Friday, July 10, 2020

Legenda Yi, Sang Pemanah Sepuluh Matahari, di dalam Mitologi China

Legenda Yi, Sang Pemanah Sepuluh Matahari, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Dalam banyak mitos China kuno, seperti juga mitos di daerah lain, biasanya para dewa menolong manusia. Namun, sang pemanah Yi malah menolong para dewa; kehebatannya dalam memainkan busur dan panah sangat diakui. Seperti banyak legenda sebelumnya, kisah ini mungkin juga didasarkan pada sosok nyata, dalam kasus ini, seorang pemanah yang hidup sekitar tahun 2436-2255 SM.
            Tumbuh-tumbuhan sering muncul dalam latar belakang kisah China. Karakter dongeng pohon Fusang dianggap lebih dari ribuan kaki tingginya dan menyebarkan daunnya hingga lebih dari ribuan kaki. Karena pohon itu muncul dalam banyak kuburan kuno, lukisan, dan patung, maka ia tertentu adalah symbol yang sangat penting.
            Meskipun beberapa versi cerita menggambarkan tentang Fusang sebagai bunga sepatu, bisa saja Fusang adalah semacam pohon Mulberi. Satu varietas dari Mulberi, Morus alba, berasal dari China. Tumbuh hingga lebih dari lima puluh kaki tingginya, daunnya biasanya mejadi makanan ulat sutra. Helai benang dari kepompong ulat sutera ditenun secara bersamaan untuk membuat sutera, serat alami terkuat. Baju yang dihasilkan ringan dan tipis untuk disentuh, namun bisa member kehangatan dan menahan api. Sutera juga indah dan bisa menyerap celupan sehingga menjadikannya produk yang berharga jual tinggal di Mesir, Roma dan Persia.
            Bayam air, ung choy, memiliki batang berlubang tipis, daun kecil dan kuat. Tumbuhan ini akan menumbuhkan daun dan akan tumbuh lagi meski dengan air yang sangat sedikit, dan akan tumbuh setinggi empat inci tiap hari. Tumbuhan yang kuat ini menyelamatkan manusia dari kematian selama perang China. Selain itu juga merupakan bahan berharga untuk besi bagi rakyat India, Vietnam, Brazil, Amerika Tengah, dan Afrika.
            China adalah daratan yang dianggap pertama kali dikelilingi oleh empat lautan. Di bagian Timur ada samudara yang sangat luas. Di belakang samudera, tumbuh-tumbuhan yang sangat indah tumbuh di sebuah pulau surge. Contoh yang paling agung dari semua tanaman itu adalah pohon Fusang, yang memiliki cabang-cabang yang menajubkan terulur sehingga ke surge dan melintasi pulau hingga ratusan mil. Dedaunannya yang berwarna hijau gelap berserakan di antara kebesaran pohon itu. Bunga sepatu yang wangi yang sangat banyak membentk bayangan berwarna magenta, merah tua, dan ungu.
            Di antara dedaunan pohon Fusang yang berkilat, hidup sepuluh matahari yang nakal. Mereka tinggal di pulau itu untuk bermain-main, mengacuhkan orang tua mereka, dewa matahari (Dijun) dan dewi matahari (Shiho). Setiap hari, Shiho meninggalkan kayangan dengan kereta kerang mutiara yang dikendalikan enam naga api muda dan melintasi pohon Fusang. Para matahari bergantian mendaki puncak pohon dan berlompatan menuju kereta dan mengelilingi ibu mereka yang suaranya bergerumuh. Itulah tugas matahari; sebagai dewi, Shiho mengendarai keretanya melintasi langit untuk memancarkan cahaya da kehangatan setiap kali melintasi dunia dan membagunkan ayam jantan. Namun Shiho harus memarahi anak-anaknya untuk mengendalikan panas yang berlebihan di tempat yang disenangi anak-anaknya.
            Ketika satu matahari sedang bertugas, sembilan matahari yang lan bepergian di sekitar dedaunan yang bergerigi di pohon Fusang. Para matahari menghabiskan hari dengan bermalas-malasan dan gembira dengan saling berkejaran di pohon, kemudian menyegarkan diri di lautan. Ketika hari petang, mereka tidak sabar menunggu kereta ibu mereka. Matahari yang kembali selalu member percikan putaran yang indah dan mengundang sorakan gembira saudara-saudaranya.
            Namun setelah beberapa tahun, para matahari menjadi bosan. Mereka ingin menghabiskan hari dengan lebih banyak bermain daripada bekerja. Suatu hari, mereka berlari melintasi matahari secara bersamaan sebelum ibu mereka datang. Mereka ingin membuat cahaya dan kehangatan yang cukup banyak untuk beberapa hari. Lalu tak ada yang perlu bekerja lagi untuk sementara waktu.
