Friday, July 10, 2020

Etnomedisin, Pandangan Dunia dan Non Barat terhadap Bidang Kesehatan, di Sosiologi Kesehatan

Etnomedisin, Pandangan Dunia dan Non Barat terhadap Bidang Kesehatan, di Sosiologi Kesehatan
(Sumber/ Source: Mashudi, Sugeng.2012.Sosiologi Keperawatan.Jakarta:EGC.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
  1. Etnomedisin
Etnomedisin adalah sebuah kajian terhadap konsep budaya yang terkait dengan kesehata, penyakit, dan kesakitan, serta system pengobatan tradisional (Andrea Pieroni, Lisa Leimar, dan Price Ina Vandebroek, 2005) hanya sedikit pengetahuan yang dapat diambil pada masyarakat nonbarat terkait dengan penyebab suatu penyakit. Mereka menganggap bahwa seluruh system medis etnomedisin (penyebab, penyakit, perilaku yang berhubungan dengan keadaan sakit, serta pandangan terhadap penyakit) dapat dikelompokkan menjadi dua hal yaitu system medis personalistik dan system medis naturalistic.

  1. System medis personalistik
System medis personalistik merupakan suatu system yang menganggap bahwa semua penyakit yang disebabkan oleh berbagai macam agen aktif, dapat berupa supranatural (makhluk gaib, dewa), manusia (tukang tenung), dan bukan manusia (hantu, roh leluhur dan setan). Individu yang mengalami sakit adalah korban dari agen aktif tersebut.
Tidak semua penganut personalistik merupakan kelompok minoritas, terioslir, dan jauh dari peradapan modern. Studi yang dilakukan oleh Glick (1967) pada suku Gimi di dataran tinggi Nugini menyebutkan bahwa agen penyebab penyakit dapat berupa orang pintar atau bukan manusia yang senantiasa dipandang sebagai makhluk yang keras hati yang bertindak karena adanya respons terhadap motif pribadi yang disadari. Fortune (1932) suku Dobu Melanesia menganggap penyakit terjadi akibat dari rasa iri hati. Masyarakat Jawa mengakui bahwa terdapat penyakit yang disebabkan karena ahli tenung, yang bisa dilawan dengan ahli tenung yang lebih tinggi ilmunya atau dengan meminta orang suci atau ahli agama untuk menyembuhkan penyakitnya. Suku Maya di Amerika Tengah memiliki kalender astronomi yang sampai sekarang belum ada yang menandingi. Dengan ilmu astronomi yang mereka mewarisi dari nenek moyangnya, mereka mampu memprediksi terjadinya gerhana seribu tahun yang akan dating. Peradapan yang kompleks mereka miliki sejak ratusan tahun yang lalu, demikian juga suku di Afrika Barat, suku Aztek dan Inca memilik peradapan maju yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka.

  1. Sistem Medis Naturalistik
System medis naturalistic merupakan suatu system yang menganggap bahwa semua penyakit yang disebabkan oleh terganggunya system keseimbangan yang ada dalam tubuh. Individu yang sehat adalah individu yang memiliki keseimbangan tubuh seperti panas, dingin dan caran tubuh tidak mengalami gangguan. Komponen antara ying dan yang pada tubuh individu mengalami keseimbangan, menurut usia dan kondisi individu dalam lingkungan alamiah dan sosialnya. Apabila terjadi ketidakseimbangan pada system tubuh tersebut maka individu akan mengalami sakit.
System medis naturalistic modern hamper selalu sama antara satu dengan lainnya dalam hal historis. Pengetahuan mengenai perkembangan da asal usul system tersebut memungkinkan kita untuk mengetahui lebih banyak bentuk variasi modern dengan tingkat kejelasan tertentu.
Hamper di semua Negara terdapat berbagai macam system medis naturalistic. Negara satu dengan lainnya memiliki jenis yang berbeda. Terdapat tiga system medis naturalistic yang berkembang pesat saat ini, di antara adalah Ayuwerda dan pengobatan tradisional Cina (TCM)

