Friday, July 10, 2020

Siklus Perbaikan Mutu di Fasilitas Kesehatan



SIKLUS PERBAIKAN MUTU

Untuk mewujudkan Continous Quality Improvement (CQI) dibutuhkan metode untuk perbaikan mutu pelayanan kesehatan di FKTP. Model PDCA merupakan siklus hidup yang dapat digunakan sebagai upaya perbaikan mutu yang berkelanjutan. PDCA merupakan singkatan dari Plan – Do – Check – Act (Perencanaan – Pelaksanaan – Periksa – Aksi).


1 .Perencanaan (Plan)

Perencanaan artinya merencanakan tujuan dan proses yang dibutuhkan untuk menentukan hasil yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tahap ini memiliki focus pada peningkatan yang spesifik dengan menjalankan langkah-langkah berikut.

Langkah 1: Identifikasi hasil dan pelayanan kesehatan sesuai harapan pasien
Dalam langkah ini FKTP merumuskan tujuan hingga output sesuai kebutuhan dalam memaksimalkan pelayanan kesehatan. Hal ini bisa dilakukan dengan merumuskan apa yang menjadi tujuan/target FKTP, siapa yang terlibat atau siapa yang diuntungkan, perubahan apa yang diharapkan, dan bagaimana kondisi saat ini. FKTP dapat melakukan diskusi kelompok dengan pasien dan anggota keluarga pasien untuk mengidentifikasi kualitas pelayanan FKTP.

Selanjutnya FKTP melakukan survei kepada pasien tentang pelayanan kesehatan yang diberikan dengan kesimpulan apakah pelayanan yang diberikan memuaskan, biasa saja, atau buruk. Setiap 3 bulan sekali FKTP membuat grafik gambaran hasil survei untuk mengetahui berapa persentasi pasien yang menilai pelayanan memuaskan, biasa saja, dan buruk. Gambaran hasil survei bisa dibuat dalam bentuk diagram seperti di bawah ini:
Gambar 6.3 Contoh Hasil Survei Kepuasan Pelanggan 3 Bulanan

Setelah dilakukan diskusi kelompok dan survei terhadap pasien dan keluarganya, pemimpin FKTP menilai mana yang menjadi kelemahan FKTP yang masih dianggap kurang memuaskan dalam memberikan pelayanan menurut pasien. Pemimpin FKTP juga harus mampu memotivasi tim/anggota/petugas di FKTP untuk bekerja bersama karena semua bagian memiliki keterkaitan satu sama lain dalam memberikan pelayanan kepada pasien, mulai dari bagian administrasi dan pendaftaran, bagian pelayanan, pemberian obat, dan sebagainya.

Langkah 2: Mendeskripsikan proses pelayanan kesehatan yang berjalan saat ini
Setiap anggota FKTP membuat gambaran tentang proses yang selama ini dilakukan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Masing-masing bagian di FKTP menggambarkan proses yang mereka lakukan dalam bentuk flowchart kegiatan pelayanan kesehatan mulai dari input – proses – output, bukan hanya untuk bisa mendeskripsikan bentuk pekerjaan yang dilakukan dengan jelas lengkap dengan nama penanggung jawab dari setiap proses dalam flowchart tersebut. Kadang selama ini kita melakukan pekerjaan tanpa standar/ketentuan alur yang jelas, sehingga ketika flowchart dibuat kita menyadari bahwa kita bisa meningkatkan atau bahkan mengubah  proses yang selama ini berjalan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Langkah 3: Pengumpulan data dan analisis
Pada langkah 2 kita sudah membuat flowchart yang secara tidak langsung juga menunjukan data apa yang bisa dikumpulkan dari proses pelayanan kesehatan yang dilakukan serta bagaimana cara mendapatkan data tersebut.  Sebagai contoh, ada kasus dimana pasien pulang tanpa mendapat penjelasan tentang kondisi kesehatannya, maka dari flowchart yang ada kita bisa melihat tahap atau bagian mana saja di FKTP yang dilalui pasien tersebut. Kita bisa mengetahui siapa saja yang ditemui pasien mulai dari datang hingga pulang serta hal-hal apa saja yang dibahas dalam setiap bagian. Flowchart juga dapat digunakan sebagai landasan untuk pengukuran data. Alat yang digunakan daalam pengumpulan data dapat berupa checksheet, log, survei, trend chart, histogram, pareto, dll.