            Ketika para matahari berkejaran melintasi langit, kelembapan bumi perlahan menguap. Cahaya dari matahari bersaudara sangat menyilaukan. Panas yang mereka pantulkan menghanguskan tanah, dan sungai-sungai mongering hingga hanya beberapa tetes yang tersisa. Tanaman layu, dan banyak orag mati kehausan di atas tanah. Tidak ada yang bisa dimakan kecuali bayam air, yang untungnya masih bisa tumbuh di atas lumpur di lahan mereka. Para monster muncul di laut dan langit untuk menangkap orag dari rumah mereka. Manusia berdoa kepada dewa siang da malam agar membebaskan mereka dari penderitaan. Ketika doa mereka akhirnya sampai pada dewa matahari (Dijun), ia sangat marah terhadap kemalasan dan keegoisan anak-anaknya.
            Dijun memanggil seorang ahli panah, Yi. Dewa matahari memberinya sepuluh anak panah ajaib. Kemudian ia menyuruh Yi mendisiplinkan anak-anaknya yang nakal. Ketika sang pemanah Yi melihat makhluk yang mati di atas bumi yang terpanggang, ia sangat sedih, karena ia juga manusia yang bisa mati. Yi memanggil para matahari dan menyuruh mereka menghentikan kedunguan mereka, namun mereka hanya berlompatan di sekeliling Yi, mengejek keseriusannya.
            Ketika Yi mengancam akan menembak mereka dengan anak panah ajaibnya, para matahari tertawa terbahak-bahak. Mereka tahu bahwa mereka adalah anak dewa dan sang pemanah Yi hanyalah pelayan di pengadilan kayangan.
            Dengan geram, sang pemanah Yi mengambil satu anak panah ajaib dari tempatnya dan membidik dengan seksama. Whaam! Anak panah itu terbang lurus ke jantung matahari yang paling sombong. Dengan cepat, matahari itu jatuh dari langit, terbakar dalam sebuah bola api. Ketika ia memukul tanah, matahari itu berubah menjadi burung gagak hitam dengan tiga kaki dan sayap yang panjang; lalu ia mati. Bumi menjadi lebih dingin seketika. Yi kemudian mengejar matahari yang tersisa.
            Karena telah melihat kekuatan Yi, matahari yang lain menjadi takut dan mereka berebut melintasi Negara, berusaha untuk bersembunyi. Namun Yi dapat menjatuhkan mereka satu per satu. Setiap kali ia membunuh satu matahari, bumi menjadi lebih dingin.
            Zing! Yi menembak matahari kedua dan mengacaukan awan yang mulai muncul kembali di langit.
            Zoom! Yi menembak matahari ketiga dan berputar di gunung tinggi yang berkabut.
            Twang! Yi menembak matahari keempat dan embun mulai terbentuk seperti mutiara di atas dedaunan.
            Thump! Yi menembak matahari kelima dan musim semi mulai keluar dari balik bukit berbatu.
            Zap! Yi menembak matahari keenam dan sungai beriak dengan ikan yang berlompatan.
            Pow! Yi menembak matahari ketujuh dan cabang pohon mulai menumbuhkan daun hijaunya.
            Thud! Yi menembak matahari kedelapan dan kuncp berkembang di atas pohon.
            Twack! Yi menembak matahari kesembilan dan tumbuhan padi tumbuh dan bertunas lagi.
            Lalu sang pemanah Yi bersumpah akan menemukan matahari terakhir dan membawanya untuk diadili.
            Sekarang, tanah telah sangat sejuk dan nyaman bagi para petani mereka meminta Yi berhenti, namun tak ada seseorang pun yang berani mendekatinya. Tapi sebelum sang pemanah menghabiskan anak panah terakhirnya, seorang anak pemberani bersembunyi di belakangnya dan diam-diam mencuri anak panah kesepuluh. Setelah melihat keberanian anak itu, para petani memberanikan diri memohon pada Yi untuk membiarkan matahari terakhir itu agar menyinari kayangan. Yi merasa kasihan kepada para petani, dan ia setuju untuk menyisakan matahari terakhir itu di langit.
            Matahari terakhir ini sangat sedih karena kehilangan saudaranya dan dihukum untuk memikul perjalanan hariannya sendirian. Lebih jauh lagi, ibunya menolak permohonannya untuk meminjam keretanya, dan naganya pun tidak mauh menarik kereta itu. Dari satu ujung kayangan ke ujung lainnya, matahari terakhir ini tertatih-taih melintasi langit dalam kesunyian, membawa cahaya dan kehangatan pada dunia untuk selamanya.
            Kehidupan manusia kembali sejahtera. Tanaman kembali tumbuh, sungai-sungai memuaskan kehausan mereka, dan hewan mandi di air yang sejuk dan di bawah sinar matahari yang cerah. Terakhir, manusia berterima kasih kepada satu tanaman, bayam air, yang tumbuh liar di air yang berlumpur, karena membuat manusia bisa bertahan hidup pada masa-masa sangat kering yang disebabkan oleh kecerobohan sepuluh matahari.

No comments:

Post a Comment