  1. Bentuk Pengobatan Tradisional Peradapan Timur
  2. Pengobatan Ayuverda (Traditional Indian Medicine/ TIM)
Ayuverda atau Devanagari merupakan system pengobatan kuno masyarakat asli India. Saat ini, system pengobatan ini digunakan oleh jutaan orang di India, Nepal, dan Sri Lanka, dan memengaruhi pengobatan China dan Tbet. Kata “Ayurveda” tatpurusha merupakan gabungan dari kata ayus berarti “hidup”, “prinsip hidup”, atau “longlife” dan kata veda, yang merujuk pada suatu system “pengetahuan”. Jadi, “Ayuverda” dapat diterjemahkan sebagai “ilmu kehidupan”, atau “pengetahuan tentang kehidupan yang panjang”. Menurut Charaka Samhita, “hidup” itu sendiri didefinisikan sebagai kombinasi dari rasa, pikiran dan jiwa, factor yang bertanggung jawab untuk mencegah kerusakan da kematian.
Menurut perspektif ini, Ayuverda terkait dengan usaha untuk melindungi “ayus”, yang meliputi sehat sepanjang hayat dengan tindaka pengobatan yang holistic melibatkan fisik, mental, social da spiritual (Cooper, 2008).
Ayurveda menganggap bahwa alam semesta terdiri dari kombinasi dari lima elemen (pancha mahabhutas). Kelima elemen tersebut adalah akasha (eter), vayu (udara), teja (api), aap (air) dan perthvi (bumi). Kelima elemen tersebut ada di semua benda yang ada di alam semesta baik organic maupun an orgaik. Dalam system biologis, seperti manusia terdapat tiga elemen kode yang mengatur semua proses kehidupan. Ketiga memaksa (kapha, vata, dan pitta) yang dikenal sebaga tiga doshas atau tridosha. Doshas terdiri atas satu atau dua elemen. Vata terdri atas ruang dan udara, pitta api, dan kapha air dan bumi. Vata dosha memiliki mobilitas dan kecepatan dan ruang udara; pitta dosha yang metabolis kualitas api; kapha dosha dengan stabilitas dan kekuatan dari air dan bumi. Tridosha yang mengatur semua proses fisiologis dan psikologis pada makhluk hidup. Di antara mereka yang saling menentukan kualitas dan kondisi masing-masing. Ketiga elemen doshas menciptakan keseimbangan dan kesehatan, sebuah ketidakseimbangan, baik kelebihan (vriddhi) atau kekurangan (kshaya), dapat berfungsi sebagai penanda atau gejala suatu penyakit.
  1. Pengobatan tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine)
Pada masa kaisar Kuning, Huang Ti, pengobatan Cina Kuno sudah mulai dikenal, pengobatan tradisional China menjelaskan konsep sentral dalam kosmologi Cina, kekuata yin dan yang, interaksi yin dan yang berada di seluruh gejala alam, termasuk pembentukan da fungsi tubuh manusia. Keseimbangan antara yin dan yang ini sangat penting bagi tubuh manusia.
Masyarakat Cina menganggap yin dan yang sebagai unsure primordial alam semesta yang senantiasa berputar. Unsure “yang” yang mewakili unsure positif meliputi langit, matahari, api, panas, kering, cahaya, prinsip laki-laki, bagian luar, kanan, hidup, tinggi, keagungan baik, indah, kebajikan, aturan, kebahagian, dan kemiskinan. Perubahan pada kedua unsure ini diikuti dengan perubahan kondisi tubuh manusia.