Langkah 4: Fokus pada peluang peningkatan mutu
Pilih salah satu permasalahan yang dianggap prioritas untuk diselesaikan sesuai dengan kebutuhan yang mendesak dan sumber daya yang dimiliki FKTP.

Langkah 5: Identifikasi akar penyebab masalah
Untuk memudahkan identifikasi akar masalah, yang diharus dilakukan pertama kali adalah mencari segala kemungkinan penyebab masalah tersebut. Kemudian dari semua kemungkinan yang ada, dilakukan test atau pengukuran untuk mengetahui penyebab masalah yang paling potensial menimbulkan masalah. Setelahnya kita dapat menentukan apa yang menjadi akar penyebab masalah.

Sebagai contoh, misalnya ada masalah bahwa pasien kurang paham tentang ketentuan minum obat. Kita dapat mencari beberapa kemungkinan penyebab masalah kemungkinan 1) penjelasan yang kurang baik dari petugas kesehatan, kemungkinan 2) pasien memang kurang bisa memahami penjelasan petugas kesehatan, kemungkinan 3) pasien lupa. Test bisa dilakukan dengan menghubungi pasien ketika ia sampai rumah dan menanyakan ketentuan minum obat yang dibawa pulang, dari hasil test tersebut ternyata diketahui bahwa pasien lupa, ia sudah memahami ketentuan minum obat saat dijelaskan petugas kesehatan di FKTP namun ketika sampai di rumah pasien lupa. Maka dapat disimpulkan akar penyebab masalah pasien kurang paham tentang ketentuan minum obat adalah karena lupa.

Langkah 6: Mencari dan memilih penyelesaian masalah
Identifikasi peluang perbaikan terhadap cara untuk peningkatan pelayanan kesehatan. kumpulkan semua bentuk kemungkinan untuk menjadi solusi atas permasalahan yang ada.
·         Cari solusi-solusi yang kreatif dan inovatif, terlebih jika FKTP terdiri dari tim sehingga menggali kemungkinan solusi menjadi semakin luas
·         Diskusikan dengan tim dengan cara brainstorming, FGD, interview staf.
·         Buat matriks untuk semua kemungkinan solusi yang ada, pertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing solusi yang ada serta menilai kemungkinan terbesar untuk dilaksanakan

1.2  Pelaksanaan (Do)

Pelaksanaan artinya melakukan perencanaan proses yang telah ditetapkan sebelumnya. Kita harus melakukan tahap ini sesegera mungkin, semakin kita menunda pekerjaan maka waktu kita semakin terbuang dan yang pasti pekerjaan akan bertambah banyak. Dalam tahap ini, dilakukan dengan menyusun aksi pilot project untuk melakukan perbaikan mutu. Pilot project diselenggarkan dalam skala kecil dan waktu yang tidak lama (3 – 6 bulan). Dalam langkah ini, tim melaksanakan rencana yang telah disusun sebelumnya dan memantau proses pelaksanaan dalam skala kecil (proyek uji coba). Mengacu pada penerapan dan pelaksanaan aktivitas yang direncanakan sesuai langkah berikut.

Langkah 7: Memetakan pilot project (uji coba)
Rencana uji coba diawali dengan melakukan pemetaan, dengan cara:
·         Buat rencana yang matang untuk bisa mengeksekusi pelaksanaan uji coba, mulai dari persiapan budget/anggaran, SDM, hingga teknik atau metode ui coba
·         Pilih orang-orang yang tepat untuk terlibat dalam uji coba, yaitu orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka, mau berubah menjadi lebih baik, dan mau bekerja lebih untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal
·         Buat plan of action yang terdiri dari daftar kegiatan yang akan dilakukan, perkiraan waktu pelaksanaan, serta nama penanggung jawab dari setiap kegiatan
·         Tentukan metode untuk memonitor pelaksanaan uji coba, siapa yang akan memonitor dan kapan pelaksanaan monitoring harus ditentukan di awal dengan jelas.
Tabel 6.1  Contoh Tabel Pemantauan Pelaksanaan Uji Coba
No
Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Penanggung Jawab
Pekan 1
Pekan 2
Pekan …















