dan pendidikan dasar wajib.
2.    Tidak adanya diskriminasi dalam mendapatkan akses pendidikan (kesenjangan gender)
3.    Hak untuk mengikuti segala kegiatan rekreasi dan kebudayaan
B.    Hak Kesehatan
1.     Hak untuk mendapatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas
2.    Hak perlakuan khusus bagi anak penyandang cacat
3.    Hak mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja
4.    Hak untuk memperoleh keuntungan dari jaminan social
5.    Hak untuk mendapatkan jaminan kehidupan yang layak
C.    Hak Perlindungan Khusus
1.     Perlindungan terhadap semua bentuk eksploitasi (ekonomi, seksual)
2.    Hak mendapatkan perlindungaan dari kekerasan fisik terhadap anak (fisik, psikologi, seksual)
3.    Perlindungan terhindar dari mutilasi genital (kebiri) dan pernikahan dini
4.    Penyiksaan dan perampasan kebebasan untuk remaja dalam konflik dengan hokum
5.    Pekerjaan yang berbahaya
6.    Merokok, penyalahgunaan zat, dan perdagangan
7.    Anak jalanan.

III.      KLASIFIKASI
Terdapat dua golongan besar, yaitu:
A.   Di dalam Keluarga
1.     Penganiayaan
a.    Penganiayaan fisik, non Accidental “injury” mulai dari ringan “bruiser laserasi” sampai pada trauma neurologik yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.
b.    Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain.
c.    Penganiayaan seksual
Penganiayaan seksual mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan seksual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti: aktivitas seksual (oral genital, genital, anal, atau sodomi) termasuk incest.
2.    Penelantaran anak/kelalaian
Penelantantaran anak/kelalaian, yaitu: kegiatan atau behavior yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan psikologisnya.
Kelalaian ini dapat berupa :
a.    Pemeliharaan yang kurang memadai. Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan
b.    Pengawasan yang kurang memadai. Menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa.
c.    Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
d.    Kegagalan dalam merawat anak dengan baik
e.    Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak agar mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

B.    Di luar Rumah
Dalam institusi/ lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan perang.

Macam – macam Child Abuse :
1.      Emotional Abuse,
Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror, mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akan menyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.
Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan. Indikator perilaku  kelainan kebiasaan ( menghisap, mengigit, atau memukul-mukul ).
2.      Physical Abuse
Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupa luka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan.
Indikator fisik – luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut, cakaran. Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku ekstrem seerti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulang ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.
Gambaran kekerasan fisik pada anak.
Ø  Bite MarkHuman bites
-      Strongly suggest abuse
-      Easily overlooked
-      Location of bite marks on infants differ
from sites on older children

Ø  Bruises
-      Generally speaking:
o   fresh injury is red to blue
o   1-3 days deep black or purple
o   3-6 days color changes to green and then brown
o   6-15 days: green to tan to yellow to faded, then disappears
-      The younger the child the quicker the color resolves.

Hand print Mongolian Spots Braided belt-arm
Face slap-lineart
Looped cord-photo Loop cord-lineart
 
















Ø  Burn
Car cig burn-photo Iron to face&shoulder Iron To Torso
 






cig 2year hand Bilateral Foot Lesions Cupping
 







Ø  Fx in multiple stages of healing xraySpiral fx lineart&xraySuspicious Fracture








Ø  Skull fx xrayFalls
-      In most cases, falls cause a minor injury.
-      If a child is reported to have had a routine
fall but has what appear to be severe injuries,
the inconsistency of the history with the injury
indicates child abuse
Ø  Head, Facial Oral Injuries
-      Head is a common area of injury.
-      Approx. 50 % of physical abuse patients have head or facial injuries.
-      Injuries to the sides of the face, ears, cheeks, and temple area are highly suspicious for abuse.
-      Mouth/lip/teeth injuries
Oral trauma Bruise behind ear
 