Para ahli filsafat Cina mengakui adaya lima unsure yang terdiri atas api, kayu, logam, air da bumi. Kelima unsure tersebut erat kaitannya dengan kondisi fisiologis kesehatan manusia. Angka kelima sekaligus sebagai angka dasar bagi suatu system yang luas tentang keselarasan numeric, yang terintegrasi pada alam semesta, termasuk manusia. Berbagai musim, jumlah lubang pada kepala, berbagai organ tubuh, dan lainnya. Hubunga yang selaras antara manusia, alam semesta dan kesehatan juga ditemuka pada jumlah hari dalam setahun dan jumlah titik akupuntur, sejumlah 365.
Salah satu manfaat teknik akupunktur dalam terapi adalah menguragi nyeri. Namun, mekanisme neuronal pada terapi akupunktur sampai saat ini masih belum dipahami dan sangat sedikit informasi tentang Leung et al (2008) dengan menggunakan elecroacpuncture (EA) pada Tendinomuscular Meridians (TMM) memberikan manfaat mengurangi nyeri yang sementara. Namun, pengaruh dari lamanya terapi EA yang menimbulkan efek analgesic dalam pengobatan model khusus ini belum diketahui. Oleh karena itu, Leung mencoba meneliti pengaruh durasi electroacupuncture (EA) pada Tendinomuscular Meridians (TMM).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Leung (2008) menunjukkan durasi dari elektroakupunktur (EA) memberikan stimulasi berupa efek analgesic panas yang diukur dengan hot pain visual analog scale (HP Vas). Durasi yang lebih singkat dari EA, tidak memberikan efek analgesic. Sebaliknya durasi yang terlalu lama akan memberikan mekanisme panas pada kulit. Stimulasi EA selama 15 menit ternyata menghasilkan yang optimal.
Selain dapat mengurangi nyeri; teknik akupunktur dapat diberikan pada pasien hipertensi. Menurut Siswoyo dan Adi Kusuma (1981) teknik akupunktur mampu menurunkan tekanan darah secara stabil tapa efek samping dengan cara menusuk jarum halus pada titik Cu San Li, Tay Yen, Ran Kyu, Fung Ce, Sen Men (diutamakan titik yang diambila adalah Fung Ce). Teknik ini akan lebih efektif jika diikuti dengan menggunakan stimulasi elektroakupunktur energy listrik dengan panjang gelombang kurag dari 30 Hz (disperse wave), beras arus bolak-balik (alternating current) 0,2 miliamper dan besar tegangan 12 volt, durasi 20 menit dengan frekuensi intervensi 6 kali interval istirahat 2 hari pada titik permukaan tubuh. Sebelum dilakukan terapi akupunktur, klien perlu dipersiapkan dalam kondisi psikologi yang tenang sehingga tidak timbul stress yang dapat berpengaruh pada peningkatan tekanan darah melalui peningkatan hormone stress (ACTH, katekolamin, beta endorphin, kortisol).
Tabel: Perbedaan pengobatan tradisional Cina (TCM) dan pengobatan medis barat (Sumber: Robert Yuan da Yuan Lin, 2008)