Langkah 8: Implementasi pilot project
Implementasi pelaksanaan uji coba dilakukan selama 3 – 6 bulan. Ketika ini sudah dilakukan dengan baik, pekerjaan belum selesai, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
·         Banyak yang akan menyimpulkan bahwa pengalaman tidak akan berguna jika tidak dilakukan sesuai rencana
·         Mengenalkan dan mengajak tim untuk berubah merupakan hal yang sulit karena orang pada umumnya susah untuk mengubah kebiasaan dan enggan untuk keluar dari rutinitas yang menjadi zona nyaman selama ini
·         Bangun sistem monitoring dan control dengan ketat untuk uji coba ini karena apa yang terjadi dalamuji coba adalah gambaran dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yang diharapkan, jangan mudah mengatakan gagal sebelum melakukan test dan analisis uji coba secara mendalam
·         Saat pelaksanaan uji coba, pastikan pemimpin (atau pihak yang bertanggung jawab memonitoring pelaksanaan uji coba) rutin bertemu dan berdiskusi dengan penanggung jawab di setiap tahap uji coba untuk melakukan observasi dan konfirmasi rencana perubahan proses pelayanan kesehatan di FKTP    

1.3 . Periksa (Check)


Langkah 9: Evaluasi hasil
Untuk memahami dampak internal dan eksternal pelaksanaan uji coba dapat dilakukan dengan evaluasi berupa diskusi kelompok (Focus Group Discussion, FGD) dan survei untuk mengetahui persepsi pasien.  Verifikasi kegiatan uji coba dengan menilai proses dan outcome yang ada sesuai dengan indikator yang ditentukan di awal. Berikut contoh alat yang bisa digunakan dalam proses evaluasi hasil:
Tabel 6.2 Contoh Tabel Evaluasi Hasil 1

No
Masalah
Waktu Ditemukan
Total
Pekan 1
Pekan 2
Pekan …

























Tabel 6.3 Contoh Tabel Evaluasi Hasil 2

Tipe Masalah
Waktu kejadian
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Nov
Des
Kesalahan pendataan
















Lama waktu tunggu pasien
















Staf tidak sesuai prosedur
















Total

















Langkah 10: Buat kesimpulan
Ada tiga kemungkinan dari hasil uji coba yang dilakukan, yaitu:
·         Hasil uji coba cukup menjanjikan, tetapi harus menemukan metode perubahan terbaik di FKTP
·         Hasil uji coba gagal, maka FKTP harus melakukan analisis ulang untuk menemukan solusi masalah yang ada
·         Hasil uji coba berjalan dengan baik di FKTP sehingga bisa terus dilakukan sebagai langkah awal menuju perubahan

Pertanyaan yang dapat membantu dalam proses pembuatan kesimpulan:
·         Apakah perubahan yang terjadi nantinya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di FKTP?
·         Apa saja keuntungan yang akan didapat dari peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di FKTP?
·         Apa saja pengorbanan (cost) yang harus dikeluarkan untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di FKTP?
·         Apa yang perlu distandarisasi untuk memodifikasi proses pelayanan kesehatan berjalan?
o   Bagaimana caranya?
o   Apa saja sumber daya yang dibutuhkan?
o   Buat jadwal (spare waktu) untuk masa transisi

Dalam pengecekan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu memantau dan mengevaluasi proses dan hasil terhadap sasaran dan spesifikasi. Teknik yang digunakan adalah observasi dan survei. Apabila masih menemukan kelemahan-kelemahan, maka disusunlah rencana perbaikan untuk dilaksanakan selanjutnya. Jika gagal, maka cari pelaksanaan lain, namun jika berhasil, dilakukan rutinitas. Mengacu pada verifikasi apakah penerapan tersebut sesuai dengan rencana peningkatan dan perbaikan yang diinginkan.

1.4 . Aksi (Act)

Aksi artinya melakukan evaluasi total terhadap tujuan dan proses serta menindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan. Jika ternyata apa yang telah kita kerjakan masih ada yang kurang atau belum sempurna, segera melakukan action untuk memperbaikinya. Tahap aksi ini sangat penting artinya sebelum kita melangkah lebih jauh ke proses perbaikan selanjutnya.  Di tahap ini kita melakukan apa yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan positif dalam proses keseharian pelayanan pasien sampai pada akhirnya kita bisa melakukan peningkatan dan/atau perbaikan dalam pelayanan kesehatan.