3.      Neglect
Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, seperti tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya.
Indikator fisik–kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk, kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.
Indikator kebiasaan. Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai ( pada musim dingin ), ditinggalkan.
4.      Sexual Abuse
Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografi anak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak. Indikator fisik , kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda atau darah di baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area genital / rektal, berpenyakit kelamin.
Indikator kebiasaan pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang tidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergaul dengan teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif / berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah, gangguan tidur, perilaku regressif ( misal: ngompol ).
Ø  Perilaku Seksual yang Menyimpang:
a)    Homoseksual/ Lesbian
Homoseksual adalah aktivitas seks yang terjadi akibat perubahan orientasi pasangan seks, pelakunya disebut gay atau homo untuk pria. Lesbian adalah untuk penyuka sesame jenis wanita.
b)   Sadomasokisme
Aktifitas ini adalah salah satu jenis penyimpangan seks yang sangat berbahaya sebab jika dilakukan secara ekstrim dapat menyebabkan kematian seks diperoleh dengan cara menyiksa partner seks terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan intim. Semakin keras rasa sakit yang ditimbulkan maka pelaku akan semakin terangsang. Sedangkan masokisme adalah perilaku menyimpang dimana penderita merasa puas jika disiksa atau disakiti selama melakukan hubungan intim
c)    Eksibhisionisme
Ekshibisionisme adalah perilaku seks menyimpang dimana pelakunya akan memperoleh kenikmatan dengan cara memperlihatkan organ seksnya kepada orang lain. Objek yang kaget, takut, malu dan menjerit akan semakin membuat pelaku terangsang. Meski penyimpangan seks ini sebagian besar diidap kaum pria, namun banyak juga wanita yang senang mempertontonkan anggota tubuh vitalnya kepada orang lain di depan public atau melalui media social seperti facebook ataupun twitter.
d)   Voyeurisme
Voyeurisme adalah perilaku seks menyimpang dimana pelakunya memperoleh kepuasan seks dengan cara mengintip orang lain yang sedang telanjang, mandi ataupun saat berhubungan seks. Pelaku umumnya tidak akan melakukan kekerasan fisik pada korban, hanya mengintip atau melakukan masturbasi setelah atau selama mengintip.
e)   Fethisisme
Aktivitas fethishisme disebut aneh karena pelaku hanya bisa menyalurkan hasrat seksnya terhadap benda-benda tertentu seperti BH, celana dalam, kaos kaki atau benda lain. Pelaku akan melakukan masturbasi hanya dengan memegang objek tersebut sambil membayangkan bersetubuh dengan objek tersebut.
f)    Pedophilia
Pedophilia bukan hanya penyimpangan seks tetapi juga pelanggaran hokum yang sangat fatal. Pedophilia adalah ketertarikan melakukan aktivitas seks terhadap anak kecil di bawah umur. Pelaku sebagian besar adalah orang dekat korban seperti keluarga ataupun tetangga.
g)   Bestially
Bestially adalah perilaku seks menyimpang dimana penderita memiliki ketertarikan melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kuda, anjing, ayam, ular, dan lain-lain.
h)   Incest
Incest adalah hubungan intim yang dilakukan terhadap sesama anggota keluarga seperti antara anak dengan ayah atau ibu, paman dengan keponakan, antara sepupu atau antara saudara dengan saudara. Hubungan rahasia ini biasanya tersembunyi sangat rapat dan sangat jarang diketahui atau terbongkar.
i)     Necrophilia
Adalah jenis penyimpangan seks dimana pelaku melakukan hubungan seks dengan mayat. Umumnya pelaku adalah pria yang mengalami gangguan perilaku dan keterhambatan social dan menjadikan mayat yang tidak berdaya sebagai objek.
j)    Frotteurisme
Di Jepang disebut dengan istilah Chikan, dimana seseorang mendapatkan kepuasan seks dengan cara menggosok-gosokkan alat kelaminnya ke tubuh wanita di tempat umum seperti di kereta, bis, atau di tempat keramaian lainnya.
k)   Nymphomania
Adalah perilaku seks yang menyimpang dimana pelakunya memiliki gairah seks yang tinggi dan sulit dibendung.

