Friday, July 10, 2020

Waspadai Serangan Tumor Otak (Meningioma)

Waspadai Serangan Tumor Otak (Meningioma)
(Sumber/ source: Anna, Tjoe Bie Giok.2014.”Waspadai Serangan Tumor Otak”. Dalam Jawa Pos, tanggal 2 Mei 2014.) (Rewritten by/ Diketik kembali oleh: Dimas Erda Widyamarta.2014. silahkan mengikuti di dalam blog/ please follow in the blog: http://www.ithinkeducation.blogspot.com or/ atau http://www.ithinkeducation.wordpress.com) Menyerang perlahan tanpa gejala klinis di fase awal membuat penderita meningioma tidak merasakn gangguan berarti hingga akhirnya tumor yang biasa menyerang perempuan dewasa tersebut membesar. Hal yang sama dialami Tjoe Bie Giok Anna. Dia syok saat diagnosis dokter di Malaysia mengatakan tumornya sudah sebesar kepalan tangan. Pengusaha kulinter ternama di Surabaya tersebut sebelumnya sangat cuek dengan keluhan ringan seputar kesehatannya. Itu disebabkan karena kesibukannya mengelola bisnis makanan sehari-hari. Anna sering merasakan nyeri di kepala, tetapi dia abaikan. Padahal, hal itu merupakan salah satu gejala meningioma. Lambat laun, Anna merasa tangna dan kaki kirinya melemah. Dia telah berupaya berobat ke dokter, namun kesehatannya tidak kunjung membaik dan dia memilih berobat ke Malaysia. Hasil MRI (Magnetic resonance imaging) menunjukkan ada tumor seukuran kepalan tangan di otaknya. Meski tergolong jinak, dokter emnyarankan Anna segera menjalankan operasi pengangkatan tumor. Anna pun berencana untuk menjalani pengobatan dan operasi di Singapura. Ketika segala keperluan sudah dipersiapkan, hatinya bimbang. Dia memutuskan untuk berkonsultasi dengan dr Agus C. Anab SpBS di Brain and Spine Center National Hospital. Penjelasan dokter yang detail membuat Anna paham tentang penyakit yang dideritanya. Rasa takut pun hilang. Menurut Anna, dokter di Brain and Spine Center National Hospital sangat tahu bagaimana menghadapi pasien. Mereka sangat friendly, bisa memberikan penjelasan tanpa membuat pasien jadi tegang dan takut. Ditemani suami dan buah hatinya yang pulang dari Australia, Anna menjalani operasi di Surabaya. Dengan teknik minimally invasive, dokter mengambil tumor yang bersarang di kepala Anna melalui key hole surgery. Yakni, sebuah lubang kecil dibuat untuk mengeluarkan tumor secara bertahap. Dengan teknik tersebut, pasien operasi tumor otak tidak perlu lagi menggunduli rambutnya. Operasi yang berlangsung selama 12 jam tersebut bisa dilihat langsung oleh suami dan anak-anak Anna melalui sebuah layar monitor yang diletakkan di ruang tunggu. Bahkan, pihak keluarga juga bisa berinteraksi langsung dengan dokter. Pascaoperasi, Anna merasakan kondisi kesehatannya membaik. Seminggu setelah operasi, dia diperbolehkan pulang. Bahkan, Anna bisa langsung facial dan creambath di salon. Teman-teman Anna pun tak menyangka bahwa dirinya baru saja menjalani operasi tumor otak. Anna merasa hidupnya jadi lebih berharga. Tak heran jika dirinya sangat berterimakasih kepada tim dokter di Brain and Spine Center National Hospital. Dr Agus C. Anab, SpBS mengatakan, kasus yang dialami Anna kerap terjadi. Banyak orang yang menganggap remeh kesehatan otak. Padahal, penyakit yang menyerang organ penting tersebut sering muncul tanpa disadari pasien. Begitu juga dengan kelainan pembuluh darah. Banyak pasien mengetahui penyakitnya setelah terjadi serangan atau perdarahan otak. Itu sebabnya, medical checkup (MCU) sangat penting untuk pencegahan dini. Salah satu pemerikaan yang bisa mengetahui lebih dini adanya tumor otak dan kelainan pembuluh darah adalah MRI. “Penyembuhan lebih dini itu semakin bagus,” ujar dr Agus.

No comments:

Post a Comment