Friday, July 10, 2020

Legenda Tentang Panku Menciptakan Dunia, di dalam Mitologi China

Legenda Tentang Panku Menciptakan Dunia, di dalam Mitologi China
(Sumber/ Source: Collier, Irene Dea.2011.Chinese Mythology.Jakarta:Enslow Publisher Inc.)
(Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. please follow blog/ silahkan ikuti blog: www.ithinkeducation.blogspot.com or www.ithinkeducation.wordpress.com)
            Dalam naskah China awal terdapat banyak mitos tentang para penguasa yang menakjubkan di masa kuno. Namun, tidak ditemukan kisah tentang penciptaan di sana. Kisah tentang Panku kemungkinan adalah mitos yang paling mendekati tentang kisah penciptaan dalam versi China. Kisah itu muncul pertama kali pada masa kekuasaan dinasti Han (206 SM-220 M), ratusan tahun setelah ksiah pertama tentang jaman kuno yang diceritakan.
            Banyak ahli percaya bahwa kisah tentang Panku dibentuk dan dipengaruhi oleh serombongan saudagar yang melintasi gurun dan pegunungan di Timur Tengah, India, Afrika dan China, yang membawa sutra, rempah, dan barang dagangan berharga lainnya.
            Kisah ini memperkenalkan pentingnya konsep Yin dan Yang. Energy yang bertentangan ini, yang ada dalam setiap sesuatu di alam, tidak tampak seperti baik dan buruk, namun seperti gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, bumi dan surga. Sesuatu hal tidak bisa ada tanpa yang lainnya.
            Dalam kisah ini, Panku dikisahkan sebagai seorang raksasa. Dalam versih lain, ia muncul sebagai manusia yang lemah, berpakaian kulit beruang dan dedaunan.
            Pada sesuatu ketika, dunia adalah pusaran kegelapan yang sangat besar. Tidak ada kayangan. Tidak ada bumi. Semua kekuatan di alam semesta terjerat dalam sebuah telur kecil, berguling dan berputar dalam kekacauan.
            Di dalam telur itu ada makhul kecil bernama Panku. Ia tidur lelap, tidak terganggu oleh kekacauan di sekitarnya. Selama tidur, Panku tumbuh, dan telur itu juga tumbuh bersamanya. Panku tidur selama delapan belas ribu tahun dengan tenang, hingga ia tumbuh menjadi bentuknya yang sempurna, raksasa berkumis dan tinggi tubuhnya mencapai 90000 li (sekitar 30000 mil). Dengan tubuh Panku sempurna, telur itu pun melar dan tagang, membawa raksasa yang berkembang dan gas bumi yang bergolak dalam keterbatasannya.
            Suatu hari, ketika alam semesta sudah benar-benar tidak stabil, Panku terbangun. Ia tidak melihat apapun di sekitarnya selain kegelapan dan kekacauan. Awalnya ia tertarik dengan ritme dunia yang tak teratur. Ia melihat, terkagum dengan putaran partikel yang meledak dan berserakan di sekitarnya. Ia belajar dengan cepat untuk mengelak dari ledakkan gas dengan melompat gesit dari satu sisi ke sisi lainnya.
            Setelah beberapa saat, bagaimanapun juga, ia mulai kelelahan dengan semua keributan dan kekacauan. Keributan yang terus menerus itu membuat sarafnya tegang. Hiruk pikuk itu membuat telinganya berdenging, dan itu membuatnya sangat cepat marah. Semakin lama ia melihat kekacauan itu, semakin ia merindukan kedamaian tidurnya yang nyenyak. Kekacauan itu mengganggunya, namun yang lebih penting, Panku tahu bahwa tempurung alam semesta yang rapuh ini bisa pecah kapan saja.
            Panku tahu ia harus bertindak; ia menunggu hingga dunia tenang dan merebut sebuah meteor yang panjang. Ia melempar meteor itu seperti melempar sebuah kapak dan mengayunkannya turun dengan segenap kekuatannya. Kapak itu tepat mengenal pusat telur dan meledak sangat dahsyat. Suara dentuman bergema ke seluruh penjuru dunia dan merobek semua partikel dan gas yang ada di alam semesta menjadi dua bagian. Cahaya, kekuatan murni dunia, mengapung dan membentuk awan biru. Kejahatan, kekuatan gelap dari alam semesta, tenggelam dan membentuk tanah yang subur.
            Panku sangat gembira dengan dunia barunya. Dunia itu menjadi indah, tentram, dan damai. Untuk memelihara keadaan itu, ia menopang langit dengan lengannya yang kuat, menjepit tubuhnya antara kayangan dan bumi. Setiap hari langit tumbah setinggi sepuluh li, dan Panku menopangnya dengan semakin tinggi.
            Selama ribuan tahun, ia menyangga kayangan tanpa mengeluh, memutuskan bahwa dunia tidak boleh kembali pada kekacauan. Seiring waktu berlalu, ia pun letih, sedangkan kumisnya menjejali dunia. Selama berabad-abad, Panku mendorong dengan setiap sendi, kumis, dan tulang yang kesakitan. Ia berteriak minta tolong, tapi suaranya hanya bergema dalam kesunyian. Tak ada makhluk lain yang tinggal di sekitarnya. Setiap hari ia menunggu pertolongan, namun setiap hari juga tidak ia tidak mendapatkan apapun. Ia berjuang selama puluhan ribu tahun hingga kayangan dan dunia tak saling mengingat lagi, dan keduanya terpisah menjadi kekuatan yin (kegelapan) dan yang (cahaya).
            Ketika langit sudah sangat sedikit dengan kayangan, dan dunia jatuh denga keras, Panku akhirnya kehilangan keteguhannya. Perlahan ia menjadi lemah dan tua. Tubuhnya berangsur keriput dan menyusut. Kumisnya mulai rontok dan nafasnya tersengal-sengal. Setelah berabad-abad memulur dan menegang, raksasa yang handal ini jatuh ke tanah, lelah dan kehausan.
Tubuhnya yang besar dan layu itu menutupi bumi dengan rapat seperti karpet. Dagingnya remuk dan menyebarkan kesuburan dan bau manis tanah di tanah yang gersang. Titik keringatan menjadi titik hujan dan embun di tanah yang lembut dan subur. Rambut dan jenggotnya yang kusut menjadi ranting pohon dan semak-semak yang keras. Rambut di lengannya menjadi dedaunan, tumbuhan merambat dan bunga yang lembut. Gigi dan tulang belulangnya patah menjadi logam yang bersinar- emas, perak, dan tembaga, yang masuk ke dalam tanah. Tulang sumsumnya mengeras dan berwarna krem, permata transparan yang yang berwarna ungu, hijauh dan putih. Darahnya menetap mengaliri tanah menjadi genangan yang luas dan sungai yang deras. Suaranya, mesk lemah, menciptakan guntur yang bergemuruh dan halilintar yang meretih. Nafas kematiannya membentuk angin yang bertiup dan awan yang menggembung. Akhirnya, terbebaskan dari penderitaannya, air mata Panku dari tangis syukurnya jatuh berkilauan, menjadi air yang banyak menjadi lautan.
            Akhirnya tugas Panku selesai dan Panku, sang pencipta, telah mati. Di tempatnya, ia meninggalkan dunia yang berkilauan dan bersinar dengan percikan warna biru cerah, hijau ceria, coklat kehitaman dan jernih, air dingin yang gemercik.

No comments:

Post a Comment