IV.  ETIOLOGI
Menurut Helfer dan Kempe dalam Pillitery ada 3 faktor yang menyebabkan child abuse, yaitu:
1.      Orang tua memiliki potensi untuk melukai anak-anak. Orang tua yang memiliki kelainan mental, atau kurang kontrol diri daripada orang lain, atau orang tua tidak memahami tumbuh kembang anak, sehingga mereka memiliki harapan yang tidak sesuai dengan keadaan anak. Dapat juga orang tua terisolasi dari keluarga yang lain, bisa isolasi sosial atau karena letak rumah yang saling berjauhan dari rumah lain, sehingga tidak ada orang lain yang dapat memberikan support kepadanya.
2.      Menurut pandangan orang tua anak terlihat berbeda dari anak lain. Hal ini dapat terjadi pada anak yang tidak diinginkan atau anak yang tidak direncanakan, anak yang cacat, hiperaktif, cengeng, anak dari orang lain yang tidak disukai, misalnya anak mantan suami/istri, anak tiri, serta anak dengan berat lahir rendah (BBLR). Pada anak BBLR saat bayi dilahirkan, mereka harus berpisah untuk beberapa lama, padahal pada beberapa hari inilah normal bonding akan terjalin.
3.      Adanya kejadian khusus : Stress. Stressor yang terjadi bisa jadi tidak terlalu berpengaruh jika hal tersebut terjadi pada orang lain. Kejadian yag sering terjadi misalnya adanya tagihan, kehilangan pekerjaan, adanya anak yang sakit, adanya tagihan, dll. Kejadian tersebut akan membawa pengaruh yang lebih besar bila tidak ada orang lain yang menguatkan dirinya di sekitarnya Karena stress dapat terjadi pada siapa saja, baik yang mempunyai tingkat sosial ekonomi yag tinggi maupun rendah, maka child abuse dapat terjadi pada semua tingkatan.
Menurut Rusel dan Margolin, wanita lebih banyak melakukan kekerasan pada anak, karena wanita merupakan pemberi perawatan anak yang utama. Sedangkan laki-laki lebih banyak melakukan sex abuse, ayah tiri mempunyai kemungkinan 5 sampai 8 kali lebih besar untuk melakukannya daripada ayah kandung (Smith dan Maurer).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis, diantaranya adalah:
1.      Stress yang berasal dari anak.
a.       Fisik berbeda, yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi fisik anak berbeda dengan anak yang lainnya. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna.
b.      Mental berbeda, yaitu anak mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah pada perkembangan dan sulit berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
c.       Temperamen berbeda, anak dengan temperamen yang lemah cenderung mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen lemah.
d.      Tingkah laku berbeda, yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh di dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.
e.       Anak angkat, anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orangtua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil perkawinan sendiri, sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosional yang kuat antara anak angkat dan orang tua.
2.      Stress keluarga
a.    Kemiskinan dan pengangguran, kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak, sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. Sehingga apapun akan dilakukan oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus mengorbankan keluarga.
b.     Mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai, ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak.
c.    Perceraian, perceraian mengakibatkan stress pada anak, sebab anak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua.
d.    Anak yang tidak diharapkan, hal ini juga akan mengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik, lemah mental, dsb.
3.      Stress berasal dari orang tua,
a.     Rendah diri, anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebab anak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.
b.    Waktu kecil mendapat perlakuan salah, orangtua yang mengalami perlakuan salah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya.
c.     Harapan pada anak yang tidak realistis, harapan yang tidak realistis akan membuat orangtua mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi memenuhi kebutuhan anak, orangtua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.

V.            DAMPAK
Moore (dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.
Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh ibunya.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak
(child abuse), antara lain;
a.    Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia;
b.    Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri;
c.    Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991);
d.    Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak,  Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
e.    Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

VI.         MANIFESTASI KLINIS
Akibat pada fisik anak, antara lain: Lecet, hematom, luka bekas gigitan, luka bakar, patah tulang, perdarahan retinaakibat dari adanya subdural hematom dan adanya kerusakan organ dalam lainnya. Sekuel/cacat sebagai akibat trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, kerusakan mata dan cacat lainnya. Kematian.
Akibat pada tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu:
1.      Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak2 sebayanya yang tidak  mendaapat perlakuan salah.
2.    Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan, yaitu:
a)      Kecerdasan
a.   Berbagai penelitian melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca, dan motorik.
b.  Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena malnutrisi.
c.  Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi.
b)      Emosi
a.  Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan kosnep diri yang positif, atau bermusuh dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan sosial dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.
b.  Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, sedang yang lainnya menjadi menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol, hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, tempretantrum, dsb.
c)    Konsep diri
Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak dikehendaki, muram, dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan ada yang mencoba bunuh diri.
d)    Agresif
Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresifterhadap teman sebayanya. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orangtua mereka atau mengalihkan perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri.
e)    Hubungan social
Pada anak sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa. Mereka mempunyai sedikit teman dan suka mengganggu orang dewasa, misalnya dengan melempari batu atau perbuatan2 kriminal lainnya.
f)    Akibat dari penganiayaan seksual
Tanda-tanda penganiayaan seksual antara lain:
a. Tanda akibat trauma atau infeksi lokal, misalnya nyeri perianal, sekret vagina, dan perdarahan anus.
b. Tanda gangguan emosi, misalnya konsentrasi berkurang, enuresis, enkopresis, anoreksia, atau perubahan tingkah laku.
c.  Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Pemeriksaan alat kelamin dilakuak dengan memperhatikan vulva, himen, dan anus anak.

VII.      MEKANISME KOPING
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien untuk melindungi diri antara lain :
1.      Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2.      Proyeksi :Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
3.      Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
4.      Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
5.      Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.



KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN
Perawat seringkali menjadi orang yang pertamakali menemui adanya tanda kekerasan pada anak (lihat indicator fisik dan kebiasaan pada macam-macam child abuse di atas). Saat abuse terjadi, penting bagi perawat untuk mendapatkan seluruh gambarannya, bicaralah dahulu dengan orang tua tanpa disertai anak, kemudian menginterview anak.
1.   Identifikasi orang tua yang memiliki anak yang ditempatkan di rumah orang lain atau saudaranya untuk beberapa waktu.
2.  Identifikasi adanya riwayat abuse pada orang tua di masa lalu, depresi, atau masalah psikiatrik.
3.   Identifikasi situasi krisis yang dapat menimbulkan abuse
4.  Identifikasi bayi atau anak yang memerlukan perawatan dengan ketergantungan tinggi (seperti prematur, bayi berat lahir rendah, intoleransi makanan, ketidakmampuan perkembangan, hiperaktif, dan gangguan kurang perhatian)
5.  Monitor reaksi orang tua observasi adanya rasa jijik, takut atau kecewa dengan jenis kelamin anak yang dilahirkan.
6.   Kaji pengetahuan orang tua tentang kebutuhan dasar anak dan perawatan anak.
7.   Kaji respon psikologis pada trauma
8.   Kaji keadekuatan dan adanya support system
9.   Situasi Keluarga.
 Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse, antara lain:
1)      Psikososial
    Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau
    Gagal tumbuh dengan baik
    Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor, dan psikososial
    With drawl (memisahkan diri) dari orang-orang dewasa
2)       Muskuloskeletal
    Fraktur
    Dislokasi
    Keseleo (sprain)
3)        Genito Urinaria
    Infeksi saluran kemih
    Perdarahan per vagina
    Luka pada vagina/penis
    Nyeri waktu miksi
    Laserasi pada organ genetalia eksternal, vagina, dan anus.
4)        Integumen
    Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok)
    Luka bakar pada kulit, memar dan abrasi
    Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan
    Bengkak.



Evaluasi diagnostik
Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap, dan laboratorium.
a)      Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
1)      Penganiayaan fisik. Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:
       Luka memar, terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau punggung.
       Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok, pencelupan kaki-tangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong. Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika.
       Trauma kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial, perdarahan retina, dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda.
       Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atas usia 2 tahun.
2)      Pengabaian
      Pengabaian non organic failure to thrive, yaitu suatu kondisi yang mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan anak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan kebutuhan emosi anak.
       Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai pada anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit kronik. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya. Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat kesehatan gigi dan mulut anak sehingga.
3)      Penganiayaan seksual. Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:
       Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina.
       Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.
       Pubertas prematur pada wanita
       Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman sebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan pengetahuan seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.
       Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan takut pada orang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri, rendah diri, depresi, gangguan stres post-traumatik, prostitusi, gangguan makan, dsb.
b)      Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakuak skrining perdarahan. Pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan:
       Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.
       Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus
       Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B
       Analisa rambut pubis
c)      Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak, yaitu untuk identifiaksi fokus dari jejas, dokumentasi,
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan fisik.
       CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat.
       MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.
       Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral
       Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.


B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.      Perilaku kekerasan berhubungan dengan keluarga tidak harmonis ,harga diri rendah.
b.     Isolasi social berhubungan dengan koping keluarga inefektif, keluarga yang tidak harmonis.
c.      Koping keluarga inefektif berhubungan dengan keluarga tidak harmonis.
d.     Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.

C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
I.      Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan.
    Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain.
Kriteria hasil:
    Klien dapat membina hubungan saling percaya.
    Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.
    Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
    Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
    Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
    Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Intervensi :
1.      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2.      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien.
3.      Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif.
Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya.
4.      Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
5.      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan.
6.      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di rumah sakit.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan.
7.      Berikan pujian.
Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan.
8.      Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki.
9.      Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh.
Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan.
10.  Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik.
11.  Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih.
Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur.
12. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif.
13.  Beri pujian atas keberhasilan klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
14.  Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.