Langkah 11: Standarisasi perubahan
Setelah uji coba dilakukan, buat standarisasi perubahan dengan cara:
·        Gambarkan proses baru dalam flowchart yang jelas dan mudah dipahami
·        Diskusikan dengan orang-orang yang terlibat dalam proses standarisasi untuk mempertimbangkan bagian lain yang mungkin akan mendapat dampak positif dari perubahan yang akan dilakukan
·        Modifikasi standar, prosedur, kebijakan, capaian/target, untuk menggambarkan proses perubahan
·        Diskusikan dengan semua staf FKTP tentang rencana perubahan
·        Berikan penjelasan dan pelatihan kepada staf sesuai kebutuhan untuk melakukan perubahan di FKTP
·        Bangun rencana untuk mendukung orang-orang agar mau berubah, mulai dari fasilitas dan lingkungan kerja di FKTP
·        Dokumentasikan setiap tahap proses perubahan sehingga dapr dijadikan lesson kearn untuk senior manager atau FKTP lain
Langkah 12: Monitor (pantau) untuk mencapai tujuan
Untuk memastikan bahwa rencana perubahan berjalan sesuai yang diharapkan maka proses monitoring yang dilakukan pada tahap ujicoba harus dilanjutkan untuk masa yang lebih panjang. Kegiatang monitoring dapat dibuat secara berkala sebagai control atas perubahan yang diharapkan.



1.5 . Indikator Siklus PDCA


Dalam menilai upaya pengendalian dan peningkatan mutu di FKTP, pedoman ini menggunakan pendekatan yang dirumuskan oleh Avedis Donabedia yaitu struktur, proses  dan hasil. “Struktur” didefinisikan sebagai karakteristik yang relatif menetap pada FKTP, alat dan sumber daya, dan tatanan fisik serta organisasi di mana mereka bekerja. “Proses” adalah rangkaian kegiatan yang berlangsung antara penyedia layanan/petugas dan pasien. “Hasil” didefinisikan sebagai perubahan yang terjadi pada status kesehatan pasien baik saat ini ataupun masa mendatang.

Tabel 6.4  Indikator Siklus PDCA
Pendekatan
Indikator
Struktur
·     Adanya tim mutu
·     Adanya uraian tugas tim mutu
·     Adanya perlengkapan komputer dan printer yang bisa digunakan
Proses
·     Adanya pertemuan tim yang rutin dilaksanakan minimal sebulan sekali
·     Adanya kegiatan identifikasi dan prioritisasi masalah terkait dengan mutu layanan kesehatan di FKTP.
·     Adanya rumusan alternatif penyelesaian masalah
·     Adanya rencana upaya pengendalian dan peningkatan mutu di FKTP setiap bulan
·     Terlaksananya upaya pengendalian dan peningkatan mutu di FKTP setiap bulan
Hasil
·     Adanya keterkaitan antara prioritisasi masalah dan rencana perbaikan
·     Adanya kesesuaian antara pelaksanaan upaya pengendalian dan peningkatan mutu dengan rencana perbaikan yang disusun
·     Peningkatan kepuasan pelanggan internal
·     Peningkatan kepuasan pelanggan eksternal
Sumber : Donabedian, Avedis. Exploration in quality assessment and monitoring volume 1: the definition of quality and approaches to its assessment. Health Administration Press. Michigan. 1980






Contoh Kasus menggunakan metode PDCA:
MENURUNKAN LAMA WAKTU TUNGGU
DI APOTIK  PUSKESMAS PURWAKARTA TAHUN 2015

PLAN
Langkah 1: Identifikasi hasil dan pelayanan kesehatan sesuai harapan pasien
Tim peningkatan mutu Puskesmas Purwakarta melakukan diskusi (brainstorming) dengan Kepala Puskesmas Purwakarta, Kepala Poli Gigi, Kepala Perawatan Balai pengobatan, bidan KIA, petugas obat, petugas pendaftaran, perawatan BP, petugas laboratorium, dan juru imunisasi mengenai permasalahan yang ada di Puskesmas dalam proses pelayanan kesehatan. Dari hasil diskusi diketahui informasi beberapa masalah pelayanan kesehatan yang ada, yaitu:
1.    Pasien menumpuk di loket pendaftaran, apotik, dan ruang pemeriksaan
2.    Jumlah kunjungan yang cukup banyak sedangkan ruang tunggu kurang memadai
3.    Lamanya waktu tunggu pasien di Apotik dalam pengambilan obat
4.    Di bagian laboratorium tidak ada ruang tunggu untuk pasien yang mengantri mendapat pelayanan laboratorium
5.    Lamanya waktu tunggu pasien mulai dari pendaftaran sampai pasien mendapat obat yaitu sekitar dua jam

Untuk memiliki masalah pelayanan yang dianggap paling penting untuk segera diperbaiki, dilakukan proses pemberian nilai terhadap masalah yang ada oleh petugas kesehatan.