Pengobatan barat
Pengobatan tradisional China (TCM)
Tubuh manusia
Struktur dan fungsi sel, jaringan dan organ tubuh
Holistic (bio-spiko-sosial-spiritual)
tujuan
Mengobati penyakit dan efeknya terhadap system tubuh
Memulihkan atau mengembalikan homeostatis tubuh; pencegahan sakit
terapi
Cepat, sangat efektif pada penyakit yang sifatnya akut
Bertahap, ditujukan pada penyakit yang sifatnya kronis
Klien
Dianggap sebagai satu kelompok perawatan
Sesuai kebutuhan perawatan
Dokter/ perawat
Dokter/ perawatan umum, spesialis, dan ahli laboratorium saling berkolaborasi
Sebatas hubungan dokter/ perawat dan klien

  1. Profesionalisme Perawat
Untuk memahami profesionalisme perawat yang sesungguhnya, kita harus memahami perkembangan yang pendidikan keperawatan. Program pendidikan diploma keperawatan yang diselenggarakan oleh rumah sakit muncul pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1873. Setengah abad berikutnya berkembang menjadi 15 buah pada tahun 1880; 35 pada tahun 1890; 432 pada tahun 1900; dan 1023 pada tahun 1910 (Bullough, 1971). Walaupun jumlah pendidikan diploma keperawatan cukup banyak, ternyata hal ini belum mencukupi kebutuhan. Selain program diploma, program pendidikan perawat yang berkembang pada zaman tersebut adalah program associate dan baccalaureate.
Sejak tahun 1910 sampai 1920 telah berkembang sekolah keperawatan yang didirikan oleh universitas. Program baccalaureate dilaksanakan selama empat tahun dengan lulusan bergelar Bachelor of Science Nursing (BSN). Program pendidikan keperawatan pada tingkat universitas ini lebih menekan pada konsep berpikir ilmiah. Adanya pendidikan keperawatan pada universitas menempatkan perawat pada tingkat professional yang belum pernah diraih pada jenjang pendidikan sebelumnya. Banyaknya perawat yang menyandang gelar Ph. D., memberikan tingkat pengetahuan yang lebih baik yang tidak diperoleh pada program diploma di rumah sakit.
Tipe ketiga pendidikan keperawatan adalah associate degree program. Program ini dapat ditempuh selama dua tahun, setingkat akademi. Program associate ini mulai berkembang pada tahun 1952. Walaupun sangat sedikit penelitian yang terkait dengan program associate ini, program ini memiliki jumlah paling bayak disbanding dua program sebelumnya (Knopf, 1975).
Rumusan visi Program Studi S1 Keperawatan UM Surabaya akan menjadikan lulusan perawat yang memiliki kompetensi intelektual, bermoral dan berbudaya asing, hal ini akan terwujud dengan meningkatkan kualitas perawat melalui pendidikan lanjutan pada program Ners. Dengan demikian, kebijakan pemerintah (depkes) tentang profesionalisasi keperawatan diharapkan akan mengalami perubahan yag mendasar dalam upaya berpartisipasi aktif menyukseskan program pemerintah dan berwawasan luas tentang keperawatan.
Era globalisasi akan memberikan efek positif dan negative bagi perawat. Perubahan tersebut di antaranya sebagai berikut.
  1. Dampak positif akibat perubahan, meliputi:
  2. Mutu pelayanan keperawatan semakin meningkat.
  3. Semakian ssuai keahlian perawat
  4. Kesempata kerja semakin luas
  5. Dampak negative akibat perubahan, meliputi:
  6. Persaingan tenaga kesehata semakin ketat
  7. Perubahan filosofi pelayanan dari social ke komersial
  8. Semakin sulit memeratakan pelayanan keperawatan
  9. Tidak sesuanya pelayaan dengan kebutuhan masyarakat
Di masa depan, pendidikan tinggi keperawatan dihadapkan pada suatu tantangan dalam meningkatkan lulusannya. Pemerintah melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), selalu berupaya menjaga kualitas perguruan tinggi dengan memberikan penilaian pada program pendidikan tinggi, termasuk pendidikan tinggi keperawatan. Pendidikan tinggi keperawatan yang terakreditasi akan memiliki kualitas berbeda jika dibandingkan dengan perguruan tinggi terakreditasi. Dibandingkan dengan pendidikan yang tidak terakreditasi, secara proses pendidikan tinggi keperawatan yang terakreditasi memiliki proses pembelajaran yang lebih baik sehingga akan menghasilkan lulusan yang baik pula.
            Para lulusan pendidikan tinggi keperawatan diharapkan memiliki kompetensi professional. Muatan kurikulum yang terkandung dalam pendidikan tinggi keperawatan harus berorientasi ke depan, menyesuaikan perubahan yang terjadi dan kebutuhan masyarakat. Misalnya, bertambahnya jumlah harapan hidup berarti jumlah lansia akan meningkat, sehingga muatan kurikulum harus terkait dengan keperawatan gerontik, penyakit kronis, dan home care.

  1. Hubungan Perawat dan Dokter
Kepekaan berpikir kritis perawat akan tumbuh dan terlatih melalui suatu transfer pengetahuan dan mengaplikasi konsep teori ke dalam praktik keperawatan. Kolaborasi perawat dan dokter dalam memberika pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat penting. Melalui hubungan yang professional akan tercipta lingkungan yang kondusif sehingga meningkatkan kualitas pelayanan.
Dalam melaksanakan pelayanan asuhan keperawatan, walaupun perawat telah melakukan tindakan asuhan keperawatan sesuai produser terkadang masalah belum teratasi atau ketika mendapatkan kasus langka. Oleh karena itu, guna mengatasi masalah tersebut seorang perawat harus memiliki strategi meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Salah satu upaya yang terbukti efektif untuk meningkatkan pelayanan keperawatan adalah dengan ronde keperawatan. Melalui ronde keperawatan, terbuka usaha perawat untuk berkolaborasi dengan petugas kesehatan lain termasuk dokter.
Tidak semua pasien dapat dilakukan kegiatan ronde keperawatan. Perawat harus jeli terhadap masalah keperawatan yang sudah dirumuskan. Sebagai panduan melaksanakan ronde keperawatan, perawat harus memahami karakteristik pasien yang dapat digunakan dalam ronde keperawatan. Karakteristik tersebut adalah klien harus dilibatkan secara langsung, klien sebaga focus kegiatan, PP, PA dan dokter sebagai konselor melakukan diskusi bersama, konselor memfasilitasi kreativitas.

No comments:

Post a Comment