II.    Isolasi social berhubungan dengan perilaku kekerasan, keluarga yang tidak harmonis.
Tujuan
         Klien dapat menerima interaksi social terhadap individu lainya.
Kriteria hasil
         Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
         Klien dapat berkomunikasi dengan baik atau jelas dan terbuka.
         Klien dapat menggunakan koping yang konstruktif.
         Kecemasan klien telah berkurang.
Intervensi
1.      Psikoterapeutik.
a.     Bina hubungan saling percaya
       Buat kontrak dengan klien : memperkenalkan nama perawat dan waktu interaksi dan tujuan.
       Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukkan penghargaan yang tulus.
       Jelaskan kepada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
       Selalu memperhatikan  kebutuhan klien.
b.      Berkomunikasi dengan klien secara jelas dan terbuka
        Bicarakan dengan klien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana
       Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
       Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraannya dengan perawat.
       Tunjukkan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaanya
c.       Kenal dan dukung kelebihan klien
       Tunjukkan cara penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara menceritakan perasaanya  kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
       Bahas bersama klien tentang koping yang konstruktif
       Dukung koping klien yang konstruktif
       Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.
d.      Bantu klien mengurangi cemasnya ketika hubungan interpersonal
       Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
       Lakukan interaksi dengan klien  sesering mungkin.
       Temani klien beberapa saat dengan duduk disamping klien.
        Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap, dimulai dari klien dengan perawat, kemudian dengan dua perawat, kemudian ditambah dengan satu klien dan seterusnya.
        Libatkan klien dalam aktivitas kelompok.
2.      Pendidikan kesehatan
a.       Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan selain dengan kata-kata seperti dengan menulis, menangis, menggambar, berolah-raga, bermain musik, cara berhubungan dengan orang lain : keuntungan berhubungan dengan orang lain.
b.      Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
c.       Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.
d.      Anjurkan pada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam aktivitas dilingkungan masyarakat.
3.      Kegiatan hidup sehari-hari
a.    Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakannya sendiri.
b.      Bimbing klien berpakaian yang rapi
c.      Batasi kesempatan untuk tidur
d.     Sediakan sarana informasi dan hiburan seperti : majalah, surat kabar, radio dan televisi.
e.      Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.
4.      Lingkungan Terapeutik
a.       Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain dari ruangan.
b.      Cegah  agar klien tidak berada didalam ruangan yang sendiri dalam jangka waktu yang lama.
c.       Beri rangsangan sensori seperti : suara musik, gambar hiasan di ruangan.

III.    Koping keluarga inefektif berhubungan dengan keluarga tidak harmonis.
Tujuan
         Koping adatif dapat dilakukan dengan optimal.
Kriteria hasil
         Keluarga dapat mengenal masalah dalam keluarga dan menyelesaikannya dengan tindakan yang tepat.
Intervensi
1.     Identifikasi dengan keluarga tentang prilaku maladaptif .
Rasional : Keluarga mengenal dan mengungkapkan serta menerima perasaannya sehingga mempermudah pemberian asuhan kepada anak dengan benar.
2.     Beri reinforcement positif atas tindakan keluarga yang adaptif.
Rasional : Untuk memotivasi keluarga dalam mengasuh anak secara baik dan benar tanpa menghakimi dan menyalahkan anak atas keadaan yang buruk.
3.     Diskusikan dengan keluarga tentang tindakan yang semestinya terhadap anak.
Rasional : Memberikan gambaran tentang tindakan yang semestinya dapat dilaksanakan keluarga terhadap anak.
4.     Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya peran orang tua sebagai status pendukung dalam proses tumbuh kembang anak.
Rasional : Memberikan kejelasan dan memotivasi keluarga untuk meningkatkan peran sertanya dalam pengasuhan dan proses tumbuh kembang anaknya.
5.      Kolaborasi dalam pemberian pendidikan keluarga terhadap orang tua.
Rasional :Dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga ( orang tua ),tentang pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak,memiliki pengetahuan tentang metode pengasuhan yang baik,dan menanamkan kesadaran untuk menerima anaknya dalam keadaan apapun.

IV.       Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan
Tujuan.
         Klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan.
Kriteria hasil:
        Klien dapat membina hubungan saling percaya.
        Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
        Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
        Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan.
        Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
        Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif.
        Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.
        Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
        Klien dapat menggunakan obat yang benar.
Intervensi :
1.      Bina hubungan saling percaya. Salam terapeutik, perkenalan diri, beritahu tujuan interaksi, kontrak waktu yang tepat, ciptakan lingkungan yang aman dan tenang, observasi respon verbal dan non verbal, bersikap empati.
Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2.      Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya.
Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif.
3.      Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal
Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan.
4.      Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel.
Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang konstruktif pula.
5.      Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien.
Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi.
6.      Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien.
Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan.
7.      Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.
8.      Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya.
9.      Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.
Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya.
10.  Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien.
Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif.
11.  Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah.
12.  Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”.
Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif.
13.  Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat.
Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif, meningkatkan harga diri klien.
14.  Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal.
Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
Secara spiritual : anjurkan klien berdua, sembahyang, meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran.
Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien.
15.  Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.
Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
16.  Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih.
Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.
17.  Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut.
Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat.
18.  Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
19.  Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah.
Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi.
20.  Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.
Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien.
21.  Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien.


No comments:

Post a Comment