Tabel 7.1 Kategori Penilaian Masalah
Nilai
Makna
Nilai
Makna
1
Sangat tidak penting
6
Cukup penting
2
Tidak Penting
7
Penting
3
Kurang penting
8
Penting sekali
4
Tidak begitu penting
9
Sangat penting
5
Agak penting
10
Sangat penting sekali



Tabel 7.2 Penilaian Bobot Masalah oleh Petugas Kesehatan
Nomor masalah
Pendapat petugas kesehatan
Jumlah
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Masalah 1
7
5
8
7
8
6
6
7
7
8
69
Masalah 2
6
6
5
8
7
5
4
4
3
6
54
Masalah 3
7
8
6
8
7
8
9
8
7
8
76
Masalah 4
5
6
7
5
4
5
7
7
6
8
60
Masalah 5
7
4
5
7
8
7
5
8
6
8
65


Langkah 2: Mendeskripsikan proses pelayanan kesehatan yang berjalan saat ini
Gambar 7.1 Alur pelayanan apotik di Puskesmas Purwakarta

Langkah 3: Pengumpulan data dan analisis
Berdasarkan pembobotan masalah yang ada di Puskesmas didapatkan hasil bahwa “lamanya waktu tunggu pasien di Apotik” sebagai masalah yang dianggap prioritas untuk diperbaiki.

Gambar 7.2 Lama waktu tunggu pelayanan kesehatan di Puskesmas Purwakarta
Selain itu fakta bahwa dari seluruh layanan kesehatan yang diberikan selama 2 jam, waktu tunggu pasien di aportik adalah pelayanan yang paling lama yaitu 29,6 menit, setelah lama di bagian pendaftaran 22,7 menit dan di bagian BP 15,03 menit.



Langkah 4: Fokus pada peluang peningkatan mutu
Petugas kesehatan di Puskesmas Purwakarta memilih masalah prioritas untuk diperbaiki sebagai upaya peningkatan mutu, yaitu menurunkan lama waktu tunggu di Apotik Puskesmas Purwakarta.

Langkah 5: Identifikasi akar penyebab masalah
Dari permasalahan waktu tunggu pasien di Apotik Puskesmas Purwakarta, dilakukan penelusuran akar penyebab masalah. Hal ini dilakukan dengan metode Fishborne Diagram atau yang juga dikenal dengan Diagram Ishikawa.


Langkah 6: Mencari dan memilih penyelesaian masalah
Setelah diketahui akar permasalahan penyebab lamanya waktu tunggu pasien di Apotik Puskesmas Purwakarta, Tim peningkatan mutu selanjutnya mencari beberapa solusi sebagai rencana perbaikan masalah, yaitu:

Tabel 7.3 Rencana Penyelesaian Masalah
Klasifikasi Penyebab
Masalah
Rencana Perbaikan
Manusia
Kurangnya pengetahuan petugas Apotik
Memberikan pelatihan kepada petugas tentang pengelolaan obat
Metode
Tidak ada SOP
Pembuatan dan sosialisasi SOP
Susunan obat tidak teratur
Penyusunan ulang tata kelola obat
Sarana
Loket hanya satu
Pemisahan loket penerimaan resep dan penyerahan obat
Kaca loket tidak transparan
Mengganti kaca loket menjadi transparan
Tidak tersedia nomor urut
Pemberian nomor urut pasien
Kemasan obat tidak lengkap
Pengadaan etiket dan label obat


DO
Langkah 7: Memetakan pilot project (uji coba)
Setelah membuat rencana perbaikan, tim peningkatan mutu Puskesmas membuat peta pelaksanaan pilot project (uji coba) untuk diimplementasikan di Puskesmas. Pemetaan uji coba ini dilakukan dengan menentukan bentuk perbaikan, estimasi biaya, waktu pelaksanaan, dan nama penanggung jawab.

Tabel 7.4. Rencana perbaikan Puskesmas Purwakarta
Rencana Perbaikan
Waktu & Tempat
Biaya
Penanggung Jawab
Memberikan pelatihan kepada petugas tentang pengelolaan obat
4 Januari 2005 di Puskesmas
Rp.120.000,-
dr. Yulianita
Pembuatan dan sosialisasi SOP
27 Desember 2004 – 4 Januari 2005 di Puskesmas
Rp.100.000,-
drg. Nani Wahyuning
Penyusunan ulang tata kelola obat
5 Januari 2005 di Puskesmas
Rp.0,-
Marta
Pemisahan loket penerimaan resep dan penyerahan obat
27 Desember 2004
Rp. 150.000,-
Novi
Mengganti kaca loket menjadi transparan
27 Desember 2004
Rp.300.000,-
Susi
Pemberian nomor urut pasien
27 Desember 2004
Rp. 200.000,-
Misnani
Pengadaan etiket dan label obat
27 Desember 2004
Rp.56.000,-
Marta


Langkah 8: Implementasi pilot project
Pelaksanaan kegiatan pilot project dilakukan selama kurang lebih 2 bulan mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, yaitu mulai Desember 2004 – Januari 2005. Perbaikan yang memerlukan waktu agak lama seperti pemisahan loket, penggantian kaca transparan dimulai sejak 27 Desember 2004, namun secara keseluruhan kegiatan perbaikan banyak dilakukan di hari Selasa, 4 Januari 2005.

Dalam penerapan SOP baru, secara garis besar tidak ada hambatan yang dialami oleh tim karena secara umum SOP yang dibuat tidak merubah total sistem pelayanan yang sudah berjalan selama ini.

Dalam pembuatan nomor urut, petugas Apotik harus menjelaskan kepada pasien bahwa nomor urut yang ada di loket apotik berbeda dengan nomor urut yang di dapat di bagian pendafataran sehingga pasien harus mengambil nomor urut baru ketika sampai di apotik Puskesmas.

CHECK
Langkah 9: Evaluasi hasil
Tim melakukan evaluasi terhadap hasil perbaikan yang dilakukan setelah dilakukan uji coba selama kurang lebih 3 bulan. Tim melakukan evaluasi setelah proses berjalan 1 bulan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan proses perbaikan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dari hasil evaluasi tersebut didapatkan hal-hal berikut:
1.    Tidak lagi terjadi penumpukan pasien di depan loket Apotik baik untuk pemberian resep maupun pengambilan obat
2.    Petugas sudah lebih mudah mencari obat sehingga pelayanan lebih cepat
3.    Proses pelayanan obat sudah berjalan sesuai SOP dimana alur resep berjalan satu arah First In First Out (FIFO)

Langkah 10: Buat kesimpulan
Dari pemantauan tim perbaikan mutu Puskesmas diketahui bahwa ternyata pelayanan obat di Apotik dengan menggunakan metode satu arah menjadi faktor paling dominan dalam perbaikan mengurangi waktu tunggu pasien di Apotik. Dimana pasien yang pertama kali datang memberikan resep obat ke Apotik adalah pasien yang lebih dahulu dilayani dan menerima obat sehingga penumpukan pasien dapat dihindari.


Dari observasi yang dilakukan, diketahui bahwa lama waktu tunggu pasien di Apotik setelah adanya uji coba berkurang 5 menit menjadi sekitar 17,5 menit dari sebelumnya 29,6 menit.

ACT
Langkah 11: Standarisasi perubahan
Implementasi yang telah diujicobakan dalam tahap sebelumnya, memiliki hasil evaluasi uji coba. Jika hasil uji coba dinilai baik, maka implementasi tersebut dapat digunakan dalam kegiatan Puskesmas sehari-hari. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah dokumen yang dilegalkan oleh pihak berwenang. Misalnya dalam contoh kasus di atas, hasil implementasi yang ada dapat diajukan untuk membuat SK Kepala Puskesmas sehingga menjadi landasan petugas Puskesmas untuk berani mengambil tindakan terhadap pasien.

Langkah 12: Monitor (pantau) untuk mencapai tujuan
Setelah konsep perubahan telah dilegalkan (distandarisi) dalam bentuk kebijakan di tingkat Puskemas, maka hasil evaluasi pada tahap DO bahwa perubahan ini dapat diaplikasikan di puskesmas dalam waktu yang lebih lama untuk melihat perubahan. Dapat dilakukan monitoring dan evaluasi setiap beberapa bulan sekali.

No comments:

Post a Comment